Yang beruntung adalah orang yang tunduk taat kepada syari’at Allah yang dibawa Rasul-Nya sepenuhnya. Sikap itu terungkap dalam lafal: sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami taati. Bukan dipilih-pilih mana yang cocok dipakai, mana yang kurang cocok dengan selera maka ditinggalkan atau bahkan dibuang.

Gejala pilih-pilih mana yang cocok saja itu telah menjangkiti manusia, lebih-lebih bagi orang yang memang bergelimang dalam sistem yang sejatinya menolak syari’at Allah, walau mengaku diri mereka Muslim, dan mencak-mencak kalau mendengar lafal kafir walau ditujukan kepada orang kafir beneran alias bukan Muslim.

Mereka yang telah terformat seperti itu, ketika madrasah-madrasah diprogram untuk “dibunuhi” hingga akhirnya banyak madrasah yang gulung tikar, tutup, akibat kena rekayasa sistematis; maka mereka itu enjoy saja, nyaman-nyaman saja.

Dalam artikel berjudul ‘Keberhasilan Pemerintah Indonesia dalam “Membunuhi” Madrasah di Jakarta’ dijelaskan:

Setelah ditetapkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 1989 dan sejumlah peraturan yang mengikutinya, dimana madrasah didefinisikan sebagai “sekolah umum berciri khas agama Islam”, maka masa keemasan madrasah sebagai tempat pendidikan agama untuk calon ustadz dan ulama di Betawi khususnya pun berakhir. Karena dengan definisi baru itu, madrasah mengalami perubahan yang cukup mendasar, baik dari segi kelembagaan, kurikulum, maupun guru. Dari segi kelembagaan, madrasah kini bukan lagi lembaga pendidikan agama, tetapi lembaga pendidikan umum dengan kedudukan sama dengan sekolah-sekolah lainnya ; dari segi kurikulum, madrasah mengajarkan materi yang sama dengan sekolah-sekolah umum yang lain ; dari segi guru, madrasah (diharapkan) memiliki guru dengan keahlian yang sama dengan sekolah- sekolah umum.

Dengan persamaan-persamaan tersebut, praktis yang membedakan hanyalah embel- embel “ciri khas Islam” yang melekat di belakang madrasah. Imbasnya, tidak sedikit madrasah swasta yang tutup di Jakarta. (Slakan lihat: Keberhasilan Pemerintah Indonesia dalam “Membunuhi” Madrasah di … )

Mereka yang jiwanya telah terformat seperti digambarkan di atas, tentunya tidak ada keprihatinannya sama sekali atas telah direkayasanya kematian madrasah-madrasah itu. Lebih dari itu bahkan bisa jadi sebagian mereka yang terformat itu  justru menjadi bagian dari yang merekayasa untuk kematian madrasah-madrasah. Padahal, kalau mau ingat dan sayang-sayang pada agamanya yakni Islam, maka mesti menyadari bahwa madrasah-madrasah itu untuk mendidik generasi Islam agar mengerti agamanya. Para siswa dan siswi madrasah-madrasah itu setelah tamat kemudian mereka menikah dan jadi  bapak atau ibu rumah tangga, maka mereka mampu mengajari anak-anaknya untuk mengaji alif ba’ ta’ hingga juz ‘Amma, bahkan sampai lancar membaca Al-Qur’an, bahkan menghafal sebagian Al-Qur’an. Juga mengajari anak-anaknya cara berwudhu, tatacara shalat, dan sebagainya, hingga jadi anak-anak shalih, dan bahkan di antara anak-anak mereka ada yang jadi ustadz besar, berdakwah mengingatkan Umat Islam agar rajin mencari bekal untuk kehidupan di akherat kelak. Karena setelah manusia ini meninggal dunia, tidak ada bekal yang akan menyelamatkan dirinya dari api neraka kecuali amal-amal baiknya yang ikhlas untuk Allah Ta’ala. Itu di antara manfaat adanya madrasah-madrasah, sangat terasa di masyarakat hingga generasi selanjutnya, bahkan nasib mereka di akherat kelak untuk terhindar dari azab siksa neraka.

Bayangkan, ketika madrasah-madrasah itu telah direkayasa oleh sistem hingga tutup, mati, gulung tikar; berganti menjadi sekolah umum belaka seperti berganti jadi SMK dan sebagainya, apakah alumninya bisa mengajari anak-anak mereka mengaji, cara wudhu, cara shalat dan sebagainya? Bukankah mereka sendiri belum tentu mengerjakan itu semua? Atau mereka yang keluaran sekolah SMK (yang tadinya madrasah tapi diubah karena akibat direkayasa sistem yang “membunuhi Islam” itu) kemudian hasilnya, mereka justru mungkin berdandanan menor, berpakaian ketat, tidak peduli pada agamanya, jauh dari agama dan seterusnya… Dan itu kemungkinan akan sulit diingatkan. Berbeda bila tadinya mereka adalah keluaran madrasah, maka ketika ada pelanggaran, masih agak mudah untuk diingatkannya. Misal, diingatkan: kamu kan keluaran madrasah, ingat dong… sayangi dirimu… api neraka itu sangat panas bukan?

Kembali kepada orang-orang (pejabat-pejabat misalnya) yang telah terformat dalam sistem yang sejatinya menolak syari’at Islam, pada giliran mereka menjelang penisun, maka sebagian mereka pun bertandang untuk mendirikan sekolah-sekolah yang disebut sekolah Islam.

Ketika acara pembukaan sekolah Islam baru bikinan pejabat pensiuan yang kaya, diundanglah para ulama, tokoh Islam, dan masyarakat. Acaranya gayeng tenan. Meriah lah pokoknya. Beberapa ulama dan tokoh diminta untuk berdiri memberikan sambutan atas dibukanya sekolah Islam baru di lokasi yang cukup menawan.

Salah satu da’i yang lugu tanpa lucu pun kebagian diminta untuk memberikan sambutan.

Sang da’i lugu tanpa lucu ini menyampaikan sambutan singkat dengan membaca· ayat:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚوَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون} [النور : 51]

{Sesungguhnya jawaban orang-orang beriman, apabila mereka diseru kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memberi hukum di antara mereka adalah ucapan, kami mendengar dan kami taat, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung}. [An-Nuur : 51]

Kata da’i lugu tanpa lucu ini, hendaknya kita senantiasa memegangi ayat tersebut. Hingga jadi orang muslim yang benar-benar istiqomah, yang bakal beruntung. Jangan sampai misalnya, mendirikan sekolah namanya sekolah Islam, tapi masalah pakaian saja, sudah jelas ada perintah berhijab – berlijilbab bagi wanita Muslimah, namun bukan ditaati dengan sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taati), tapi malah sami’na wa pikir-pikirna (kami dengar dan kami pikir-pikirkannya –untuk dilaksanakan atau tidak). Itu jangan sampai….

(Anda mampu jadi da’i atau seorang Muslim yang setegas itu di depan orang kaya ataupun orang berwibawa yang lagi meminta Anda untuk bicara?)

Semoga saja. Kalau toh tidak ditaati, yang penting sudah disampaikan.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.469 kali, 1 untuk hari ini)