Ribut soal Menag Yaqut: Salah Pilih, Salah Sambung, Salah Start

  • Apakah untuk mengalihkan ramainya berita soal korupsi Bansos seputar PDIP, Anak Pak Lurah dll?
  • Apakah pengalihan berita ramainya soal dibantainya 6 Muslim oleh polisi Indonesia tanpa jelas persoalannya?

Di saat Umat Islam Indonesia bahkan dunia kaget banget dengan adanya 6 Muslim dibantai polisi Indonesia dengan ditembak mati semua tanpa jelas apa salahnya, tahu-tahu ada pengangkatan 6 menteri baru, menggantikan yang perlu diganti. Ternyata di antara yang akan diangkat jadi wakil menteri ada yang menolak mentah-mentah, tidak mau menerima jabatan yang biasanya di negeri ini orang sangat ambisi jabatan. Tentu saja penolakan itu karena ada apa-apanya. Dari Muhammadiyah, ormas Islam terbesar kedua di Indonesia menolak tawaran untuk jadi pejabatnya Jokowi itu. Ini tampaknya baru pertama kali terjadi. Hingga banayk yang salut dengan sikap Muhammadiyah itu!

Nah, yang mengagetkan di saat Umat Islam lagi sedih2nya atas pembantaian 6 Muslim oleh polisi Indonesia itu, tahu-tahu yang diangkat jadi menteri agama adalah Yaqut yang dikenal sebagai pentolan Ansor alias Banser NU (Nahdlatul Ulama).

Kenapa kaget?

Karena salah pilih dan salah momen.

Karena, Umat Islam lagi sangat sakit hati karena 6 Muslim dibantai polisi dan urusannya belum klar, dan belum tentu akan tuntas seadil-adilnya, lha kok malah diangkat seorang menteri agama yang sepak terjangnya sering kurang mengenakkan Umat Islam pada umumnya.

Banser NU alias Ansor yang dipimpin Yaqut itu suka membubarkan pengajian-pengajian Islam. Satu soal ini saja sudah merupakan jurang yang menganga antara pihak NU dengan Umat Islam. Belum soal-soal lain yang ditimbulkan oleh Banser NU dan NU-nya sekalian yang punya sejarah kurang harmoni dengan Umat Islam lantaran NU bergabung dengan komunis PKI dalam apa yang disebut Nasakom, dan tragisnya, orang-orang NU justru jadi target utama sasaran bunuh oleh komunis PKI zaman Soekarno 1960-an. Namun bukannya NU kemudian merapat ke Umat Islam pada umumnya, justru seakan kembali berhadapan dengan Umat islam non NU. Bahkan pernah sangat ramai, di saat apa yang dibikin Jokowi yakni Hari Santri, Banser NU membakar bendera Tauhid (bertulisan Laa Ilaaha Illallah) di Garut Jawa Barat Oktober 2018. Bagaimanapun, tingkah Banser NU itu sangat melukai perasaan Umat Islam yang tidak pro mereka.

Di samping melukai Umat Islam, Banser NU alias Ansor pimpinan Yaqut, dan sebelumnya adaah Nusron Wahid ini kiprahnya memang sering menjadikan Umat Islam seakan sebagai lawan. Bahkan sampai ketika Al-Qur’an dilecehkan Ahok (non Muslim, keturunan Tionghoa) pun NU membela Ahok penista al-Qur’an itu secara resmi di pengadilan sebagai saksi ahli. (Memalukan! Masdar F Mas’udi dari NU Terjerembab dalam Dalil Serampangannya demi Bela Ahok
https://www.nahimunkar.org/memalukan-masdar-f-masudi-dari-nu-terjerembab-dalam-dalil-serampangannya-demi-bela-ahok/).

Dan ketika Ahok maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta, NU dan juga Yaqut justru mendukung Ahok, bukan calon gubernur yang Muslim, Anis Baswedan. Padahal NU itu sendiri didirikan oleh para kyai, dan namanya pun Nahdlatul Ulama, artinya kebangkitan ulama.

Di samping itu NU ternyata belakangan menjadi pengusung ritual Kemusyrikan Ruwatan yang selama ini sudah diberantas oleh para ulama, namun ditumbuhkan kembali oleh pentolan NU yakni Gus Dur tahun 2000-an. Bahkan belakangan langsung dipraktekkan oleh ketua NU, memimpin ritual kemusyrikan ruwatan Gibran anak Jokowi yang mencalonkan diri jadi walikota Solo Jawa Tengah. https://www.nahimunkar.org/ketua-pbnu-ruwat-gibran-di-solo-padahal-ruwatan-itu-ritual-syirik-akbar/
.

Dan begitu terpilih jadi Wali Kota Solo, Gibran langsung disebut dalam berita, anak Pak Lurah diduga tersangkut kasus korupsi Bansos Corona oleh Menteri Sosial dari kalangan PDIP. Berita itupun sangat ramai.

Masih ada jejak yang bikin jarak dengan Umat Islam non NU, di antaranya kiprah Banser NU itu dikenal suka jagain gereja terutama seputar natalan dan tahun baru. Maka dengan diangkatnya Yaqut pentolan Banser NU jadi menteri agama itu ada yang menyebutnya “satpam gereja’ jadi menteri agama. Dan ada yang menyebutnya, Yaqut itu omongannya kasar, maka tidak menguntungkan Jokowi dengan diangkatnya dia jadi menag.

Nah, itulah, kalau boleh dibilang, itu salah pilih dan salah momen. Di saat Umat Islam lagi sedih karena 6 Muslim dibantai polisi, tahu2 diangkatlah Yaqut pentolan Banser NU jadi menteri agama, padahal sepak terjangnya banyak yang tidak mengenakkan Umat Islam non NU.

Salah sambung

Diangkatnya Yaqut jadi menteri agama itu menggantikan Fachrul Razi dari tentara yang dari awalnya dikenal kurang begitu faham mengenai ilmu Islam. Hingga sejak awal, telah terjadi kegaduhan karena Menag Fachrul berkhutbah Jum’at di Masjid Istiqlal Jakarta dinilai cacat khutbahnya lantaran tidak membaca shalawat Nabi di khutbah awal. Menurut Madzhab Syafi’i yang merupakan mayoritas di sini, khutbah Jum’at itu harus baca shalawat Nabi di khutbah awal dan kutbah kedua. Maka ributlah berita ramai saat itu, bernada bahwa Menag Fachrul kurang ilmu.

Pengangkatan Yaqut ini bisa dinilai salah sambung, karena setidaknya, ketika Umat Islam terutama justru NU sangat kecewa lantaran yang diangkat jadi menteri agama itu tentara bukan dari pesantren dan kurang ilmu, lha kok sekarang Yaqut yang diangkat jadi menteri agama menggantikan menag Fachrul yang dinilai kurang ilmu ini juga bukan lulusan pesantren, dan belum tentu mumpuni ilmunya soal Islam.

Mari coba bandingkan, agar bisa tahu benar bedanya:

Menteri Agama Pertama 1946 HM Rasjidi Profesor Ulama Hafal Quran Anti Syiah


Posted on 25 Desember 2020

by Nahimunkar.org

 

  • Menag Zaman Jokowi 2020, Yaqut Omongannya Dinilai Kasar, Bela Syiah dan Ahmadiyah Penista Islam

Menteri agama pertama 1946, Prof HM Rasjidi itu Ulama, profesor alumni luar negeri, ilmuwan, hafal Quran (murid Syaikh Ahmad Surkati pendiri Al-Irsyad di Pesantren Al-Irsyad Jatim), guru besar, menguasai beberapa bahasa asing, pernah tugas jadi guru besar di Canada, anti syiah dan menulis buku2 di antaranya tentang kesesatan syiah, ‘apa itu syiah’.

 
 


Lhah, menteri agama zaman Jokowi 2020, Yaqut tamatan SMA, kuliah tidak selesai (menurut suatu media), omongannya dinilai kasar, eh malah melindungi penista Islam yakni syiah dan ahmadiyah agama nabi palsu.

Njomplang banget ya! Ini maju apa mundur kejegur, namanya?

Kata seorang pengamat, Menag Yaqut melindungi Ahmadiyah dan syiah penista Islam dan membahayakan NKRI itu artinya, melindungi minoritas, bahkan penista agama (mengaku Islam tapi memalsu Islam), namun menyakiti dan melukai hati mayoritas penduduk negeri yakni umat Islam.

Yang seharusnya dihukum malah dilindungi, sedang yang seharusnya dilindungi malah disakiti, dilukai hatinya.

 
 

Foto voais/demokrasi



Via fb

Abu Mahmudah

cteSgBpoatrnud osonrdaesuajad  · 

 ***

 

Salah Start dan salah sambung juga

 

Telah tergamnbar, Menag Yaqut diangkat itu salah pilih, salah moment, dan salah sambung. Seharusnya dia sangat hati-hati, pakai strategi, dan melihat moment sebaik-baiknya. Eh, malah dia begitu dilantik, langsung salah start.

Mustinya Yaqut tahu, Menag Fachrul yang dia gantikan itu namanya buruk karena kurang ilmu agama tapi jadi menteri agama, bahkan jatuh tapai (jatuh yang tak bisa diselamatkan lagi namanya, istilah Minang Sumbar), karena dia memusuhi syari’at pakaian muslim yaitu di antaranya celana cingkrang dan cadar. Bahkan Yaqut sendiri kan yang juga ikut mengkritik Menag Fachrul? Gus Yaqut: Sebelum Larang Cadar, Sebaiknya Menag Ngaji Dulu Apa itu Radikalisme
Posted on 31 Oktober 2019 by Nahimunkar.org

 

Seharusnya, Yaqut justru menggunakan moment sebaik-baiknya, sudah dapat simpati dari masyarakat karena telah mengkritik Menag Fachrul itu, maka tinggal mendekati Umat Islam, jalan bersama, membenahi apa yang perlu dibenahi seirng sejalan secara ukhuwah Islamiyah. Hingga luka akibat Menag Fachrul itu terobati, dan kemudian Yaqut bisa menjalankan program pembinaan Umat secara baik.

Eh, bukan begitu, malah langsung start dengan mau melindungi pemalsu Islam yakni Ahmadiyah dan Syiah. Gegerlah jadinya. Belum apa2 sudah langsung membakar suasana Umat Islam yang sedang luka berdarah-darah dengan aneka rundungan seperti tersebut.

Runyamlah sudah.

Itu lebih buruk dari gambaran ilustrasi berikut ini.

Seorang pembantu baru keluarga besar disuruh mempersiapkan perbekalan untuk perjalanan jauh. Di antaranya harus mempersiapkan minuman-minuman. Sudah disediakan botol2 plastik, agar diisi air matang.

Pembantu baru ini pun sangat bersemangat mempersiapkan bekal, apalagi langsung untuk diajak jalan-jalan. Maka dia merebus air banyak. Begitu air itu mendidih, langsung diangkat, dan dikucurkan ke botol-botol plastik.

Waduh… mlenyok semua botol2 plastik yang dikucuri air panas baru saja mendidih itu….

Nah, Yaqut yang akan memulai bekerja tapi berkoar mau melindungi pemalsu Islam yakni Ahmadiyah dan Syiah itu lebih buruk dibanding pembantu baru yang bego itu. Maka pantaslah ada pengamat yang menyuarakan, Yaqut harus dipecat. Itu sama sekali tidak akan menguntungkan Jokowi…

Bagaimanapun, ketika startnya itu salah fatal bahkan salah sambung seperti ini, maka sudah ada jarak sangat menganga antara Menag Yaqut dengan Umat Islam pada umumnya. Hampir mustahil kerja2 Menag Yaqut akan diterima dengan baik oleh Umat Islam, apapun bentuknya. Karena sudah kadung salah start, bahkan salah sambung alias salah ketika seharusnya meneruskan Menag Fachrul yang sudah ada jurang antara dia dengan Umat itu perlu diawali dengan pendekatan yang sangat hati2, eh malah sebaliknya; frontal salah fatal.

Apakah Yaqut memang tidak faham, bahwa masalah Ahmadiyah itu merupakan masalah yang rumit sekali di Nusantara sejak tahun 1930-an? KH Masykur Kyai NU menjadi tokoh utama dalam menghadapi masalah pemalsu Islam yakni Ahmadiyah ini. Rumahnya di Jakarta itu berkali-kali untuk pertemuan para ulama dan tokoh Islam untuk menghadapi Ahmadiyah yang sudah dua kali difatwakan sesat menyesatkan bahkan pengikutnya murtad, oleh MUI Zaman Buya Hamka 1980-an dan Zaman Kyai Sahal Mahfudz 2005. Demikian pula masalah aliran sesat Syiah.

Apakah Yaqut tidak faham, bahwa masalah syiah itu merupakan masalah rumit sejak setelah orang Majusi (Abu Lu’lu’) menikam Umar bin Khatthab yang mengimami shalat subuh di Masjid Nabawi Madinah, kemudian belakangan timbul Syiah dan kemudian Abu Lu’lu’ yang Majusi itu oleh Syiah diangkat sebagai pahlawan dengan julukan Baba Syuja’uddin, dan kuburannya di Iran kini di puja2 padahal dia jelas2 musyrik, majusi? Kuburan ulama Islam pun haram dipuja.

Syiah dengan Ahlus Sunnah itu benar2 persoalan besar. Bahkan telah diputuskan oleh Mahkamah Agung, syiah itu menyimpang, karena terbukti menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi. Itu Kasus pentolan syiah, Tajul Muluk di Madura. Silakan baca ini: Keputusan Tetap Mahkamah Agung Nomor 1787 K/Pid/2012: Ajaran Syiah Menyimpang dari Agama Islam
Posted on 9 September 2019 by Nahimunkar.org

Benarlah kata pengamat, Menag Yaqut mau melindungi minoritas Ahmadiyah dan Syiah (pemalsu Islam) tapi menyakiti mayoritas Muslim.

Kalau memang konsisten menjalankan konstitusi, ya yang dilindungi itu yang murni, bukan yang palsu. Bukan yang sudah terbukti secara hukum memang melanggar dan menyimpang seperti itu. Yang memalsu, melanggar dan menyimpang itu harus dihukum, bukan dilindungi. Sekali lagi, yang harus dilindungi itu yang tidak melanggar.

Dengan aneka kesalahan itu, masih ditambah dugaan yang seakan terdengar di sana-sini, bahwa itu memang disengaja, untuk menutupi kasus dugaan terlibatknya korupsi bansos Anak Pak Lurah. Dan juga untuk mengalihkan ramainya sedunia soal berita dibantainya 6 Muslim tak bersalah apa2 oleh Polisi Indonesia itu.

Dugaan itu benar atau tidak, yang jelas justru menambah nilai buruk keadaan yang amat buruk ini.

Lantas harus bagaimana?

Jawabannya cukup singkat: Itu bukan urusan saya!

(nahimunkar.org)

(Dibaca 551 kali, 1 untuk hari ini)