Rekor! Sehari Positif COVID-19 Tembus 11.278 Kasus, DKI Jakarta Tertinggi

views: 1.125


Kasus positif COVID-19 di Tanah Air kembali bertambah. Tercatat hingga 13 Januari 2021 bertambah 11.278 kasus. Sehingga akumulasi sebanyak 858.043 orang. Foto/SINDOnews

 

JAKARTA – Kasus positif COVID-19 di Tanah Air kembali bertambah. Tercatat hingga 13 Januari 2021 bertambah 11.278 kasus. Sehingga akumulasi sebanyak 858.043 orang.

Rekor penambahan 11.278 kasus ini memecahkan rekor pada hari kemarin 8 Januari 2021 Januari 2021 dimana kasus COVID-19 sebanyak 10.617 kasus. 

Dimana penyumbang kasus tertinggi dari lima provinsi adalah DKI Jakarta 3.476, Jawa Barat 1.755, Jawa Tengah 1.475, Jawa Timur 815, dan Sulawesi Selatan 648.

Jumlah ini merupakan hasil tracing melalui pemeriksaan sebanyak 71.689 spesimen yang dilakukan dengan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).


Selain itu, juga dilaporkan kasus yang sembuh dari COVID-19 pada hari ini tercatat bertambah 7.657 orang. Sehingga total sebanyak 703.464 orang sembuh.

Sementara jumlah yang meninggal kembali bertambah 306 orang. Sehingga meninggal menjadi 24.951 orang. 
Sementara itu, saat ini sebanyak 59.667 orang menjadi suspek COVID-19. Saat ini kasus tersebar di 510 kabupaten kota di 34 provinsi.

 

Binti Mufarida

nasional.sindonews.com, Rabu, 13 Januari 2021 – 20:50 WIB

***

Wabah Penyakit Itu Azab bagi Orang Kafir dan Pelaku Dosa Besar, tapi Rahmat bagi Orang Mukmin

Posted on 8 April 2020

by Nahimunkar.org

 

Wabah Penyakit Itu Azab bagi Orang Kafir dan Pelaku Dosa Besar, tapi Rahmat bagi Orang Mukmin


  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wabah penyakit yang menyebar di suatu daerah itu pada dasarnya merupakan azab bagi orang-orang yang tak beriman. Selain itu, pelaku dosa besar juga termasuk azab baginya bila terjadi suatu wabah penyakit yang menimpanya. Namun, ini merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pasalnya, orang beriman akan diberikan pahala setara orang yang mati syahid.


Wabah penyakit yang menyebar di suatu wilayah tertentu membuat khawatir para penduduknya. Wabah penyakit ini terkadang mematikan. Oleh karena itu, orang yang bersabar menghadapi wabah penyakit, dan sampai meninggal itu digolongkan sebagai orang yang mati syahid.

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa beliau pernah bertanya pada Rasulullah mengenai wabah penyakit atau tho’un. Rasulullah saw. memberi isyarat demikian:



أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ» تَابَعَهُ النَّضْرُ، عَنْ دَاوُدَ


Artinya:
(tho’un) itu azab yang Allah timpakan pada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya rahmat bagi mukminin. Tidaklah seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di daerah tersebut dalam keadaan bersabar, meyakini bahwa tidak ada musibah kecuali atas takdir yang Allah tetapkan, kecuali ia mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid. Hadis ini diperkuat riwayat al-Nadhr dari Daud (HR Bukhari). (Tafsir Surah Yasin Ayat 18-19: Mengaitkan Musibah dengan Kesialan Bukan Ajaran Islam)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wabah penyakit yang menyebar di suatu daerah itu pada dasarnya merupakan azab bagi orang-orang yang tak beriman. Selain itu, pelaku dosa besar juga termasuk azab baginya bila terjadi suatu wabah penyakit yang menimpanya. Namun, ini merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pasalnya, orang beriman akan diberikan pahala setara orang yang mati syahid.

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar yang berpesan, “Wabah penyakit itu di antaranya disebabkan kemaksiatan yang merajalela” (HR Ibnu Majah)*. Dalam riwayat lain disebutkan dengan redaksi demikian,

شعب الإيمان (5/ 22)


لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بها إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ

“Kemaksiatan tidak akan tampak di suatu masyarakat sama sekali, sampai mereka sudah terang-terangan melakukan kemaksiatan itu, maka menimpa mereka wabah penyakit dan kelaparan yang tidak pernah terjadi sebelumnya” (HR Baihaqi).

*[tambahan dari redaksi NM: Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallah anhuma menyampaikan sabda Rasulullah,

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibn Majah no. 3262), red NM].

Apakah orang yang mukmin atau muslim yang terdampak dari kemaksiatan yang menyebar di suatu daerah itu termasuk yang mendapatkan pahala mati syahid? Jawabannya iya. Ini adalah bentuk rahmat Allah untuk umat Nabi Muhammad yang beriman.

Namun, sebagaimana hadis di atas, orang yang mendapatkan pahala setara orang yang mati syahid itu harus bersabar, tidak mengeluh, dan pasrah pada ketentuan Allah saat wabah penyakit tersebut menimpanya.

Menurut Imam Ibnu Hajar terdapat tiga gambaran mengenai orang yang terkena wabah penyakit ini berkaitan dengan pahala mati syahid. Pertama, orang yang terkena wabah penyakit, kemudian dia meninggal itu otomatis tergolong mati syahid. Kedua, orang yang terkena wabah penyakit, namun tidak sampai meninggal, ia mendapatkan pahala setara orang mati syahid. Ketiga, orang yang di daerahnya tidak terdapat wabah penyakit, namun ia tertular wabah penyakit dari orang lain, ini pun bila meninggal akan mendapatkan pahala mati syahid. Wallahu a’lam bis shawab.

Penulis  Ibnu Kharish dalam judul ‘Pahala Orang Mukmin yang Sabar Menghadapi Wabah Penyakit’ (Kajian Hadis Shahih Bukhari Nomor 5734)

 BincangSyariah.Com – 28 Januari 2020

https://www.nahimunkar.org/astaghfirullah-acara-pernikahan-berakhir-petaka-37-tamu-undangan-positif-corona-bagaimana-kondisi-pengantin-baru/


***

GP Ansor soal virus corona dikaitkan dengan azab: Azab kok kecil, Tuhan mereka kecil




Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas menegaskan bahwa adanya wabah virus corona yang terjadi dimulai dari China dan menyebar ke negara-negara lainnya hingga Indonesia tak pantas disebut azab dari Tuhan.

Sebab, menurutnya, skala yang terjadi cukup kecil ketimbang TBC dan penyakit yang disebabkan virus lainnya.

“Azab kok kecil, jadi dibanding TBC misalnya, dibanding influenza biasa, dibanding malaria, dibanding kecelakaan saja corona itu jauh di bawah angka kematian dan korbannya,” kata Yaqut Cholil Qoumas seusai bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2020), seperti dilansir kumparan.

Pernyataan Yaqut tersebut sekaligus membantah anggapan beberapa kelompok masyarakat yang beranggapan bahwa virus corona adalah azab. Jika demikian, dia menilai pihak yang memiliki anggapan seperti itu memiliki Tuhan yang kecil.

“Azab kok kecil, kalau azab Tuhan ya mungkin Tuhan mereka ini kecil saja, makanya azabnya kecil-kecil saja, kalau Tuhan kita kan besar,” ujarnya.

Dia kemudian menegaskan bahwa yang terjadi sekarang hanya persoalan kesehatan semata. Sehingga, tak pantas dikaitkan dengan azab dari Tuhan.

“Masalah kesehatan saja. Itu enggak ada urusannya sama azab,” pungkas Yaqut.

Yaqut bertemu Presiden Jokowi untuk berkonsultasi mengenai pelaksanaan Konferensi Besar GP Anshor pada tahun ini.

 
 

[portal-islam.id]  kamis, 12 maret 2020  berita nasional

https://www.nahimunkar.org/wabah-penyakit-itu-azab-bagi-orang-kafir-dan-pelaku-dosa-besar-tapi-rahmat-bagi-orang-mukmin/

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 94 kali, 1 untuk hari ini)