Yang menjadi penyulut ricuh di Rutan Salemba cabang Mako Brimob diterangai bukan cuma karena makanan. Selain itu, siapa sangka orang paling berpengaruh dalam jejaring Negara Islam (ISIS) di Indonesia saat ini, Aman Abdurrahman, dipakai oleh pihak kepolisian untuk meredam gejolak kerusuhan yang terjadi di Rumah Tahanan Mako Brimob?

Mengutip reportase Tirto.ID, Sabtu (12/05/2018), dari rekaman yang didapatkan, Aman diketahui meminta para pengikutnya untuk melunak dan menyerahkan diri. Meski begitu, Aman tidak tahu sebetulnya apa yang terjadi. Rekaman itu sendiri (bisa didengarkan di akhir berita) berdurasi 1 menit 58 detik.

“Jadi ini berawal dari semua permasalahan yang sudah dikumpul-kumpul, diakumulasi oleh ikhwan-ikhwan, dari mulai masalah pembatasan tentang hak-hak: makanan, kemudian masalah besukan, dan sebagainya,” ucap Abu Qutaibah alias Iskandar alias Alexander dalam kronologi penyebab kejadian ricuh di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Selasa malam (08/05/2018).

Abu Qutaibah (Iskandar alias Alexander) merupakan sosok yang dituakan di antara penghuni tiga blok khusus tindak pidana terorisme di Rutan Mako Brimob. Ia adalah narapidana tindak pidana terorisme (napiter) Bom Kampung Melayu yang ditangkap pada Juni 2017 oleh Densus 88 Mabes Polri.

Rekaman Abu Qutaibah tersebut didapatkan secara eksklusif dan menjadi tambahan informasi ihwal penyebab ricuh yang membuat lima personel polisi tewas dan terjadi drama penyanderaan seperti klaim pihak kepolisian.

Versi Napi: Bukan Cuma Makanan

Aman Abdurrahman

Versi polisi, rusuh yang bermula sejak Selasa sore (08/05/2018) itu disebabkan persoalan titipan makanan yang tertahan milik salah seorang penghuni tahanan.

Menurut Abu Qutaibah dalam rekaman berdurasi 11 menit 35 detik ini, insiden pemberontakan napi dan terdakwa kasus terorisme itu akumulasi kekesalan para napiter lantaran barang titipan yang diberikan kolega mereka tak bisa masuk ke ruang tahanan. Selain itu, ada perlakuan anggota polisi yang dianggap melecehkan istri mereka sewaktu besuk.

Akhwat kami ditelanjangi,” kata Abu Qutaibah.

“Itu terkadang sudah pakai celana dalam, disuruh loncat jongkok. Ini dengan tujuan kalau ada barang terlarang bisa jatuh karena disuruh loncat-loncat. Ini satu hal yang tidak manusiawi menurut kami,” tambah Qutaibah.

Akumulasi kekesalan itu kemudian meledak saat permintaan penjelasan para napiter kepada petugas tak direspons dengan baik. Para napiter mendatangi kantor sipir untuk meminta penjelasan kenapa barang, termasuk makanan yang diberikan oleh keluarga mereka, tidak diantar ke tahanan.

Saat para napiter meminta penjelasan, ungkap Abu Qutaibah, seorang anggota Densus 88 meletuskan tembakan yang melukai rekan mereka. Tembakan itu tepat mengenai dada kiri seorang tahanan. Belakangan, diketahui tahanan yang tertembak itu adalah Wawan Kurniawan alias Abu Afif.

Petugas kemudian melepas tembakan kembali dan menumbangkan Benny Syamsu, terdakwa tindak pidana terorisme asal Pekanbaru, yang persidangannya satu majelis dengan Wawan di PN Jakarta Barat. Saat mengetahui rekan mereka tumbang, kemarahan memuncak dan situasi tak bisa dikendalikan.

“Ketika mereka sampai dengan kemarahan mereka di kantor sipir ada petugas Densus yang mengeluarkan tembakan, kemudian ikhwan kami terluka. Satu orang,” sebut Qutaibah.

“Wallahu a’lam ini semua di luar dugaan kami. Jadi kalau pihak Densus menyalahkan kami, tidak bisa. Karena insiden ini tidak ada rencana sebelumnya.”

Sebelum wartawan mendapatkan rekaman ini, Asludin Hatjani selaku kuasa hukum Aman Abdurrahman sekaligus pengacara Wawan dan Benny sempat dihubungi.

Asludin membenarkan klaim polisi yang menyebut pemantik kerusuhan di Rutan Mako Brimob bermula dari makanan.

“Dia (Wawan) ingin makanan yang dibawa istrinya, tapi tidak bisa masuk,” kata Asludin via telepon, Kamis malam (10/05/2018).

Sebelum kerusuhan di Mako Brimob itu, Wawan baru saja menjalani persidangan kedua atas kasus kepemilikan senjata api dan rencana jihad ke Marawi. Wawan mengeluhkan perlakuan petugas kepada Asludin.

Pengakuan ini sinkron dengan keterangan polisi. Sebagaimana klaim polisi dalam jumpa pers di Mako Brimob, Rabu pagi (09/05/2018), pemantik kerusuhan bermula dari makanan yang tak diberikan petugas kepada para tahanan terpidana teroris. Wawan dianggap provokator kerusuhan di Rutan Mako Brimob.

“Pemicunya hal sepele, masalah makanan,” ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Mohamad Iqbal.

Namun, keterangan polisi tak sepenuhnya menjawab penyebab lain soal kericuhan berdarah itu. Banyak yang tak dikatakan polisi mengenai insiden selama 38 jam tersebut.

Akumulasi Kekesalan

Sebelum tim jurnalis mendapatkan rekaman eksklusif Abu Qutaibah—orang yang dituakan dalam sel di tiga blok Rutan Salemba cabang Mako Brimob, pernyataan serupa juga jurnalis dapatkan dari Muhammad Jibriel Abdul Rahman. Diketahui, yang bersangkutan merupakan mantan terpidana kasus tindak pidana terorisme Pemboman Hotel JW Marriot tahun 2009. Menurut Jibriel, kericuhan berdarah itu merupakan akumulasi dari perlakuan yang selama ini diterima para tahanan.

“Di saat orang divonis masuk ke dalam penjara, dia tidak akan pernah senyaman apa yang dia lakukan. Jadi, ketika kamu merasa dizalimi, itu wajar. Kalau enggak mau, ya bebas aja,” ujar Jibriel di sela-sela rapat persiapan aksi demonstrasi 11 Mei 2018 atau ‘Aksi 115’ di Monumen Nasional hari ini.

“Rentetan-rentetan terjadinya hal tersebut (kerusuhan di Rutan Mako Brimob) ini panjang,” imbuhnya.

Ia menyebut kerusuhan Selasa malam (08/05/2018) itu bermula dari perlakuan petugas di dalam rutan. Salah satunya prosedur pemeriksaan di dalam rutan yang membuat tahanan di blok khusus itu meradang.

Pernyataan serupa dikatakan oleh Firdaus Ghazali, pengacara deportan ISIS yang tertangkap di perbatasan Suriah. Di Rutan Mako Brimob, memang ada perlakuan yang membuat risih pembesuk. Ia pernah mengalami perlakuan yang dianggap melebihi batas saat menemui kliennya di dalam rutan.

“Saya sampai membuka semua pakaian hingga celana dalam saya,” tukasnya.

Ia menyebut aturan ketat itu mulai berlaku baru-baru ini. Aturan itu, katanya, dibuat oleh Brimob yang menjaga keamanan di area rutan.

Ali Fauzi, mantan terpidana terorisme bom Bali sekaligus adik kandung Amrozi, juga mengatakan hal sama. Ia menilai ada perlakuan yang tak seharusnya diterapkan berlebihan pada prosedur pemeriksaan untuk para pembesuk di Rutan Brimob.

“Dalam beberapa hal, harusnya lelaki yang memeriksa. Ini yang membuat mereka tersinggung. Harusnya sesuai prosedurlah,” ungkap Ali Fauzi melalui sambungan telepon, Kamis (10/05/2018).

Tim jurnalis mencoba mengonfirmasi ihwal pernyataan Abu Qutaibah seperti yang muncul dalam rekaman, bahwa ada perlakuan anggota polisi yang dianggap melecehkan istri mereka saat membesuk tahanan di Mako Brimob, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto membantahnya.

“Enggak mungkin lah kalau itu. Hoax itu saya berani jamin kalau yang menjenguk ditelanjangi, nggak mungkin,” tandas Setyo di Mabes Polri, Jumat (11/05/2018).

Selang beberapa jam setelah percakapan lewat rekaman terpisah dengan Aman Abdurrahman, para tahanan akhirnya menyerahkan diri sebelum subuh. Namun tak pasti apakah faktor Aman ini jadi penentu atau tidak. Sebab Wakapolri Komjen Syafruddin tetap bersiteguh bahwa saat mereka mengatasi aksi pemberontakan tahanan dan terdakwa kasus terorisme di Mako Brimob, ia mengklaim tak ada proses negosiasi, kesepakatan, maupun tawar-menawar antara petugas kepolisian dan para tahanan.

Penulis Sarah Rachelea / suratkabar.id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.990 kali, 1 untuk hari ini)