Seorang anak bermain sepeda di antara reruntuhan (foto)


Rusia mengatakan bahwa rancangan resolusi PBB yang meminta penghentian serangan udara dan penerbangan militer di kota Aleppo, Suriah, tidak dapat diterima.

Menurut Wakil Mentri Luar Negri Rusia, Gennady Gatilov, rancangan yang dikemukakan oleh Perancis tersebut berisi poin-poin yang tidak dapat disetujui oleh Rusia dan dianggap “mempolitisasi isu bantuan kemanusiaan”.

Sebelumnya, terjadi bombardir terbesar dalam 5.5 tahun perang Suriah, sejak 2 pekan lalu. Kejadian tersebut membunuh ratusan orang yang terjebak di bagian timur kota Aleppo.

Kanselir Jerman Angela Merkel mendesak Rusia agar menggunakan pengaruhnya pada rezim Suriah untuk mengakhiri pemboman di Aleppo, dimana Jerman juga membuka kemungkinan memberikan sanksi pada Rusia atas perannya dalam kon_ik Suriah.

Merkel mengatakan, tidak ada dasar dalam hukum internasional untuk membom rumah sakit.

Menlu AS John Kerry mengatakan tindakan Rusia dan rezim Suriah yang membom rumah sakit, membuat diperlukannya penyelidikan kejahatan perang. “Semalam (Kamis), rezim Suriah melakukan penyerangan, termasuk ke rumah sakit dan membunuh 20 orang serta membuat 100 orang terluka. Rusia dan Suriah berutang kepada dunia, lebih dari sekedar

penjelasan mengapa mereka terus menyerang rumah sakit, fasilitas medis, anak-anak dan perempuan”, kata Kerry kepada wartawan di Washington.

Rusia menganggap seruan penyelidikan tersebut sebagai upaya mengalihkan isu dari kegagalangencatan senjata AS-Rusia, kata kantor beritanya, Tass.

“Sangat berbahaya untuk bermain dengan kata-kata seperti itu, karena kejahatan perang juga perlu ditanggung pejabat Amerika”, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.

Rusia dan Assad menuduh AS mendukung teroris dibalik dukungannya pada kelompok oposisi.

Rezim Damaskus dan Moskow mengklaim bahwa mereka hanya menargetkan militan. Meskipun menurut laporan berbagai kelompok HAM, lebih dari 80% korban sipil terbunuh oleh mereka.

Damaskus juga menuduh semua penentangnya sebagai “teroris”.

Sabtu ini, DK PBB sedang membahas tentang rancangan Resolusi untuk Suriah. Dimana Rusia jadi sorotan atas perannya dalam mendukung Assad.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Marc Ayrault menyatakan pada Jum’at (7/10), pertemuan DK PBB akan membahas gencatan senjata. Itu akan membuktikan siapa yang menginginkannya dan siapa yang tidak, terutama pada Rusia.

Rusia diyakini akan menggunakan hak veto untuk membokir resolusi jika tidak sesuai dengan kepentingannya. (Reuters)

Sumber : risalah.tv

(nahimunkar.com)

(Dibaca 649 kali, 1 untuk hari ini)