Ribuan massa peserta Aksi Apel Akbar Muslim Jabar kawal kasus Ahok shalat ashar berjamaah di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (18/11/2016).


Kita semua menolak penistaan seluruh agama oleh siapa pun. Tidak boleh ada yang menistakan agama apa pun di Indonesia.

Hidayatullah.com– Ribuan umat Islam Jawa Barat menggelar apel akbar dalam rangka mengawal proses hukum kasus penistaan agama dengan tersangka Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Aksi damai yang digelar di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (18/11/2016) lalu itu menghasilkan “Resolusi Bandung”.

Berikut isi lengkapnya berdasarkan salinan resmi diterima hidayatullah.com, baru-baru ini:

RESOLUSI BANDUNG
APEL AKBAR MUSLIM JAWA BARAT

Bismillaahirrohmaanirrohiim

  1.  Meneguhkan komitmen Muslim Jawa Barat dalam rangka menjaga keutuhan NKRI dan tegaknya penerapan prinsip-prinisp Negara Hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (3)  UUD NRI 1945 dari penista Agama dan segala bentuk unsur pemecah belah NKRI.
  2.  Putusan Bareskrim Polri  yang menyatakan bahwa Ahok sebagai tersangka dan dicekal tetapi tidak ditangkap merupakan tindakan diskriminatif yang bertentangan dengan Negara Hukum (Pasal 27), “semua orang berkedudukan sederjat dalam hukum”  sebagaimana dicita-citakan para Founding Father.
  3.  Menuntut agar aparat keamanan tidak hanya menetapkan Ahok sebagai tersangka penistaan agama, tapi juga  Ahok harus secepatnya ditangkap dan ditahan untuk mencegah kemungkinan Ahok melarikan diri atau menghilangkan barang bukti, atau melakukan kembali perbuatan yang sama atau sejenis.
  4.  Menegaskan bahwa Aksi yang dilakukan oleh ummat Islam bukanlah aksi SARA, bukan aksi politik dan bukan aksi yang berhubungan dengan Pilkada DKI. Ini murni tuntutan ummat Islam agar penista agama diadili dengan hukum yang berlaku di negara ini secara adil dan transparan.
  5.  Kita semua menolak penistaan seluruh agama oleh siapa pun. Tidak boleh ada yang menistakan agama apa pun di Indonesia. Semua penganut agama harus dihormati dan saling menghormati. Dan itulah kunci kedamaian dalam kebhinnekaan.
  6.  Menuntut dengan tegas pihak aparat penegak hukum untuk menghentikansegala tindakan dan perbuatan yang bersifat intimidatif dan represif, dengan melakukan penangkapan  dan interogasi kepada para aktifis Islam yang memiliki hak untuk  mengemukakan pendapat secara bebas , merdeka dan bertangung  jawab, sebagaimana dijamin oleh UUD 1945.
  7.  Mendukung langkah POLRI dalam penegekan hukum bagi penistaan agama, serta mendukung TNI dalam menjaga teritorial dan keutuhan NKRI dari segala bentuk unsur pemecah belah, infiltrasi dan intervensi kekuatan luar.

Bandung, Jum’at 18 November 2016
ALIANSI PERGERAKAN ISLAM (API) JAWA BARAT

Ust. Asep Syaripudin
(Koordinator).*

Rep: Imam Nawawi-http://www.hidayatullah.com

***

Kasus Ahok, Indonesia Negara Hukum atau Negara Kekuasaan?

“Karena semua mata memandang ke kasus tersebut,” ujarnya.

aksi-bela-islam-ii-tuntut-ahok-ditangkap-by-syakur_

Poster tuntutan agar Ahok segera ditangkap oleh penegak hukum pada Aksi Bela Islam II di Jakarta, Jumat (04/11/2016).

Hidayatullah.com– Sekjen Perhimpunan Magister Hukum Indonesia (PMHI), Iwan Gunawan mewanti-wanti, jangan sampai ada permainan dalam proses hukum kasus penistaan agama yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Karena semua mata memandang ke kasus tersebut,” ujarnya dalam diskusi bertema ‘Pasca Ahok Tersangka: Apa Kata Mereka?’ di Cikini, Jakarta, lansir kantor berita Islam asosiasi JITU, Islamic News Agency (INA).

Dengan kasus Ahok tersebut, menurut Iwan, Indonesia saat ini sedang diuji sebagai negara berpanglimakan hukum.

“Apakah (Indonesia) negara hukum atau negara kekuasaan,” tandasnya baru-baru ini.

Terancam sebagai Negara Hukum

Hal senada juga disampaikan pengacara sekaligus Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI), Munarman.

Ia menyatakan, penegakan hukum terhadap Gubernur (non-aktif) DKI Jakarta yang beberapa kali tersangkut dugaan perkara tindak korupsi itu lamban.

“Karena kasus Ahok ini, Indonesia dari negara hukum terancam menjadi negara kekuasaan,” ungkapnya.

Untuk itu, komandan lapangan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI ini juga menegaskan akan terus menuntut penegakan hukum yang adil.

Ssalah satunya, ungkap dia, dengan menggelar Aksi Bela Islam III atau Aksi Super Damai, 2 Desember mendatang.

“Itulah mengapa kami terus menuntut supaya adanya penegakan hukum dan sepremasi hukum ini ditegakkan,” pungkas Munarman.*

Rep: Yahya G Nasrullah-http://www.hidayatullah.com/

***

Enam Alasan Kenapa Ahok Harus Ditahan Polisi

Selama ini tersangka yang dijerat Pasal 156 a KUHP itu selalu ditahan. Seperti kasus Arswendo, Lia Eden, dan lain-lain.

aksi-bela-islam-ii-di-jakarta-tuntut-ahok-tersangka-penista-agama-ditangkap-by-syakur

Poster “Tangkap Ahok si Penista Agama” pada Aksi Bela Islam II di Jakarta, Jumat (04/11/2016).

Hidayatullah.com– Tersangka kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), seharusnya sudah ditahan oleh kepolisian. Setidaknya ada 6 alasannya.

Demikian menurut Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI dalam konferensi pers di gedung AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta, Jumat (18/11/2016) pagi.

Alasan pertama, Ahok sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Ahok dijerat dengan Pasal 156 a KUHP Jo Pasal 28 Ayat 4 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Alasan kedua, Ahok berpotensi melarikan diri walau sudah dicegah ke luar negeri oleh Bareskrim Polri.

“Ketiga, (Ahok) berpotensi menghilangkan barang bukti lainnya,” ujar Munarman yang membacakan pernyataan GNPF MUI itu.

Termasuk barang bukti lainnya itu, kata dia, berupa perangkat rekaman resmi oleh Pemprov DKI Jakarta yang videonya diunggah ke akun resmi laman Youtube Pemprov.

“Keempat, (Ahok) berpotensi mengulangi perbuatannya, sesuai dengan sikap arogansinya selama ini yang suka mencaci ulama dan umat Islam,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, usai jadi tersangka, Ahok menyampaikan tuduhan pada sebuah media asing dengan menuding peserta aksi damai 4 November dibayar per orang Rp 500 ribu.

“Dan ini tuduhan tidak berdasar,” tegas Munarman.

Alasan kelima kenapa Ahok harus ditahan, imbuhnya, pelanggaran terhadap hukum oleh Ahok telah membuat kegaduhan.

“Heboh secara nasional dan internasional, dan telah menyebabkan jatuh korban luka dan bahkan meninggal. Perbuatan Ahok sangat-sangat berpotensi memecah-belah NKRI,” ungkapnya tegas.

Ia membuktikan soal perilaku Ahok telah berpotensi memecah belah NKRI.

Kata dia, ada orang-orang yang tidak tahu masalah soal Ahok, tiba-tiba berdemo kalau Ahok ditahan maka akan membubarkan diri dari Indonesia.

Alasan keenam, tambah Munarman, selama ini tersangka yang dijerat Pasal 156 a KUHP itu selalu ditahan. Seperti kasus Arswendo, Lia Eden, dan lain-lain.

“Sehingga, tidak ditahannya Ahok adalah ketidakadilan dan ketidaksamaan di muka hukum,” kata Munarman.

Aksi Bela Islam III

Oleh karena itu, GNPF MUI akan menggelar Aksi Bela Islam III yang terpusat di Bundaran HI, Jakarta Pusat.

“Karena Ahok tidak ditahan, GNPF MUI akan gelar Aksi Bela Islam pada tanggal 2 Desember dengan judul Aksi Damai dan Doa untuk Negeri,” ujar Munarman.

Tagline Aksi Damai dan Doa untuk Negeri itu, kata Munarman, adalah “Bersatu dan Berdoa untuk Negeri.”

“Kami (dalam aksi nanti) mendoakan Indonesia supaya selamat,” jelas Munarman, didampingi Pembina dan Ketua GNPF MUI yaitu Habib Rizieq Shihab dan Bachtiar Nasir, serta para tokoh lain.

Bareskrim Polri saat menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus penistaan agama di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (16/11/2016). [Foto: Syakur]

Alasan Ka polri

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan, Ahok bisa ditahan jika syaratnya terpenuhi.

“KUHP mengatur adanya kekhawatiran tersangka akan mengulangi perbuatannya,” ujarnya menyebut di antara syarat penahanan tersangka.

Namun, Kapolri berdalih, kekhawatiran itu belum terlihat di kalangan para penyelidik dan penyelidik belum melihat ada kekhawatiran itu.

“Kecuali kalau yang bersangkutan (Ahok) membuat lagi dugaan yang sama (menistakan Al-Maidah:51/al-Qur’an/agama/ulama. Red),” ujarnya usai Ahok ditetapkan sebagai tersangka.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur-http://www.hidayatullah.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.218 kali, 1 untuk hari ini)