Ilustrasi/ poster salah satu ketua MUI periode yang lalu.


Masih menunggu apa lagi. Kini saat yang tepat bagi MUI untuk berfatwa bahwa syiah adalah sesat menyesatkan. Karena umat Islam sedunia tahu, sejuta orang syiah Iran berhaji ke Karbala di Irak, di musim haji 1437H/ 2016 beberapa hari lalu. Itu berarti syiah mempunyai kiblat sendiri bukan Ka’bah tetapi Karbala. Sedangkan kalau memang mengaku Islam maka kiblatnya adalah Ka’bah di Makkah, bukan Karbala di Irak.

Mumpung umat Islam sedang menyaksikan benar-benar sesatnya syiah yeng berhaji ke Karbala di Irak sejutaan org syiah Iran, berarti kiblatnya bukan Ka’bah di Makkah tapi Karbala yag ada kuburan Husein ra. hendaknya MUI bertindak tegas kepada oknum-oknum pengurus MUI yang jelas-jelas membela syiah. Bahkan ada pengurus MUI yang juga berperan di mhmdyh spt mhydn jndi diduga dia lah orangnya yang mau mengadakan acara syiah di UMM Malang dengan rencana menghadirkan 15 ayatullah dari Iran 19-21 September 2016 bertepatan dengan hari raya syiah idul ghadir 18 Zulhijjah yang bermuatan membenci sahabat-ahabat Nabi saw. Bila MUI tetap memelihara dia dan oknum-oknum pembela kesesatan lainnya, pantaskah masih mengaku sebagai majlis ulama? Ingat, tergelincirnya ulama itu bahaya besar bagi umat, apalagi kalau justru disengaja. Betapa bahayanya! Atau memang diadaknnya MUI itu untuk menghancurkan? Ditunggu bukti pelaksanaannya, sebenarnya utk apa. Syukron, tulis sebuh komen di fb, menanggapi lambannya MUI dalam menyikapi syiah dan oknumnya yang memebela syiah dan aliran sesat namun jadi pengurus MUI. Karena masalah itu sampai dilabrak oleh 12 ulama dari Madura dan Jember langsung ke MUI Pusat di Jakarta beberapa waktu lalu. (lihat beritanya di sini: https://www.nahimunkar.org/12-ulama-madura-dan-jember-labrak-ketum-mui-untuk-pecat-orang-syiah-dan-liberal-dari-mui-dan-nu/ ).

Lebih dari itu, MUI sendiri telah berjanji untuk memfatwakan sesatnya syiah. Hingga pernah dilabrak pula dan ditagih oleh ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah) yang dipimpin KH Athian Ali Dai.

Janji MUI yang ditagih itu pernah pula diberitakan sebagai berikut.

***

Inilah Janji MUI yang Ditagih ANNAS untuk Fatwakan Sesatnya Syiah

Posted on Des 2nd, 2015 – by nahimunkar.com

kantor-mui

ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah) tinggal menagih janji MUI Pusat untuk memfatwakan sesatnya syiah.

Soal menagih janji MUI itu mencuat dan disuarakan dalam mudzakarah dan seminar tentang “Bahaya Idelogi Syiah Terhadap Keutuhan NKRI” yang diselenggarakan Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) di Bandung, Ahad (29/11/2015).

Janji MUI untuk segera memfatwakan sesatnya syiah itu ternyata sudah diumumkan petinggi MUI tahun 2012. Bahkan kemudian MUI sudah beberapa kali dilabrak oleh para ulama dan tokoh Islam dari berbagai lembaga, namun sampai hampir akhir tahun 2015 ini janji itu belum ditepati oleh MUI juga.

Inilah berita tentang janji MUI yang kini ditagih oleh para ulama dan tokoh Islam tersebut.

***

MUI: Fatwa Sesat Aliran Syiah Tinggal Tunggu Waktu

Posted on Mar 28th, 2012/nahimunkar.com

Desakan masyarakat agar MUI segera mengeluarkan fatwa kesesatan Syiah sangat dipahami oleh Ketua Komisi Fatwa MUI KH. Ma’ruf Amin. Kyai Ma’ruf sendiri sedang menunggu hasil keputusan dari Tim Peneliti yang ditugaskan untuk mengeluarkan rekomendasi terkait kesesatan aliran Syiah.

“Sekarang masih terus digodok. Jadi kita tunggu saja hasil dari Tim yang kita utus untuk menyempurnakan (data kajian) untuk memberikan rekomendasi. Lebih cepat lebih baik,” tegas Kyai Ma’ruf kepada Eramuslim.com, Selasa (27/3).

Kyai Ma’ruf sendiri sangat terbantu dengan data-data kesesatan Syiah yang diberikan oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia dalam pertemuan kemarin. Beliau juga mengatakan mendukung langkah MUI Jatim yang telah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah.

Hal ini diperkuat oleh Sekum MUI KH. Ichwan Sam. Ia mengatakan fatwa mengenai sesatnya Syiah hanya akan tinggal menunggu waktu.

“MUI sudah berniat untuk mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan syiah. Hanya saja, saat ini sedang dilakukan upaya-upaya pendalaman,” tandasnya di kantor MUI kemarin.

Sebelumnya MUI sudah mengeluarkan fatwa kewaspadaan Syiah pada tahun 1984 disusul 10 kriteria aliran sesat dimana Syiah masuk di dalamnya.

Redaktur: Pizaro

By: eramuslim.com/ Rabu, 28/03/2012

***

Disamping itu, MUI  juga berjanji untuk meninjau ulang kepengrusannya yang kemasukan pentolan-pentolan JIL, pembela Syiah, LDII, pembela nabi palsu dan aliran sesat sebagaimana diberitakan berikut ini.

MUI Akan Tinjau Ulang Kepengurusannya yang Kemasukan Pentolan JIL, LDII, Pembela Nabi Palsu, dan Pembela Syiah?

Posted on Okt 2nd, 2015 – by nahimunkar.com

Tokoh JIL, LDII dan Aliran Sesat Lainnya  di MUI yang Diributkan Masyarakat Akan Ditinjau Ulang

Ternyata yang Mengusulkan Moqsith Pentolan JIL Masuk MUI adalah NU.

Adapun orang LDII yang dimasukkan ke MUI, dapat diduga ada oknum yang menyalahgunakan kedudukannya, dan mengkhianati amanat bahkan rekomendasi yang telah dikeluarkan MUI. Dugaan muncul karena ada oknum yang diketahui banyak orang, suka runtang-runtung dengan orang LDII, dan itu sudah menjadi pembicaraan lama di masyarakat Islam. Memalukan!

MUI akan meninjau ulang keberadaan orang-orang yang berfaham sipilis liberal di MUI dan tokoh-tokoh yang diributkan masyarakat.

MUI haramkan pengurusnya berfaham sipilis liberal.

Rapat MUI akan membahas beberapa tokoh yang diributkan oleh masyarakat lantaran dimasukkan ke jajaran pengurus MUI. Yang diributkan itu di antaranya pembela nabi palsu, pentolan sepilis liberal, dan dari aliran sesat LDII yang telah direkomendasikan MUI tahun 2005 disejajarkan dengan Ahmadiyah yang dinyatakan ajarannya sesat, menyimpang dari ajaran Islam dan meresahkan masyarakat, maka agar dibubarkan oleh pemerintah.

Seperti diketahui, Umat Islam mempersoalkan dua pembela nabi palsu (Moqsith membela nabi palsu Ahmad Moshshadeq, Azyumardi Azra membela agama nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad yaitu Ahmadiyah). Lihat inihttps://www.nahimunkar.org/ternyata-mui-angkat-dua-manusia-pembela-nabi-palsu-jadi-pengurus-mui/

Selain Moqsith, yang diributkan masyarakat adalah Wakil Sekretaris Umum LDII H. Hasyim Nasution yang diangkat menjadi wakil ketua komisi KAUB (Kerukunan antar Umat Beragama) MUI.

Pengangkatan orang-orang bermasalah (karena sudah ada fatwa MUI dan rekomendasi MUI 2005) namun justru dilanggar oleh MUI sendiri itu lah yang diributkan masyarakat. Mereka diangkat Berdasarkan Surat Keputusan No. Kep-359/MUI/IX/2015 tentang Susunan dan Personalia Pengurus Komisi-Komisi Dewan Pimpinan MUI Pusat Masa Khidmat 2015-2020, menurut berita si online, Selasa, 29/09/2015 17:42:35.

JIL – dimana Moqsith berasal– adalah salah satu bagian dari kelompok liberal yang telah difatwakan haramnya oleh MUI 2005. Sebagaimana Ara juga dikenal sebagai pentolan liberal yang membela agama nabi palsu Ahmadiyah. Demikian pula LDII direkomendasikan oleh MUI 2005 untuk dibubarkan oleh pemerintah, disejajarkan dengan Ahmadiyah yang dinyatakan ajarannya sesat, menyimpang dari ajaran Islam dan meresahkan masyarakat.

MUI kali ini pimpinan Ma’ruf Amin jelas menjilat ludahnya, karena dalam rekomendasinya tahun 2005 jelas tertulis:

Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Di samping itu MUI seolah tidak merasa bahwa di tubuhnya ada tokoh yang jelas-jelas membela gerombolan syiah yang mengamuk di komplek Az-Zikra Sentul Bogor beberapa waktu lalu. Muhyiddin Junaidi yang bahkan menyalahkan Az-Zikra yang jadi korban amukan Syiah itu, anehnya kini diangkat lagi di jajaran pengurus MUI. Umat tentu saja bukan hanya akan memandang sosok Muhyiddin Junaidi namun tentu akan membenci MUI, bila tokoh pembela syiah yang mengamuk itu tetap didudukkan di MUI lagi. (https://www.nahimunkar.org/harapan-untuk-munas-mui-di-surabaya-oknum-mui-pembela-syiah-semoga-tersingkir/ ).

MUI kali ini di samping tampak mengingkari fatwa dan rekomendasi yang dikeluarkannya secara resmi dan hasil rapat secara nasional namun diingkari begitu saja itu, bukan hanya terkesan ceroboh, namun telah menyakiti dan meresahkan Umat Islam. Apalagi kalau sampai yang dari LDII dan yang pro syiah tetap dimasukkan dalam kepengurusan MUI, maka dapat dimaknakan, MUI justru memancing masyarakat untuk mengungkap borok-borok lama MUI yang sementara ini diredam karena masih ada harapan untuk ketegasan MUI. Namun bila MUI nekat mempertahankan mereka, maka sama dengan memberi jalan kepada suatu kondisi yang mungkin tidak menguntungkan MUI, bahkan akan menjadi sejarah buruk.

Orang akan mengecam MUI, karena Kyai yang anti aliran sesat seperti KH Ahmad Khalil Ridwan tidak dipakai lagi, demikian pula peneliti aliran sesat M Amin Djamaluddin sudah beberapa waktu lalu tak diikutkan lagi, malah tiba-tiba ujuk-ujuk pentolan liberal, pembela nabi palsu, orang dari aliran sesat LDII dan pembela aliran sesat syiah dimasukkan ke MUI. Situs nugarislurus yang dikenal anti terhadap syiah, liberal, dan LDII pun telah mempertanyakan: MUI ada apa?

Kini pihak MUI berjanji akan meninjau ulang.

Inilah beritanya.

***

Gabung MUI, Koordinator JIL akan Ditinjau Ulang

JAKARTA (voa-islam.com) – Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Tengku Zulkarnain mengatakan keterlibatan Abdul Moqsith Ghazali yang dikenal sebagai Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) dalam kepengurusan MUI Pusat masa khidmat 2015-2020 akan ditinjau ulang.

Langkah ini dilakukan karena adanya keresahan sekaligus penolakan masyarakat dengan keputusan MUI memasukan pentolan JIL ke dalam kepengurusan baru. Selama ini masyarakat mengenal MUI sebagai lembaga yang menolak paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.

“Selasa (pekan depan) akan ada rapat. Rapat akan membahas beberapa tokoh yang diributkan oleh masyarakat,” ujar Tengku Zulkarnain kepada voa-islam, Kamis (1/10) siang.

Menurut Tengku Zulkarnain, pimpinan pusat MUI  akan memutuskan yang terbaik untuk masalah keumatan. MUI akan memutuskan yang terbaik karena banyak hal yang mesti dipertimbangkan.

Tengku Zulkarnaen menambahkan, bahwa untuk dapat masuk di kepengurusan MUI, maka harus ada rekomendasi dari ormas-ormas Islam. Masuknya Abdul Moqsith Ghazali dalam kepengurusan berdasarkan rekomendasi dari Nahdlatul Ulama (NU).

“Wakil Sekjen telah menginventaris mereka-mereka yang dicalonkan oleh ormas. Dan Abdul Moqsith sudah dicalonkan oleh Nahdlatul ulama,” ujar Tengku Zulkarnain.

Seperti diberitakan, pada acara pengukuhan pengurus baru MUI Pusat, Selasa (29/9) lalu di Kantor MUI, Jalan Proklamasi 51, Jakarta Pusat Abdul Moqsith Ghazali diangkat sebagai Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama (KAUB) MUI Pusat. (asy/syaf/voa-islam)/Kamis, 18 Zulhijjah 1436 H / 1 Oktober 2015

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.369 kali, 1 untuk hari ini)