Riba di Balik Bisnis Start up


 

Hingga saat ini, gue gak ngerti bisnis start up itu seperti apa. Orang sibuk ngomongin unicorn dan industri 4.0, gue cuma bisa melongo. Mau bilang diri ini katrok juga gak papa, secara pola bisnis seperti itu sejatinya mengandung banyak mudharat. Bisnis berbasis riba.

Dimata gue, bekerja itu ya capek, pake mikir, menguras energi, ngeluarin keringat. Semuanya mesti meniti karir dari bawah, baru secara gradual menanjak keatas.

Begitu pula dengan bisnis. Hampir semua rekan yang berkecimpung di dunia usaha, merintis bisnisnya dari bawah. Jangan dikira usaha mereka itu serta merta langsung memperoleh omzet ratusan juta hingga miliaran rupiah sebulan. Diawal, untung 50 ribu rupiah sehari aja uda bersyukur. Untuk membesarkan bisnis, maka teman-teman gue itu mesti berhemat, tekun, gigih, tak henti melakukan inovasi.

Begitulah rumus umum menjadi pekerja dan pengusaha sukses. Nilai-nilai kejujuran menjadi value utama. Ini juga yang membuat seorang janda kaya raya bernama Khadijah jatuh hati dengan pria bernama Muhammad. Bukan karena fisik, bukan karena harta, melainkan kejujuran yang dijunjung tinggi oleh pria keturunan bani Hasyim tersebut. Akhirnya mereka menikah, mengelola perniagaan secara bersama-sama. Perbedaan usia 15 tahun bukan kendala bagi mereka berdua untuk membina rumah tangga, hingga salah seorang diantaranya pergi lebih dulu menghadap sang Pencipta, Allah SWT.

Ujug-ujug lahir bisnis start up yang terlihat canggih, dibalut dengan bahasa dunia finansial yang tak semuanya gue pahami. Cuma jualan cendol, tapi bisa dapat pinjaman dari investor berpuluh kali lipat dari nilai aset. Kok bisa? Entahlah, otak gue gak nyampek mikirin bisnis aneh itu. Ternak uang dengan pat gulipat investasi, skema ponzi.  

Begitulah metode bisnis yang digandrungi oleh banyak millenial saat ini. Menyimpang jauh dari ajaran baginda Nabi Muhammad SAW. Terakhir kita mendengar keguncangan, 5,6 Trilyun dana APBN dikucurkan pada bisnis start up milik stafsus Presiden RI. Meski sudah mengundurkan diri karena dibully oleh publik, kucuran investasi trilyunan itu tetap dijalankan dan melahirkan serangkaian kekonyolan. Pengangguran disuruh nonton paket pembelajaran memancing secara online melalui layanan aplikasi start up. 1 paketnya bernilai 800 ribu rupiah. Siapa yang harus membayar biaya itu? Pemerintah pusat. Darimana dananya? APBN yang berasal dari setoran pajak rakyat. Siapa yang diuntungkan? Jelas perusahaan aplikasi start up.

Ini skandal investasi. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan yang cuma miliki kapitalisasi aset bernilai miliaran, namun bisa mendapatkan proyek Negara senilai trilyunan. Lu ngajuin kredit ke Bank senilai 1 milyar. Jaminan lu cuma rumah type 36 senilai 200 juta. Kira-kira bakal disetujui gak? Sampek kiamat juga gak bakal di acc oleh para kapitalis bray. Agunan mesti lebih besar dari nilai pinjaman. Inilah hukum dari sistem riba yang paling sederhana.

Namun sekarang ini telah lahir sistem riba yang tak pernah bisa gue pahami. Bisnis minuman cendol anak presiden RI bisa dapat kucuran investasi jutaan dollar. Hanya karena dibalut dengan kata ‘start up’.

(By BZH)

 

portal-islam.id, Senin, 04 Mei 2020  Catatan

(nahimunkar.org)

(Dibaca 426 kali, 1 untuk hari ini)