• Pelecehan dan ungkapan “goblok” serta sumpah-serapahnya yang sampai dia menyatakan siap dipotong lehernya itu tidaklah tepat sasaran.

Dengan kuasa Alloh Ta’ala semakin hari semakin nampak  keburukan rencana “Islam Nusantara”, Alhamdulillah beberapa hari belakangan ini kita menyaksikan ulah pendirinya yang semakin membuka kedoknya sendiri.

Terkuak dari ucapan-ucapannya bahwa “Islam Nusantara” adalah Islam yang Anti Arab, Anti Wahaby Dan Anti Sunnah, hal ini semua kita dapati dari video dan rekaman suara yang sedang merebak dan menyebar luas dengan cepatnya.

Nampaknya tokoh yang satu ini kurang cerdas, sehingga dia tidak menyadari kalau dirinya Ketua PB NU, sedang berbicara dihadapan khalayak ramai dan peralatan rekam- suara dan video sudah semakin canggih, akibatnya dimanapun dia berbicara akan sampai kemana-mana.

Cara-cara dia berdalil sangatlah dangkal, kata-kata yang diucapkannya tidak melewati filter ilmunya dan agama yang suci inipun – tanpa adab – dijadikannya bahan becanda untuk mengundang orang tertawa terbahak-bahak.

Dia panik mendapati begitu banyaknya kader-kader NU yang semakin siap Istiqomah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, terutama di kota kelahirannya Cirebon.

Malaikat Munkar dan Nakir dikatakannya harus tunggu antrian untuk menanyai Gusdur, dia lupa akan kekuasaaan Alloh dan lupa akan kehebatan kemampuan para Malaikat serta lupa akan kelemahan para manusia yang mudah capek, bosan dan lengah.

Jenggot diyakininya menarik dan mengurangi kecerdasan orang, sehingga semakin panjang jenggot seseorang semakin goblok, dia lupa kalau jenggot itu sunnaturrosul SAW yang sangat dicintai oleh para ulama dan dikenakan oleh para tokoh Pendiri NU.

Dia lupa kalau orang-orang yang disebutnya “wahaby” itu sangatlah berpegang teguh dengan Al-Qur’an, Al-Hadits dan Ijma’ para Ulama, akibatnya pelecehan dan ungkapan “goblok” serta sumpah-serapahnya yang sampai dia menyatakan siap dipotong lehernya itu tidaklah tepat sasaran.

Berulang-ulang dia mengungkapkan kebenciannya kepada “Arab” dan “Timur-Tengah”, untuk kemudian memuji dirinya dan menyebut keberhasilan NU dalam rangka mengarahkan orang kepada  proyek dan program “Islam Nusantara” yang diusungnya, ini menunjukkan kalau dia itu lupa kepada hadits-hadits yang mengarahkan kemunafikan terhadap orang yang benci “Arab”.

Said Agiel Siradj akan dicatat oleh sejarah, sebagai orang yang menyeret rangkaian gerbong NU yang dipimpinnya kearah “Liberal” dan semakin hari semakin jelas kedok “Taqiyah” disingkapnya sendiri.*

Abiisa Baisa

(nahimunkar.com)

(Dibaca 28.614 kali, 1 untuk hari ini)