Sebelumnya, saya mau perkenalkan dulu istilah atau term yang biasa digunakan para pedagang sarung di Jakarta, terutama para pedagang Betawi atau blesteran Betawi. Yaitu term ‘rame’. Rame di artian kita, adalah ‘laris’. Jadi nanti kalau Anda kulakan bahan di Tanah Abang misalnya, ditanya ‘toko rame bang?’, maka jangan difahami maksudnya banyak pengunjung. Juga kalau Anda dagang online ditanya begitu, maksudnya bukan banyak visitor. Tapi maksudnya, “Dagangan ente laku keras, Bang?”

Kalau di dunia sarung, pembelian secara kuantitas bisa ‘eceran’ atau ‘ketengan’, bisa juga ‘grosiran’. Nah, harga ngecer sama grosir ya mesti beda lah. Tapi, ukuran grosir buat sarung itu bukan ‘lusinan’ (12 item), melainkan ‘kodian’ atau ‘setengah kodian’ atau ‘bale’ (bacanya: bal).

Kalau Anda minat dagang sarung, harus faham terms di atas.

Karena, ketika pedagang grosiran tahu Anda tidak faham hal-hal itu, berarti Anda seorang noob alias nubie. Orang baru. Ya gampang kena harga tinggi. Jadi bukan gaya semata yang dilihat, melainkan isi dan pemahaman.

Pasalnya begini, kalau Anda datang ke pasar grosir belagak sudah banyak tahu secara sudah lama dagang barang non-sarung, tapi ketahuan tidak faham hal di atas, Anda akan tetap diberi harga lebih tinggi daripada harga normal grosiran. Misal: datang petantang petenteng jumawa gede nanya-nany sarung lalu bilang, “Gan, ane beli selusin deh Atlas Legenda.” Ini ketahuan sekali tidak paham.

Sarung itu satu kardus isi 10 pcs. Ini namanya setengah kodi.
Kalau beli dua dus (20 pcs) barulah dinamakan sekodi.
Kalau beli 3 dus dinamakan sekodi setengah.

Mari menuju topik sebenarnya. Sarung apa yang paling laris di Indonesia (menurut saya)?

Jawabannya adalah ATLAS FAVORIT.

Atlas Favorit adalah sarung standar kelas ekonomi milik Atlas. Produksi Behaestex. Soal kualitas, bisa dibilang yang paling rendahnya Atlas (walau ada yang lebih rendah lagi, seperti Atlas Legenda, Habibi, Madani, Melayu, Andalas, Jizan, Serumpun etc.) Kerapatan benang: 4250.

Disebut Favorit karena memang sedari lama, sarung ini paling laris. Sehingga menjadi favorit. Buat bagi-bagi, sarung ini sudah terkesan lumayan, karena brand Atlas, yang memang menjaga kualitas.

Bagaimana dengan motif?

Dahulu, sebagaimana umumnya jenis sarung Atlas, motifnya hanyalah kombinasi kotak-kotak. Sarung bermotif kotak-kotak memang dirajai dan dipioneri oleh Atlas. Karena itu, kalangan tua biasanya lebih memilih Atlas dibandingkan lainnya. Dan luar biasanya lagi, ada istilah “Atlasan”. Istilah ini adalah istilah untuk sarung bermotif kotak-kotak. Sekalipun mereknya misal Gajah Duduk, sebagian kalangan menamainya Atlasan.

Nah kini, Atlas Favorit tidak hanya bermotif kotak-kotak. Walau iya, masih didominasi motif itu. Tapi dari segi kemasan, Atlas Favorit berkembang ragamnya. Ada yang dusnya berwarna hijau (populer dari dulu), kini ada yang berwarna hijau toska, putih remang, kuning dan biru.

Motif pun beragam: satu dus (isi 10 pcs) bermotif KOM (Kombinasi). Ada juga dus lain bermotif KPL (Kombinasi Pelangi). Ada juga IST (Istanbul). Ada WPL (Warna Polos) atau HPL atau PPL. Ada juga TDP (Tumpal Dobby Polos). Ada juga GRM (Gerimis). Ada juga motif Es Lilin, baik EPL atau ESW. Ada juga motif MDS (Madras). Dan seterusnya.

Dari semua jenis dan merek sarung, Atlas Favorit peredarannya paling luas, paling banyak dan paling laris. Apalagi Ramadhan ini, seluruh cabang Alfamart menjual Atlas Favorit. Satu cabang jual 10 pcs. Bayangkan jika misal ada 5.000 cabang Alfamart.berarti butuh stok 50.000 pcs. Itu baru sektor Alfamart yang skalanya masih kecil.

Belum lagi sektor pasar grosiran seperti Tanah Abang. Tiap toko sarung pasti mengedarkan Atlas Favorit. Kadang satu toko punya stok dalam satu waktu: 1.000 pcs Atlas Favorit alias 10 bale. Dan itu perputarannya cepat.

Saya belakangan menelusuri pasar pedesaan. Merasuk ke sektor pakaian dan busana muslim. Ada puluhan ruko. Dan kesemuanya masih punya stok Atlas Favorit. Ini baru sektor desa

Kalau kita tarik kesimpulan global, Wadimor tahun ini kembali menang, disebabkan 2 faktor: iklan dan ragam motif. Tapi kalau dari segi rinci jenis, Atlas Favorit menang. Mengalahkan jenis sarung Atlas apapun. Juga mengalahkan jenis sarung Wadimor manapun. Wadimor Bali atau Bali Moon konon terlaris di bawah nama Wadimor. Tapi Atlas Favorit lebih kencang lagi peredarannya.

Keunggulan lain yang membuat Atlas Favorit rame adalah setiap seri dus, selalu menghadirkan model yang berbeda, walau motifnya sama: kombinasi kotak-kotak. Misal, Anda beli 2 bale alias 20 dus alias 200 pcs. Anda akan menemukan hampir semuanya berbeda. Keunggulan dan kekayaan ini membuat sarung ini paling enak buat bagi-bagi.

Berangkat dari observasi karbitan saya, maka hadirlah kesimpulan: Atlas Favorit adalah sarung paling rame di tanah air.

Insya Allah saya tetap terus jualan sarung. Dan tetap, produk Behaestex saya nomorsatukan. Tolong dimaklumi, kalangan sarungan jadul memang banyak yang fanatik dengan Atlas, including me. Nanggroe Sarung, pilihan untuk dipilih

Via Fb Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimmunkar.com)

(Dibaca 2.654 kali, 1 untuk hari ini)