RUU HIP Produk Cacat, Menggusur Agama, Harus Ditolak!


 

Ilustrasi: Dewan Syariah Kota Solo gelar aksi ‘Tolak RUU HIP’ di Bundaran Gladak Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Kedung Lumbu, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo, Jateng, Ahad 14 Juni 2020. (Apriyoga/Trans89.com)

Walaupun PDIP dikabarkan mau ‘mengalah’ hingga Tap MPRS nomor XXV tahun 1966 mengeni Pelarangan PKI -Komunisme (yang kini Tap itu tak dicantumkan di RUU HIP) akan dimasukkan ke RUU HIP, tetap saja RUU itu harus ditolak.

Persoalannya adalah: Tidak dimasukkannya Tap MPRS 25/1966 (kemudian diprotes ramai2) itu hanya merupakan sebagian dari masalah besar yang menandai cacatnya RUU ini. Justru ada yang lebih prinsipil lagi, yaitu bahwa yang namanya ideologi itu bukan untuk diwadahi di UU (undang undang), tapi di konstitusi/ UUD (Undang Undang Dasar). Maka bagaimanapun, RUU HIP itu tidak diperlukan sama sekali, karena Ideologi itu bukan untuk diwadahi di Undang Undang.

Secara sederhana untuk memudahkan pemahaman: ibaratnya satu bangunan rumah, komponennya harus diletakkan pada tempatnya masing-masing. Genteng atau apapun sebagai penahan hujan dan panas itu merupakan bagian yang ditaruhnya di atap. Bukan di lantai. Bila dipaksa untuk salah letak, maka atapnya jadi bolong, tapi gentingnya malah ditata di lantai. Apa ga’ hancur itu rumah? Begitu gambaran secara sederhananya.

Jadi bagaimanapun, RUU HIP harus ditolak mentah2. Karena meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Yaitu ‘ideologi’ yang tempatnya itu di konstitusi namun akan ditaruh di Undang-Undang, yang kini diproses berupa RUU di DPR. Tentu saja harus ditolak. Maka sudah benar, ketika MUI se-Indonesia menabuh genderang jihad melawan RUU HIP itu.

Apalagi muatan RUU HIP itu jelas menyingkirkan agama, berbau anti agama, mendudukkan agama sejajar dengan budaya, bahkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa pun dibuang. Maka sekali lagi, sudah benar itu seruan ‘tolak RUU HIP’ di mana2 itu.

Bagaimana Umat Islam akan mau menerima RUU HIP yang membuang Sila Ketuhanan Yang Maha Esa itu. Bagaimana pula Umat Islam akan mau menerima RUU HIP yang menurunkan derajat agama selevel dengan budaya. Tidak mungkin.

Umat Islam meyakini, agama (Islam) itu wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, suci, dan kebenarannya mutlak. Sedangkan budaya itu buatan manusia, tidak suci, dan apalagi mutlak benar, sama sekali tidak. Maka menyejajarkan agama dengan budaya itu tidak akan dilakukan kecuali oleh pihak yang ingin membasmi agama, menggusur agama, dan anti agama.

Gambaran yang sebenarnya tingkatnya hanya berbeda sedikit pun, bila disejajarkan, maka akan jadi kacau keadaannya. Misalkan, bini kalian para pembuat RUU HIP, disamakan atau disejajarkan dengan pembantu rumah tangga kalian (walau sang pembantu rumah tangga alias babu kalian itu lebih cantik dari bini kalian, misalnya) apakah tidak mencak2 itu sang bini? Padahal, bedanya juga hanya sedikit. Bini juga manusia, babu juga manusia. Bahkan sang babu mungkin lebih cantik. Tetapi, ketika disamakan itu sang bini dengan sang babu, maka kacaulah rumah tangga jadinya.

Oleh karena itu, bagaimanapun (kembali ke RUU HIP), RUU HIP yang kenyataannya memberi peluang kepada bangkitnya PKI-Komunis dan bahkan menggerus agama, menyingkirkan agama, menggusur agama, dan mendegradasi derajat agama itu tidak boleh tidak harus ditolak!

Sekian!

(nahimunkar.org)

(Dibaca 278 kali, 1 untuk hari ini)