Silakan simak berikut ini.

***

 

 

RIBA MENGGILA! Pinjaman Online per Juni 2019 Tembus Rp44,80 Triliun, Ini Seruan MUI



[PORTAL-ISLAM.ID]  Ketika RIBA dibiarkan….. Bahkan dibantu dalam pencatatan, dan diberikan ijin untuk berkembang di Indonesia..

Rasulullah Shallallaahualaihi Wasallam bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ الله‏ِ


“Apabila zina dan riba telah tampak di suatu kampung, sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah bagi mereka.” (HR ath-Thabarani dan al-Hakim) [
إسناده صحيح أو حسن أو ما قاربهما]
sanadnya shahih atau hasan atau yang mendekati keduanya/ dorar.net

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Kiai Cholil Nafis meminta pemerintah agar memblokir aplikasi pinjaman online (Pinjol). Pasalnya, bunga Pinjol yang tinggi menyengsarakan masyarakat.

“Baru saja ada yang curhat kalo dirinya kelilit Pinjaman online (pinjol). Dari awalnya pinjam 500 rb jadi 6 jt. Benar-benar bikin benjol dg bunganya 24% setiap bulan. Segera pemerintah memblokir semua aplikasi pinjol itu krn sdh terbukti menyengsarakat umat bahkan ada yg bunuh diri,” kata Kiai Cholil melalui Twitternya, Senin (12/08/2019).

Tembus Rp44,80 Triliun!

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah penyaluran pinjaman online melalui fintech tembus Rp44,80 triliun per Juni 2019. Jika dibandingkan dengan awal tahun, jumlah Pinjol meroket 97,68 persen.

Jumlah Pinjol itu mengalir ke 9.743.679 rekening peminjam (borrower) atau naik 123,51 persen. Dari sisi wilayah, peminjam di wilayah DKI Jakarta masih mendominasi sebesar Rp14,78 triliun. Diikuti oleh Jawa Barat Rp11,38 triliun dan Jawa Timur Rp4,91 triliun.

Sementara akumulasi pemberi pinjaman (lender) sebanyak 498.824 rekening atau meningkat 140,39 persen. Pemberi pinjaman masih terkonsentrasi di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, dan Sumatera Utara.

Adapun total perusahaan fintech terdaftar atau berizin mencapai 113 entitas, terdiri dari 107 fintech konvensional dan 6 fintech berbasis syariah. Di antaranya 109 entitas bermarkas di Jabodetabek, sisanya tersebar di Bandung, Lampung, dan Surabaya.

Link: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190812084635-78-420402/pinjaman-online-per-juni-2019-tembus-rp4480-triliun 

Baru saja ada yg curhat klo dirinya kelilit Pinaman online (pinjol). dari awalnya pinjam 500 rb jadi 6 jt. Benar2 bikin benjol dg bunganya 24% setiap bulan. 

Segera pemerintah memblokir semua aplikasi pinjol itu krn sdh terbukti menyengsarakat umat bahkan ada yg bunuh diri.

— cholil nafis (@cholilnafis) August 12, 2019

 

portal-islam.id Selasa 13 Agustus 2019.

 

***

Prof Mahfud MD kena dosanya atau tidak ya

Ternyata Prof Mahfud MD pernah omong ngawur pula soal riba. Prof Mahfud MD kena dosanya atau tidak ya, ketika riba online begitu menggila sekarang ini? Karena Prof Mahfud MD pernah pula mengatakan, ‘Pembicaraan halal haramnya bank konvensional dan riba sudah basi’.

Ini beritanya.

***

Mempertanyakan  Mahfudz MD yang Mengatakan: Pembicaraan Halal Haramnya Bank Konvesional dan Riba Sudah Basi


Posted on 25 April 2018

by Nahimunkar.com

 

Buat Prof Mahfudz MD yang mengatakan pembicaraan halal haramnya Bank konvesional dan Riba sudah basi, semua tidak masalah, saya ingin bertanya apa yang dimaksudkan oleh prof? apa ribanya apa banknya?, kalau riba saya katakan Allah tegas mengatakan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba, haramnya riba ijma ulama sahabat.

Dan nash Qat’i dari Qur’an dan sunnah siapa yang menghalalkan kafir. Adapun kalau yang dimaksud prof bahwa transaksi di bank konvesional itu bukan riba, saya tanya apa prof paham yang dimaksud riba? Riba adalah kullu Qardhin jarra manfaah,
semua pinjaman yang menarik interes, saya tanya bukankah hakekat transaksi bank konvesional kebanyakan hutang yang ada interesnya? Keuntungan itulah yang diharamkan Allah RasulNya.

Mudah mudahan prof tidak bicara atas dasar realita di Saudi atau NU atau Muhammadiyah, dalil ada dalam wahyu Qur’an dan sunnah, mudah mudahan Prof selalu mendapat hidayah untuk kembali kepada wahyu secara benar bukan karena kepentingan dunia sesaat. Karena kematian bisa datang tiba tiba dan semua yang diucapkan ada tanggung jawab berat di sisi Allah. Selamat malam.

via fb Mu’inudinillah Basri

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 1.417 kali, 1 untuk hari ini)