Pendukung Jokowi Meruwat Rumah Amien Rais di Yogya

(Di bagian bawah dibahas, Ruwatan, Mitos Jorok Penghancur Iman)

Sleman (SI Online) – Aneh-aneh saja kelakuan pendukung Jokowi. Menjelang pelantikan Joko Widodo sebagai Presiden RI pada 20 Oktober mendatang, sekelompok orang menggelar ritual meruwat mantan Ketua MPR Amien Rais di sekitar rumahnya di Kampung Sawit Sari, Depok, Sleman, Yogyakarta, Kamis (16/10).

Rombongan ini datang untuk menggelar ruwatan untuk Amien dan para wakil rakyat yang dinilai bersikap sebagai “Sengkuni”, yaitu tokoh yang dikenal licik dan penghasut di dunia wayang.

“Ritual ruwatan ini dimaksudkan agar Amien Rais mendukung pemerintahan baru, dan tidak lagi membuat trik-trik yang memecah belah,” kata koordinator aksi, Agus Sunandar.

Menurut dia, kegiatan ini diikuti sekelompok warga yang tergabung dalam Paguyuban Masyarakat Pelestari Tradisi atau Pametri.

“Kami sengaja menggelar ritual ruwatan ruwatan di rumah Amien Rais dengan membawa sejumlah ‘uba rampe’ seperti ayam hitam, pisang, air kembang dan yang lainnya,” katanya.

Sepanjang jalan menuju rumah Amien Rais mereka mendendangkan lagu Jawa “lir-ilir”.

Sesampai di rumah Amien Rais sekelompok orang langsung menggelar serangkaian ritual untuk meruwat Amien Rais. “Ritual selain doa-doa, memotong bulu ayam juga menyiram air kembang di depan rumah Amien Rais,” katanya.

Ia mengatakan, ritual ini dilakukan untuk menghilangkan kesialan atau keburukan para politisi di tanah air termasuk Amien Rais.

Jokowi Aneh

“Kami harapkan para politisi ini bisa kembali menjadi negarawan yang memikirkan nasib rakyat Indonesia dan tidak melakulan trik-trik politik yang memecah belah rakyat,” katanya.

Agus mengatakan, ruwatan juga dilakulan sebagai upaya mendukung pemerintahan baru mendatang yang ditandai dengan pelantikan presiden dan wakil presiden, Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Ia mengatakan, diharapkan para politisi terutama para anggota DPR tidak menganggu jalannya pemerintahan baru mendatang.

“Kami siap mendukung upaya-upaya pemerintahan baru untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat,” katanya.

red: shodiq ramadhan
sumber: ANTARA/ si online, Kamis, 16/10/2014 23:05:07
***

Ruwatan, Mitos Jorok Penghancur Iman

Perilaku syirik yang dilakukan sebagian masyarakat Indonesia, antara lain dalam bentuk ruwatan, bukan lagi seperti orang yang sedang menggeliat saat bangun tidur, namun sudah bagai orang yang berlari sangat kencang, tergopoh-gopoh bagai mengejar ketertinggalannya dari aneka kemunkaran yang sudah lebih dulu eksis. Entah mengapa, MUI (Majelis Ulama Indonesia) terkesan tidak begitu berminat untuk memberantasnya, begitu juga dengan gerakan Islam terkesan tidak bersemangat menolaknya.
Padahal perilaku syirik merupakan bentuk kedzaliman yang paling besar dan merupakan perbuatan yang sangat tidak disukai Allah. Apalagi, perilaku syirik yang terjadi belakangan ini, tidak hanya dilakukan oleh orang-orang kafir saja tetapi juga oleh mereka yang selama ini dikenal jelas sebagai pemeluk agama Islam. Bahkan perilaku terkutuk ini dilakukan oleh mereka yang berpendidikan tinggi, status sosial tinggi, cendekiawan dan sebagainya.
Sepanjang Orde Baru, tradisi Ruwatan sudah terkubur dan jarang sekali dipraktekkan orang. Namun setelah reformasi bergulir, terutama sejak Gus Dur jadi Presiden, aktivitas syirik berupa ruwatan ini kembali marak. Bahkan Gus Dur sendiri sempat diruwat. Na’udzubillahi min dzalik! (Kami berlindung kepada Alloh dari yang demikian).

Tradisi Ruwatan merupakan kepercayaan sebagian masyarakat Jawa penganut sinkretis (bahkan musyrik), berupa serangkaian upacara untuk membebaskan diri dari ancaman Betoro Kolo, sosok raksasa buruk rupa, pemangsa manusia. Betoro Kolo adalah anak dari Betara Guru (raja para dewa). Konon, pada suatu ketika Betara Guru bercumbu di langit sambil menikmati terang bulan bersama sang permaisurinya (Betari Uma). Namun mereka gagal melanjutkan percumbuannya ke tahap berikutnya (bersanggama), sehingga sperma sang Betara Guru berceceran di laut, dan kemudian menjelma menjadi Betoro Kolo.

Menurut kepercayaan, makanan Betoro Kolo adalah manusia yang dilahirkan dalam kondisi tertentu, yaitu mereka yang menurut perhitungan klenik akan menderita (sukerta), juga mereka yang lahir dalam keadaan tunggal (ontang-anting), kembang sepasang (kembar), sendang apit pancuran (laki, perempuan, laki), uger-uger lawang (anak dua laki-laki semua) dan sebagainya.
Biasanya, dalam menggelar acara ruwatan juga disiapkan sejumlah sesaji, antara lain berupa kain tujuh warna, beras kuning, jarum kuning, dan bunga tujuh rupa, sebagai syarat utama untuk melaksanakan ruwatan.

Menghancurkan syahadat dan keimanan diganti kemusyrikan

Bagaimana hancurnya keimanan dan rusaknya akal manusia-manusia ini. Mereka sudah mengalihkan keyakinannya kepada syaithan dan tokoh cerita khayal alias mitos. Bagaimana mereka telah tega merusak kesaksian mereka sendiri dalam bersyahadat, yaitu hanya mau menyembah kepada Allah –tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Artinya, penyembahan hanya kepada Alloh, dan cara menyembah hanya cara yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah.
Ketika yang mereka sembah dan dianggap mampu menghilangkan kesialan adalah syetan (dalam bentuk apapun) dan bukannya Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka berarti sudah betindak kemusyrikan; dosa terbesar yang tidak diampuni oleh Allah Ta’ala. Bila sampai meninggal mereka tidak bataubat, maka sangat celaka, karena mati dalam membawa dosa terbesar yang tak diampuni oleh Allah Ta’ala.

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ(18)

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa`atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu). (QS Yunus: 18).

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا(116)

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS An-Nisaa’: 116).

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ(88)

Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS Al-An’aam: 88).

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ(72)

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Al-Maaidah: 72).

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ(65)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS Az-Zumar: 65).
Dalam hal kemusyrikan ini Nabi bersabda:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

Barangsiapa mati dan dia menyembah selain Allah sebagai tandingan maka masuk neraka (HR Al-Bukhari).

فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا.

Kewajiban manusia terhadap Allah ialah mengabdikan diri kepadaNya tanpa menyekutukanNya. (Muttafaq ‘alaih).

حَدَّثَنَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ

Rasulullah bersabda: Barangsiapa berjumpa Allah, dia tidak menyekutukanNya dengan sesuatu maka masuk surga. Dan barangsiapa berjumpa dengan-Nya, menyekutukan sesuatu denganNya maka masuk neraka. (HR Muslim). (haji/ tede).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.007 kali, 1 untuk hari ini)