• “Hemoglobin (Protein) darah babi terkandung dalam filter rokok, karena bahan tersebut dinyatakan efektif mampu menyaring racun kimia tembakau; agar tidak terisap masuk ke paru-paru perokok,” kata DR Hakim Sarimuda Pohan. “Sudah selayaknya, umat muslim yang mayoritas dari penduduk Indonesia, menjauhi barang yang nyata-nyata haram,” tambahnya.

anti rokok

Banjarmasin (SI Online) – Disinyalir kuat, filter rokok yang umum digunakan oleh pabrikan rokok di Indonesia, dibuat dari bahan olahan yang berasal  dari protein darah babi.

Sinyalemen itu disampaikan Dr. Hakim Sarimuda Pohan, Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Rabu (24 Juli 2013) saat menjadi pembicara utama dalam dialog tentang “Bahaya Merokok,” di Balai Kota Banjarmasin, Kalimatan Selatan.

Diyakini, sinyalemen demikian adalah benar. Sebab, terkait informasi, umumnya filter rokok yang digunakan pabrikan rokok di Indonesia diimpor dari Australia. Sedang filter rokok asal negeri itu umumnya dibuat dengan menggunakan komponen dari Hemoglobin (protein) darah babi. Hal tersebut diketahui setelah ada pernyataan resmi dari para ahli di Australia, yang mengungkap kandungan protein darah babi dalam filter rokok, karena memang dibuat berbahankan hemoglobin darah babi.

Salah satu ahli asal Australia, Simon Chapman, Profesor Kesehatan Masyarakat dari Universitas Sydney;  memberi peringatkan kepada penganut agama yang mengharamkan babi, terkait dengan temuan kandungan protein darah babi dalam bahan pembuat filter rokok. Peringatan tersebut disampaikan setelah sebelumnya juga merujuk hasil penelitian yang sama di Belanda, yang menyatakan positif pada filter rokok mengandung hemoglobin babi. Penelitian di Belanda dilakukan suatu lembaga penelitian kesehatan masyarakat  terhadap 185 perusahaan berbeda sebagai pembuat filter untuk rokok.

“Hemoglobin (Protein) darah babi terkandung dalam filter rokok, karena bahan tersebut dinyatakan efektif mampu menyaring racun kimia tembakau; agar tidak terisap masuk ke paru-paru perokok,” kata DR Hakim Sarimuda Pohan. “Sudah selayaknya, umat muslim yang mayoritas dari penduduk Indonesia, menjauhi barang yang nyata-nyata haram,” tambahnya.

Dialog tentang Bahaya Merokok, diselenggarakan terkait dengan sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur larangan merokok di tempat-tempat tertentu. Dialog dibuka Walikota Banjarmasin Haji Muhidin. Sebagian besar yang hadir mengikuti dialog para Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari berbagai instansi, sejumlah pengelola hotel dan restoran anggota Perhimpunan Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta sejumlah pengelola tempat hiburan dan tempat-tempat umum lainnya.

Rep : Muhammad Halwan / dbs  -si online

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.440 kali, 1 untuk hari ini)