Jokowi_sdf09

JAKARTA (voa-islam.com) – Belakangan muncul berbagai pernyataan dari para pejabat pemerintahan Jokowi yang membuat umat Islam menjadi resah bertanya-tanya. Pernyataan para pejabat,  isinya  hanya memojokan umat Islam, dan memberikan angin kepada golongan kafir musyrik.

Seperti pernyataan Menag, Lukman Hakim Saifuddin, yang meminta umat Islam menghormati orang-orang yang tidak berpuasa. Ini sangat paradok. Bukan orang yang tidak berpuasa yang harus menghormati yang berpuasa.

Wakil Presiden Jusuf Kalla, mengatakan pemutaran kaset al-Qur’an di masjid-masjid menjelang Shubuh, dinilai sebagai ‘POLUSI UDARA’.

Di depan para pengurus Dewan Masjid seluruh  Indonesia, Jusuf Kalla menginginkan agar pemutaran kaset al-Qur’an itu dilarang. Bahkan, Jusuf Kalla juga tidak menginginkan suara azan dari masjid lewat pengeras suara.

Masih ditambah pernyataan dari Ketua PB NU Said Agil Siradj, yang mengangkat tentang ‘ISLAM NUSANTARA’, yang lebih mengedepankan tentang toleransi. Jokowi juga mendukung  tentang ide ‘ISLAM NUSANTARA’ yang lebih mengedepankan  toleransi. Dibandingkan melaksanakan syariah Islam.

Said juga menegaskan bahwa Pancasila itu, bentuk dari Syriah Islam di Indoneisa. Itulah Islam ala Indonesia.

Sementara itu,  Brigjen Adityawaran bersama Majyen Budi, yang  baru selesai menyelenggarakan Munas (Musyawarah Nasional), Gerakan Bela Negara (GBN), 2 Juni 2015,  menegaskan sikapnya, bahwa rezim Jokowi ini ‘jahat’.

Menurut Mayjen Budi, karena, pertama : melakukan Cinaisasi dengan mendatangkan jutaan orang Cina ke Indonesia. Kedua,  jika umat Islam diam, maka Indonesia akan menghadapi serbuan orang Cina daratan ke Indoensia.

Sekarang sudah terjadi ‘Cinaisasi di segala sektor, ekonomi, politik, dan budaya. Penguasaan sumber daya alam, perkebunan, dan seluruh asset negara dipindahkan ke tangan Cina.

Belakangan, seorang aktifis buruh yang baru pulang dari Papua, menuturkan di Papua dibangun pabrik Semen, dan lebih 2000 orang buruh dan tenaga ahli di datangkan dari Cina daratan. Ini hanya salah satu contoh. Belum lagi maraknya pembangunan apartemen dan rumah susun (rusun), menurut berbagai sumber, diisi oleh orang-orang  Cina.

Belum lama ini, Meneg BUMN, Rini Suwandi menandatangani kerjasama dengan fihak  BOC (Bank Of China) bagi  pendanaan BUMN, yang nilainya ratusasn triliun, termasuk perusahaan penerbangan Garuda, di Paris.

Jokowi juga menyerahkan pembangunan infrastruktur kepada pemerintah Cina, saat bertemu dengan Presiden Cina, Xi Jinping, seperti pembangunan jalan tol, pelabuhan, bandar udara, dan termasuk pembangunan pembangkit  tenaga listrik di seluruh Kalimantan.

Cinaisasi benar-benar sudah merambah dan mengontrol seluruh sektor di Indonesia.  Tentu, semua itu dapat berperanguh bagi masa depan, anak-keturunan bangsa Indonesia, yang hanya  menjadi kuli dan budak orang Cina.

Dibagian lain, sejumlah pimpinan ormas yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) menemui  Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Pertemuan itu, dipimpin oleh Sekretaris Jenderal FUI Muhammad al Khaththath, dan menegaskan, perkembangan sosial politik akhir-akhir ini terlihat semakin memojokkan umat Islam.

Mulai dari pengosongan kolom agama di KTP oleh Kemendagri, pemblokiran situs Islam oleh Kemenkominfo dan ancaman Kementerian BUMN yang tidak menerima pegawai berjilbab.

“Pelecehan Al-Quran di Istana dengan tilawah langgam Jawa atas inisiatif Menteri Agama, ancaman pelarangan pembacaan doa di sekolah dengan cara Islam oleh Kementerian Pendidikan, hardikan Wapres terhadap pembacaan murattal Al-Quran dari masjid sebelum waktu subuh, hingga ancaman pejabat keamanan akan menindak ormas Islam yang akan melakukan sweeping ke tempat-tempat hiburan yang beroperasi di malam Ramadan sungguh sangat memprihatinkan kita,” ungkap Muhammad di ruang pimpinan DPR RI, Jumat (19/6/2015).

Menurut dia, banyak kasus-kasus pemurtadan yang menimpa umat Islam dengan berbagai modus operandi, seperti mengambil bayi yang orang tuanya tidak mampu seperti kasus Engeline.

Selain itu, adanya keresahan warga muslim di Jakarta yang keberatan dengan naiknya beban pajak hingga 300 persen. Kenaikan itu dinilai sebagai upaya pengusiran warga secara terselubung.

“Maraknya miras, narkoba, dan dekadensi moral, menyebarnya virus komunis dan liberal dan lain-lain. Di samping itu harga-harga barang jasa terus melambung, lantaran kenaikan harga BBM dan LPG serta lesunya situasi ekonomi nasional,” ujarnya.

FUI mendesak Presiden dan Wakil Presiden serta seluruh menteri agar tidak mengeluarkan pernyataan yang tidak simpatik dan menyakiti umat Islam

“Kami juga mendesak Fadli Zon dan pimpinan DPR lainnya agar mengambil prakarsa strategis untuk menghentikan segara retorika para pejabat pemerintah dan segera menyusun rencana strategis bersama DPR untuk membebaskan bangsa dari kelesuan ekonomi,” ujarnya.

Jokowi benar-benar ancaman bagi umat Islam, dan masa depan  bangsa dan negara Indonesia. Ini bersamaan penguasaan Cina terhadap asset Indonesia berupa ekonomi, keuangan/perbankan (finansiil), sumber daya  alam dan tambang, proferti dan  lainnya. Semua di alihkan ke tangan Cina. Inilah rezim Jokowi yang sekarang berkuasa di Indonesia.

Sementara itu, Amien mengatakan Indonesia tergolong sedang dijajah dengan cara halus, karena Indonesia tergolong negara yang tenang, sehingga dijajah melalui kebijakan. “Indonesia saat ini sedang diteropong oleh Amerika, tak perlu dijajah secara negara, karena dimata dunia Indonesia dianggap anak yang manis,” ujarnya.

Amien mengatakan dampak dari intervensi asing terhadap pemerintah terlihat dari seluruh kebijakan yang dikeluarkan selalu menguntungkan pihak asing. Sehingga, secara keseluruhan, bangsa Indonesia terjajah secara sistem. “Kita dijajah di bidang ekonomi dan kebijakan militer kita,” ujarnya.

Amin menyatakan bahwa kebijakan pemerintah yang berpihak kepada asing mempengaruhi kemerosotan ekonomi. Sebab, hingga kini dirinya mengaku tidak mengetahui apa saja yang telah dihasilkan dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam beberapa bulan terakhir. (dita/dbs/voa-islam.com) Sabtu, 3 Ramadhan 1436 H / 20 Juni 2015 08:27 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 14.205 kali, 1 untuk hari ini)