• Ini sudah mirip gejala zaman Komunis PKI (?) September 1948- September 1965 yang terang2an anti Islam (?)

     

 


Ilustrasi. Oplosan Sifat Sengkuni Dan Durna : Resep Sempurna Untuk Melawan Kebenaran Dan Kebajikan/ foto goodoperson

 

Adegan wayang yang dimainkan dalang cukup seru. Entah lakonnya apa, tahu2 Petruk ngaku2 sebagai ksatria dan mencumbui Banowati permaisuri Raja Ngestino, Duryudono. Lebih nglunjaknya lagi percumbuan antara Petruk yang ngaku2 ksatria ini dengan Banowati terjadi di taman kerajaan Ngestino.

 

Ada bolo Ngestino yang mengintip lalu tahu bahwa itu Petruk punokawan (pesuruh belaka) berani-beraninya mencumbui istri raja, di taman kerajaan pula. Lalu Bolo Ngestino itu lapor bisik2 ke Pendito Durno, agar menghajar Petruk yang kurangajar itu.

Bertandanglah Pendito Durno untuk menghadapi Petruk yang kurangajar terlalu itu. Tapi Durno agak heran, kenapa pula Banowati kok ya mau2nya dicumbuin sama Petruk sang punokawan dari kerajaan lain pula.

 

Dengan sikap tegas, Pendito Durno langsung menangkap basah Petruk. Tapi Petruk malah melecehkan Pendito Durno dengan meringkik-ringkik bagai kuda, dan menyodor-nyodorkan pantatnya. Maksud Petruk, menyindir secara kasar bahwa Durno punya lakon bukan sekadar mencumbui orang, tapi malah ‘menggarap’ kuda, hingga kudanya bunting dan melahirkan manusia wayang dinamai Aswotomo.

 

Melihat tingkah Petruk yang malah bertingkah melecehkan Pendito Durno itu, maka Durno pilih lari sipat kuping (langkah seribu) meninggalkan tempat, takut ketahuan, khawatir sekali maksud Petruk tersebut difahami pula oleh Banowati istri Raja.

Betapa malunya Durno kalau sampai Banowati tahu makna sindiran Petruk itu.

 

Hanya saja Petruk pun lari tunggang langgang dari taman itu, takut kalau sampai Durno justru mengerahkan wadyabala Kurowo alias Ngestino untuk mengeroyok hingga membunuh Petruk. Betapa wirangnya (malunya) bila sampai dikeroyok wadyabala Kurowo hingga babak belur, apalagi mati dalam keadaan menggangu istri orang. Mati maksiat besar, su-ul khtimah, mati yang buruk, siksa neraka bagiannya. Petruk berjanji dan tobat, tidak akan mengulangi lagi kemaksiatan macam itu dan sebagainya. Dan tidak akan lagi suka main tipu2, bohong sana- bohong sini…. yang hasilnya hanya merupakan catatan amal buruk yang akan menyengsarakan diri sendiri di akherat kelak.

 

Begitulah ceritanya secara singkat, maka lakon para wayang itu diunggah lah videonya ke medsos oleh Sang Dalang.

 

Tidak berjangka lama, sang dalang dikabarkan secara ramai, viral (?) bahwa Sang Dalang akan dilaporkan untuk dijerat dengan pasal UU ITE, karena menyebarkan materi aib para wayang tersebut tanpa seizin para wayang itu. Maka para wayang itu merasa dicemarkan nama baiknya, mereka ramai2 akan menuntut Sang Dalang yang berani2nya mengunggah lakon para wayang tersebut dalam bentuk video hingga viral.

 

Ha? Jadi para wayang itu akan melaporkan Sang Dalang?

Sang Dalang pun kebingungan. Ini lakon apa, ini. Padahal konon ada kata2 ‘Masa’ dalang kurang lakon’, lha kok sekarang malah Sang Dalang akan dilaporkan oleh para wayang dan akan dikenai pasal2 UU ITE. Ini lakon di negeri mana ini, kok sampai sebegininya…

 

Kalau diterus-teruskan yang begini, maka jangan2 para dai yang berdakwah menyampaikan amar ma’ruf (menyuruh kebaikan) dan nahi munkar (mencegah keburukan, kemaksiatan dsb) bisa2 diancam pasal2 itu. Benar2 anti agama, kalau sudah begitu. Dan kalau membaca ayat atau hadits yang memang aslinya berbahasa Arab, akan dituduh sebagai teroris…

 

Ini sudah mirip gejala zaman Komunis PKI (?) September 1948- September 1965 yang terang2an anti Islam (?)

 

Na’udzubillahi min dzalik! Kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal yang demikian (buruknya).

 

Aljaizy

10 SSeptoemober mputkunalrl f13ed.10

 

(nahimunkar.org)


 

 


 

(Dibaca 155 kali, 3 untuk hari ini)