Wartawan senior The Jakarta Post Endy Bayuni mengatakan, seorang jurnalis seharusnya melepaskan identitas agama yang dianut ketika hendak menggali dan menulis sebuah berita, sehingga informasi yang disampaikan benar-benar fair, tanpa dipengaruhi oleh keyakinan yang ia miliki. Kalau perlu, mengabaikan iman mereka saat menulis.

“Jurnalis harus mengabaikan imannya sendiri ketika menulis. Namun sayangnya kesadaran tersebut baru tertanam dalam diri sebagian kecil jurnalis saja, dan belum sampai pada level lembaga atau media”, jelasnya saat peluncuran buku “Jurnalisme Keberagaman: Sebuah Panduan Peliputan”, yang diterbitkan oleh Serikat Jurnalis Keberagaman (Sejuk), di Jakarta, Rabu, (08/05/2013) seperti dikutip UCANews.

Tampaknya wartawan The Jakarta Post itu walau sudah senior namun tidak selihai iblis. Sehingga sarannya tampak vulgar, dan mudah dibantah orang. Kalau iblis, cara menipu Adam dan Hawa agar pakaiannya terlepas dan tampak aurat-aurat mereka berdua hingga sangat malu; tidak dengan menyuruhnya lepas baju agar telanjang, tapi dengan cara lain yang sama sekali tidak vulgar. Tapi tulisan ini bukan mengajari sang wartawan senior agar meniru Iblis. Hanya untuk menunjukkan fakta, yang telah Allah firmankan.

{فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى (120) فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى (121) ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى (122) قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى} [طه: 120 – 123]

120. kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi[948] dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

121. Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia[949].

122. kemudian Tuhannya memilihnya[950] Maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.

123. Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.(QS Thaha/ 20: 120-123).

[948] Pohon itu dinamakan Syajaratulkhuldi (pohon kekekalan), karena menurut syaitan, orang yang memakan buahnya akan kekal, tidak akan mati, pohon yang dilarang Allah mendekatinya tidak dapat dipastikan, sebab Al Quran dan Hadist tidak menerangkannya. ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam surat Thaha ayat 120, tapi itu adalah nama yang diberikan syaitan.

[949] Yang dimaksud dengan durhaka di sini ialah melanggar larangan Allah karena lupa, dengan tidak sengaja, sebagaimana disebutkan dalam ayat 115 surat ini. dan yang dimaksud dengan sesat ialah mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. kesalahan Adam a.s. meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat, karena tingginya martabat Adam a.s. dan untuk menjadi teladan bagi orang besar dan pemimpin-pemimpin agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang Bagaimanapun kecilnya.

[950] Maksudnya: Allah memilih Nabi Adam a.s. untuk menjadi orang yang dekat kepada-Nya.(catatan kaki Al-Qur’an dan Terjemahnya).

Betapa jauh lihai si iblis itu. Dan betapa dangkalnya bisikan sang wartawan senior koran bahasa Inggeris terbitan Jakarta itu.

Oleh karena itu, dengan mudahnya wartawan atau jurnalis Islam membantahnya seperti yang ramai di media-media Islam online. Dan ini bukan menyayangkan, kok bisikannya vulgar, namun untuk menunjukkan, sama-sama membisikkan keburukan, tingkatnya sangat rendah dibanding iblis, sedang tujuannya justru lebih dahsyat yakni menyingkirkan iman, otomatis pemurtadan.

Untuk meniru iblis tampaknya tidak gampang, sampai yang tingkat senior pun kemampuan iblisiyahnya tampak masih rendah.

Inilah sorotan dan beritanya.

***

JITU Ajak Diskusi Bareng SEJUK Soal Jurnalis Harus Melepas Iman

Jitu

JAKARTA (voa-islam.com) – Wartawan Muslim yang tergabung dalam Jurnalis Islam Bersatu (JITU) membantah pendapat wartawan senior The Jakarta Post Endy Bayuni yang mengatakan, seorang jurnalis seharusnya melepaskan identitas agama yang dianut ketika hendak menggali dan menulis sebuah berita.

Sekjen JITU Muhammad Pizaro Novelen Tauhidi menegaskan, seharusnya Endy mengkritik jurnalistik yang kerap menyudutkan Islam seperti menyebut istilah Islam fundamentalis, militant, radikal, dan stigma lainnya. Padahal kata fundamentalis tidak pernah dikenal dalam Islam.

“Sebagian jurnalis sekuler pun tidak melakukan coverbothside dalam isu terorisme. Mereka tetap menuduh individu tertentu sebagai teroris, hingga ketika individu tersebut ternyata tidak terbukti, tidak ada dari media tersebut melakukan klarifikasi,” ujar Pizaro.

Dalam kasus Syiah dan Ahmadiyah, seorang jurnalis tetap bisa profesional tanpa harus meninggalkan iman. Jika jurnalis muslim meminta pendapat ulama terhadap pemahaman yang menyimpang, maka tidak bisa dikatakan menghakimi tanpa dasar.

Karena itu, seorang jurnalis tak bisa melepaskan keimanannya ketika menulis sebuah berita. Bahkan, media Barat seperti CNN, Fox News, Christian Science Monitor, The New York Time, The Sydney Morning Herald, adalah contoh dari media massa yang seringkali melibatkan iman dan ideology wartawannya dalam  memusuhi Islam. “Disinilah iman dibutuhkan karena akan melahirkan jurnalisme kejujuran. Dan untuk menjadi jurnalis profesional tak perlu melepaskan iman.”

Jika SEJUK meminta jurnalis meninggalkan iman, maka itu sama saja menghalangi kebebasan pers. Seorang jurnalis dituntut untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang mana yang salah dan benar. Sehingga tidak salah, kalau ulama menjadi tempat yang otoritatif untuk dimintakan penjelasannya,

Apa yang diyakini SEJUK, agar lebih objektif, sehingga harus melepaskan iman, mengingatkan pada pemikiran (alm) Nurcholish Madjid yang sangat liberal

Bagi jurnalis Islam, menulis al-haq (kebenaran) itu bagian dari dakwah, dan jurnalis Islam tidak bisa lepas dari pokok ajaran Islam itu sendiri, yaitu Qur’an dan Sunnah.

“Jurnalis muslim tidak berpegang pada prinsip netral, jurnalis muslim harus berpihak pada kebenaran. Jika Sejuk bicara itu, itu haknya dari kacamata jurnalis kafir liberal.”

Menurut Pizaro yang juga bekerja di situs Islam Post ini, gaya meninggalkan iman ini adalah bentuk adopsi dari jurnalisme barat yang bebas nilai. Sedangkan seorang jurnalis yang beriman dituntut untuk berpihak pada kebenaran.

“Disinilah urgensi seorang jurnalis yang dituntut untuk mencerahkan para pembacanya, bukan mengaburkan. Mencerahkan ini berita benar, bukan salah, Ini berita fakta bukan fitnah, karena prinsip pertama jurnalisme adalah pencari kebenaran. Dengan berpijak pada iman, jurnalis justru dituntut keadilannya dalam menulis. Karena berbohong tidak dibenarkan dalam beragama,” papar Pizaro.[desastian] Jum’at, 10 May 2013

***

Endy Bayuni: Jurnalis Harus Abaikan Iman Sendiri Ketika Menulis

Jum’at, 10 Mei 2013

endy

Endy Bayuni (foto: ucanews)

Hidayatullah.com–Wartawan senior The Jakarta Post Endy Bayuni mengatakan, seorang jurnalis seharusnya melepaskan identitas agama yang dianut ketika hendak menggali dan menulis sebuah berita, sehingga informasi yang disampaikan benar-benar fair, tanpa dipengaruhi oleh keyakinan yang ia miliki. Kalau perlu, mengabaikan iman mereka saat menulis.

“Jurnalis harus mengabaikan imannya sendiri ketika menulis. Namun sayangnya kesadaran tersebut baru tertanam dalam diri sebagian kecil jurnalis saja, dan belum sampai pada level lembaga atau media”, jelasnya saat peluncuran buku “Jurnalisme Keberagaman: Sebuah Panduan Peliputan”, yang diterbitkan oleh Serikat Jurnalis Keberagaman (Sejuk), di Jakarta, Rabu, (08/05/2013) seperti dikutip UCANews.

Menurut  salah satu pendiri Perhimpunan Internasional Jurnalis Agama (International Association of Religion Journalists, IARJ) itu,  banyak jurnalis gagal menegakkan prinsip good journalism ketika meliput berita yang berkaitan dengan agama, sehingga jatuh dalam kecenderungan menghakimi.

“Misalnya bagaimana jurnalis meliput kasus serangan terhadap kelompok Ahmadiyah dan Syiah dan bagaimana jurnalis ramai-ramai pula ikut menghujat mereka sebagai aliran sesat, padahal menjuluki mereka sebagai aliran sesat itu bukanlah tugas jurnalis. Jurnalis hanya bisa menulis mereka itu sesat, bila mengutip pernyataan dari tokoh tertentu atau lembaga tertentu, tapi itu pun harus menyertakan verifikasi dari Ahmadiyah dan Syiah”, katanya.

Karena itu, ia meminta para jurnalis seharusnya melepaskan identitas agama yang dianut ketika hendak menggali dan menulis sebuah berita, sehingga informasi yang disampaikan benar-benar fair, tanpa dipengaruhi oleh keyakinan yang ia miliki.

“Di sebagian besar media, agama seringkali tidak menjadi prioritas penting. Jarang pemberitaan mengenai agama ditemukan di halaman depan atau top news item di berita TV, kecuali yang sifatnya skandal, seperti kasus pedofilia di Gereja Katolik atau yang melibatkan kekerasan, seperti terorisme dan  konflik antaragama”.

Ia juga melihat, faktor yang membuat masalah agama tidak diberikan prioritas oleh redaksi karena ketidaktahuan atau ketidakmampuan mengelola masalah yang pelik dan kompleks, serta kecenderngan menghindari berita yang berpotensi eksplosif.

“Berita mengenai ketegangan atau konflik antarumat beragama dihindari karena takut salah, atau lebih parah lagi karena takut dituduh berpihak oleh pihak yang bertikai. Ini warisan dari era Soeharto dimana berita mengenai ketegangan atau konflik antaragama dilarang karena dikhawatirkan dapat menyulut perang agama,” jelasnya.

Baginya, zaman sudah berubah, dan kondisi di lapangan sekarang menuntut media di Indonesia, sama dengan dinegara lain, untuk meliput masalah agama dengan lebih serius dan menyajikan berita dan informasi yang lebih akurat.

“Kebijakan media yang cenderung menghindar dari pemberitaan isu agama sama tidak bertanggung jawabnya dengan media yang salah meliput mengenai ketegangan atau konflik antara kelompok beragama,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua SEJUK Ahmad Junaidi menegasakan, salah satu peran yang gagal dimainkan oleh jurnalis adalah menyuarakan suara dari kelompok yang menjadi korban.

“Seringkali jurnalis tidak berusaha menggali lebih dalam, menjadi penghubung lidah kaum yang tidak mampu bersuara. Prinsip giving voice to the voiceless belum terlalu diperhatikan,” katanya kepada UCANews.com. 

Kekafiran

Sementara pimpinan redaksi Jurnal Islamia, Dr. Hamid Fahmi Zarkaysi, MA, membenarkan pernyataan Endi Bayuni, salah satu wartawan yang pernah mendapat undangan Israel tahun 2007 ini. Menurut Hamid, wartawan bisa netral dari agama, namun tak akan bisa netral dari paham.

“Betul ia bisa netral dari agama tapi tidak netral dari paham,  orientasi dan kecenderungan  sekular dan liberal, “ ujarnya kepada hidayatullah.com, Senin (10/05/2013).

Menurut Hamid, pemikiran seperti ini biasanya hanya diambil oleh orang yang berpaham liberal. Sementara dalam Islam, melepas keimanan walau sekejap, sudah termasuk kafir.

“Kalau iman dilepas dia tidak netral juga karena dia akan jadi kafir dan cara pandangnya pun jadi Atheis. “

“Di dunia ini tidak ada yg netral, karena manusia ada pada ruang dan waktu,” ujar anak kandung dari (alm) KH. Imam Zarkasy, salah satu dari tiga pendiri PP Modern Darussalam Gontor.

Sementara itu pengajar pemikiran di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, Dr Adian Husaini mengatakan, seseorang tidaklah mungkin pernah netral, sebab semua orang pasti berpihak.

“Seorang tiak mungkin netral dalam arti sebenarnya. Dia pasti berpihak. Misalnya wartawan dengan identitas Muslim pasti tidak memihak koruptor, pembunuh, perampok, pezina, dan penganjur kemunafikan,” ujar pria yang juga penulis buku “Penyesatan Opini : Sebuah Rekayasa mengubah Citra” ini. [baca juga: Menjadi Wartawan yang Baik Tak Perlu Atheis atau Kafir!]

Seperti diketahui, SEJUK didirikan pada 17-18 Mei 2008 di Cisarua Bogor, oleh 30 orang jurnalis dari berbagai media massa. Di antaranya ada nama-nama aktifis Jaringan Islam Liberal (JIL) ikut menjadi pengurus, seperti Saidiman Ahmad.

SEJUK telah beberapa kali menggelar pelatihan untuk jurnalis dan wartawan media kampus. Dan beberapa kali berkunjung ke  kantor Jemaat Ahmadiyah dengan membawa rombongan wartawan.*

Rep: Panji Islam
Red: Cholis Akbar

***

Untuk Menjadi Wartawan yang Baik tak Perlu Atheis atau Kafir

Jum’at, 10 Mei 2013

Hidayatullah.com–Seseorang bisa menjadi Muslim sekaligus wartawan yang baik pada saat yang sama. Artinya, untuk menjadi wartawan yang baik tidak perlu jadi kafir atau Atheis. 

Demikian pernyataan Dr Adian Husaini menanggapi wartawan senior The Jakarta Post Endy Bayuni yang mengatakan, seorang jurnalis seharusnya melepaskan identitas agama yang dianut ketika hendak menggali dan menulis sebuah berita.

“Seorang Muslim tidak perlu terjebak oleh cara berpikir seperti itu,” demikian ujar Adian Husaini,  yang juga Direktur Institut Jurnalistik Attaqwa ini kepada hidayatullah.com, Senin (10/05/2013).

Menurut Adian,  orang yang melepas keimanannya itu jelas dihukumi kafir, walau sesaat. Menurutnya, cara pandang netral agama dalam memandang berbagai masalah kehidupan adalah tradisi lokal Barat yang terbentuk akibat proses sejarah yang traumatik terhadap agama (Kristen).

Dr Adian Husaini mengatakan, seseorang tidaklah mungkin pernah netral, sebab semua orang pasti berpihak.

“Seorang tidak mungkin netral dalam arti sebenarnya. Dia pasti berpihak. Misalnya wartawan dengan identitas Muslim pasti tidak memihak koruptor, pembunuh, perampok, pezina, dan penganjur kemunafikan,” ujar pria yang juga penulis buku “Penyesatan Opini : Sebuah Rekayasa mengubah Citra” ini.

Sementara pimpinan redaksi Jurnal Islamia, Dr. Hamid Fahmi Zarkaysi, MA, mengatakan, pemikiran yang disampaikan Endy Bayuni  biasanya hanya diambil oleh orang yang berpaham liberal. Sementara dalam Islam, melepas keimanan walau sekejap, sudah termasuk kafir.
“Kalau iman dilepas dia tidak netral juga karena dia akan akan jadi kafir dan cara pandangnya pun jadi Atheis, “ ujar pria yang baru meluncurkan buku “Misykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi & Liberalisasi” ini.

“Di dunia ini tidak ada yang netral, karena manusia ada pada ruang dan waktu,” ujar anak kandung dari (alm) KH. Imam Zarkasy, salah satu dari tiga pendiri PP Modern Darussalam Gontor.

Ukurannya Haq dan Bathil

Seperti diketahui, saat peluncuran buku “Jurnalisme Keberagaman: Sebuah Panduan Peliputan”, yang diterbitkan oleh Serikat Jurnalis Keberagaman (Sejuk), di Jakarta, Rabu, (08/05/2013),  wartawan senior The Jakarta Post Endy Bayuni mengatakan, seorang jurnalis seharusnya melepaskan identitas agama yang dianut ketika hendak menggali dan menulis sebuah berita, sehingga informasi yang disampaikan benar-benar fair, tanpa dipengaruhi oleh keyakinan yang ia miliki. Kalau perlu, mengabaikan iman mereka saat menulis.

Menurut  salah satu pendiri Perhimpunan Internasional Jurnalis Agama (International Association of Religion Journalists, IARJ) itu,  banyak jurnalis gagal menegakkan prinsip good journalism ketika meliput berita yang berkaitan dengan agama, sehingga jatuh dalam kecenderungan menghakimi.

Menurut Sekretaris MUI Jawa Timur, Mohammad Yunus, persoalan iman dan kafir itu dalam Islam adalah hal serius dan saling berhadap-hadapan. Iman dalam Islam itu bukan perkara main-main.

Karena itu, menurutnya, jika seseorang ingin melepas iman walau sekejap, tetap saja masuk yang kufur. Selanjutnya ia menyarankan aga jika menjadi wartawan yang dibela ukurannya kebenaran, bukan netralitas. Dalam hal ini, kebenaran (al Haq), bukan netralitas.*

Rep: Panji Islam
Red: Cholis Akbar/ hdytllh

(nahimunkar.com)

(Dibaca 815 kali, 1 untuk hari ini)