Ilustrasi : islamkafah.com


Oleh : Dr. Slamet Muliono (Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya & Direktur PUSKIP/Pusat Kajian Islam dan Peradaban)

Salman Al-Farisi sangat dikenal dalam sejarah Islam. Dia termasuk sahabat nabi yang agung, karena kegigihannya dalam mencari kebenaran. Islam merupakan agama final dan pncak kebenaran. Salman dilahirkan dan dibesarkan dalam tradisi penyembah api (Zoroaster), dimana sejak kecil, dia hidup dalam berkecukupan, karena orang tuanya seorang tokoh masyarakat yang memiliki kekayaan yang banyak. Ayahnya memiliki kebun yang luas, dan memiliki kuil sebagai tempat penyembahan. Di dalam kuil itu ada api yang tidak boleh padam. Api harus  hidup sebagai sebuah simbol sekaligus sumber kehidupan.

Salman memiliki tugas khusus dari ayahnya, yakni menghidupkan api yan ada di dalam kuil itu, dan jangan sampai padam. Suatu saat, Salman pergi ke kebun dan kuil sebagaimana biasanya. Dalam perjalanan menuju kuil, Salman menemukan Kanisah (gereja). Melihat aktivitas dari dalam gereja itu, Salman terkagum-kagum dan tertarik. Setelah bertanya-tanya akhirnya Salman mengatakan bahwa agama ini lebih baik daripada agamanya  yang menyembah api. Hingga petang hari Salman tidak pulang, sehingga membuat ayahnya gelisah. Salman baru pulang di malam hari dan menceritakan apa yang dilaluinya sepanjang hari. Ayahnya demikian cinta terhadap Salman dan khawatir agamanya, sehingga mengikat Salman di rumah agar tidak bisa keluar lagi.

Salman dan Pertemuannya dengan Pendeta

Setelah berupaya keras, Salman berhasil keluar rumah dan melarikan diri, serta memutuskan untuk tidak kembali ke rumah. Dia mendatangi gereja dan mulai belajar agama Nasrani dengan seorang pastur. Salman mengetahui ajaran Nasrani serta mengetahui watak dan karakter pastur yang menjadi guru spiritualnya. Salman mengetahui perilaku buruk pastur itu yakni menyimpan harta kekayaan jamaah berupa emas dan berlian. Harta itu akan dibagikan kepada fakir miskin. Namun harta itu tidak dibagikan kepada orang-orang miskin tetapi disimpannya dalam gentong-gentong yang ditanam di bawah tanah. Salman tidak berhasil mempengaruhi jamaah untuk menghukum pastur, sehingga mendiamkannya karena takut dibunuh. Salman belajar agama Nasrani bersama pastur itu hingga ajal tiba. Sebelum ajal tiba Salman bertanya kepada pastur itu kepada siapa lagi dia harus belajar agama. Pastur itu menjawab agar Salman pergi ke Mosul (Iraq). Salman kemudian belajar dengan pastur barunya itu, sebagaimana sebelumnya, hingga pastur itu hampir meninggal. Sebelum meninggal, Salman bertanya harus pergi kemana lagi. Maka Pastur itu mengatakan agar Salman pergi ke Turki. Demikian seterusnya hingga Salman pergi ke Amuria (selatan Turki) dan itulah pastur yang terakhir. Menjelang ajal, pastur itu berpesan kepada Salman bahwa tidak ada lagi penerus kitab Injil ini, kecuali akan tampil seorang nabi yang akan muncul di suatu tempat yang ditumbuhi pohon kurma. Ciri-ciri nabi itu ada tiga : tidak memakan sdekah, menerima hadiah, dan ada stempel kenabian yang ada di antara dua pungungnya.

Mendengar berita itu, Salman berniat kesana, dan kebetulan ada pedagang arab yang akan menuju wilayah Madinah. Salman memberi hewan ternaknya sebagai balas budi atas kebaikan untuk mengantar ke tempat nabi muncul. Begitu sampai di Madinah, justru dijual Salman sebagai budak dan dipekerjakan di rumah orang Yahudi. Akhirnya Salman bekerja sebagai budak dan harus bekerja siang malam untuk tuannya.

Pertemuannya dengan Nabi Muhammad

Awal mula Salman mengetahui Nabi Muhammad, ketika ada anak paman majikan dimana Salman bekerja. Anak Yahudi itu mengabarkan tentang kebodohan Bani Qoilah (keluarga besar suku Aus dan kazraj), dimana rela masuk kepada agama yang dibawa oleh seseorang yang mengaku Nabi dari Arab. Bani Qailah memiliki dua anak yang bernama Aus dan Khazraj. Dua anak ini melahirkan anak keturunan yang nantinya selalu bertengkar saat nabi belum diutus sebagai nabi. Pertengkaran itu memang diciptakan oleh Yahudi, sehingga dua kabilah ini terus berseteru.

Mengetahui hal itu Salman langsung berteriak dan ingin menemui nabi. Tetapi karena Salman seorang budak maka dia tidak bebas menemui. Suatu malam selepas bekerja, Salman  menemui nabi untuk menyerahkan kurma untuk disedekahkan kepadanya. Nabi menerima dan memberikan semuanya kepada para sahabatnya tanpa memakannya. Beberapa hari kemudian Salman datang lagi kepada nabi dengan membawa hadiah. Saat diberikan, nabi menerimanya dan memakan sebagiannya bersama sahabatnya. Kemudian suatu siang ketika di pekuburan Baqi’ ketika nabi memakamkan jenazah, Salman hilir mudik dan berputar-putar untuk melihat ciri nabi yang ketiga yakni stempel kenabian yang ada di antara dua pundaknya. Nabi mengetahui gelagat Salman itu, sehingga Nabi dengan sengaja membuka serbannya dan menunjukkan cap kenabian. Mengetahui hal itu, Salman merangkul nabi dan menangis sejadi-jadinya. Salman benar-benar berhasil menemukan Nabi sebagaimana yang diceritakan oleh pastur terakhir, sehingga sangat senang hingga menangis.

Setelah menceritakan seluruh jalan hidupnya hingga sampai ke kota Madinah, Nabi meminta kepada Salman untuk segera membebaskan dirinya dari perbudakan itu dengan meminta tebusan dari majikannya. Setelah menyampaikan hajatnya, majikan Salman meminta terbusan yang sangat tidak wajar. Majikan Salman meminta sebanyak 300 pohon kurmam, dan 40 keping emas. Nabi kemudian mengumpulkan sahabatnya untuk menanam pohon kurma dengan jumlah yang diminta oleh majikan Salman. Tangan nabi sendiri yang menanam pohon sebanyak itu. Para sahabat juga patungan untuk mengumpulkan 40 keping emas. Setelah semuanya terkumpul dan diserahkan kepada majikan Salman, maka Salman bebas menjalankan perintah Islam.

Salman : Anak Kandung Islam

Salman adalah sosok agung yang berani meninggalkan rumah dan warisan kekayaan ayahnya. Salman harus rela melelahkan dirinya untuk mencari kebenaran degan mempelajari agama Nasrani dari satu uskup ke uskup yang lain. Bahkan dia harus mengorbankan harta kekayaannya untuk menempuh perjalanan yang jauh untu berteua dengan Nabi akhir zaman. Bahkan Salman harus rela menjalani status budak yang bekerja siang malam karena dijual kepada orang Yahudi. Padalah dia seorang yang merdeka. Bahkan untuk bisa memeluk Islam, Salman harus rela menanam 300 pohon kurma, dan mengumpulkan 40 keping emas.

Salman dilahirkan dari negeri penyembah api (Persia) dan berhasil menemukan cahaya kebenaran yakni Islam sehingga rela menjadi pemeluk Islam yang gigih dan mengikuti petunjuk nabi. Salmanlah orang yang memiliki ide untuk membuat parit (khandaq) sehingga bebas dari serangan musuh. Salman tidak tahu kemana ayah dan tidak berusaha mencari harta warisan dari orang tuanya. Salman tidak memiliki garis keturunan yang jelas, sehingga sangat layak apabila Salman disebut sebagai anak kandung Islam. Dia mencari kebenaran sekian lama, dan berhasil tumbuh dan agung dengan Islam.

Surabaya 16 Agustus 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 4.004 kali, 1 untuk hari ini)