Rekor Tercepat Pemanggilan Menteri


 

 

 

 

 

 

Oleh: Tardjono Abu Muas (Pemerhati Masalah Sosial)

Apresiasi kerja DPR RI khususnya Komisi VIII yang membidangi agama, sosial, perempuan dan anak yang penetapan pimpinan komisinya disahkan pada Rabu (30/10/2019), baru sepekan kerja langsung akan memanggil Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi pada Kamis (7/11/2019) terkait pernyataannya yang melarang pemakaian celana cingkrang dan cadar di institusi pemerintahan.

Sepertinya pemanggilan Menag selaku anggota Kabinet Indonesia Maju (KIM) layak dicatat sebagai rekor tercepat sepanjang sejarah perkabinetan di negeri ini.

Betapa cepatnya kerja kelengkapan DPR RI khususnya Komisi VIII baru sepekan disahkan sudah ada gebrakan perdana memanggil mitra kerja kabinet.

Sebaliknya, terhitung baru dua pekan kerja Menag malah terkesan telah membuat kegaduhan sekaligus keresahan sosial dengan membawa isu radikalisme di lingkungan kementriannya.

Seyogyanya Menag baru dua pekan kerja hendaknya beberes di intern kementriannya yang selama ini menjadi sorotan negatif publik yang terkait jual beli jabatan dan lain sebagainya.

Rekor tercepat pemanggilan anggota kabinet oleh DPR RI ini mudah-mudahan menjadi catatan tinta sejarah paparan radikalisme yang sangat dipaksakan sehingga membuat suasana gaduh.

Sekali lagi apresiasi langkah Komisi VIII DPR RI yang bergerak cepat untuk meredam gejolak sosial yang lebih luas lagi dengan memanggil Menag.

https://voa-islam.com/
Rabu, 8 Rabiul Awwal 1441 H / 6 November 2019 14:45 wib

 

***

Pak Menag Fachrul Razi, Tolong Tindak Tegas Radikalisme Sekuler

Posted on 30 Oktober 2019

by Nahimunkar.org

 

Pak Menag Fachrul Razi, Tolong Tindak Tegas Radikalisme Sekuler

 

Ilustrasi Spanduk bertulisan ‘Tuhan Membusuk’ di UIN Surabaya September 2014 itu satu contoh uapaya busuk, penyingkiran agama, diduga merupakan akibat radikalisme sekuler yang dekat ke komunis hingga anti agama./ foto dok ist/ net

 
 

Pak Menag Fachrul Razi, Tolong Tindak Tegas Radikalisme Sekuler. Kerena faham radikalisme sekuler itu bertentangan dengan Pancasila, bahkan bertabrakan dengan dasar negara, Ketuhanan Yang Maha Esa.

 
 

Itu cocok dengan jabatan Bapak sebagai Menteri Agama, dan dipesan untuk mengatasi radikalisme. Nah itulah yang tepat sekali, karena radikalisme sekuer jelas memusuhi dan menghabisi peran agama.

 
 

Dengan memberantas radikalisme sekuler itu maka sekaligus memberantas faham komunisme yang telah dilarang di Indonesia dalam TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966. Karena Radikalisme sekuler itu hanya beda tipis dengan komunisme yang memang anti agama.

Sebagaimana telah diketahui, komunisme, PKI (Partai Komunis Indonesia) dan semacamnya jelas telah dilarang di Indonesia.

TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966

 

 
 

KETETAPAN MPRS DAN MPR RI BERDASARKAN KETETAPAN MPR RI NO I/MPR/2003 PASAL 2 DAN PASAL 4
PASAL 2 KETETAPAN MPR RI NO I/MPR/2003
KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEMENTARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR XXV/MPRS/1966 TENTANG PEMBUBARAN PARTAI KOMUNIS INDONESIA, PERNYATAAN SEBAGAI ORGANISASI TERLARANG DI SELURUH WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAGI PARTAI KOMUNIS INDONESIA DAN LARANGAN SETIAP KEGIATAN UNTUK MENYEBARKAN ATAU MENGEMBANGKAN FAHAM ATAU AJARAN KOMUNIS/MARXISME-LENINISME
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MEJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEMENTARA REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
a. Bahwa faham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme pada inti-hakekatnya bertentangan dengan Pancasila;
b. Bahwa orang-orang dan golongan-golongan di Indonesia yang menganut faham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme, khususnya Partai Komunis Indonesia, dalam sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia telah nyata¬nyata terbukti beberapa kali berusaha merobohkan kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia yang sah dengan jalan kekerasan;
c. Bahwa berhubung dengan itu, perlu mengambil tindakan tegas terhadap Partai Komunis Indonesia dan terhadap kegiatan-kegiatan yang menyebarkan atau mengembangkan faham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme;
Mengingat :
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 1 ayat (2) dan Pasal 2 ayat (3)
Mendengar :
Permusyawaratan dalam rapat-rapat MPRS dari tanggal 20 Juni sampai 5 Juli 1966.
M E M U T U S K A N
Menetapkan:
KETETAPAN TENTANG PEMBUBARAN PARTAI KOMUNIS INDONESIA, PERNYATAAN SEBAGAI ORGANISASI TERLARANG DI SELURUH WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAN LARANGAN SETIAP KEGIATAN UNTUK MENYEBARKAN ATAU MENGEMBANGKAN FAHAM ATAU AJARAN KOMUNISME/ MARXISME-LENINISME.
Pasal 1
Menerima baik dan menguatkan kebijaksanaan Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/Pemimpin Besar Revolusi/ Mandataris Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, berupa pembubaran Partai Komunis Indonesia, termasuk semua bagian organisasinya dari tingkat pusat sampai kedaerah beserta semua organisasi yang seazas/berlindung/bernaung di bawahnya dan pernyataan sebagai organisasi terlarang diseluruh wilayah kekuasaan Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia, yang dituangkan dalam Keputusannya tanggal 12 Maret 1966 No. 1/3/1966, dan meningkatkan kebijasaksanaan tersebut diatas menjadi Ketetapan MPRS.
Pasal 2
Setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan faham atau ajaran Komunisme/ Marxisme-Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan faham atau ajaran tersebut, dilarang.
Pasal 3
Khususnya mengenai kegiatan mempelajari secara ilmiah, seperti pada Universitas-Universitas, faham Komunisme/Marxisme-Leninisme dalam rangka mengamankan Pancasila, dapat dilakukan secara terpimpin, dengan ketentuan, bahwa Pemerintah dan DPR-GR diharuskan mengadakan perundang-undangan untuk pengamanan.
Pasal 4
Ketentuan-ketentuan diatas, tidak mempengaruhi landasan dan sifat bebas aktif politik luar negeri Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 5 Juli 1966
MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEMENTARA REPUBLIK INDONESIA
Ketua,
ttd
(Dr. A.H. Nasution)
Jenderal TNI.
Wakil Ketua,
ttd
(Osa Maliki)
Wakil Ketua,
ttd
(H.M Subchan Z.E.)
Wakil Ketua,
ttd
( M. Siregar )
Wakil Ketua,
ttd
( M a s h u d i )
Brig. Jen. TNI.
Sesuai dengan aslinya
Administrator Sidang Umum ke – IV MPRS
ttd
(Wilujo Puspo Judo)
May. Jen. TNI.

P E N J E L A S A N
KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEMENTARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : XXV/MPRS/1966
1. Faham atau ajaran Komunisme dalam praktek kehidupan politik dan kenegaraan menjelmakan diri dalam kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan azas-azas dan sendi-sendi kehidupan Bangsa Indonesia yang ber-Tuhan dan beragama yang berlandaskan faham gotong royong dan musyawarah untuk mufakat.
2. Faham atau ajaran Marx yang terkait pada dasar¬dasar dan taktik perjuangan yang diajarkan oleh Lenin, Stalin, Mao Tse Tung dan lain-lain, mengandung benih-benih dan unsur-unsur yang bertentangan dengan falsafah Pancasila.
3. Faham Komunisme/Marxisme-Leninisme yang dianut oleh PKI dalam kehidupan politik di Indonesia telah terbukti menciptakan iklim dan situasi yang membahayakan kelangsungan hidup Bangsa Indonesia yang berfalsafah Pancasila.
4. Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas maka adalah wajar, bahwa tidak diberikan hak hidup bagi Partai Komunis Indonesia dan bagi kegiatan-kegiatan untuk memperkembangkan dan menyebarkan faham atau ajaran Komunisme/ Marxisme-Leninisme.
https://www.mpr.go.id/pages/produk-mpr/ketetapan-mpr-ri/tap-mprs-nomor-xxvmprs1966

(nahimunkar.com)
Posted on 24 Oktober 2014 by Nahimunkar.com

***

 
 

 
 

Mengenai Radikalisme Sekuler, silakan simak artikel mantan ketua KPK berikut ini.

 
 

***



Awas Radikalisme Sekuler

 
 

Penulis: Taufiequrachman Ruki, Irjen Pol. (Purn), Mantan Ketua KPK,

Pernyataan KH. Ma’ruf Amin di Republika online Senin, 27 Maret 2017 menarik digarisbawahi. Beliau menyatakan bahwa radikalisme agama dan radikalisme sekuler merupakan ancaman serius bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Radikalisme agama selama ini sudah banyak dibahas. Bahkan negara telah membentuk badan khusus bernama Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT) dan dilengkapi lagi sebuah detasemen khusus bernama Detasemen Khusus 88 (Densus 88).

Yang menarik adalah negara tidak mewaspadai bahaya radikalisme sekuler yang juga bertentangan dengan ideologi negara Pancasila. Sampai saat ini tidak ada aparat negara yang berteriak keras tentang perlunya mewaspadai paham radikalisme sekuler yang merebak di Indonesia. Tidak ada dibentuk badan khusus penanggulangan bahaya sekulerisme. Tidak ada detasemen khusus yang ditugaskan
untuk itu.

Apa itu radikalisme sekuler? Harvey Cox, seorang pakar sekulerisme, merumuskan 3 pilar sekulerisme, yaitu :
1. Dischanment of nature,
2. Desacralization of politics, dan
3. Deconsecration of values.

*Dischanment of nature* artinya kehidupan dunia harus disterilkan dari pengaruh ruhani dan agama. Sekuler liberal membatasi peran agama sebatas persoalan personal. Agama hanya cukup sampai dinding masjid atau gereja. Di luar itu, akal manusia lah tuhannya. Sekuler radikal ingin menyingkirkan agama dari kehidupan. Ini beda tipis dengan komunisme.

*Desacralization of politics* artinya dunia politik harus dikosongkan dari pengaruh agama dan nilai spiritual. Politik semata urusan akal manusia. Agama dan segala simbolnya dilarang terlibat dalam urusan politik. Agama sendiri, politik itu wilayah tersendiri yang harus dipisahkan. Keduanya tidak bisa disatukan.

*Deconsecration of values* maksudnya tidak ada kebenaran mutlak. Nilai-nilai bersifat relatif. Doktrin ini menisbikan kebenaran yang ada dalam kitab suci. Bagi mereka kitab suci itu hanya buatan manusia. Oleh karena itu penganut paham ini suka mengolok-ngolok kitab suci mereka sendiri, termasuk kitab suci orang lain.

Mudah- mudahan Indonesia bebas dari ancaman ideologi sekuler radikal ini.

Wallahu a’lam bisshawab. (*)

Akuratnews.com – Sabtu, 26 Oktober 2019 – 14:55

***

Sebagai contoh kasus, mari kita simak tulisan berikut ini.

***

Spanduk ‘Tuhan Membusuk’ di UIN Surabaya, Kesombongan Luar Biasa

 

Posted on 21 September 2014

by Nahimunkar.com



 
 

Oleh Hartono Ahmad Jaiz
Penulis Buku Ada Pemurtadan di IAIN

Spanduk bertuliskan “Tuhan Membusuk” dalam kegiatan OSCAAR 2014 di UIN Surabaya menjadi berita ramai. Ada yang menulis, Setelah Dosennya Pernah Menginjak-injak Alquran, Kini Mahasiswa UIN Sunan Ampel Anggap Tuhan Membusuk.
Pada kegiatan Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) tahun 2014 ini, Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat mengangkat sebuah grand tema, “Tuhan Membusuk”. OSCAAR 2014 bagi mahasiswa baru UIN Sunan Ampel itu berlangsung sejak Kamis 28 Agustus, dan berakhir pada 30 Agustus 2014.
Suaranews mengutip santrinews memberitakan, dari beberapa penelusuran alumni Ushuludin UIN Sunan Ampel, salah satu alumni menceritakan bahwa memang Ushuludin UIN Sunan Ampel sebenarnya sudah dari dulu mendogtrin mahasiswanya seperti itu. Ibaratnya mereka didogtrin membenci ‘agama’, terutama Islam.

“Sejak saya kuliah pertama kali sekitar tahun 2004. Ketika OSPEK/OSCAAR, kami sudah dididik untuk gemar mengkritisi agama, terutama Islam. Saya waktu itu sering mengkritisi kakak senior, karena didogtrin mengkritisi Islam yang lebih terasa sepertinya mereka membenci Islam.” Ungkap salah satu alumni Ushuluddin UIN Sunan Ampel yang tak ingin disebutkan namanya.

Bahkan seringkali kakak senior mereka menghambat waktu-waktu shalat. Dengan diberikan banyak aktivitas, sepertinya agar melupakan waktu shalat.

“Masjid UIN Sunan Ampel itu besar, dan adzannya terdengar keras. Tetapi waktu ospek, kami malah disibukkan dengan beragam aktivitas. Sepertinya ingin agar kami melupakan shalat, dan tak jarang kakak senior malah bilang, shalat itu tidak perlu di masjid cukup di hati saja kita shalatnya,” kata mantan mahasiwa UIN Sunan Ampel yang berdomisili di Siwalankerto, Surabaya. (Lihat Setelah Dosennya Pernah Menginjak-injak Alquran, Kini Mahasiswa UIN Sunan Ampel Anggap Tuhan Membusuk, santrinews/suaranews).

Untuk memahami kalimat ‘Tuhan Membususk’ dalam spanduk di UIN Surabaya yang jadi ramai di media itu, mari kita rujuk ke KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) apa makna lafal Tuhan, dan apa pula arti Membusuk.
Tuhan n 1 sesuatu yg diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sbg yg Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb: — Yang Maha Esa; 2 sesuatu yg dianggap sbg Tuhan: pd orang-orang tertentu uanglah sbg — nya;
mem•bu•suk v menjadi busuk: bangkai itu telah mulai -;
bu•suk a 1 rusak dan berbau tidak sedap (tt buah, daging, dsb): mangga itu sudah –; 2 berbau tidak sedap (tt bangkai dsb): bangkai tikus itu — benar baunya; (KBBI)

Merujuk kepada kamus tersebut, kalimat “Tuhan Membusuk” maknanya tidak jauh dari pengertian: Tuhan yang diyakini, dipuja, dan disembah telah menjadi busuk (sebagaimana bangkai tikus).

Ketika spanduk itu dibuat oleh mahasiswa perguruan tinggi Islam, berarti Tuhan itu maksudnya hanyalah Allah yang Maha Hidup. Karena dalam Islam, Tuhan yang berhak disembah itu hanya Allah. Itu telah dijelaskan dalam Al-Qur’an:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي [طه/14]

14. Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS Thaha: 14).
Allah itu Maha Hidup tidak mati.


وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا (58) الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا [الفرقان/58، 59]

58. dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.
59. yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy[1071], (Dialah) yang Maha pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. (QS Al-Furqan/25: 58-59).


[1071] Bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya.

Firman Allah: dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati itu jelas telah menolak bunyi spanduk yang kurangajar, “Tuhan Membusuk” itu.
Kalau pembuat tulisan di spanduk itu masih menggunakan otak, maka akan sangat malu sekali menulis kalimat itu.
Kenapa?
Karena, Allah menjadikan orang yang sudah mati namun tidak membusuk saja mampu, bahkan menghidupkan yang telah mati saja mampu, kenapa penulis spanduk itu sampai berani mengatakan “Tuhan Membusuk”? Bukankah itu pertanda penulis spanduk itu tidak menggunakan otak?

Bukti dari adanya jasad manusia yang tidak dibusukkan alias diutuhkan oleh Allah Ta’ala adalah yang telah Allah firmankan:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ (90) آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ (91) فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ [يونس/90-92]

90. dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
91. Apakah sekarang (baru kamu percaya), Padahal Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
92. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami. (QS Yunus/10: 90-92).


[704] Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.

Perkataan “Tuhan Membusuk” dalam spanduk itu setelah dalam analisa ini dapat diartikan bahwa itu ditulis oleh orang yang tidak menggunakan otak, masih pula menolak kebenaran, sekaligus menghina Allah Ta’ala.
Dalam Islam, menolak kebenaran sambil menghina atau meremehkan manusia itu disebut sombong, menurut Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: «لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ» قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنا، وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ: «إِنَّ الله جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ. الْكِبْرُ: بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ . [رواه مسلم]

Artinya: “Diriwayatkan dari Abdulah bin Mas’ud dari Nabi saw, beliau bersabda: ‘Tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan meski sebesar biji atom’. Seseorang berkata: ‘(Bagaimana jika) seseorang suka pakaiannya baik dan sandalnya juga baik’. Nabi saw bersabda: ‘Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. (Sedangkan) kesombongan adalah menolak kebenaran dan memandang rendah manusia (lain)’.” [HR. Muslim]
Ketika menolak kebenaran dan memandang rendah manusia itu adalah kesombongan, maka bagaimana pula ketika sudah menolak kebenaran, sedang yang direndahkan bahkan dihina, disebut membusuk itu adalah Tuhan (Allah). Bukankah itu benar-benar kesombongan yang luar biasa? Padahal, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut:


«لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»

‘Tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan meski sebesar biji atom’.
Lha, perkataan “Tuhan Membusuk” itu kesombongan yang berapa juta kali lipat dibanding besarnya partikel atom (
مِثْقَالُ ذَرَّةٍ) ?
Ingatlah, orang tua menguliahkan anaknya ke perguruan tinggi Islam tentu saja bukan untuk menjadi orang yang sombong luar biasa. Bahkan Umat Islam pada umumnya juga sama sekali tidak menginginkan perguruan tinggi Islam se-Indonesia ini jadi ajang pemurtadan luar biasa seperti itu. Apalagi sudah sejak tahun 2005 telah diingatkan dengan tegas dalam satu buku berjudul Ada Pemurtadan di IAIN yang maksudnya memperingatkan seluruh perguruan tinggi Islam di Indonesia.
Tegakah kita membiarkan generasi penerus bangsa ini digarap besar-besaran oleh para penentang Allah Ta’ala untuk menjadi manusia-manusia yang kurangajar lagi super sombong?
Tentu saja tidak tega. Tetapi, apa reaksi dan aksi kita, itu masih dipertanyakan, karena selama ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa kita tidak tega generasi bangsa ini dirusak secara besar-besaran itu. Sudah saatnya kita tunjukkan bukti. Paling kurang, para pelaku itu ditindak tegas dan disosialisasikan hukumannya, agar tidak lebih rusak lagi, dan tidak berani mengadakan penodaan agama lagi. Semoga.

Jakarta, Senin 6 Dzulqa’dah 1435H/ 1 September 2014.


 
 

(nahimunkar.org)

 
 


 

(Dibaca 433 kali, 1 untuk hari ini)