Salam Islam Sudah Cukup bagi Muslim, Tidak Perlu Ucapkan Salam Agama Lain, ataupun Salam Netral dan sebagainya

 

Salam Sejahtera Mengandung Syubhat?

 

MUI Jawa Timur telah mengelurkan imbauan agar pejabat Muslim (beragama Islam) – dan juga umat Islam pada umumnya– tidak menggunakan salam agama lain. Cukup salam Islam, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Lalu ada yang usul, pakai salam yang netral saja. Misalnya salam sejahtera.

Tapi usulan itu perlu dikaji dulu.

Pertama, Islam itu sudah sempurna. Sedang salam itu termasuk doa, sedangkan doa itu ibadah. Maka ya cukup yang telah dituntunkan dalam Islam saja. Jadi Umat Islam cukup mengikuti aturan Islam, karena Islam itu agama haq (benar), dan sudah sempurna. Maka tidak perlu cari alternatif lain lagi.

Kedua, salam dalam Islam itu sudah baku, ada ajarannya, ada tatacaranya, Umat Islam tinggal mengikutinya. Dan meninggalkan apa2 yang tidak dituntunkan dalam Islam.

Ketiga, salam sejahtera, tampaknya netral. Namun, bagaimana kalau akan ada yang menduga-duga bahwa itu adalah terjemahan belaka dari salam Katolik, yakni “Shalom” yang berarti salam sejahtera.

Bagi umat Islam, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Silakan simak berikut ini.

***

Sangat dianjurkan untuk membaca salam secara sempurna, yaitu dengan mengucapkan, “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuhu.” Hal ini berdasarkan hadits ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, ia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ، فَرَدَّ عَلَيْهِ ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَشْرٌ، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ: عِشْرُوْنَ، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ ( ثَلاَثُوْنَ ).

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan, ‘Assalaamu’alaikum.’ Maka dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia duduk, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sepuluh.’ Kemudian datang pula orang lain (yang kedua) memberi salam, ‘Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah.’ Setelah dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia pun duduk, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Dua puluh.’ Kemudian datang orang yang lain lagi (ketiga) dan mengucapkan salam: ‘Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.’ Maka, dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia pun duduk dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tiga puluh.'” [HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 986, Abu Dawud no. 5195 dan at-Tirmidzi no. 2689 dan beliau menghasankannya]

Tidak dibenarkan mencukupkan salam hanya dengan isyarat (lambaian tangan) semata tanpa menyertainya dengan lafazh as-salaamu ‘alaikum, hal ini berdasarkan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَ الْيَهُوْدِ، فَإِنَّ تَسْلِيْمَهُمْ بِالرُّؤُوْسِ وَاْلأَكْفِ وَاْلإِشَارَةِ.

“Janganlah kalian memberikan salam sebagaimana salamnya orang-orang Yahudi, karena sesungguhnya cara Yahudi memberi salam adalah dengan (anggukan) kepala dan lambaian tangan atau dengan isyarat (tertentu).”[HR. At-Tirmidzi no. 2695, dengan sanad hasan. Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah no. 2194]

Larangan tersebut dikhususkan bagi orang yang masih sanggup untuk mengucapkan lafazh salam dengan lisannya baik secara hissi maupun syar’i. Namun dibolehkan bagi mereka yang mempunyai kesibukan, sehingga mereka susah atau tercegah untuk menjawab salam, misalnya orang yang sedang shalat, atau orang yang terlihat jauh, atau orang bisu dan begitu pula bentuk salam bagi orang yang tuli.

Tidak selayaknya memulai memberikan salam kepada orang kafir. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَبْدَؤُوا الْيَهُوْدَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian memulai memberikan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani,…” [HR. Muslim no. 2167, at-Tirmidzi no. 2701 dan Abu Dawud no. 5205]

https://almanhaj.or.id/4008-adab-adab-mengucapkan-salam.html

***

Demikianlah. Islam sudah sempurna, dan terperinci aturan-aturannya. Oleh karena itu tidak memerlukan salam netral atau salam-salam lain. Cukup salam yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

***

Berikut ini sekadar untuk mengetahui jenis-jenis salam dari berbagai agama, yang masing-masing mengandung keyakinan berkaitan dengan ketuhanan sendiri-sendiri. Islam jelas aqidah (keyakinan)nya Tauhid, meng-Esakan Allah Ta’ala. Tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq selain Allah. Sedang agama lain, ketuhanannya jelas berbeda dengan Islam yang Tauhid itu.

Silakan simak.

***

Salam Umat Hindu, Budha, Islam, Kristen, Katolik, dan Konghucu.

 

1. Salam Umat Hindu

 

Salam yang diucapkan umat Hindu adalah “Om Swastyastu” yang berarti “Semoga anda dalam keadaan baik atas karunia Sang Hyang Widhi”.

Salam ini bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu .

 

2. Salam Umat Budha

 

Salam yang diucapkan umat Budha adalah “Sotthi hotu” yang berarti semoga kesejahteraan ada pada Anda sekalian .

 

3. Salam Umat Islam

 

Salam yang diucapkan oleh umat Islam adalah “Assalamualaikum” yang berarti semoga keselamatan terlimpah untukmu. Salam ini diucapkan ketika bertemu saudara muslim, atau berkunjung kerumah saudara muslim.

 

Salam ini merupakan sebuah do’a dan menjadi Sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘laihi wa sallam, Ketika kita saling memberi salam artinya kita saling mendo’akan sesama umat muslim dengan kebaikan berupa keselamatan dunia akhirat. rahmat dan juga segala bentuk keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

4. Salam Umat Kristen

Salam yang diucapkan umat Kristen adalah “Shalom Aleichem b’Shem Ha Mashiach” yang berarti Salam Sejahtera bagimu dalam nama

Kristus.

 

5. Salam Umat Katholik

Salam yang diucapkan umat katholik adalah “Shalom” yang berarti salam sejahtera .

 

6. Salam Umat Konghucu

 

Salam yang diucapkan umat Konghucu adalah “Wei De Dong Tian” yang berarti “Hanya kebajikan Tuhan berkenan “.

dari Muthiaamandaa 11.01.2017

fahmedsunu 

  • Pakar
  • ***

    Demikianlah, semoga umat Islam memurnikan aqidah Tauhidnya, dan jangan sampai tercampur sama sekali dengan kesyirikan ataupun kekafiran. Maka imbauan MUI Jatim agar Umat Islam tidak menggunakan salam selain salam Islam itu sudah tepat. Sesuai dengan ayat:

    لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ [ الـكافرون:6]

    6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. [Al Kafirun:6]

    Tafsirnya:

    {لَكُمْ دِينُكُمْ} لكم شرككم {وَلِيَ دِينِ} ولي توحيدي.
    أوضح التفاسير (1/ 764)

    Untuk kalian agama kalian, artinya bagi kalian kemusyrikan kalian, dan untukkulah agamaku, yakni untukkulah tauhidku. (Audhahut Tafasir 1/764/ Maktabah Syamilah)

     

    Kerena imbauan MUI Jatim itu memang sudah tepat sesuai dengan ayat Al-Qur’an, maka ternyata imbauan agar Umat Islam tidak pakai salam agama-agama lain itu juga didukung oleh Tokoh MUI Pusat serta lembaga-lembaga Islam lainnya. Semoga itu bermanfaat bagi Umat Islam yang memang wajib menjaga kemurian aqidah Tauhidnya dari berbagai kotoran aqidah.

    (nahimunkar.org)

     


     

(Dibaca 153 kali, 1 untuk hari ini)