Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, Lc. M.A.

Pada saat kunjungan silaturrahim sejumlah pengurus inti PBNU ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Rabu 31 oktober 2019 malam, Ketua Umum PBNU, Said Aqil di antaranya menyatakan.

“NU dan Muhammadiyah berkewajiban mengawal ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, ukhuwah insaniyah. Mari kita jaga itu semua, karena jika tidak maka ancaman disintegrasi, ancaman perang saudara itu ada”(Republika, Kamis 1 November 2018, hal 1 kol.3 )

Menanggapi pernyataan Said Aqil tersebut, khususnya tentang kemungkinan terjadinya disintegrasi bahkan perang saudara, dugaan saya, bukan hanya saja pengurus inti Muhammadiyah, tapi semua ummat Islam termasuk NU garis lurus insya Alloh setuju.

Peristiwa pembakaran kalimat tauhid, begitu juga peristiwa-peristiwa sebelumnya, seperti upaya persekusi terhadap beberapa Ulama dan tokoh masyarakat, bersikap dan bertindak mengambil-alih tugas penegak hukum, termasuk pernyataan ‘Islam tai’ sangatlah berpotensi untuk terjadinya disintegrasi dan atau perang saudara yang dimaksud.

Ketua Banser sendiri mengakui dan akhirnya meminta maaf kepada ummat Islam dan masyarakat, terkait beberapa anggotanya yang telah membuat kegaduhan di Negeri ini.

Agar pernyataan Said Aqil tidak terkesan hanya sekedar berbasa-basi, atau bahkan asal ngomong, sebaiknya Banser sebagai ormas underbouwnya PBNU untuk sementara dibekukan dulu oleh induknya, untuk diberikan arahan dan pembinaan, agar lain waktu tidak menimbulkan kegaduhan lagi di Negeri ini. [syahid/voa-islam.com]

(nahimunkar.org)

(Dibaca 545 kali, 1 untuk hari ini)