Sejarawan dan Budayawan Betawi, Ridwan Saidi mengatakan pendataan ulama dan mubalig saat ini mirip dengan yang terjadi pada zaman kolonial Belanda. Hal itu Ia ceritakan dalam diskusi Indonesia Lawyers Club (ILC) tvOne. / Indonesia Lawyers Club tvOne

***

Terungkap! Ridwan Saidi: Ayahnya Lukman Saifudin Larang 167 Kitab-kitab Masuk Pesantren

Eramuslim.com – Acara ILC tvOne tadi malam, Selasa (22/5/2018), mengangkat topik hangat seputar Daftar 200 Muballigh versi Kementerian Agama yang menimbulkan kontroversi.

Salah satu nara sumber adalah Ridwan Saidi, ahli sejarah dan seorang budayawan Betawi.

Ridwan Saidi membongkar bahwa upaya mengkotak-kotakan ulama versi Kemenag dulu juga dilakukan saat zaman penjajahan dan era Orde Lama.

Saat Orde Lama (Soekarno), KH Saifuddin Zuhri adalah Menteri Agama. KH Saifuddin Zuhri adalah ayah dari Lukman Saifuddin.

“KH Saifuddin Zuhri ayahnya Lukman Saifuddin mengeluarkan ketentuan 167 kitab-kitab yang tidak boleh masuk ke pesantren, termasuk kitab karya Hamka,” beber Ridwan Saidi.

“Jadi saya rasa ini putranya pak Saifuddin ini hanya melanjutkan saja bapaknya,” kata Ridwan Saidi.

Simak selengkapnya video ILC paparan ahli sejarah Ridwan Saidi

https://www.eramuslim.com

***

Ulah Menag  (Sang Bapak) Orde Lama Diulang (Sang Anak) di Zaman  Now?

Beredar di medsos, kicauan Haekal Hassan Barras @haikal_hassan 19 Mei 2018:

Th 1964 Menteri Agama KH Syaifuddin Zuhri (ayahnya MenAg) melarang 167 judul buku agama masuk pesantren a.l karangan Buya HAMKA, Prof. Hasbi Ashidiq, KH. Machmud Yunus (Penulis Kamus Arab-Indonesia dan beberapa kitab tafsir), dan A. Hassan (Pendiri Persis). WOW…

(nahimunkar.org)

(Dibaca 718 kali, 1 untuk hari ini)