Baik kita yang alhamdulillah tidak diberikan ‘kekurangan’ sixth sense alias being indigo, lebih-lebih yang indigo. Perlu diketahui, bahwa menjadi indigo sama dengan ada selipan jin di diri kita. Sebabnya banyak. Iya. Sebab indigo itu beragam, di antaranya:

  1. Jin turunan; yakni warisan dari ayah/ibu/kakek/nenek yang indigo, bisa karena atasnya tersebut adalah dukun, atau pemegang benda pusaka khusus, atau memang berteman dengan jin tersebut dll.
  2. Jin suka sama dia.
  3. Berteman sejak kecil dengan jin. Yakni: sejak kecil dibiarkan oleh orang tuanya berteman dengan makhluk tak nampak ini. Dibiarkan bermain bersama. Dibiarkan berkhayal. Malah dikira ini kelebihan pula. Kalau dibiarkan sampai besar, maka jangan heran saat besarnya nanti berbuat kesyirikan dengan mudah.
  4. Berdukun. Berobat dengan dukun, atau meminta wangsit, atau meminta penglaris, atau lainnya.
  5. Disihir (disantet) dengan bentuk sihir apapun. dan lain-lain.

Normalnya, karena indigo, maka orang tersebut dengan sendirinya (yakni: karena ada jin terinstall dalam dirinya) akan mudah merinding di suatu tempat yang dipenuhi jin, seperti rindangan pepohonan, atau bangunan kosong, atau rumah-rumah yang penghuninya memelihara setan, baik sengaja atau tidak. Karena terjadi ‘crash’ antar jin di sana. Jin kerapkali bersifat teritorial. Kadang malah ditampaki hal macam-macam yang mengganggu.

Orang indigo, harus segera berobat. Ya berobatnya bukan ke dukun. Bukan pula ke peruqyah yang semi-dukun. Tapi berobatlah dengan banyak belajar ilmu agama, membaca al-Qur’an dan silakan diruqyah baik mandiri atau oleh orang lain yang bacaan al-Qur’annya baik, shalih, dan punya ilmu meski sederhana terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.

Biasanya, kesembuhan tidaklah instan, terlebih untuk korban sihir.

Karena tadinya saya menginginkan agar tulisan ini berkaitan dengan tindakan preventif sesuai sunnah saat singgah di suatu tempat, maka kita alihkan tema kini ke sana.

Yang sunnahnya dilakukan oleh kita sebagai muslim terutama orang indigo saat singgah ke warung, atau manapun tempat saat kita bepergian, adalah mengucapkan ini:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Ini sesuai dengan riwayat shahihah dari Nabi, dalam kitab Shahih Muslim, no. 2708, bahwa Rasul kita bersabda yang maknanya:

“Sesiapa singgah di suatu situs persinggahan lalu membaca (doa di atas), maka tidak ada yang memudharatkan dirinya sampai dia beranjak dari tempat itu.”

Sekarang, kawan-kawan, banyak sekali rumah makan pakai penglaris. Bahkan, di antara toko makanan dalam “Food Court” di mall-mall pun tidak bersih dari kesyirikan owner atau pegawainya. Kepercayaan demi kepercayaan batil, syirik dan kufur masih dipegang banyak orang. Terkadang, tanda-tanda bahwa warung makan tersebut memakai jasa setan tidak kelihatan. Temboknya bebas dari hizib, wifiq dan tulisan-tulisan mujarobat aneh. Tidak ada foto orang disegani yang diyakini membawa larisan dagangan. Tapi, setan punya banyak cara.

Yang penting, tetaplah ucapkan lafal sunnah di atas. Karena sekiranya pun ada tersembunyi buhul setan itu, kita sudah tawakkal dan berlindung pada Allah Ta’ala. Makanan yang ‘diracuni’ dengan jasa setan, insya Allah akan Allah bersihkan. Sehingga yang masuk ke perut kita halal thayyib mubarak fiih tetap.

Tapi biasanya bagi rekan yang rajin berdzikir sesuai sunnah dan punya aqidah shahihah salimah, jika masuk ke warung makan yang memakai ‘begituan’ lalu mengucapkan doa di atas, akan ada efek di tubuh. Mungkin pusing, atau perut tiba-tiba kurang enak, atau hal-hal lain yang merupakan gejala aksidental dan tak terfahamkan ia punya sebab. Jika melihat ada wifiq terpampang, atau foto tokoh yang diyakini bisa datangkan pelarisan di warung tersebut, maka tinggalkan. Cari warung makan lain.

Semoga kajian berikut bermanfaat. Kajian tadi pagi. Masih hangat:

PENGUSIR SETAN (10) – “Saat SInggah di Suatu Tempat”

https://www.youtube.com/watch…

By: Hasan Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.895 kali, 1 untuk hari ini)