SOLO (SALAM-ONLINE): Menyambut Ramadhan 1437 H, puluhan ribu umat Islam Solo dan sekitarnya mengikuti Apel Siaga Selamatkan Indonesia dari Bahaya Komunisme, Ahad (5/6). Acara yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Solo dan Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) itu diawali dengan long march dari Lapangan Kota Barat menuju Bundaran Gladag.

Apel Siaga ini dihadiri sejumlah tokoh yang juga menyampaikan orasinya seperti Ketua MUI Solo Prof Zainal Arifin Adnan, Sp.PD, Ketua DSKS Dr Muinudinillah Basri, MA, mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen, Ustadz Wiwoho (Muhammadiyah), Ustadz Abdul Halim (NU), Ustadz Ihsan Tanjung dan Alfian Tanjung.

Prof Zainal Arifin dalam orasinya meminta Presiden Jokowi, TNI dan Polri agar secara tegas melarang kegiatan komunisme di negeri ini.

Sementara Ketua DSKS Dr Muinudinillah menyatakan kesiapannya untuk memimpin jihad melawan komunis di Indonesia. Ustadz Muin juga menawarkan bai’at (tekad dan janji setia) untuk berjihad melawan komunis.

Ajakan Ustadz Muin ini langsung disambut pekik takbir dari peserta Apel Siaga.

Menurut Ustadz Muin, komunisme di Indonesia tidak lagi sebagai bahaya laten, namun sudah menjadi ancaman nyata.

“Indikasinya adalah dengan munculnya gerakan seperti maraknya penyelenggaraan seminar, diskusi, pertemuan-pertemuan yang digagas dan dilaksanakan oleh pihak yang mengatasnamakan mahasiswa dari anak, cucu, simpatisan pembela HAM PKI secara massif, sistematis dan terbuka,” ungkap Muin.

Selain itu, lanjutnya, maraknya simbol, logo dan hal ihwal yang berhubungan dengan PKI, upaya pencabutan TAP MPRS nomor XXV tahun 1966, pengiriman kader ke RRC, kereta cepat bersyarat tenaga kerja dari Cina, kasus penumpang Lion Air dan AirAsia dari Singapura yang lolos dari pemeriksaan imigrasi, dugaan mata-mata di Bandara Halim Jakarta, desakan pencarian kuburan massal peristiwa 1965 dan tuntutan permintaan maaf terhadap pemerintah yang ditujukan kepada keluarga PKI, adalah contoh indikasi nyata ancaman kebangkitan PKI.

Indikasi lainnya, kata Ustadz Muin, adalah pada pertengahan April 2015 di Den Haag ada seminar bertajuk ‘1965 Massacre: Unveiling the Truth, Demanding Justice (Pembantaian: Mengungkap Kebenaran, Menuntut Keadilan)’.

Indikasi ini, papar Ustadz Muin, dipertegas lagi dengan upaya penguasaan posisi strategis di pemerintahan, propaganda di media massa, penghilangan pelajaran sejarah tentang PKI, usaha penghilangan kolom agama pada KTP dan wacana bubarkan Kodim dan Babinsa.

Apel Siaga ini berjalan tertib sejak dimulainya pada pukul 7 pagi hingga jam 11.00 WIB.

Selain orasi oleh sejumlah tokoh, juga digelar atraksi berkuda. Tampak pula kereta kuda keraton mengiringi para alim ulama yang menghadiri acara ini.

Massa gabungan yang menyemarakkan Apel Siaga ini berasal dari MUI, DSKS, NU, Muhammadiyah, Ponpes Al Mukmin Ngruki, Ponpes Darusy Syahadah, Isykarima, Imam Suhodo, Jamaah Ansharus Syariah, Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Hisbullah Sunan Bonang, Al Azhar, Al Fatah, Aitam, Ibnu Abbas, Arrahmah, Salamah, Fosikom, Darul Hikmah, darul Fitroh, Al Ishlah, FUI Klaten, FUI Sragen, Majelis Mujahidin, FJI, Honggo Dermo, dan masih banyak elemen-elemen umat yang sangat antusias mengikuti acara ini hingga berakhirnya sekitar pukul 11. (s)

Laporan: Endro Sudarsono, Redaksi Salam-Online – Ahad, 28 Sya’ban 1437 H / 5 Juni 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 236 kali, 1 untuk hari ini)