Ilustrasi foto infospesial.net


Ketika saya ke Mesir beberapa tahun lalu, di masjid dekat tempat saya singgah banyak orang tua-tua yang mreka itu shalatnya duduk di kursi. Mereka yang berbadan besar dan umur 50-an lebih tampak menggunakan kursi dalam shaf-shaf shalat.

Hanya saja saya iri, kenapa mereka yang untuk berdiri saja sudah sulit, tapi saya selalu kalah duluan datangnya ke masjid ketika sebelum shubuh. Mereka sudah duduk di kursi, membaca al-Qur’an di lekar yang tinggi, hingga nyaman, bila mau buka lembaran Qur’an tidak usah memangkunya, cukup buka saja lembarannya, dan terus dibaca. Jadi sebelum shubuh, mereka sudah berada di masjid dan mengaji Al-Qur’an, padahal mereka tidak kuat berdiri.

Kata sebagian mahasiswa, orang-orang umur 50-an tahun sudah banyak yang tidak kuat berdiri itu karena mereka selalu minum air mentah. Wallahu a’lam, apakah itu penyebabnya. Tetapi baru-baru ini, saya datang ke beberapa kota atau desa bahkan desa kelahiran saya, dikhabari oleh beberapa orang bahwa si anu dan si anu sudah tidak dapat ke masjid lagi karena mereka sakit kaki atau tidak kuat berdiri.

Ada juga yang walau tidak mampu lagi untuk berdiri, namun tetap teguh menghadiri shalat berjama’ah di masjid, dengan cara diboncengkan pakai motor walau jaraknya dekat. Pernah saya lihat, ketika seseorang masih hidup, menjelang ajalnya walau sudah tidak kuat untuk berjalan dan berdiri, namun tetap dibawa ke masjid, dan memang shalat berjama’ah. Dia hidup di Ibukota, Jakarta, banyak orang sehat segar bugar tidak ingat apa-apa berkaitan dengan waktu-waktu untuk shalat berjama’ah ke masjid. Namun dia tidak terpengaruh oleh banyaknya orang yang lupa seperti itu, sehingga kegigihannya untuk shalat berjama’ah ke masjid itu menjadi bekal amal baiknya, begitu dia meninggal.

Soal sakit kaki, ayah saya sendiri mengalami sakit kaki hingga tidak bisa ke masjid padahal harus mengimami. Dia tidak bisa berdiri, apalagi berjalan. Setiap tiga hari sekali dia harus disuntik, dan harus diantar ke tempat kesehatan.

Rupanya sudah bolak-balik suntik tiap seminggu dua kali itu memantik iba kasihan pula dari pihak kesehatan. Lalu seorang perempuan yang sudah hafal dengan pasiennya ini berkata, Oalah Pak… Pak… ini walau Bapak suntikkan terus menerus sampai habis dua sapi (nilai bayar suntiknya) ya tetap ngga’ sembuh. Coba Bapak rebus saja pohon ceplukan (cecendet, kalau bahasa Sunda), seluruh pohon, akar, daun dan semuanya. Nanti minum pagi sore. Insya Allah, Bapak bisa sembuh dan dapat berjalan lagi, kata perempuan di kesehatan itu.

Qadarullah, setelah resep “bodong” (tidak resmi) itu diikuti, alhamdulillah ayah saya sembuh, bisa berdiri, berjalan, bahkan mengimami shalat lagi. Sampai beberapa tahun menjelang ajalnya, dia alhamdulillah sehat, tidak ada keluhan soal kakinya. Hanya kemudian dia sakit tua menjelang wafatnya, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Saya ikut bersyukur atas karunia Allah yang menyembuhkan ayah saya yang sudah lumpuh, kemudian dia sembuh kembali dan bisa mengimami shalat berjamaah di masjid sampai menjelang wafatnya. Allahu Akbar walillaahil hamdu.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.023 kali, 1 untuk hari ini)