Oleh: M Rizal Fadillah

212 dulu adalah perlawanan melawan penindasan politik dan hukum. Begitu masif kekuasaan membangun kekuatan untuk mengalienasi umat Islam dari konsolidasi persaudaraan.

Betapa halangan dilakukan untuk terealisasi acara 212 di Monas. Sinyal perlawanan kaum tertindas sangat nyata dari Khutbah Jum’at fenomenal Habib Rizieq yang Allah SWT takdirkan mengganti Ma’ruf Amin yang tak hadir di momen perjuangan umat.

Kini reuni 212 bukan sembarang reuni. Akan datang kaum muslimin dari berbagai penjuru negeri dengan semangat dan rela berkorban. Faham tak ada panggung untuk mencari pujian. Niat hanya cukup berkumpul ingin menujukkan kebersamaan dan syi’ar. Berkumpul, berjamaah, hadir dalam kesatuan ukhuwah, da’wah, dan izzatul Islam.

Tanpa komando. Cukup ada panitia yang mengatur agenda. Bendera tauhid akan marak berkibar, setelah dinistakan, dibakar.

Penguasa semestinya sadar, inilah perlawanan kaum yang tertindas. Kaum yang tertindas secara ekonomi, secara hukum, dan terlebih lebih secara politik. Penguasa seharusnya faham bahwa umat Islam sedang terluka oleh gaya dan cara mengatur pemerintahan. Penguasa semestinya berfikir ulang bagaimana cara menempatkan aspirasi umat Islam lebih proporsional.

Umat tidak akan bergerak datang ke monas ber reuni jika pemerintah ini benar, adil, dan layak. Semestinya ini momen introspeksi besar. Ada yang salah dalam mengatur negara, salah mengendalikan aparat, salah memfasilitasi pengusaha, salah membela habis habisan yang bayar. Negara yang tergadaikan.

Umat bergerak dengan dorongan semangat untuk unjuk diri pada penguasa penindas. Tak ada dalam sejarah kekuasaan itu abadi. Kini kuat esok lemah. Kini segalanya bisa diatur, besok kesana sini akan terbentur. Martabat pun hancur.

Melawan perasaan dan melukai rakyat, memancing kemarahan Tuhan. “God will not gamble with the universe”. Tidak ada judi dalam alam. Semua sudah ada hukumnya. Dan hukum itu adalah penindas rakyat mesti jatuh.

212 dan reuninya bukan untuk menjatuhkan. Hanya silaturahmi. Tapi dalam dada peserta re uni ada sesak atas kondisi umat, agama Islam, dan para pemimpinnnya yang diperlakukan tak adil. Rasa tertindas.

Allah senantiasa membuktikan kekuasaan dan kebesaran-Nya. Mereka yang bermain-main dengan kekuasaan dan kebesaran Allah, dipastikan tak akan mampu berbuat apa apa.

Allah SWT senantiasa berpihak pada kaum yang tertindas. Kaum itu akan menang. [syahid/voa-islam.com] Sabtu, 22 Rabiul Awwal 1440 H / 1 Desember 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 533 kali, 1 untuk hari ini)