Logo Kemenag/ foto ist


Kementerian Agama secara resmi menetapkan syarat bagi imam masjid adalah berfaham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Ketetapan resmi itu tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor 582 Tahun 2017 tentang Penetapan Standar Imam Tetap Masjid (SK Dirjen Bimis no 582 tahun 2017 Kemenag tentang Penetapan Standar Imam Tetap Masjid).

SK itu ditetapkan di Jakarta, 15 Agustus 2017, ditandatangani oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag, Muhammadiyah Amin.

Syarat Imam Masjid

Dalam hal ini, ada persyaratan umum yang melekat pada imam masjid. Menurut SK Dirjen Bimis no 582 tahun 2017, ada 8 (delapan) syarat untuk menjadi Imam masjid. Adapun 8 syarat tersebut adalah :

  1. Islam
  2. Laki-laki
  3. Dewasa
  4. Adil
  5. Sehat jasmani dan rohani
  6. Berakhlak mulia
  7. Berfaham ahlusunah wal jamaah
  8. Memiliki komitmen terhadap dakwah Islam.

Berikut ini berita tentang SK Dirjen Bimis no 582 tahun 2017 Kemenag tentang Penetapan Standar Imam Tetap Masjid.

***

Standar Imam masjid Tetap berdasarkan SK dirjen Bimas Islam no 582 tahun 2017 Kemenag

Dalam rangka menetapkan tolok ukur standar minimal imam masjid tetap, Ditetapkan Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor 582 Tahun 2017 tentang Penetapan Standar Imam Tetap Masjid, di Jakarta 15 Agustus 2017.

Pengertian Imam dan masjid

Dalam hal pengertian imam dan masjid, ini mengacu kepada keputusan Dirjen Bimas Islam. Yang mana menjelaskan siapakah yang dimaksud dengan imam, dan apakah yang disebut dengan masjid. Dengan begitu, pengertian ini bersifat khusus yang membatasi kepada pengertian dalam ruang lingkup SK Dirjen Bimis nomor 582 tahun 2017

Pengertian Imam

Dalam lampiran Bab I tentang pengertian umum, disebutkan bahwa Imam adalah seorang yang memiliki kemampuan memimpin shalat, berkhutbah, dan membina umat, yang diangkat atau ditetapkan oleh Pemerintah atau masyarakat. Dalam hal ini imam tetap, mestinya yang dimaksud adalah Imam Besar masjid. Dimana kata Imam besar lebih familiar bagi kalangan Umat Islam.

Pengertian Masjid

Selanjutnya, dalam hal pengertian masjid, lampiran ini memberikan pengertian umum tentang masjid, yaitu “Masjid adalah bangunan atau rumah ibadah umat islam yang digunakan untuk melaksanakan shalat rawatib (5 waktu) , shalat jum’at, dan kegiatan hari besar Islam serta menjadi pusat dakwah umat Islam

Tujuan Penetapan Standar Imam Tetap Masjid

Tentunya ada tujuan kenapa Direktur Jenderal repot-repot membikin SK no 582 tentang Penetapan Standar Imam Tetap Masjid Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. Secara umum supaya Masjid-masjid di Indonesia mempunyai imam tetap yang memiliki kompetensi tertentu dalam rangka meningkatkan kualitas dan dalam menjadi rujukan serta Pembina terhadap umat.

Sedangkan tujuan secara khusus, adanya Surat Keputusan Dirjen Bimas Islam no 582 tahun 2017 untuk memberikan pedoman kepada masjid-masjid di Indonesia dalam memilih serta menentukan Imam masjid menyesuakan dengan tipologi masjid.

Ruang lingkup standar Imam masjid Tetap

Dalam hal ini, keputusan ini melingkupi standar imam tetap masjid berdasarkan syarat dan kompetensi umum. Dan juga standar imam masjid tetap sesuai dengan tipologi masjid di suatu wilayah (Masjid Negara, Masjid Negara, Masjid Agung, Masjid Besar, Masjid Jami’, Masjid Bersejarah, dan Masjid di tempat publik), berdasarkan kompetensi yang khusus.

Syarat dan Kompetensi Imam Masjid

Sebelum memasuki hal yang lebih spesifik perihal imam tetap masjid, ada syarat dan kompetensi yang bersifat umum bagi mereka yang dipercaya sebagai imam tetap suatu masjid. Dalam hal ini diperjelas tentang syarat maupun kompetensi yang harus dimiliki oleh imam besar masjid merujuk kepada SK Dirjen Bimis nomor 582 tahun 2017 tentang Penetapan Standar Imam Tetap Masjid Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Syarat Imam Masjid

Dalam hal ini, ada persyaratan umum yang melekat pada imam masjid. Menurut SK Dirjen Bimis no 582 tahun 2017, ada 8 (delapan) syarat untuk menjadi Imam masjid. Adapun 8 syarat tersebut adalah :

  1. Islam
  2. Laki-laki
  3. Dewasa
  4. Adil
  5. Sehat jasmani dan rohani
  6. Berakhlak mulia
  7. Berfaham ahlusunah wal jamaah
  8. Memiliki komitmen terhadap dakwah Islam, dan

Kompetensi Umum Imam masjid Tetap

  1. Memiliki pemahaman terhadap fiqh shalat
  2. Memiliki kemampuan membaca al Qur’an dengan tahsin dan tartil
  3. Memiliki kemampuan untuk membimbing umat
  4. Memahami problematika umat
  5. Memiliki kemampuan memimpin shalat, dzikir dan doa rawatib dan
  6. Mmemiliki kemampuan berkhutbah
  7. Memiliki wawasan kebangsaan

Itulah syarat serta kompetensi umum yang menjadi tolak ukur imam tetap masjid berdasarkan Standar Kementerian Agama melalui Dirjen BIMIS

Kompetensi Khusus Imam Masjid

Berdasarkan berbagai tipologi suatu masjid yang ada, maka ada ketentuan khusus yang dimiliki oleh imam tetap masjid. Kompetensi khusus ini dibagi menjadi 7 bagian berdasarkan tipologi masjid. Adapun pembagian kompetensi khusus adalah sebagai berikut :

Kompetensi Imam tetap Masjid Negara

Pendidikan minimal s1
Memiliki hafalan al-Qur’an 30 juz
Memiliki keahlian membaca al Qur’an dengan suara merdu
Memiliki pemahaman tentang fiqh, hadist dan tafsir
Mampu berkomunikasi dengan Bahasa Arab dan salah satu Bahasa Asing lainnya.

Kompetensi Imam Tetap Masjid Nasional dan Masjid Raya

Pendidikan minimal s1 atau yang sederajat
Memiliki hafalan al-Qur’an 10 juz
Memiliki keahlian membaca al Qur’an dengan suara merdu
Memiliki pemahaman tentang fiqh, hadist dan tafsir
Mampu berkomunikasi dengan Bahasa Arab dan salah satu Bahasa Asing lainnya.

Kompetensi Imam Tetap Masjid Masjid Agung tingkat Kabupaten

Pendidikan minimal s1 atau yang sederajat
Memiliki hafalan al-Qur’an 2 juz
Memiliki keahlian membaca al Qur’an dengan suara merdu
Memiliki pemahaman tentang fiqh, hadist dan tafsir

Kompetensi Imam Tetap Masjid Besar tingkat Kecamatan

Pendidikan minimal s1 atau yang sederajat
Memiliki hafalan al-Qur’an minimal juz 30
Memiliki keahlian membaca al Qur’an dengan suara merdu
Memiliki pemahaman tentang fiqh, hadist dan tafsir

Kompetensi Imam Tetap Masjid Jami’

Pendidikan minimal Pondok Pesantren/SLTA/yang sederajat
Memiliki hafalan al-Qur’an minimal juz 30
Memiliki keahlian membaca al Qur’an dengan suara merdu
Memiliki pemahaman tentang fiqh, hadist dan tafsir

Kompetensi Imam Tetap Masjid Bersejarah

Pendidikan minimal Pondok Pesantren/SLTA/yang sederajat
Memiliki hafalan al-Qur’an minimal juz 30
Memiliki keahlian membaca al Qur’an dengan suara merdu
Memiliki pemahaman tentang fiqh, hadist dan tafsir
Memahami sejarah berdirinya masjid

Kompetensi Imam Tetap Masjid ditempat Publik

Pendidikan diutamakan Pondok Pesantren/SLTA/yang sederajat
Memiliki hafalan al-Qur’an minimal juz 30
Memiliki keahlian membaca al Qur’an dengan suara merdu
Memiliki pemahaman tentang fiqh, hadist dan tafsir

Begitulah standar yang ditetapkan oleh Kementerian Agama terkait Imam besar pada suatu masjid yang dalam Istilah Kemenag melalui Dirjen Bimas Islam dengan Imam Tetap Masjid.

***

Beberapa hal yang perlu di bahas

Dengan adanya surat keputusan ini, yang menjadi pertanyaan adalah, kapan mulai diberlakukan secara efektif tentang aturan ini? Selanjutnya jika sudah diberlakukan, bagaimana tentang nasib Imam Tetap suatu masjid yang tersebut diatas jika tidak memenuhi syarat kompetensi (misalnya hafalan tidak memenuhi syarat sebagai imam tetap masjid jami). Apakah imam tersebut serta merta diganti? Karena tidak berkompeten secara standar Imam tetap

Selain itu, dengan penetapan standar ini, apakah ada kesejahteraan bagi para imam tetap suatu masjid? Dan siapakah yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan mereka? Terutama bagi para imam tetap di tingkat masjid besar dan masjid jami’.

Bagi anda yang menginginkan tentang Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam terkait imam tetap masjid, silakan anda unduh melalui link yang ada dibawah ini.

download sk dirjen binmis no 582 tahun 2017

https://pontren.com By Gadung Giri IIPosted on September 14, 2017

***

Dari SK Dirjen Bimas Islam Kemenag no 582 tahun 2017  itu telah tegas, selain yang berfaham Ahlussunnah waljama’ah (seperti aliran sesat syiah, faham liberal, pluralisme agama, sekulerisme dan semacamnya yang telah diharamkan MUI tahun 2005, aliran sesat LDII yang telah direkomendasikan sesatnya oleh MUI disejajarkan dengan aliran sesat Ahmadiyah, dan yang sesat-sesat lainnya) maka tidak boleh jadi imam tetap masjid.

Rekomendasi MUI untuk Pembubaran Ahmadiyah, LDII dan sebagainya

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat.

Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

“Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Posted on Sep 25th, 2013 – by nahimunkar.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.581 kali, 1 untuk hari ini)