Reinkarnasi yang bahasa Arabnya at-tanaasukh adalah kepercayaan tentang kembalinya ruh ke bumi lagi setelah wafatnya, dan berpindah kepada jasad lainnya. (Dr A Zaki Badawi, A Dictionary of The Social Science, Librairie Du Liban, Beirut, cetakan I, 1978, halaman 351).

Reinkarnasi itu bicara tentang ruh. Kepercayaan semacam itu sama sekali tidak sesuai dengan Islam. Nabi Muhammad saja diberi wahyu oleh Allah bahwa tentang ruh itu adalah termasuk urusan Allah. Allah Ta’ala berfirman

{وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا} [الإسراء: 85]

yang artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Israa’/ 17:85).

Di masa pemerintahan Islam, yang pertama mengatakan faham sesat reinkarnasi ini adalah As-Saba’iyyah (pengikut Abdullah bin Saba’) dari (Syi’ah) Rafidhah karena mereka mendakwa bahwa Ali menjadi Tuhan ketika ruh Tuhan menyatu pada Ali.

Blog cintakajiansunnah memuat tulisan Abu Bakr Abdurrazzaq bin Shalih bin Ali An-Nahmiy, Sekilas Tentang Syi’ah Rafidlah Dan Pendirinya, di antaranya diuraikan sebagai berikut:

 Berita tentang Abdullah bin Saba’ ini sangatlah masyhur dalam buku-buku sejarah dan dia tidak mempunyai satu riwayat hadits pun, walhamdulillah. Dia mempunyai pengikut yang dikenal dengan Saba’iyyah yang meyakini sifat ketuhanan Ali bin Abi Thalib dan Ali telah membakarnya dengan api pada masa kekhalifahannya” [selesai perkataan Ibnu Hajar dalam Lisan al-Mizan].

Amirul-Mukminin Ali bin Abi Thalib telah membakar pengikut si Yahudi Abdullah bin Saba’ setelah beliau menasihati agar mereka kembali dan bertaubat kepada Allah dari kesesatan dan penyelewengan mereka. Al-Bukhari meriwayatkan (XII/335) dalam Fat-h al-Bariy: 6922, beliau berkata, Telah memberikan hadits kepada Abu An-Nu’mar Muhammad bin Al-Fadl-l ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, dari Ayyub, dari ’Ikrimah  bahwasannya ia berkata,

أُتِيَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، بِزَنَادِقَةٍ فَأَحْرَقَهُمْ، فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ، فَقَالَ: لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحْرِقْهُمْ، لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ» وَلَقَتَلْتُهُمْ، لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ»

”Didatangkan kepada Ali radliyallahu anhu sekelompok orang zindiq, lantas beliau membakarnya. Kemudian berita itu sampai kepada Ibnu Abbas radliyallahu ’anhuma, maka beliau berkata, ”Seandainya aku yang menghukumnya, maka aku tidak akan membakarnya, sebab ada larangan dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, ’Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah (yaitu api), akan tetapi aku akan membunuhnya karena sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam,’Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah ia”.

Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits ini berkata, ”Abul-Mudhaffar al-Isfirayini mengatakan dalam Al-Milal wan-Nihal bahwa yang dibakar oleh Ali itu adalah orang-orang Rafidlah yang mengklaim sifat ketuhanan pada diri Ali. Dan mereka itu adalah Saba’iyyah. Pemimpin mereka adalah Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang menampakkan keislaman. Dia membuat bid’ah berupa ucapan seperti ini. Dan sangatlah mungkin asal hadits ini adalah apa yang kami riwayatkan dalam juz 3 dari hadits Abu Thahir al-Mukhlish dari jalan Abdullah bin Syuraik Al-Amiriy, dari ayahnya ia berkata, Dikatakan kepada Ali, ’Disana ada sekelompok orang di depan pintu masjid yang mengklaim bahwa engkau adalah Rabb mereka’. Lantas beliau memanggil mereka dan berkata kepada mereka, ’Celaka kalian, apa yang kalian katakan ?’. Mereka menjawab, ’Engkau adalah Rabb kami, pencipta kami, dan pemberi rizki kami’. Ali berkata, ’Celaka kalian, aku hanyalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan makanan sebagaimana kalian makan, dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku mentaati Allah, maka Allah akan memberiku pahala jika Dia berkehendak. Dan jika aku bermaksiat, maka aku khawatir Dia akan mengadzabku. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah dan kemballah’. Tetapi mereka tetap enggan.

Ketika datang hari berikutnya, mereka datang lagi kepada Ali, kemudian datanglah Qanbar dan berkata, ’Demi Allah, mereka kembali mengatakan perkataan seperti itu’. Ali pun berkata, ’Masukkan mereka kemari’. Tetapi mereka masih mengatakan seperti itu juga. Ketiga hari ketiga, beliau berkata, ’Jika kalian masih mengatakannya, aku benar-benar akan membunuh kalian dengan cara yang paling buruk’. Tetapi mereka masih berkeras masih menjalaninya. Maka Ali berkata, ’Wahai Qanbar, datangkanlah kepadaku para pekerja yang membawa alat-alat galian dan alat-alat kerja lainnya. Lantas, buatkanlah untuk mereka parit-parit yang luasnya antara pintu masjid dengan istana’. Beliau juga berkata, ’Galilah dan dalamkanlah galiannya’.

Kemudian beliau memerintahkan mendatangkan kayu bakar lantas menyalakan api di parit-parit tersebut. Beliaupun berkata, ’Sungguh aku akan lempar kalian ke dalamnya atau kalian kembali (pada agama Allah)’. Maka Ali melempar mereka ke dalamnya, sampai ketika mereka telah terbakar, beliau pun berkata,

إِنِّي إِذَا رَأَيْتُ أَمْرًا مُنْكَرًا أَوْقَدْتُ نَارِي وَدَعَوْتُ قَنْبَرَا

Ketika aku melihat perkara yang munkar

Aku sulut apiku dan aku panggil Qanbar

Ini adalah sanad yang hasan.

[selesai perkataan Ibnu Hajar dalam Fat-h ul-Bariy].

Adapun Abdullah bin Saba’, maka Ali mengusirnya ke Al-Mada’in. / https://cintakajiansunnah.wordpress.com/tag/ali-bin-abu-thalib-radliyallahu-anhu-membakar-pengikut-abdullah-bin-saba/

Bukan dari Golongan Islam

1). Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarokafuri Abul ‘ala w 1353H, 10 juz, Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut, tt., Juz 5, h 222 menegaskan:

Ketahuilah, tanasukh/ reinkarnasi adalah kembalinya roh-roh ke badan-badan di dunia ini tidak di akherat karena mereka mengingkari akherat, surga, dan neraka, maka karena itu mereka kafir. Titik. Aku (Al-Mubarokafuri, penulisTuhfatul Ahwadzi, Syarah Kitab Hadits Jami’ at-Tirmidzi) katakan atas batilnya tanasukh/ reinkarnasi itu ada dalil-dalil yang banyak lagi jelas di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di antaranya:

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ(99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ(100)

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (QS Al-Mukminun: 99-100).[1]

2). Dalam Kitab al-Muhalla, Ibnu Hazm mengemukakan hadits dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda:

” إِذَا مَاتَ الرَّجُلُ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَالْجَنَّةُ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَالنَّارُ. قَالَ: ثُمَّ يُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ الَّذِي تُبْعَثُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “

“Apabila seseorang meninggal maka dibentangkan atasnya tempat duduknya pagi dan sore. Apabila ia termasuk ahli surga maka surga lah (yang dibentangkan padanya) dan apabila dia termasuk ahli neraka maka neraka lah (yang dibentangkan padanya). Kemudian dikatakan padanya, ini tempat dudukmu yang kamu dibangkitkan kepadanya pada hari qiyamat. Maka dalam hadits ini bahwa ruh-ruh itu merasakan mengetahui dipilah-pilah setelah berpisahnya dari jasad. Adapun orang yang mengira bahwa ruh-ruh itu berpindah ke jasad-jasad lain maka persangkaan itu adalah perkataan orang-orang berfaham reinkarnasi/ tanasukh, dan itu adalah kekafiran menurut seluruh umat Islam. Wabillahit taufiq.[2]

Tentang faham kufur reinkarnasi ini, Kitab Al-farq bainal Firaq menjelaskan, telah ada sebelum Islam dan sesudah datangnya masa daulah Islam. Berikut ini kutipannya:

Pengikut faham reinkarnasi keluar dari golongan Islam.

Orang-orang yang berfaham reinkarnasi ada beberapa golongan. Segolongan dari filsafat dan segolongan dari samaniyah (perdukunan –animisme). Dua golongan ini telah ada sebelum daulah Islam. Dua golongan lainnya muncul di masa daulah Islam, yang satu dari kelompok qodariyah (tak begitu percaya taqdir, sejalan dengan Mu’tazilah) dan yang lain dari golongan (Syi’ahRafidhah ekstrim.

Pengikut faham reinkarnasi samaniyah (perdukunan –animisme) berkata, alam ini qodim/ dahulu (sudah ada sejak dulunya). Mereka berpendapat juga tentang batalnya teori dan dalil. Mereka menyangka bahwa tidak ada pengetahuan kecuali dari arah lima indera. Sebagian banyak dari mereka mengingkari hari qiyamat dan kebangkitan setelah mati.

Sebagian mereka berpendapat dengan penjelmaan kembali ruh dalam bentuk berbeda-beda, dan mereka membolehkan berpindahnya ruh manusia ke anjing dan ruh anjing ke manusia. Aqlotharkhas menceritakan seperti ini dari sebagian filsafat dan mereka menyangka bahwa orang yang berdosa dalam satu lubang maka dia memperoleh siksa atas dosanya itu dalam lubang yang lain. Demikian pula pendapat mengenai pahala di sisi mereka. Dan hal yang sangat mengherankan adalah pengakuan golongan samaniyah (dukun –animisme) mengenai reinkarnasi/ penjelmaan kembali yang tidak diketahui dengan indera, padahal mereka katakan, tidak ada pengetahuan kecuali dari arah indera.[1]

Golongan Manawiyah (Manichaeisme)[1] ikut pula pendapat reinkarnasi. Mani berkata di sebagian kitabnya, bahwa ruh-ruh yang berpisah dengan jasad ada dua macam: ruh-ruh orang yang benar dan ruh-ruh orang yang sesat. Ruh-ruh orang yang benar apabila berpisah dengan jasadnya maka berjalan dalam tiang subuh ke cahaya yang di atas falak maka menetap di alam yang demikian itu dalam keadaan bergembira selalu. Dan ruh-ruh orang sesat apabila berpisah dari badan dan ingin berjumpa dengan nur cahaya yang tinggi dibalikkan terpental ke bawah, maka menjelma kembali/ reinkarnasi dalam badan-badan hewan sampai dia bersih dari daki-daki kegelapan. Kemudian dia berjumpa dengan nur yang tinggi.[1]

Dan disebutkan, pengikut pendapat dari Socrates dan Platon serta pengikut -pengikut faham keduanya dari kalangan filsafat, bahwa mereka berkata mengenai reinkarnasi ruh secara terinci, telah kami (penulis kitab alfarq bainal firaq) ceritakannya di kitab al-milal wan-nihal.

Dan sebagian orang Yahudi berkata mengenai reinkarnasi, mereka menyangka bahwa ada di kitab Daniel, Allah Ta’ala menjelmakan Bukhtanshar (Nebukatnezar) dalam 7 bentuk binatang ternak dan srigala, dan Dia mengadzabnya pada binatang-binatang itu semua, kemudian membangkitkannya dalam bentuk lainnya dengan menyatu.[1]

Adapun pengikut faham reinkarnasi pada masa daulah Islam, yaitu al-bayaniyyah, al-janahiyyah, al-khothobiyyah, dan ar-rawandiyah dari kalangan (Syi’ah) Rafidhah hululiyyah (menganggap Allah menyatu dengan diri manusia). Semuanya berpendapat dengan reinkarnasi ruh Tuhan pada imam-imam dengan persangkaan mereka.

Yang pertama mengatakan faham sesat reinkarnasi ini adalah As-Saba’iyyah (pengikut Abdullah bin Saba’) dari (Syi’ah) Rafidhah karena mereka mendakwa bahwa Ali menjadi Tuhan ketika ruh Tuhan menyatu pada Ali.[1]

Imam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Risalah Fit Taubah, menjelaskan: Dan demikian juga pertama-tama pendapat ekstrim yang dibuat dalam Islam adalah dari sebagian orang yang telah masuk Islam dan bergabung dalam kelompok Syi’ah. Dan dikatakan, orang pertama yang menampakkan faham ekstrim (melampaui batas) adalah Abdullah bin Saba’ yang dulunya Yahudi lalu masuk Islam dan ia lah orang yang melakukan fitnah atas Utsman. Kemudian ia menampakkan berwalikan kepada Ali, dan dialah yang membuat bid’ah ghuluw/ ekstrim terhadap Ali sehingga tampak pada zamannya orang yang mengaku dalam diri Ali ada ketuhanan, dan orang itu bersujud kepada Ali ketika Ali keluar dari Masjid Kindah. Maka Ali memerintahkan untuk membakar mereka dengan api setelah diberi waktu tangguh 3 hari.[1]

Al-Bayaniyyah menyangka, bahwa ruh Tuhan berputar pada nabi-nabi kemudian imam-imam sampai masuk ke dalam (diri) Bayan bin Sam’an.

Al-Janahiyyah mengaku seperti itu juga mengenai Abdullah bin Mu’awiyah bin Abdullah bin ja’far. Demikian pula pengakuan Al-Khothobiyyah mengenai Al-Khothob. Begitu juga dakwaan kaum Ar-Rawandiyah mengenai Abi Muslim pemilik Daulah Bani Abbas. Maka mereka berpendapat dengan (mempercayai) reinkarnasi ruh Tuhan, bukan ruh-ruh manusia. Maha Tinggi Allah dari yang demikian itu. Allah Maha Tinggi Maha Agung.

(lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2008, halaman 246-249).

(nahimunkar.com)


[1] Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarokafuri Abul ‘ala w 1353H. 10 juz, Darul Kutub ilmiyyah, Beirut, tt., Juz 5, h 222

تحفة الأحوذي ج: 5 ص: 222

إعلم أن التناسخ ثم أهله هو رد الأرواح إلى الأبدان في هذا العالم لا في الاخرة إذ هم ينكرون الاخرة والجنة والنار ولذا كفروا انتهى قلت على بطلان التناسخدلائل كثيرة واضحة في الكتاب والسنة منها قوله تعالى حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ(99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ(100)

[2]Ibnu Hazm (383-456H), Al-Muhalla, 11 juz, darul Afaq al-jadidah, Beirut, tt, juz 1, halaman 26.

المحلى ج: 1 ص: 26

ثنا معمر عن الزهري عن سالم عن ابن عمر قال قال النبي صلى الله عليه وسلم إذا مات الرجل عرض عليه مقعده بالغداة والعشي إن كان من أهل الجنة فالجنة وإن كان من أهل النار فالنار ثم يقال له هذا مقعدك الذي تبعث إليه يوم القيامة ففي هذا الحديث أن الأرواح حساسة عالمة مميزة بعد فراقها الأجساد وأما من زعم أن الأرواح تنقل إلى أجساد أخر فهو قول أصحاب التناسخ وهو كفر ثم جميع أهل الإسلام وبالله تعالى التوفيق