(Bahasa Jawa di bagian bawah)

Jokowi2_82736423748

Jakarta (voa-islam.com) Sebuah langkah strategis dilakukan dengan sangat hati-hati dan sistematis. Bagaimana agar sirkulasi (perubahan) politik di Indonesia ini tidak jatuh ke tangan kalangan Islam.

Dengan menggunakan istrumen (sarana) media-media kristen dan sekuler, dan lembaga-lembaga LSM, seperti lembaga jajak pendapat, yang kemudian mematikan semua tokoh dan partai (organisasi) Islam, dan bahkan digiring ke dalam ladang pembataian politik “The killing field”.

Tentu media-media kristen dan sekuler, pertama yang dihancurkan karakter mereka, dan disudutkan dengan tuduhan, bahwa tokoh-tokoh Islam dan partai Islam (organisasi) itu, sangat busuk. Korup, maling, dan tukang tipu, dan tukang kawin.

Padahal, seluruh harta kekayaan, hasil korupsi dari kalangan tokoh Islam itu, yang menjadi pejabat dan pejabat publik, sejak zamannya Soekarno sampai sekarang,  tidak ada seujung kuku hitamnya, dibandingkan dengan yang dijarah para konglomerat keturunan Cina, yang mendapatkan fasilitas BLBI, yang jumlahnya lebih Rp 650 triliun. Sekarang tidak ada kabar beritanya. Kekayaan mereka yang mereka keruk dari Indonesia, mereka tanam dan simpan di Singapura.

Bahkan, pemerintah Indonesia masih  harus menanggung bunga utang BLBI, yang jumlah mencapai Rp60 triliun, yang setiap tahunnya harus dibayar melalui APBN. Rakyat harus terus-menerus menanggung bunga utang, sampai tahun 2030, dan nasib rakyat semakin sengsara.

Sekarang ini, rekayasa itu, dijalankan dengan cara tertutup, dan menggunakan media kristen dan sekuler, memblow up,“kebusukan”  tokoh-tokoh Islam, dan dipaksa mereka agar berlaku menjadi tokoh-tokoh yang sekuler, dan tidak lagi memililki keberanian menyatakan dirinya sebagai Muslim. Ada perasaan “fears” (ketakutan) yang luar biasa, dan mereka harus mengatakan dengan sangat keras : Tidak Ada Negara Islam.

Rekayasa yang sekarang dijalankan tampilnya tokoh-tokoh yang sesuai dengan skenario dan blue print yang mereka ciptakan, yaitu munculnya tokoh nasional dan lokal, yang merupakan kuasi (campuran) antara penganut kejawen (klenik) dan kristen. Ini mirip awal pemerintahan Soeharto.

Soeharto  tokoh kejawen, dan pilarnya kekuasaan terdiri tokoh-tokoh kristen. Mulai Jenderal Maraden Panggebean, Jenderal, LB Moerdani, Laksamana Soedomo, Cosmas Batubara, Manihuruk, dan sejumlah tokoh lainnya.

Dengan kekuasaannya Soeharto selama 30 tahun, kalangan kristen berhasil melakukan konsolidasi, dan terutama kalangan Cina perantauan yang umumnya kristen, berhasil mengambil alih mayoritas asset ekonomi Indonesia.

Bahkan, sekarang mereka dengan kekuatan ekonominya sudah masuk dan merambah sampai ke kampung-kampung menghancurkan ekonomi kaum pribumi. Melalui Alfamarta dan Indomarta, semua pedagang pribumi bangkrut. Mulai dari hulu sampai hilir, ekonomi Indonesia sudah dikuasai oleh kekuatan Cina perantauan.

Para birokrat yang kejawen dan abangan itu, kemudian bersama dengan orang-orang cina kristen, sekarang terus berusaha melakukan konsolidasi, dan merengkuh kekuasaan. Mulai dari Jakarta.

Bagaimana rekayasa dijalankan secara sitematis. Jakarta merupakan barometer politik, dan akan mempunyai  dampak yang sangat strategis. Dengan berhasil melakukan rekayasa terhadap Jakarta, dan kekuasaan berada di tangan rezim kuasai “kejawen-kristen”, otomatis akan seperti virus, dan akan berdampak secara nasional.  

Ini akan dilakukan dengan sangat sitematis. Di 2014, jangan ada tokoh Islam, yang dapat tampil ke permukaan, dan menjadi tokoh yang mendapatkan dukungan rakyat.

Maka, langkah-langkah yang dilakukan media kristen dan sekuler itu, menghancurkan karakter tokoh-tokoh Islam, dan memberikan stigma yang sangat busuk. Korup, maling, tukang tipu, tukang dusta, dan tukang kawin. Ini sangat mujarab untuk menghancurkan mereka. Opini digambarkan sedemikian rupa, bahwa rakyat sudah tidak lagi doyan dengan namanya berbau :“Islam”.

Sementara itu, sebagai etalese Jakarta yang dikuasai kuasi kejawen-kristen (Jokowi-Ahok), mendapatkan sanjungan yang sangat luar biasa, seperti harian Kompas, tak henti-hentinya menyanjung Jokowi. Lembaga riset Kompas, menggambarkan populeritas Jokowi, berdasarkan survey, populeritasnya tetap tinggi, mencapai 89 persen, di mata rakyat, pasca banjir yang menenggelamkan Jakarta.

Jawa Baratpun sekarang diarahkan agar yang menang pasangan Oneng-Teten, sebagai tokoh  yang sangat pro-perubahan. Oneng-Teten dianggap seperti “dewa penyalamat”, mirip di Jakarta pasangan Jokowi-Ahok.

Cara-cara media kristen dan sekuler terus melakukan rekayasa yang sangat sistematis, agar semua kekuatan yang tidak sejalan dengan rencana mereka, nantinya akan  habis. Di masa depan muncul kuasai rezim kejawen-kristen.

Media-media kristen dan sekuler akan selalu memberitakan begitu hebat tentang terorisme. Bahkan, menutup mata terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh polisi. Seperti terhadap sejumlah terduga teroris,  yang sebenarnya tidak memiliki bukti yang jelas. Tetapi mereka sudah dibunuh dengan sangat kejam.

Tetapi, tidak ada yang memberitakannya, dan justeru apa saja yang disampaikan oleh aparat kepolisian dianggap sesuatu yang benar belaka. Stigamatisasi berhasil sangat efektif. Tidak ada satupun kalangan ormas, partai, dan tokoh yang berbicara tentang pelanggaran atas tindakan aparat Densus 88 terhadap orang-orang yang menjadi terduga teroris.

Bandingkan, misalnya harian Kompas, selalu mengangkat kasus Semanggi 98, dan pembantaian PKI, sebagai pelanggaran HAM, tetapi tidak pernah mengangkat pembantaian umat Islam di Lampung, Priok, Haur Koneng, dan bahkan tindakan “Petrus” (penembakan misiterius), yang sangat luar biasa terhadap orang-orang Islam. Seakan kalau orang Islam yang dibunuh dan diberi lebel teroris itu sifatnya sudah “given” (dimaklumi). Tidak lagi perlu dipersoalkan.

Kasus Bupati Garut Aceng, begitu gegap gempita, seluruh media cetak dan elektronik, mengangkat dan memberitakan serta luar biasa. Seakan Bupati Garut Aceng, sebagai penjahat yang sangat biadab.

Padahal, banyak pejabat dan pejabat publik di negeri yang suka “nglonte” (melacur), menyimpan “gundik”, tetapi tidak pernah ada media massa yang melakukan investigasi atas kejahatan mereka. Seakan-akan “nglonte” dan menyimpan“gundik” lebih bermoral, dibandingkan dengan kawin lagi. Sampai-sampai Aceng harus dilengserkan.

Ali Sadikin pernah bilang, kalau cukup makan “sate kambing”, mengapa harus membeli “kambing”. Maksudnya Ali Sadikin, kalau bisa “nglonte” dan menyimpan “gundik”mengapa harus kawin lagi alias poligami.

Tak kalah pentingnya,  Presiden SBY pun ikut memberikan komentar terhadap kasusnya Aceng. Inilah negeri yang sudah terbalik. Orang jahat menjadi pemimpin dan dikagumi, dipuja-puja, sementara orang-orang yang mau menegakkan Islam menjadi musuh negara. Wallahu’alam. Senin, 28 Jan 2013

***

Rekayasa ewah-ewahan Politik nampilaken Tokoh Kejawen lan  Kristen 

Jakarta voa-islamcom Setunggal jangkah strategis dipun tumindakake kaliyan ngatos-atos sanget lan  sistematis. kados pundi kajengipun sirkulasi (ewah-ewahan) politik ing Indonesia punika mboten dhawah datheng tangan kalangan Islam.
kaliyan ngginakaken istrumen (pirantos) media-media kristen lan  sekuler, lan  lembaga-lembaga LSM, kados lembaga jajak pamanah, ingkang lajeng mejahi sedaya tokoh lan  partai (organisasi) Islam, lan  bahkan digiring mlebet tegil pembataian politik “The killing field”.
Tentu media-media kristen lan  sekuler, setunggal ingkang dihancurkan karakter mereka, lan disudutkan kaliyan tuduhan, bahwa tokoh-tokoh Islam lan  partai Islam (organisasi) punika, busuk sanget. Korup, maling , lan  tukang blenjani, lan  tukang kawin.
Padahal, sedaya banda kesugihan, pikantuk korupsi saking kalangan tokoh Islam punika, ingkang dados pejabat lan pejabat publik, ket zamannya Soekarno sapriki, mboten enten seujung kuku cemengipun, dipun bandingaken kaliyan ingkang dijarah para konglomerat turun Cina, ingkang angsal fasilitas BLBI, ingkang wilanganipun langkung Rp 650triliun. sakmenika mboten enten prungon wartanipun. kesugihan mereka ingkang mereka keruk saking Indonesia, mereka tanem lan  simpan ing Singapura.
Bahkan, pamerentah Indonesia taksih kedah nanggel bunga utang BLBI, ingkang wilangan mencapai Rp60 triliun, ingkang saben taunipun kedah dibayar langkung APBN. Rakyat kedah terus-nerus nanggel bunga utang, ngantos taun 2030, lan nasib rakyat tambah rekaos.
sakmenika punika, rekayasa punika, dipun radinaken kaliyan cara tertutup, lan  ngginakaken media kristen lan sekuler, memblow up,”kebusukan” tokoh-tokoh Islam, lan  dipun peksa mereka kajengipun majeng dados tokoh-tokoh ingkang sekuler, lan  mboten malih memililki keberfanian ngginemaken badanipun dados Muslim. enten pangraos “fears” (kajrihan) ingkang linangkung, lan  mereka kedah ngginemaken kaliyan keras sanget : mboten enten nagari Islam.

Rekayasa ingkang sakmenika dipun radinaken tampilipun tokoh-tokoh ingkang sami kaliyan skenario lan  blue print ingkang mereka ciptakan, yaiku munculnya tokoh nasional lan  lokal, ingkang ngrupikaken kuasi (campuran) antawis pengikut kejawen (klenik) lan  kristen. punika mirip awal pamerentahan Soeharto.
Soeharto tokoh kejawen, lan  pilarnya kekuwaosan badan tokoh-tokoh kristen. awit Jenderal Maraden Panggebean, Jenderal, LB Moerdani, Laksamana Soedomo, Cosmas Batubara, Manihuruk, lan  sawilangan tokoh sanesipun.
kaliyan kekuwaosanipun Soeharto salebetipun 30 taun, kalangan kristen kedadosan numindakake konsolidasi, lan  paling utami kalangan Cina purug/ rantau  ingkang umumnya kristen, kedadosan mendhet alih mayoritas asset ekonomi Indonesia.
Bahkan, sakmenika mereka kaliyan kekiyatan ekonominya sampun mlebet lan  merambah ngantos dhateng dhusun-dhusun menghancurkan ekonomi kaum pribumi. langkung Alfamarta lan  Indomarta, sedaya pengusaha pribumi bangkrut. awit saking hulu ngantos hilir, ekonomi Indonesia sampun dipun kuwaosi dening kekiyatan Cina purug/ rantau .
Para birokrat ingkang kejawen lan  abangan punika, lajeng sareng kaliyan tiyang-tiyang cina kristen, sakmenika terus ngupados numindakake konsolidasi, lan  merengkuh kekuwaosan. awiti saking Jakarta.
kados pundi rekayasa dipun radinaken sacara sitematis. Jakarta ngrupikaken barometer politik, lan  badhe nggadhahi dampak ingkang strategis sanget. kaliyan kedadosan numindakake rekayasa majeng Jakarta, lan  kekuwaosan ngenten ing tangan rezim kuwasi “kejawen-kristen”, otomatis badhe kados virus, lan  badhe berdampak sacara nasional.
punika badhe dipun tumindakake kaliyan sitematis sanget. ing 2014, ampun enten tokoh Islam, ingkang saged tampil datheng permukaan, lan  dados tokoh ingkang angsal dukungan rakyat.
mila, jangkah-jangkah ingkang dipun tumindakake media kristen lan  sekuler punika, menghancurkan karakter tokoh-tokoh Islam, lan  nyukakaken stigma ingkang busuk sanget. Korup, maling , tukang blenjani, tukang dora, lan  tukangkawin. punika mujarab sanget konjuk menghancurkan mereka. Opini dipun gambaraken samekaten rupi,bahwa rakyat sampun mboten malih doyan kaliyan naminipun mambet :”Islam”.
Sementara punika, dados etalese Jakarta ingkang dipun kuwaosi kuasi kejawen-kristen (Jokowi-Ahok), angsal sanjungan ingkang luar biasa, kados padintenan Kompas, mboten kendel-kendelipun menyanjung Jokowi. Lembaga riset Kompas, nggambaraken populeritas Jokowi, berdasarkan survey, populeritasnya tetap inggil, mencapai 89 persen, ing mripate rakyat, pasca bena ingkang menenggelamkan Jakarta.
Jawi kilen sakmenika diarahkan kajengipun ingkang mimpang pasangan Oneng-Teten, dados tokoh ingkang pro-ewah-ewahan sanget. Oneng-Teten dipun anggep kados “dewa penyalamat”, mirip ing Jakarta pasangan Jokowi-Ahok.
cara-cara media kristen lan  sekuler terus numindakake rekayasa ingkang sistematis sanget, kajengipun sedaya kekiyatan ingkang mboten saradin kaliyan rencana mereka, mangkenipun badhe telas. ing masa ngajeng muncul kuwaosi rezim kejawen-kristen.
media-media kristen lan  sekuler badhe salajeng martakaken mekaten linangkung babagan terorisme. Bahkan, menutup mripat majeng pelanggaran ingkang dipun tumindakake dening polisi. kados majeng sawilangan terduga teroris, ingkang saleresipun mboten nggadhahi bukti ingkang pertela. nanging mereka sampun dipun pejahi kaliyan kejam sanget.

nanging, mboten enten ingkang martakaken piyambakipun, lan  justeru menapa kamawon ingkang katur dening aparatnkepolisian dipun anggep samukawis ingkang leres belaka. Stigamatisasi kedadosan efektif sanget. mboten enten setunggala kalangan ormas, partai, lan  tokoh ingkang crios babagan pelanggaran atas tindakan aparat Densus 88 dhateng tiyang-tiyang ingkang dados terduga teroris.
bandingaken, kados ta padintenan Kompas, salajeng peistiwa kasus Semanggi 98, lan  pembantaian PKI, dados pelanggaran HAM, nanging mboten nate peistiwa pembantaian umat Islam ing Lampung, Priok, Haur Koneng, lan bahkan tindakan “Petrus” (panyenjatan misiterius), ingkang luar biasa dhateng tiyang-tiyang Islam. seakan menawi tiyang Islam ingkang dipun pejahi lan  dipun sukani lebel teroris punika sifatnya sampun “given” (dimaklumi). mboten malih betah dipersoalkan.
Kasus Bupati Garut Aceng, mekaten gegap gempita, sedaya media cetak lan  elektronik, peistiwa lan  martakaken mawi linangkung. sabadhe Bupati Garut Aceng, dados pangawon ingkang biadab sanget.
Padahal, kathah pejabat lan  pejabat publik ing negeri ingkang remen “nglonte” (melacur), menyimpan “gundik”, nanging mboten nate enten media massa ingkang numindakake investigasi atas kejahatan mereka. Seakan-akan “nglonte” lan menyimpan”gundik” langkung bermoral, dipun bandingaken kaliyan kawin malih. ngantos-ngantos Aceng kedah dilengserkan.
Ali Sadikin nate sanjang, menawi cekap tedha “sate menda”, kenging punapa kedah tumbas “menda”. pangangkahipun AliSadikin, menawi saged “nglonte” lan  menyimpan “gundik” mengapa kedah kawin malih alias poligami.
mboten kawon wigatinipun, Presiden SBY pun ndherek nyukakaken komentar dhateng kasusnya Aceng. punika negeri ingkang sampun kuwangsul. tiyang awon dados pangajeng lan  dikagumi, dipuja-puja, sementara tiyang-tiyang ingkang kersa njejegaken Islam dados mengsah nagari. Wallahu’alam. Senin, 28 Jan 2013

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.131 kali, 1 untuk hari ini)