Redupnya Madinah Saat Wafatnya Nabi

Dr. Slamet Muliono

Tidak ada hari seterang ketika kedatangan Nabi di kota Madinah dan tidak ada hari yang terasa gelap kecuali ketika hari wafatnya Nabi. (Anas bin Malik)

Wafatnya Nabi bukan hanya membuat sedih para sahabat Nabi, tetapi membuat kota Madinah terasa gelap. Betapa tidak, sosok Nabi Muhammad benar-benar membuat kota Madinah sebagai kota yang bersinar. Kedatangan Nabi disambut penduduk Madinah dengan penuh antusias. Jauh-jauh hari masyarakat Madinah demikian sabar menunggu kehadiran Nabi setelah gelombang hijrah yang dicanangkan Nabi. Begitu Nabi datang, masyarakat sangat gembira, hingga Nabi dipersilakan untuk mampir di setiap rumah penduduk Madinah. Keceriaan dan kegembiraan seluruh penduduk Madinah inilah yang membuat kota ini bersinar dengan cahaya kenabian.

Madinah : Dari Redup Berubah Menjadi Bercahaya   

Di awal kedatangan, kaum Muhajirin yang hijrah mengalami sejumlah masalah. Mereka kurang nyaman dan sering sakit-sakitan, sehingga Nabi berdoa agar penyakit dihilangkan dari  kota Madinah, dan penduduknya diberi kenyamanan. Dengan doa Nabi ini, maka orang-orang Muhajirin menjadi betah dan krasan tinggal di kota ini. Mereka membaur dan bermuamalah dengan masyarakat setempat dan bisa nyaman dengan kaum Anshar.

Perkembangan positif inilah sehingga membuat kota Madinah menjadi pusat peradaban Islam sekaligus sebagai tempat tumbuhnya Islam sebagaimana yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Di kota Madinah ini tumbuhnya spirit beragama hingga bisa memancarkan spirit perlawanan terhadap musuh-musuh Islam hingga menjadikan kota Madinah sebagai kota yang agung. Nabi membimbing para sahabat Muhajirin dan Anshar secara langsung, baik dalam mentransfer ajaran-ajaran agama, maupun dalam mengarahkan dan memimpin perang melawan atau mengusir musuh-musuh Islam.

Nabi benar-benar menjadi tokoh panutan seluruh masyarakat Madinah, dan Nabi mengajarkan Islam dan diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan sosial. Keberkahan kota Madinah dirasakan oleh masyarakatnya, sehingga masyarakat bersatu untuk membangun peradaban yang mulia. Nabi Muhammad benar-benar menjadi tokoh sentral baik dalam mengatur seluruh urusan kehidupan sosial maupun kehidupan beragama. Kedekatan penduduk Madinah terhadap Nabi demikian kuat, sehingga apapun yang diucapkan Nabi pasti akan dilaksanakan sepenuh hati dan seikhlas-ikhlasnya. Kondisi yang demikian ini, kota Madinah benar-benar disinari oleh cahaya Islam dan petunjuk Nabi.

Gelapnya Hari Wafatnya Nabi 

Cahaya Islam yang demikian terang dengan bimbingan Nabi ini, sangat wajar apabila ketika datang kabar berita meninggalnya Nabi, membuat para sahabat seolah-olah kurang bisa menerima kenyataan. Mereka mengalami kesedihan yang amat mendalam dan goncang jiwanya. Tidak sedikit yang mengalami shock berat hingga hilang kesadaran, sebagaimana yang terjadi pada diri Umar bin Khaththab. Ketika mendengar wafatnya Nabi, Umar langsung menyangkal berita itu, dan akan memenggal leher siapa saja yang mengatakan hal itu. Bahkan Umar mengatakan bahwa Nabi Muhammad sedang bertemu Tuhannya, sebagaimana Nabi Musa yang menghadap Tuhannya, dan akan kembali dalam waktu 40 hari.

Di tengah situasi yang kalut dan genting ini, datang sosok Abu Bakar yang sanggup berpikir jernih sehingga mampu menenangkan keadaan. Abu Bakar membuat para sahabat kembali berpikir normal dan menyadarkan kembali tentang tugas yang harus dilakukan pasca kematian Nabi.

Di antara ucapan-ucapan Nabi Muhammad sebelum ajalnya tiba, menarik untuk dieksplorasi. Hal ini dalam rangka untuk menunjukkan bahwa cahaya Islam akan seiring dan muncul ketika nilai-nilai tauhid kokoh. Pertama, Allah melaknat Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan para Nabi sebagai masjid. Nabi mengingatkan kepada para sahabat untuk tidak mengkultuskan dirinya dan tidak menjadikan kuburanya seperti masjid. Perilaku orang Yahudi dan Nasrani senantiasa memuliakan kuburan nabi mereka dan mengkultuskannya. Hal ini bukan hanya penyimpangan tetapi juga penyesatan secara nyata yang bertentanagan dengan prinsip tauhid.

Kedua, berbuat baik terhadap Anshar yang berjasa besar pada pada perjuangan Nabi untuk menegakkan Islam sungguh besar. Nabi mengingatkan bahwa kaum Anshar memiliki jasa besar dalam membantu tersebarnya Islam di Jazirah Arab. Di tengah penolakan kaum Quraisy di Makkah, justru kaum Anshar yang mau menerima beban dengan menerima kaum Muhajirin dan siap berada di garis depan dalam memerangi kaum kafir Quraisy dan musuh-musuh Islam lainnya. Kaum Anshar dengan ikhlas berjuang dengan harta, tenaga, dan kekayaan mereka untuk menjamin keselamatan Nabi dan tersebarnya cahaya Islam. Kaum Anshar sangat berjasa dalam penegakan tauhid sehingga Islam bersinar di Jazirah Arab.

Ketiga, Nabi menunjukkan bahwa racun terasa di tenggorokannya. Di detik-detik menjelang ajalnya, beliau menunjukkan bahwa racun yang diletakkan orang Yahudi saat di Khaibar, sebagai salah ssatu penyebab kematian beliau. Dengan adanya racun ini, menjadi bukti bahwa Nabi meninggal sebagai syuhada. Allah ingin menunjukkan bahwa Nabi Muhammad meninggal sebagaimana orang yang mati syahid. Cahaya Islam yang ingin ditegakkan dengan nilai-nilai tauhid senantiasa dirusak oleh orang Yahudi.

Poin ketiga ini menunjukkan kebenaran tentang perilaku orang Yahudi yang selalu berupaya untuk membunuh para Nabi dan Rasul dan ingin memadamkan cahaya Allah. Pemberian racun kepada Nabi Muhammad saat di Khaibar menunjukkan kebenaran bahwa orang Yahudi selalu berupaya membunuh para Nabi dan Rasul yang menyelisihi kehendaknya. Apa yang menimpa ini jauh hari sudah dikabarkan oleh seorang rahib yang beragama Nasrani (Bahirah) saat menjamu rombongan Abu Thalib yang berdagang di Syam/ Bahirah melihat tanda-tanda kenabian terhadap Muhammad ketika masih kecil dan meminta Abu Thalib untuk segera membawa pulang dan mengamankannya, karena kalau orang Yahudi mengetahui hal ini, maka akan membunuhnya.

Surabaya, 14 Nopember 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.341 kali, 2 untuk hari ini)