Ilustrasi


Oleh : Dr. Slamet Muliono*

Manusia seringkali menyombongkan diri tanpa sadar bahwa dirinya lemah. Kesombongan diri inilah yang membuat manusia senantiasa mangkir dan berbuat dosa ketika memperoleh puncak kenikmatan. Kejahatan yang dilakukan manusia berakar dari ketidakpercayaannya atas datangnya hari kebangkitan. Tidak percaya terhadap hari kebangkitan inilah yang membebaskan dirinya untuk berbuat apa saja, karena dirinya yakin setelah kematian di dunia ini tidak ada lagi hari pembalasan.

Kecenderungan Manusia Menyimpang

Allah berkali-kali menegaskan bahwa kekuasaan-Nya sangat besar dan rahmat-Nya sangat luas namun sangat bijaksana ketika menghadapi sikap manusia yang jauh dari mental balas budi. Manusia tanpa sadar bahwa ketika dirinya dimuliakan dengan sejumlah kelebihan, bukannya bersyukur tetapi justru merasa tinggi hati. Nikmat yang demikian besar ini dianggap sebagai hasil usaha dan kepintarannya. Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya :

وَإِذَآ أَذَقۡنَا ٱلنَّاسَ رَحۡمَةٗ مِّنۢ بَعۡدِ ضَرَّآءَ مَسَّتۡهُمۡ إِذَا لَهُم مَّكۡرٞ فِيٓ ءَايَاتِنَاۚ قُلِ ٱللَّهُ أَسۡرَعُ مَكۡرًاۚ إِنَّ رُسُلَنَا يَكۡتُبُونَ مَا تَمۡكُرُونَ

Dan apabila Kami memberikan suatu rahmat kepada manusia, setelah mereka ditimpa bencana, mereka segera melakukan segala tipu daya (menentang) ayat-ayat Kami. Katakanlah, “Allah lebih cepat pembalasannya (atas tipu daya itu).” (QS. Yunus : 21)

Ketika diberi kesehatan fisik dan badan yang kuat, seringkali manusia mengatakan bahwa hal itu karena kecerdasannya dalam mengatur diri dengan rajin menjaga kesehatan fisiknya dan berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan. Hal inilah yang dikedepankan, tanpa menyebut kekuasaan Allah yang telah menganugerahkan pikiran yang sehat sehingga bisa berhati-hati dalam menjaga dirinya.

Allah menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan tak berdaya ketika menghadapi bahaya di lautan, tetapi ketika bahaya yang menimpanya sirna, maka muncul watak sombong dan tak punya moral balas budi. Hal ini direkam dengan baik oleh Allah sebagaimaa firman-Nya :

وَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ٱلضُّرُّ دَعَانَا لِجَنۢبِهِۦٓ أَوۡ قَاعِدًا أَوۡ قَآئِمٗا فَلَمَّا كَشَفۡنَا عَنۡهُ ضُرَّهُۥ مَرَّ كَأَن لَّمۡ يَدۡعُنَآ إِلَىٰ ضُرّٖ مَّسَّهُۥۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلۡمُسۡرِفِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan. (QS. Yunus : 12)

Tak Percaya Akherat dan Nihilnya Moral Balas Budi

Watak tak punya moral untuk membalas budi atas kebaikan yang dianugerahkan pada dirinya terlihat jelas ketika enggan melaksanakan perintah Allah dan tunduk kepada-Nya. Bukannya membenarkan dan taat pada perintah-Nya, manusia justru meminta mengganti perintah itu dengan perintah yang lain. Manusia bukan hanya merasa berat dan tidak sanggup menjalankan perintah itu, tetapi justru meminta untuk mengganti perintah itu dengan perintah yang lain. Hal ini sebagaimana penjelasan Allah dalam firman-Nya :

 وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَاتُنَا بَيِّنَٰتٖ قَالَ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا ٱئۡتِ بِقُرۡءَانٍ غَيۡرِ هَٰذَآ أَوۡ بَدِّلۡهُۚ قُلۡ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أُبَدِّلَهُۥ مِن تِلۡقَآيِٕ نَفۡسِيٓۖ إِنۡ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّۖ إِنِّيٓ أَخَافُ إِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّي عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami dengan jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, “Datangkanlah kitab selain Al-Qur’an ini atau gantilah.” Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah pantas bagiku menggantinya atas kemauanku sendiri. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Aku benar-benar takut akan azab hari yang besar (Kiamat) jika mendurhakai Tuhanku.” (QS. Yunus : 15)

Keberanian manusia menentang perintah Rasul itu tidak lepas dari rendahnya moral balas budi lebih mengedepankan kenikmatan duniawi. Cara pandang terhadap kenikmatan duniawi inilah yang menggusur orientasi akherat dan bahkan menolak adanya kehidupan sesudah mati. Hal ini termaktub dengan jelas dalam firman-Nya :

 إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا وَرَضُواْ بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَٱطۡمَأَنُّواْ بِهَا وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِنَا غَٰفِلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, (QS. Yunus : 7)

Tidak percaya terhadap kehidupan akherat inilah yang menjadi akar kejahatan yang dilakukan oleh manusia. Betapa tidak, dengan tidak percaya adanya hari kebangkitan, maka manusia menganggap bahwa siapapun bisa berbuat apa saja tanpa memperoleh balasan. Sebaliknya ketika manusia ercaya adanya hari pembalasan di akherat, maka dia akan berbuat baik dan takut berbuat keburukan. Allah demikian jelas mengumumkan bahwa kebinasaan umat terdahulu disebabkan oleh kejahatan-kejahatan yang mereka perbuat. Hal ini termaktub di dalam Al-Qur’an :

 وَلَقَدۡ أَهۡلَكۡنَا ٱلۡقُرُونَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَمَّا ظَلَمُواْ وَجَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَمَا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُواْۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ

Dan sungguh, Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat zhalim, padahal para rasul mereka telah datang membawa keterangan-keterangan (yang nyata), tetapi mereka sama sekali tidak mau beriman. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. (QS. Yunus : 13)

Apabila manusia meyakini bahwa segala perbuatan dzalimnya akan berbuah kehancuran pada dirinya, maka dia akan menghentikannya. Sebaliknya bila manusia yakin dengan sepenuh hati bahwa perbuatan baik akan menghasilkan kemuliaan dalam kehidupannya, maka manusia akan terus melakukan perbuatan baik.

Surabaya, 16 Mei 2019

*Penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam dan Peradaban)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 528 kali, 1 untuk hari ini)