11 Hari sejak tulisan Psikolog Sarlito Wirawan tersebut dipublikasikan, tiba-tiba kondisi kesehatan Sarlito menurun, ia langsung dilarikan ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat, pada Senin tanggal 14 November 2016 sekitar pukul 22.18 WIB. Hingga dia sudah tiada ketika menurut jadwalnya untuk jadi saksi ahli (membela) Ahok dalam kasus pnistaan agama, di Mabes Polri Jakarta, Selasa 15 November 2016.

Berikut ini beritanya, dan dua sanggahan terhadap tulisan mendiang tersebut.

***

Beberapa Hari Sebelum Meninggal, Sarlito Bela Ahok dengan Menulis :”Islam dan Tuhan Tidak Perlu Dibela”

sarlito-dan-ahok

NUSANEWS – Guru Besar Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof DR Sarlito Wirawan dikenal sebagai sosok yang mendukung Basuki Tjahaja Purnama dan pernah mengatakan bahwa “Islam dan Tuhan Tidak Perlu Dibela”.

Pernyataan Sarlito ini disampaikan melalui tulisanya berjudul “Mungkinkah Menistakan Agama?” yang di publikasikan oleh selasar.com, kamis (3/11/2016). Tulisan tersebut Sarlito tulis sebagai bentuk respon ketidak setujuanya dengan Aksi Bela Islam 4 November 2016 esok harinya kala itu.

“Pandangan saya mungkin tidak begitu populer, tetapi untuk saya, Islam dan Tuhan tidak perlu dibela. Anak-anak, perempuan, orang yang lemah dan tak berdaya, orang fakir dan yatim piatulah yang patut dibela, dan hal itulah yang sesuai dengan ajaran Islam” tulis Prof Sarlito.

Sarlito mengawali tulisanya dengan paragraf awal : “Demonstrasi dalam rangka membela Tuhan makin banyak. Hal ini membuat saya bertanya, “Mungkinkah membela agama?”. Pertanyaan selanjutnya, “Sebegitu lemahkah Tuhan dan Agama sehingga memerlukan pembelaan dari umatnya?”

Dalam tulisanya ini Sarlito juga secara jelas membela Ahok pada kasus penistaan Al-Qur’an Surat Al Maidah di Kepulauan Seribu. Sarlito secara jelas menuliskan bahwa maksud Ahok bukan untuk menistakan Al-Qur’an.

11 Hari sejak tulisan tersebut dipublikasikan, tiba-tiba kondisi kesehatan Sarlito menurun, ia langsung dilarikan ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat, pada Senin tanggal 14 November 2016 sekitar pukul 22.18 WIB.***(NUSANEWS)***

***

Perlukah Membela Agama Islam?

Aksi Bela Islam yang terjadi tanggal 4 November 2016 merupakan akumulasi dari kemarahan warga yang sudah bertumpuk-tumpuk terhadap Ahok

aksi-bela-islam

Oleh: Alwi Alatas

BEBERAPA waktu terakhir ini beredar tulisan yang tersebar di beberapa media sosial dengan judul “Mungkinkah Menistakan Agama” dengan menyantumkan Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia sebagai penulisnya. Saya tidak tahu apakah tulisan ini betul-betul dibuat oleh Pak Sarlito atau tidak, karena sering beredar tulisan di internet yang mengatasnamakan seseorang, padahal sebetulnya dia tidak menulisnya. Saya berperasangka baik bahwa ini bukan tulisan beliau. Namun terlepas dari siapa yang membuat tulisan tersebut, berikut ini beberapa jawaban atasnya.

Tulisan itu dibuka dengan kata-kata berikut:

“Demonstrasi dalam rangka membela Tuhan makin banyak. Hal ini membuat saya bertanya, “Mungkinkah membela agama? Pertanyaan selanjutnya, “Sebegitu lemahkah Tuhan dan agama sehingga memerlukan pembelaan dari umatnya?”

Pandangan saya mungkin tidak begitu populer, tetapi untuk saya, Islam dan Tuhan tidak perlu dibela. Anak-anak, perempuan , orang yang lemah dan tak berdaya, orang fakir dan yatim piatulah yang patut dibela, dan hal itulah yang sesuai dengan ajaran Islam.”

Untuk menjawab pertanyaan di atas tidak cukup hanya dengan menggunakan logika, perlu juga melihat apa yang tertulis di dalam Al-Quran, terlebih jika kita seorang Muslim. Dan bagi yang bukan Muslim, setidaknya mereka bisa memahami mengapa kaum Muslimin tergerak untuk membela agamanya.

Baik orang-orang lemah maupun Tuhan (atau agama) sama-sama perlu dibela, walaupun sebab pembelaannya berbeda. Orang-orang kecil dan lemah dibela karena mereka tak berdaya untuk membela diri. Ini sesuai dengan ajaran Islam. Tuhan dan agama-Nya juga perlu dibela, karena alasan yang berbeda, bukan karena Dia lemah dan tak mampu menolong diri-Nya sendiri. Ini pun sesuai dengan ajaran Islam.

Jadi karena alasan apa Tuhan dan agama dibela? Pertama, karena hal itu diperintahkan oleh-Nya. Hal ini disebutkan di dalam Al-Quran:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ لِلۡحَوَارِيِّـۧنَ مَنۡ أَنصَارِىٓ إِلَى ٱللَّهِ‌ۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ‌ۖ فَـَٔامَنَت طَّآٮِٕفَةٌ۬ مِّنۢ بَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ وَكَفَرَت طَّآٮِٕفَةٌ۬‌ۖ فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ فَأَصۡبَحُواْ ظَـٰهِرِينَ (١٤)

‘Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”….’ (QS 61: 14)

Kata yang digunakan pada ayat di atas adalah ansharullah yang bermakna penolong atau pembela Allah. Jadi jelas bahwa hal ini diperintahkan oleh Allah, bukan direka-reka oleh kaum Muslimin. Tapi kalau Allah tidak memerlukan pertolongan kita, mengapa Dia perintahkan kita menolong-Nya? Jawabannya sama dengan jawaban atas pertanyaan berikut: “Jika Dia tidak memerlukan ruku’ dan sujud kita, mengapa Dia perintahkan kita menyembah-Nya?” Sebabnya adalah karena apa yang kita lakukan itu akan kembali faedahnya kepada diri kita sendiri. Kini kita akan lihat alasan lebih jauh mengapa kita perlu membela atau menolong (agama) Allah.

Kedua, agar menjadi jelas siapa yang membela agama-Nya dan siapa yang tidak. Ini seperti yang disebutkan di dalam Al-Quran: “… dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS 57: 25)

Dan ketiga, agar hal itu menjadi jalan bagi kita untuk mendapat pertolongan dari-Nya, terutama di saat tidak ada pembela dan pelindung lain selain daripada-Nya.

“Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS 47: 7)

“Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak (pula) di langit dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah.” (QS 29: 22)

Saya cukupkan sampai tiga alasan ini saja. Semua ini sangat berarti bagi seorang Muslim, kecuali jika hatinya berpenyakit dan dipenuhi sifat munafik.

Tidak ada yang bisa memaksa jika seseorang berpandangan bahwa Allah dan agama-Nya tidak perlu dibela dan karenanya ia menolak untuk membela-Nya. Tapi ia tentu juga tidak mengharapkan pertolongan dan pembelaan dalam hal apa pun dari-Nya, termasuk saat ia nanti mati dan menghadap kepada-Nya.

Kemudian tulisan itu menyebutkan tentang survei Washington University (2011) serta Maarif Institute (2015) yang menunjukkan negeri-negeri serta kota berpenduduk non-Muslim sebagai lebih Islami dibandingkan yang berpenduduk Muslim. Maka berikut ini tanggapannya:

Pertama, kita tidak menolak bahwa dalam banyak hal kaum Muslimin dan negeri-negeri mereka masih sangat tidak Islami dan dikalahkan oleh negeri-negeri non-Muslim, khususnya dalam hal-hal yang bersifat muamalah. Ini hal yang perlu diperbaiki dan dibenahi oleh kaum Muslimin. Mudah-mudahan keadaan mereka menjadi lebih baik ke depannya.

Kedua, perlu diingat bahwa apa yang disebut sebagai Islami pada survei-survei di atas tidak mencakup semua aspek keislaman. Karena jika tauhid dimasukkan ke dalam survei, tidak mungkin negeri non-Muslim lebih baik daripada negeri Muslim. Kalau rukun Islam dimasukkan ke dalam survei, tidak mungkin negeri Muslim dikalahkan oleh negeri non-Muslim. Padahal rukun Islam adalah inti bangunan Islam. Jadi survei itu hanya melihat pada sebagian aspek dalam Islam saja, bukan keseluruhannya.

Kalaupun kita memilih untuk menyoroti aspek muamalah saja, bukan berarti kaum Muslimin selalu buruk dalam persoalan ini. Ambil saja contoh demonstrasi 4 November 2016 yang baru terjadi di Jakarta. Lautan manusia membanjiri empat penjuru jalan di kawasan patung kuda dan bahkan lebih dari itu. Komnas HAM menyebutnya sebagai demonstrasi terbesar pasca reformasi dan yang paling bermartabat. “…tidak ada kekerasan, ujaran kebencian, diskriminasi, nyaris tidak meninggalkan sampah, dan tidak ada fasilitas publik atau taman yang rusak” (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/11/04/og4c9e361-komnas-ham-aksi-4-november-demo-paling-bermartabat). Kalaupun sempat terjadi kerusuhan di malam hari, tidak ada kepastian bahwa para demonstran yang memulainya, dan ada kemungkinan terjadi penyusupan. Selain itu, FPI menunjukkan sikap terhormat dengan melindungi barisan polisi yang bertugas. Begitu pula kerusuhan di Penjaringan sama sekali tidak ada hubungan dengan demonstrasi yang dilakukan kaum Muslimin.

Berapa banyak pihak yang mampu melakukan aksi sebesar ini dan penuh martabat seperti ini? Tidak ada satu pun tempat ibadah yang disentuh ataupun kalangan agama dan ras lain yang diganggu. Mereka menunjukkan bahwa mereka mampu berdisiplin dan menjaga keamanan di tengah aksi sebesar itu.

Akhirnya tulisan itu menyebutkan prestasi dan kelebihan-kelebihan Ahok selama memimpin Jakarta, seperti menjadikan sungai di Jakarta lebih baik, sukses menggusur kalijodo, serta bersikap tegas terhadap bawahan yang tidak betul dalam bekerja. Maka kami jawab seperti di bawah ini.

Ahok tentu punya prestasi dalam kerjanya, tidak ada yang menafikan hal ini. Namun pada akhirnya, semua itu untuk kepentingan siapa? Apa yang dilakukan Ahok memperlihatkan secara kasat mata pembelaan yang terang-terangan kepada para pengembang dan pemilik modal serta sikapnya yang kasar dan brutal terhadap orang-orang kecil yang rumahnya  ia gusur. Kita menghendaki Jakarta yang lebih rapi dan indah, tetapi orang-orang yang diusir secara kasar itu adalah manusia, saudara-saudara kita se-Indonesia. Mengapa tidak gunakan cara baik-baik dan lakukan komunikasi dengan intensif dan sabar, seperti yang pernah dilakukan oleh Jokowi dalam penggusuran di Solo misalnya. Orang-orang kecil itu digusur tanpa belas kasihan, dipaksa tinggal di rusun-rusun yang jauh dari sumber mata pencaharian mereka, untuk kemudian menemui kesulitan dalam membayar sewanya dan akhirnya mungkin tergusur dengan sendirinya dari tempat itu tanpa ada pemberitaan signifikan dari media massa (https://m.tempo.co/read/news/2016/08/21/083797679/tak-bayar-sewa-138-kk-di-rusun-jatinegara-barat-kena-tegur). Padahal ada di antara orang-orang yang digusur itu yang sudah tinggal di rumah-rumah mereka lebih dari 50 tahun.

Antara Januari dan Agustus tahun 2015 saja ada 3.400 lebih kepala keluarga yang jadi korban penggusuran. Sepanjang tahun 2015, ada 20.000 korban pelanggaran HAM di Jakarta, sebagian besar terkait dengan kebijakan Pemprov DKI. Angka ini naik tiga kali lipat dibandingkan tahun 2013 dan 2014 (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20151224060220-20-100191/relokasi-mimpi-buruk-bagi-korban-penggusuran-jakarta/).

Semua korban penggusuran itu adalah warga pribumi. Sementara ketika wali kota Jakarta Barat hendak menggusur beberapa bangunan yang melanggar aturan di Glodok, Ahok dengan sigap turun tangan dan melarang dengan tegas. “Lu jadi centeng ya?” cetusnya pada wali kota Jakarta Barat itu (https://m.tempo.co/read/news/2016/08/23/083798124/gusur-glodok-ahok-sebut-wali-kota-jakbar-mirip-centeng).

Ahok dahulu pernah mengatakan bahwa ayat konstitusi kedudukannya di atas ayat suci, seolah ia sangat menjunjung tinggi hukum di atas apa pun juga. Namun pada kasus penggusuran di Bukit Duri, Ahok sama sekali tidak menghormati hukum dan konstitusi. Ia tetap menggusur warga walaupun proses hukum terkait kasus tanah itu masih berjalan di pengadilan (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160928134727-20-161781/komnas-ham-penggusuran-bukit-duri-melanggar-hukum/).

Ada banyak korban pada kasus-kasus penggusuran di Jakarta dan mereka adalah orang-orang lemah, miskin, dan tertindas. Mengapa penulis artikel di atas tidak membela mereka di dalam tulisannya? Bukankah, sebagaimana yang dinyatakannya sendiri, mereka termasuk yang perlu dibela?

Selain itu, penggusuran-penggusuran yang dilakukan itu untuk kepentingan siapa? Untuk kepentingan rakyat? Rakyat yang mana?

Dalam kasus penggusuran Pasar Ikan, LBH Jakarta menyebutkan bahwa penggusuran di Jakarta bukan “untuk kepentingan warga Jakarta secara keseluruhan, melainkan untuk kepentingan bisnis semata.” Selain itu, ada upaya Pemprov DKI untuk mengusir warga miskin dari Jakarta (http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/16/04/12/o5hekl383-lbh-jakarta-penggusuran-warga-pasar-ikan-untuk-kepentingan-siapa).

Begitu pula rencana reklamasi di Pantai Utara Jakarta yang prosesnya melabrak sejumlah aturan dan ada skandal suap di dalamnya (https://www.tempo.co/read/fokus/2016/05/04/3306/reklamasi-jakarta-melanggar-aturan). Ahok termasuk yang paling ngotot proyek itu harus terus berjalan. Walhi Jakarta menduga ada kaitan antara reklamasi dan penggusuran di kawasan tertentu, dan ada kepentingan pengembang di balik penggusuran-penggusuran tersebut (http://www.jawapos.com/read/2016/05/12/27997/walhi-cium-ada-kepentingan-pengembang-reklamasi-di-balik-penggusuran/2).

Kalau prestasi seorang pemimpin hanya dilihat dari keberhasilan merapikan tata kota serta administrasi pemerintahan, maka mengapa tidak kita undang Belanda untuk menjajah Indonesia sekali lagi? Pemerintah kolonial Belanda juga dulu memiliki banyak prestasi, mulai dari pembangunan jalan, rel kereta api, serta dalam kemajuan ekonomi. Mengapa dulu kita perlu bersusah payah dan berkorban mengusir penjajah dari negeri ini? Toh mereka punya banyak prestasi dalam membangun negeri ini.

Ada beberapa hal lain yang akan terlalu panjang jika disebutkan semuanya di sini. Sekadar menyebutkan sekilas, Ahok kerap berkata kasar dan tidak pantas di ruang publik. Ia diduga terlibat beberapa kasus korupsi seperti pada kasus Rumah Sakit Sumber Waras, reklamasi Pantai Utara Jakarta, dan beberapa kasus lainnya. Ia selalu menyalahkan pihak lain dan hampir tidak pernah mengakui kesalahan dan minta maaf. Ahok juga berkali-kali ditolak dan diusir warga saat sedang berkunjung ke kawasan tertentu. Orang Indonesia biasanya sangat penyabar. Kalau mereka sampai berkali-kali mengusir gubernurnya, bukankah sudah seharusnya si gubernur melakukan introspeksi diri dengan sungguh-sungguh. Bagaimana dia bisa memimpin Jakarta dengan baik jika dibenci oleh banyak warganya sendiri?

Akhirnya, seperti yang ditulis oleh Denny JA baru-baru ini demonstrasi atau Aksi Bela Islam yang terjadi tanggal 4 November 2016 merupakan akumulasi dari kemarahan warga yang sudah bertumpuk-tumpuk terhadap Ahok.

Penistaan Al-Quran yang dilakukan oleh Ahok adalah puncak dari berbagai tingkah polah gubernur yang telah menzalimi dan menyakiti hati masyarakat. Kasus penistaan Al-Quran ini dipandang sudah sangat melewati batas. MUI sendiri menyatakannya sebagai bentuk penistaan. Kasus ini tidak hanya menimbulkan kemarahan Muslim di Jakarta, tetapi juga di kota-kota dan negeri-negeri lain. Kemarahan ini akan terus membesar dan bisa berdampak buruk bagi Indonesia, kecuali sumber masalahnya dibereskan: Ahok segera dihukum atas perbuatannya.

Jadi, apakah kita perlu membela (agama) Allah? Jawabannya adalah ya, perlu. Agar perbuatan ini menjadi saksi bahwa kita tidak diam dan kita memilih untuk berada di pihak-Nya; agar kelak kita pun layak untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Dan supaya setelah ini tidak ada lagi warga lemah dan miskin yang digusur secara zalim oleh si ‘Gubernur Podomoro’.*

Penulis Kandidat Doktor IIUM*/hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom

Editor:

***

Mungkinkah Menistakan Agama? Sebuah Jawaban untuk Prof. Sarlito

aksi-4-november

Aksi 4 November via MerahPutih.com

Sebuah artikel pada laman Selasar.com yang bertajuk “Mungkinkah Menistakan Agama?” yang ditulis oleh akun Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, cukup membuat saya terhenyak. Ini tidak disebabkan artikel tersebut dimuat sehari sebelum jadwal aksi sebagian masyarakat pada Jumat, 4 November 2016, tetapi lebih disebabkan muatan artikel yang mengandung terlalu banyak kekeliruan.

Kekeliruan ini bukan karena opini beliau tidak populer, sebagaimana beliau akui sendiri, melainkan karena isi tulisan mengandung kelemahan akademik fatal. Ini setidaknya bisa dipahami lantaran Prof. Sarlito mengulas sesuatu yang melampaui kompetensi akademik beliau.

Sebagai sesama civitas akademika yang lebih junior dari segi usia dan jenjang akademik dibandingkan Prof. Sarlito, saya tentu mesti lebih banyak belajar kepada beliau. Sebagai proses pembelajaran dan bentuk apresiasi pada beliau, sebuah tradisi “peer-review” coba saya hidupkan tanpa keluar dari koridor etika akademik melalui kritik atas beberapa bagian dalam tulisan Prof. Sarlito tersebut.

“Sebagai proses pembelajaran dan bentuk apresiasi pada beliau, sebuah tradisi “peer-review” coba saya hidupkan tanpa keluar dari koridor etika akademik melalui kritik atas beberapa bagian dalam tulisan Prof. Sarlito tersebut”

Pertanyaan yang Keliru

Kekeliruan awal yang bisa ditangkap justru pada relevansi antara judul dan isi artikel. Dengan mengangkat “Mungkinkah Menistakan Agama?” saya memiliki ekspektasi bahwa Prof. Sarlito akan menguraikan kemungkinan kesalahan interpretasi atas ucapan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur DKI Jakarta, beberapa waktu lalu di Kabupaten Kepulauan Seribu ketika mengutip Surah Al-Maidah (5): 51 waktu lalu.

Namun, perkiraan saya meleset. Isi artikel justru memuat isu-isu lain yang berkaitan dengan kemungkinan penistaan agama tetapi tidak menjadi fokus yang seharusnya tertuju pada esensi judul artikel. Awal isi artikel justru mempertanyakan, “Mungkinkah membela agama?” yang sebenarnya merupakan counterpart dari “Mungkinkah menistakan agama?”. Ini mungkin bisa dianggap sebagai suatu pendekatan tulisan.

Namun, yang menjadi implikasinya, mempertanyakan “Mungkinkah membela agama?” memiliki bangunan argumentasi esensial yang berbeda dengan pertanyaan “Mungkinkah menistakan agama?”. Jelas, obyek pertanyaannya saja berbeda. Menurut kacamata saya, Prof. Sarlito telah mengajukan pertanyaan yang keliru bahkan sejak sebelum beliau menulis argumentasinya sendiri.

Tuhan Tak Perlu Dibela?

Pertanyaan Prof. Sarlito selanjutnya, “Sebegitu lemahkah Tuhan dan Agama sehingga memerlukan pembelaan dari umatnya?” menjadi lebih tidak relevan lagi dengan pertanyaan sebelumnya. Dengan segala keterbatasan saya dan posisi saya yang bukan Tuhan dan bukan penggagas agama, terhadap pertanyaan Prof. Sarlito tersebut, saya hanya menyarankan agar beliau mengajukan pertanyaan tersebut kepada Tuhan sendiri yang membuat agama.

“Jika beliau mau rajin sedikit menelisik surat-surat dalam Al Quran, jawaban dari Tuhan tentu akan dengan mudah ditemukan”

Jika beliau mau rajin sedikit menelisik surat-surat dalam Al Quran, jawaban dari Tuhan tentu akan dengan mudah ditemukan. Tanpa retorika soal tafsir yang muluk-muluk, Surah At Taubah (9): 111 atau Surah Ash-Shaf (61): 4, 10—14 memposisikan pembelaan agama ini pada sisi kepentingan hamba agar mereka menunaikan kewajiban pembelaan agama sebagai salah satu bentuk pembuktian kebaktian kepada Tuhan.

Ini tidak menihilkan klaim bahwa Tuhan Maha Perkasa dan tidak perlu dibela. Namun, karena Tuhan tidak akan mengadili hamba-hamba-Nya tanpa proses pengadilan berbasis pembuktian di akhirat nanti, upaya pembuktian terbalik mesti dilakukan hamba selama di dunia. Begini perspektif Al Quran sejauh yang saya pahami.

Jika Prof. Sarlito tidak tertarik menelusuri ayat-ayat pada surat lain dalam Al Quran terkait isu dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta, sebaiknya beliau membaca Surah Al Maidah tidak hanya ayat 51 tetapi bacalah juga mulai dari ayat pertama surat ini.

Dengan begitu, sebagai konstruksi firman Tuhan yang jalin-berkelindan, beliau akan menemukan alur dan konteks pembicaraan yang lebih utuh, misalnya isu “kewajiban tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan” pada ayat 2; klaim kesempurnaan, keutuhan, dan finalisasi Agama Islam (dengan nama definitif!) pada ayat 3; atau isu lain yang berdekatan, yakni kewajiban menegakan hukum Tuhan di muka bumi pada ayat-ayat 47—50!

Membela Orang Lemah dengan Penggusuran?

Upaya Prof. Sarlito mengalihkan bentuk “pembelaan” agar diarahkan pada orang lemah dan tak berdaya, orang fakir, dan yatim piatu berada di luar konteks pembicaraan mengenai “pembelaan agama” yang beliau sendiri singgung di awal artikel. Membela dan menunaikan hak-hak orang fakir-miskin, yatim-piatu, dan kalangan lemah tentu saja merupakan ajaran Islam, misalnya melalui instrumen sedekah dan zakat yang juga disinggung oleh Prof. Sarlito.

Namun, Prof. Sarlito perlu ingat, setiap urusan dalam ajaran Islam memiliki dalil dan perangkat hukum sendiri sehingga satu perkara tidak menegasikan perkara yang lain. Lebih dari itu, apakah beliau lupa bahwa sejak tahun lalu Gubernur DKI mengimplementasikan penggusuran atas sebagian penduduk Jakarta?

“Namun, Prof. Sarlito perlu ingat, setiap urusan dalam ajaran Islam memiliki dalil dan perangkat hukum sendiri sehingga satu perkara tidak menegasikan perkara yang lain”

Apakah beliau tidak mengerti bahwa penggusuran itu dilakukan dengan mengabaikan janji kampanye sang gubernur pada 2012 lalu untuk menggunakan pendekatan pembangunan yang partisipatif? Bagaimana pendapat beliau terhadap penggusuran yang mengabaikan supremasi hukum yang dijalankan lembaga peradilan terkait rencana penggusuran tersebut?

Klaim Negara dan Daerah Paling Islami

Prof. Sarlito tampak tidak kritis menelaah penelitian Washington University (2011) dan Maarif Institute (2015) yang dikutipnya, masing-masing memuat penilaian negara dan daerah yang dianggap paling Islami. Secara umum pola hasil penilian ini menempatkan negara-negara dan daerah-daerah berpenduduk mayoritas nonmuslim sebagai yang paling Islami, seperti Selandia Baru, Luxemburg, dan Denpasar pada urutan teratas.

Survei-survei yang menghasilkan indeks serupa sebenarnya berangkat dari identifikasi nilai-nilai universal yang ditemukan dalam Agama Islam, seperti keadilan, persamaan di hadapan hukum, penghormatan atas nilai-nilai kemanusiaan, dan sebagainya.

Namun, jika kita sepakat bahwa nilai-nilai universal ini juga dianut oleh agama-agama lain, kita pun bisa melabeli Selandia Baru, Luxemburg, atau Denpasar, masing-masing sebagai negara-negara dan daerah paling kristiani, paling budhist, atau paling hindi. Lebih dari itu, nilai-nilai universal hanya berhenti pada tataran yang tidak operasional.

Ketika nilai-nilai ini hendak diterapkan, berlaku pula kontekstualisasi nilai-nilai universal berdasarkan corak keberagaman masing-masing negara dan daerah, melingkupi faktor-faktor sejarah, sosial-politik kebangsaan, tingkat ekonomi, dan lain-lain. Pada titik inilah survei atau indeks ini-itu sebenarnya justru mengabaikan nilai-nilai pluralitas itu sendiri.

Reformasi Gaya Ahok

Terhadap apreasiasi Prof. Sarlito pada sosok pribadi, kepemimpinan, dan kinerja Basuki Tjahaja Purnama, saya sudah menguraikannya lebih dulu pada laman Selasar.com ini bertajuk “Bureaucracy dan Reformasi Gaya Ahok”. Ini saya tulis dengan segala proses pembelajaran saya selaku akademisi dalam ilmu administrasi publik dan konsultan kebijakan reformasi birokrasi.

Tafsir Al-Quran ala Prof. Sarlito

Aspek ulasan lain dalam tulisan Prof. Sarlito adalah pembahasan beliau mengenai kandungan Surah Al-Maidah (5): 51 yang pengutipannya oleh Gubernur DKI Jakarta memicu reaksi kritis sebagian masyarakat Indonesia, tidak hanya Jakarta. Saya memandang, beliau tidak berada dalam kapasitasnya sebagai ahli tafsir Al Quran.

Namun, karena ulasan beliau sudah terlanjur ditulis, saya perlu menanggapinya cukup dengan perspektif awam dalam urusan agama. Begini, dengan menyatakan “Maksudnya, setiap golongan sudah ada pemimpinnya masing-masing. Kalau kita memilih pemimpin Nasrani atau Yahudi, kita akan menjadi bagian dari mereka. Bukan bagian dari umat Islam lagi”, Prof. Sarlito seolah menegaskan bahwa ayat ini menyangkut pengangkatan kepemimpinan umat, pemimpin agama.

Ada tiga kekeliruan ulasan beliau. Pertama, pemimpin agama sebagai elite tersendiri dalam masyarakat tidak dikenal dalam Islam. Sekali pun beliau merujuk pada buku-buku yang mengulas politik dan pemerintahan Islam, mulai dari yang ditulis Imam al-Mawardi dengan Al-Ahkam As-Sulthaniyah atau Imam Ibn Taimiyah dengan As-Siyasah Asy-Syar’iyyah, hingga Dhia’uddin Rais tentang Fiqh Politik atau Yusuf al-Qaradhawy tentang Fiqh Negara, Prof. Sarlito akan menemukan simpulan umum bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan sipil, bukan kepemimpinan agama.

Ini berlaku bahkan di kalangan sebagian umat Islam yang meyakini Islam telah memiliki konsepsi negara Islam tersendiri. Uraian Prof. Sarlito yang membatasi ruang lingkup kepemimpinan hanya pada urusan agama dan keumatan jelas tidak relevan dengan alur dan konteks Surah Al Maidah.

Kedua, dengan membatasi kepemimpinan hanya pada lingkup agama dan keumatan, Prof. Sarlito telah memandang agama ini sebagai entitas sektarian, seolah-olah Islam hanya mengatur urusan Umat Islam sendiri. Prof. Sarlito mungkin lupa, bahwa sejak awal pendirian negara Madinah oleh Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau telah mengakomodasi hak dan kewajiban Umat Yahudi dan Nasrani secara berimbang secara hukum dan ekonomi bersama Umat Islam kala itu.

“…dengan membatasi kepemimpinan hanya pada lingkup agama dan keumatan, Prof. Sarlito telah memandang agama ini sebagai entitas sektarian, seolah-olah Islam hanya mengatur urusan Umat Islam sendiri”

Ketiga, seperti diuraikan di muka, ayat ke-51 Surah Al Maidah ini mesti dipahami dalam alur dan konteks pembicaraan ayat-ayat sebelumnya, mulai dari ayat ke-1 hingga ke-50; minimal seperti itu.

Jelas, esensi ayat ke-51 itu tidak mengulas dikotomi kepemimpinan umat Islam dan umat lainnnya, tidak pula mengulas soal transfer dan asosiasi sosiologis identitas personal pada grup tertentu.

Ah, maaf, soal tafsir ini mungkin Prof. Sarlito sedang tidak sependapat dengan salah satu pendukung Ahok yang menyebutkan bahwa hanya Tuhan yang tahu tafsir atas firman-Nya sendiri.

Saya masih berharap agar bisa belajar banyak dari Prof. Sarlito, baik ilmu pengetahuan maupun wawasannya. Ini masih dengan catatan, beliau bersuara dengan obyektivitas keilmuan beliau sendiri dan tidak terbawa arus opini yang berkembang tak terkendali. Semoga.*/selasar.com – Jumat, 04 November 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 16.383 kali, 1 untuk hari ini)