Sebelum acara ditutup dengan doa, Habib Ahmad Zein al-Kaff yang datang lebih awal dan duduk di kursi paling depan, meminta kesempatan bicara kepada panitia.

Sambil berdiri di depan, ia memperkenalkan diri dan menyampaikan bahwa Syiah telah menyimpang. Seketika itu forum menjadi bergemuruh, kemudian berubah menjadi ricuh setelah peserta yang sebagian besar aktivis liberal dan Syiah merasa berang.

Inilah beritanya:

***

Memanas, Diskusi Soal Syiah di IAIN Sunan Ampel Dibubarkan

Syiah

SURABAYA– Diskusi publik tentang syiah yang digelar oleh Senat Mahasiswa dan Pergerakkan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) rayon Fakultas Usuluddin IAIN Sunan Ampel, Surabaya, berlangsung panas.

Dialog yang bertajuk ‘Haruskah Syiah Ditolak?’ ini terpaksa dibubarkan karena suasana tidak kondusif.

Dialog yang dihelat di Fakultas Ushuluddin ini dihadiri budayawan, Emha Ainun Nadjib; pengarang buku Atlas Wali Songo yang juga Wakil Ketua Lembaga Kajian Sosial dan Budaya NU, Agus Sunyoto; Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia (ABI), Umar Shahab; dan beberapa dosen perbandingan agama Fakultas Usuluddin. Acara dialog ini juga dihadiri oleh ratusan mahasiswa di kampus tersebut.

Panitia Dialog, Mudatzir, mengatakan, dialog ini bubar lantaran ada sekelompok orang yang menamakan diri anti-Syiah meminta agar diskusi ini dihentikan.

“Ada sekelompok orang yang datang ke ruang diskusi dan meminta agar acara disuksi itu dihentikan,” kata Mudatzir, Senin (22/10/2012).

Kericuhan dalam dialog itu terjadi ketika Ketua Bidang Organisasi Al-Bayyinat Indonesia, Habib Achmad Zein Alkaf, melalukan interupsi dalam acara tersebut. Pria yang juga Anggota Bidang Ukhuwah Islamiyah MUI Jatim itu menolak ajaran Syiah di Indonesia.

Kontan saja, interupsi tersebut disambut dengan teriakkan sejumlah peserta diskusi yang lain mendukung Habib Zein. Suasana diskusi pun mendadak panas, hingga akhirnya moderator acara pun berdiri dan meminta diskusi publik ini diakhiri saja.

Cak Nun yang hadir di acara tersebut berdiri dan meminta segenap hadirin yang hadir untuk bersalawat. Usai Salawat, dialog tersebut bubar dengan sendirinya.

Sementara itu, Habib Zein, ketika dikonfirmasi mengaku bahwa acara tersebut tidak perlu diadakan. Pasalnya, akan semakin menjustifikasi keberadaan Syiah. Di Jawa Timur sendiri payung hukumnya sudah jelas atas keberadaan Syiah ini.

“Fatwa MUI sudah ada, dan sudah dikuatkan dengan SK Gubernur. Payung hukumnya sudah jelas. Acara seperti ini tidak perlu diadakan agar tidak memicu konflik,” kata Habib Zein ketika dihubungi.

Sebagaimana diketahui, terhadap ajaran Syiah ini, MUI Jatim telah mengeluarkan Fatwa dengan nomer Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang kesesatan ajaran Syiah.

“MUI sudah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Syiah atau yang juga disebut Syiah Imamiyyah Itsna’asyriyyah adalah sesat dan tak layak ada di Indonesia. Karena ini adalah MUI Jatim artinya tidak boleh ada di Jawa Timur. Untuk memperkuat fatwa tersebut, Gubernur Jawa Timur telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) nomor 55 Tahun 2012 tentang Pembinaan kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran sesat di Jatim.

Nurul Arifin – (Okezone) Senin, 22 Oktober 2012 17:29 wib

***

Protes Anggota Syuriah PWNU Ikut Akhiri Dialog tentang Syiah

Selasa, 23 Oktober 2012

Hidayatullah.com–Dialog Publik bertema “Aliran-Aliran dalam Islam, Haruskah Syiah Ditolak” di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya pada Senin, (22/10/2012) berakhir dengan suasana gaduh.

Semula, acara dialog dari awal hingga sesi tanya-jawab sesuai rencana. Di ujung acara, forum yang dihadiri ratusan mahasiswa tiba-tiba menjadi gaduh.

Kegaduhan bermula ketika para pemateri usai menjawab pertanyaan, Habib Ahmad bin Zein al-Kaf diberi kesempatan moderator bertanya. Saat beliau baru bicara, suara-suara ribut di bangku belakang mulai terdengar.

Habib Ahmad yang berbicara sebagai peserta itu tetap melanjutkan pembicaraan dengan tenang.

“Saya di sini ingin sampaikan bahwa kami menjelaskan Syiah secara ilmiah. Ketahuilah, ormas NU, Muhamadiyah dan MUI Jawa Timur menyatakan sesat,” ujar anggota Syuriah PWNU Jawa Timur tersebut.

Pria yang juga dikenal Ketua Bidang Organisasi Yayasan Al-Bayyinat itu menerangkan, bahwa siapa yang mengaku pecinta Rasulullah dan Ahlul Bait maka harus menyatakan Syiah sesat.

“Ja’afar al-Shadiq itu imam Ahlussunnah bukan Syiah,” tegasnya.

Meski Ahmad bin Zein bicara dengan tenang, tapi rupanya sejumlah aktivis Syiah gerah dengan pernyataannya. Salah seorang diantaranya berteriak keras, “Yaa Huseiin!”.

Sontak teriakan-teriakan tersebut semakin membuat gaduh suasana forum dialog. Saat itu mulai banyak peserta maju ke depan. Terdengar pula kalimat-kalimat teriakan dari aktivis Syiah lain. Ahmad bin Zein pun tidak melanjutkan kalimatnya.

Melihat situasi tidak kondusif, panitia lantas memutuskan mengakhisi acara dan keributan segera diredakan oleh panitia.

Seperti diketahui, acara dialog publik ini menghadirkan pembicara Emha Ainun Najib (Cak Nun), Drs Agus Sunyoto, dan Prof Dr. Syamsul Maarif (dosen sosiologi UMM Malang), dan Umar Shahab (Dewan Syura Ahlul Bait Indonesia) sebagai pemateri. Ketika acara baru dimulai, Umar Shahab keluar dari ruangan. Hingga acara selesai Umar pun tidak sempat memberi materi.

Dalam sesi tanya jawab, Cak Nun sempat berbicara dengan nada tinggi. “Saya tidak mengeluarkan fatwa. Karena itu tidak akan memutuskan apa-apa di sini”, teriaknya.*/Kholili Hasib

Rep: Administrator

Red: Cholis Akbar

***

Cak Nun: “Saya Tidak Mempertanggungjawabkan Apa-apa”

“Saya tidak berpendapat dan berfatwa,” ujar Cak Nun

Selasa, 23 Oktober 2012

Hidayatullah.com–Dialog publik bertema “Aliran-Aliran dalam Islam, Haruskah Syiah Ditolak” di IAIN Surabaya pada Senin (22/10/2012) ikut menampilkan budayawan Emha Ainun Nadjib atau kerap dipanggil Cak Nun menjadi salah satu pemateri.

Di awal berbicara, Cak Nun menyatakan perbedaan Sunnah-Syiah itu layaknya perbedaan NU-Muhammadiyah, namun di sesi tanya jawab ia mengaku tidak berpendapat apa-apa.Dia juga mengatakan dirinya bukan MUI dan kurang paham dalil dan hadits.

Saat acara sesi tanya-jawab, salah seorang peserta sempat bertanya kepada pria yang dikenal produktif menulis ini tentang perbedaan antara ikhtilaf dan iftiraq, antara perbedaan ijtihadiyah dan akidah. Menurutnya, pertentangan Sunnah-Syiah bukan persoalan ideologis.

“Saya tidak berpendapat apa-apa. Saya juga tidak paham khilafiyah. Hadits yang penanya maksud, saya baru dengar dari sampeyan”, jawab Cak Nun sambil nunjuk-nujuk jari kepada penanya.

Cak Nun mengaku, kapasitasnya tidak berfatwa dan tidak mempertanggungjawabkan apapun.

“Fatwa dan tanggung jawab itu kapasitas pemerintah dan ulama, bukan saya,” ujarnya.

Budayawan asal Jombang itu pun tidak menjawab pertanyaan penanya secara subtansial. Ia hanya menyatakan, “Saya tidak mempertanggung-jawabkan apa-apa, saya diundang diskusi di sini agar anak-anak mahasiswa semangat,” ujarnya.

Padahal sebelumnya, retorikanya diarahkan bahwa perbedaan Sunnah-Syiah dianalogikan dengan perbedaan NU-Muhamadiyah. Beberapa peserta menilai, pernyataan yang dikeluarkannya membingungkan.

Salah seorang penanya dari panitia bahkan sampai meminta kepada pembicara untuk menyatakan kejelasan kepada para pembicara. Ia ingin tahu, apakah Syiah itu ditolak apa diterima. Dan sekali lagi, Cak Nun hanya menanggapi, “Saya tidak berpendapat dan berfatwa!”.

Anggota Syuriah PWNU Jawa Timur Habib Ahmad bin Zein yang hadir pada acara dialog tersebut sempat berkomentar bahwa pernyataan Cak Nun itu sudah berbau Syiah.

“Dia justru lebih berbahaya dari pada Syi’i,” ungkapnya kesal di luar gedung usai acara.*/Kholili Hasib

Red: Cholis Akbar (hidayatullah.com)

***

Dialog Publik Syiah di IAIN Surabaya Batal Dihadiri Wakil Menag

Suasana dialog tentang Syiah yang berakhir ricuh

Selasa, 23 Oktober 2012

Hidayatullah.com–Dialog publik bertema “Aliran-Aliran dalam Islam, Haruskah Syiah Ditolak” di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya pada Senin (22/10/2012) kemarin akhirnya batal dihadiri Wakil Menteri Agama, Prof. Dr. Nazaruddin Umar. Sebelumnya, menurut undangan, acara ini akan menghadirkan  Nazaruddin Umar.

Selain Prof. Nazaruddin Umar, undangan juga mencatat sejumlah nama-nama yang akan menjadi pembicara. Di antaranya, Prof. Dr. Said Agil Munawwar, M.A (mantan Menteri Agama), dan Mukhtar Adam (tokoh Muhammadiyah), juga Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia (ABI), Dr Umar Shahab. Namun Umar Shahab yang sempat duduk di kursi pembicara di awal acara tiba-tiba keluar dan tidak kembali hingga acara usai.

Menurut informasi Habib Ahmad bin Zein, Umar Shahab diminta Polda Jatim untuk tidak datang pada cara dialog karena acara tersebut tidak diberi izin.

Sejumlah ulama Jatim juga menyesalkan adanya cara dialog publik yang diadakan Syiah di IAIN Sunan Ampel Surabaya tersebut. Mereka menilai, dialog Syiah ini adalah cara menarik simpati di saat suasana Jawa Timur masih kurang kondusif setelah ada kasus Sampang.

KH. Muhyiddin Abdusshomad, Ketua PCNU Jember, berpendapat bahwa pertemuan tersebut hanya pertemuan politik yang bertujuan untuk menekan ulama agar Syiah diterima di Sampang.

Para ulama khawatir, dialog Syiah seperti itu akan memancing gejolak lagi. Sementara itu, KH. Luthfi Bashari Alwi dari Malang mengaku telah memohon kepada Wakil Gubernur Jatim untuk melarang dialog-dialog itu karena dapat meresahkan masyarakat dan menimbulkan gejolak di Jatim.

Seperti diberitakan, acara dialog publik bertemakan “Aliran-aliran dalam Islam; Haruskah Syiah Ditolak?”mendatangkan empat pembicara, di antaranya: Emha Ainun Najib (Budayawan), Prof. Dr Syamsul Arifin (sosilog UMM Muhammadiyah), Drs. Agus Sunyoto, M.Pd, dan Dr. Umar Shahab (Ketua Dewan Ahlul Bait Indonesia).

Dialog ini sendiri berakhir ribut. Para aktivis Syiah tidak rela, Ahmad bin Zein, berkesempatan memberi pernyataan di dalam forum.*/Kholili Hasib

***

Diskusi tentang Syiah di IAIN Sunan Ampel Berakhir Ricuh

Senin, 22 Oktober 2012

Hidayatullah.com–Sebuah diskusi publik yang bertema “Aliran-aliran dalam Islam; Haruskah Syiah Ditolak?” yang digelar di IAIN Sunan Ampel Surabaya berakhir ricuh. Acara yang berlangsung pada Senin, 22 Oktober 2012 tersebut mendatangkan empat pembicara, di antaranya: Emha Ainun Najib (Budayawan), Prof. Dr Syamsul Arifin (Sosiolog UMM yang juga tokoh Muhammadiyah), Drs. Agus Sunyoto, M.Pd, dan Dr. Umar Shahab (Ketua Dewan Ahlul Bait Indonesia).

Acara tersebut cukup banyak menarik perhatian mahasiswa dan masyarakat dari luar IAIN Surabaya, hingga memadati Aula Fakultas Ushuluddin. Bahkan sejumlah penganut Syiah pun turut hadir. Hanya saja, pembicara dari Ahlul Bait Indonesia (ABI) batal tampil setibanya di kampus IAIN Surabaya. Belakangan diketahui bahwa ketidakhadiran Umar Shahab karena ada keberatan pihak aparat.

Habib Ahmad Zein al-Kaff, yang merupakan anggota Syuriah PWNU Jatim dan Ketua Yayasan Al-Bayyinat mengaku telah melapor acara ini ke Polda Jatim agar dibubarkan. Alasannya, mengacu Fatwa MUI Jawa Timur dan SK Gubernur Jawa Timur nomor 55 tahun 2012.

“Saya tadi minta acara seminar tentang Syiah agar dihentikan dan dibubarkan. Ini karena sudah ada fatwa MUI Jatim yang menyatakan ajaran Syiah sesat dan didukung Pergub Jatim yang melarang aliran-aliran sesat berkembang di Jatim. Tadi Umar Shahab dari ABI ketemu saya langsung lari,” jelasnya

Berdasarkan jalannya acara, dialog publik tersebut jauh dari harapan sesuai tema yang diusung, sebab para pembicara tidak memberikan kesimpulan yang jelas dan cenderung mengaburkan pemahaman lebih dari 300 peserta yang hadir.

Jumpa Fans

Diawali oleh Emha Ainun Najib yang memaparkan tentang khilafiyah (perbedaan) dalam Islam. Ia nampaknya mengambil “jalan aman” dengan bersikap skeptis. Namun demikian, mendengar pemaparannya tentang khilafiyah tersebut, Emha yang kerap dijululuki pers “Kiai Mbeling” mengesankan bahwa perbedaan Sunni-Syiah tidak berbeda sebagaimana NU-Muhammadiyah, sebagaimana sebelumnya ia banyak membicarakan kasus perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah. (Lihat: Cak Nun: “Saya Tidak Mempertanggungjawabkan Apa-apa”)

Selajutnya Agus Sunyoto membawakan pemaparan yang memuat pesan di dalamnya bahwa, umat Muslim harus mewaspadai setiap peristiwa yang ada, sebab boleh jadi merupakan konspirasi Yahudi dalam memecah belah umat Islam.

Terakhir, Syamsul Arifin, dosen Universitas Muhammadiyah Malang yang sedang melakukan riset sosiologi tentang Syiah di Madura ini, menyampaikan bahwa perbedaan antara Sunni dengan Syiah hanyalah perkara sosial dan bukan perkara agama.

Sebagaimana telah disinggung, acara diskusi publik tersebut kurang menyentuh tema dan terkesan hanya menjadi semacam acara hiburan atau “jumpa fans” dengan Emha Ainun Najib. Hingga salah seorang panitia pun merasa gerah dengan mendesak pembicara untuk menyatakan kejelasan kesimpulan. Alih-alih bersikap tegas dalam berkesimpulan, Emha justru sempat menghardik seorang penanya lainnya, yang sebelumnya beropini bahwa pemahaman Syiah jauh berbeda dari Ahlus Sunnah.

Dengan nada tinggi Emha berkata, “Saya bukan MUI. Saya tidak mengerti Hadis! Makanya tidak mau mengeluarkan fatwa.”

Alhasil sampai sesi tanya jawab telah selesai, acara diskusi publik berakhir dengan antiklimaks. Namun sebelum acara ditutup dengan doa, Habib Ahmad Zein al-Kaff yang datang lebih awal dan duduk di kursi paling depan, meminta kesempatan bicara kepada panitia.

Sambil berdiri di depan, dengan ia memperkenalkan diri dan menyampaikan bahwa Syiah telah menyimpang. Seketika itu forum menjadi bergemuruh, kemudian berubah menjadi ricuh setelah peserta yang sebagian besar aktivis liberal dan Syiah merasa berang.

Di tempat duduk bagian belakang –rombongan Syiah yang datang dari luar IAIN Surabaya- meneriakkan sebuah komando, “Ya Hussein.. Ya Hussein!”

Kericuhan tersebut segera diredakan. Habib Ahmad Zein dikawal beberapa orang untuk meninggalkan tempat acara menuju mobilnya. Sebelumnya Habib Ahmad Zein meninggalkan kampus IAIN Surabaya, beliau menitipkan sebuah buku untuk disampaikan kepada Emha Ainun Najib seraya berpesan, “Kita harus membela Agama kita. Mereka telah menghina Agama kita.” */Kiriman Ahsan Hakim, dari komunitas Underground Tauhid

Rep: Thufail Al-Ghifari

Red: Cholis Akbar (hidayatullah.com)

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 2.440 kali, 1 untuk hari ini)