Ilustrasi; Said Aqil Siradj (baju batik) nyumet udud/ foto panjimas


Ketua PBNU Said Aqil Siradj dalam ceramahnya (yang videonya beredar) mengatakan: “Orang NU tidak usah takut (malaikat) Munkar Nakir. Warga Nahdliyin tidak usah takut Munkar Nakir. Mereka makhluknya Allah, kita pun makhluknya Allah. Kalau ditanya Man Robbuka (Siapa Tuhanmu), jawab ‘Pengikutnya Kyai Hasyim Asy’ari (Pendiri NU)’ selesai sudah.”  (http://www.portal-islam.id  Sabtu, 28 Oktober 2017).

Pengajaran yang disampaikan Said Aqil Siradj itu telah mengatas namakan Kyai Hasyim Asy’ari (Pendiri NU)’ dengan menyebut namanya. Itu mengesankan bahwa ada ajaran Kyai Hasyim Asy’ari adalah begitu. Dan terkesan Kyai Hasyim Asy’ari mengamanatkan untuk begitu, sehingga pengikut Kyai Hasyim Asy’ari selesai sudah ketika menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar Nakir dalam kubur.

Apabila Said Aqil Siradj tidak memiliki bukti-bukti itu semua (namun berani ngomong begitu),  berarti dia telah terang-terangan berdusta atas nama Kyai Hasyim Asy’ari, sekligus berdusta dengan kelakuan keberaniannya seakan dirinya sebagai utusan atau pewaris ajaran yang mendapatkan mandat dari Kyai Hasyim Asy’ari untuk berbicara begitu.. Atau SAS bagai ‘Nabi Baru’ yang menyebarkan ajaran kepada warga NU cara menjawab Malaikat Munkar dan Nakir di Kubur. Ajarannya adalah yang SAS katakan:

“Orang NU tidak usah takut (malaikat) Munkar Nakir. Warga Nahdliyin tidak usah takut Munkar Nakir. Mereka makhluknya Allah, kita pun makhluknya Allah. Kalau ditanya Man Robbuka (Siapa Tuhanmu), jawab ‘Pengikutnya Kyai Hasyim Asy’ari (Pendiri NU)’ selesai sudah.”

Tentunya dari pihak keluarga dan ahli waris Kyai Hasyim Asy’ari lebih tahu soal itu, dan akan mampu menghadapi Said Aqil Siradj untuk mempertanggung jawabkan omongannya.

Sementara itu Umat Islam pada umumnya (bukan hanya warga NU yang biasa disebut Nahdliyin) akan mempertanyakan, sebenarnya NU itu agama tersendiri selain Islam, atau itu akal-akalannya Said Aqil Siradj dalam hal cara menjawab pertanyaan malaikat di kubur kepada setiap mayat.

Apabila persoalan ini tidak dituntaskan, maka NU akan terkesan sebagai agama tersendiri di luar Islam atau ke arah itu, sedang ahli waris Kyai Hasyim Asy’ari pun akan menanggung beban bahwa kakek mereka yakni Kyai Hasyim Asy’ari adalah diklaim orang sebagai pendiri agama baru. Said Aqil Siradj menamakan ajaran itu sebagai aqidah wasatiyah (kayakinan yang tengah-tengah).

Silakan bandingkan antara ajaran Said Aqil Siradj dengan ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shllallahu ‘alaihi wa sallam mengenai agar selamat dari azab kubur berikut ini.

Membaca Surat Al-Mulk agar Terhalang dari Azab Kubur

  

foto gogle

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Dia (surat Al-Mulk) adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang akan menyelamatkan pembacanya dari adzab kubur.” (HR. At-Tirmidzi, lihat Ash-Shahihah no. 1140) [dinukil dari Ar-Ruh dengan sedikit perubahan]/ Dikutip dari: www. Asysyariah.com Penulis : Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan, Judul : Alam Barzakh, Adzab Kubur yang Menakutkan atau Nikmat Kubur yang Menyenangkan/ https://qurandansunnah

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ] وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ[ قَالَ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ketika turun firman Allah {Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat} –QS asy Syua’raa/26 ayat 214- Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata,’Wahai orang-orang Quraisy –atau kalimat semacamnya- belilah diri-diri kamu, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai Bani Abdu Manaf, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muththolib, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap-mu sedikitpun. Wahai Shafiyyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun. Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah dari hartaku yang engkau kehendaki, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun’.” [HR Bukhari, no. 2753; Muslim, no. 206; dan lainnya]/ terjemah hadits ini dari almanhaj.or.id-.

(Dirangkum oleh Hartono Ahmad Jaiz)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.296 kali, 1 untuk hari ini)