Perkampungan di Rawajati, Pancoran tergenang banjir dari luapan Kali Ciliwung. 

JAKARTA – Belasan warga terdampak banjir memilih bertahan di kolong flyover Rawajati, Jakarta Selatan, karena kamp pengungsian penuh.

“Saya bakal di sini sampai surut karena pengungsian penuh,” kata Rita, warga RT 02, RW 07 Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran di kolong flyover Rawajati, Senin (5/2/2018) malam.

Meski Kelurahan Rawajati langganan banjir, namun banjir sebesar ini tidak terjadi tiap tahun.

“Kalau tahun lalu banjir cuma sebetis yang masuk rumah. Banjir besar mirip sekarang itu terakhir tahun 2013,” kata dia.

Sama halnya dengan Rita, Diana memilih bertahan di bawah Flyover Rawajati karena rumahnya di RT 03 RW 07 Kelurahan Rawajati, terendam banjir. “Rumah saya sampai genteng terendam,” kata Diana.

Rita dan Diana bersama belasan warga tampak bercakap-cakap untuk membunuh waktu menunggu banjir surut.

329 warga RW 07 Kelurahan Rawajati diungsikan ke Puskesmas Rawajati dan sebuah rumah warga. Mereka adalah warga RT 01, RT 02, RT 03, RT 04, RT 05 dan RT 06.

Ketua RT 04 Rawajati Ihin Solihin mengatakan 18 warga RT 04 memilih bertahan di rumah mereka.

“Ada dua rumah, satu rumah kos, ada 15 orang yang masih di situ. Satu rumah lagi, ada tiga orang yang tetap bertahan. Dua rumah ini punya dua lantai. Mereka bertahan di lantai dua karena lantai bawah sudah terendam banjir,” kata dia.

Belasan warga ini mulai kelaparan.

“Mereka posisinya masih aman, cuma katanya mereka kelaparan. Ya salah sendiri, enggak mau dievakuasi,” kata Ihin.

Debit air Sungai Ciliwung yang melewati Rawajati telah meningkat sejak Senin 01.00 WIB dini hari.

Pada Senin pukul 14.00 WIB, tinggi air sungai mencapai 150 centimeter. Kemudian, tinggi air terus naik dan pada pukul 19.30 WIB sudah mencapai 200-250 centimeter

Sumber: tribunnews.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 359 kali, 1 untuk hari ini)