JAKARTA (Panjimas.com) – Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B Nahrawardaya menyatakan, perilaku aparat kepolisian yang menginjak-injak musholla sebagai rumah ibadah dan tempat suci umat Islam di Riau pada Selasa (25/11/2014) lalu lebih biadab dan keji dari sejumlah kasus pelanggaran yang dilakukan oleh aparat keamanan sebelumnya.
“Ini lebih dahsyat dari kasus priok tahun delapan puluhan (80 –red). Dulu tentara masuk masjid pakai sepatu lars, bisa bikin kerusuhan meletus di Priok. Reaksi masyarakat atas perilaku kotor aparat, dibalas dengan darah,” tegas Mustofa kepada Panjimas.com, pada Kamis (27/11/2014) sore via pesan singkat.

“Tapi entah kenapa, saat ini seolah-olah Muslim tidak terganggu dengan fenomena seperti itu. Mestinya, masyarakat Muslim menuntut Kapolri minta maaf. Itu rumah Tuhan kok dikotori dengan sepatu. Rumah Tuhan itu suci dan tidak boleh ada manusia, apapun pangkat dan pekerjaannya, mengotori rumah Tuhan,” jelasnya.

Menurut Mustofa, Presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta Wapres Jusuf Kalla (JK) jangan menganggap sepele dari diamnya masyarakat sekarang ini. “Mereka bisa saja menyimpan amarah. Namanya saja menyimpan amarah. Kalau saatnya keluar, maka amarah itu akan berbahaya jika muncul bukan pada waktunya,” ujarnya.
Pemicu munculnya amarah umat Islam, jelas Mustofa, kadang kala tidak disadari oleh penguasa. Rezim yang berkuasa saat ini, yakni rezim Jokowi-JK menurut aktivis muda Muhammadiyah ini telah banyak menyebabkan masyarakat menyimpan amarah sehingga timbul perasaan tidak percaya dan demonstrasi dimana-mana.
“Mulai adanya pembohongan, pengingkaran, bahkan penggerusan dari contoh-contoh perilaku Islami oleh oknum pemimpin saat ini, tampaknya sengaja dibiarkan oleh penguasa baru (Presiden Jokowi dan Wapres JK –red). Sehingga, proses penyimpanan amarah tersebut bisa mencapai titik kulminasinya suatu saat,” tandasnya. [GA] SABTU, 06 SHAFAR 1436H / NOVEMBER 29, 2014

(nahimunkar.com)

(Dibaca 7.292 kali, 1 untuk hari ini)