RUU Sisdiknas Bikin Gaduh! Marzuki Ali: Nadiem Makarim Pengkhianat. Aptisi: Sebaiknya Menteri Nadiem Makarim Diganti Saja

Tak segan-segan, Marzuki mengajak semua pihak untuk menghentikan pengesahan RUU Sisdiknas. Menurutnya, RUU Sisdiknas adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan pendidikan di Indonesia.

“Nadiem patut diduga adalah mewakili kepentingaan asing yang ingin menghancurkan bangsa Indonesia melalui kehancuran dunia pendidikan,” tegasnya. 

“Tidak ada zamannya lagi di antara kita ada yang diam dengan beragam alasan, pilihan hanya satu kita yang bubar atau Nadiem yang turun,” pungkasnya.

“Apakah Presiden tetap mempertahankan Nadiem? Berarti membiarkan pendidikan kita carut-marut yang dituangkan dalam RUU Sisdiknas yang sunyi dan sangat liberal. Atau Pak Presiden memilih kepentingan rakyat,” kata Ketua Umum Aptisi, Budi Djatmiko.

“Maka, rapat Aptisi seluruh Indonesia menyikapi berbagai hal tentang pendidikan nasional dan pendidikan tinggi menyatakan mosi tidak percaya pada kepemimpinan Menteri Nadiem Makarim,” tegas Budi

Ini beritanya.

***

 

RUU Sisdiknas Bikin Gaduh! Marzuki Ali: Nadiem Makarim Pengkhianat Guru dan Dosen


Mendukbudristek Nadiem Makarim.-Foto: reuters/beawiharta

 

JAKARTA, – Pembina Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Marzuki Alie menilai, bahwa Rancangan Undang-Undang Sitem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) telah merendahkan profesi guru dan dosen.

“RUU Sisdiknas telah melecehkan profesi guru dan dosen karena UU Guru dan Dosen dihapuskan dan guru/dosen negeri masuk dalam UU ASN dan swasta masuk ke UU Ketenagakerjaan,” kata Marzuki dalam keterangan tertulis, Selasa, 20 September 2022

Menurut Marzuki, dengan berlakunya UU Sisdiknas yang baru, guru dan dosen bukan lagi profesi. Melainkan sudah menjadi karyawan untuk guru ASN dan buruh/pekerja untuk guru swasta.

“Artinya, tidak perlu lagi ada BKD karena semua upah tergantung hubungan kerja antara majikan dan buruh. Nadiem (Mendikbudristek Nadiem Makarim) benar-benar sebagai pengkhianat bagi guru/ dosen,” tegasnya.

Marzuki menjelaskan, bahwa dalam RUU Sisdiknas yang akan disahkan juga tidak ada lagi pendidikan gratis. Menurutnya, hal itu jelas melawan konstitusi.

“Nadiem tidak menghargai sama sekali peran swasta selama ini, penerimaan siswa dan mahasiswa yang berjilid-jilid menutup ruang bagi swasta untuk terus melanjutkan kiprahnya mengabdi untuk negeri,” tuturnya.

Tak segan-segan, Marzuki mengajak semua pihak untuk menghentikan pengesahan RUU Sisdiknas. Menurutnya, RUU Sisdiknas adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan pendidikan di Indonesia.

“Nadiem patut diduga adalah mewakili kepentingaan asing yang ingin menghancurkan bangsa Indonesia melalui kehancuran dunia pendidikan,” tegasnya. 

Marzuki menyebut sebagai anak bangsa tidak ada kata lain selain melawan. Dia menuding mereka yang tidak ikut melawan tidak empati terhadap nasib bangsa ke depan.

“Tidak ada zamannya lagi di antara kita ada yang diam dengan beragam alasan, pilihan hanya satu kita yang bubar atau Nadiem yang turun,” pungkasnya.

Reporter: Derry Sutardi|

Editor: Derry Sutardi

DISWAY.ID, Selasa 20-09-2022,20:00 WIB

***

 

Sorot RUU Sisdiknas Bermasalah, Aptisi: Sebaiknya Menteri Nadiem Makarim Diganti Saja

Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (Aptisi) menyarankan, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim untuk diganti. Hal itu usai Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) dianggap bermasalah dan tidak memberikan kontribusi yang baik bagi pendidikan Indonesia.

Ketua Umum Aptisi, Budi Djatmiko meminta Nadiem turun langsung untuk mendengarkan para stakeholder di dunia pendidikan secara langsung.

“Jika RUU Sisdiknas tidak memberikan kontribusi yang baik bagi pendidikan di Indonesia, maka pernyataan kami sebaiknyaMenteri Nadiem Makarim diganti saja. Pilih Nadiem atau rakyat Indonesia,” ujar Budi Djatmiko, dalam rapat dengar pendapat umum di Komisi X DPR, Selasa (20/9/2022).

Menurut Budi, selama hampir empat tahun menjabat, Nadiem tidak mengetahui langsung keluhan rakyat, rektor, guru, dosen, dan para mahasiswa. Bahkan, Budi mengibaratkan berbicara dengan Nadiem seperti berbicara dengan tembok, yakni tidak pernah didengar. Nadiem dia sebut sulit diajak untuk berdialog. Undangan dari Aptisi pun dia hadir hanya dengan video saja, tidak berbicara langsung.

“Hanya beberapa kali saja Aptisi diajak rapat koordinasi. Berbeda dengan menteri-menteri sebelumnya biasanya dua-tiga bulan sekali kami meeting untuk membicarakan permasalahan-permasalahan perguruan tinggi di Indonesia,” kata Budi.

Padahal, kata dia, Nadiem diharapkan dapat memajukan pendidikan Indonesia dengan ide-ide yang di luar kebiasaan karena latar belakangnya, tapi ternyata harapan itu lenyap. Nadiem amat tertutup dan hanya percaya pada staf khususnya saja daripada para dirjennya atau pimpinan-pimpinan perguruan tinggi.

“Apakah Presiden tetap mempertahankan Nadiem? Berarti membiarkan pendidikan kita carut-marut yang dituangkan dalam RUU Sisdiknas yang sunyi dan sangat liberal. Atau Pak Presiden memilih kepentingan rakyat,” kata Budi.

Menurut Budi, pimpinan perguruan tinggi swasta (PTS) merasa tidak berarti dan tidak dipedulikan karena aduan yang selama ini dilakukan kepada Kemendikbudristek, baik di tingkat dirjen maupun menteri, kepada presiden tidak didengarkan. Karena itu, berdasarkan rapat Aptisi seluruh Indonesia pihaknya menyatakan mosi tidak percaya kepada kepemimpinan Nadiem.

“Maka, rapat Aptisi seluruh Indonesia menyikapi berbagai hal tentang pendidikan nasional dan pendidikan tinggi menyatakan mosi tidak percaya pada kepemimpinan Menteri Nadiem Makarim,” tegas Budi.*

Rep: Fida A.

Hidayatullah.com– Rabu, 21 September 2022 – 05:35 WIB

(nahimunkar.org)