foto surat/ publik-news.com


Di hari santri nasional, Said Aqil Siradj (SAS) dikritik orang, tapi baru soal celaan SAS terhadap jenggot.

(Lihat link ini: https://www.nahimunkar.org/video-protes-keras-bupati-lampung-selatan-ganti-said-agil-siradj-yang-sudah-ngaco-itu/ ).

Anehnya, para fanatikusnya membela SAS. Itu (pembelaan terhadap tokoh yang mengkritik jenggot itu) namanya ashobiyah atau fanatisme golongan. Padahal masalah jenggot itu adalah ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

خَالِفُواالْمُشْرِكِيْنَ أَحْفُواالشَّوَارِبَ وَأَوْفُوااللِّحَى

“Artinya : Selisihilah orang-orang musyrik, potonglah kumis (hingga habis) dan sempurnakan jenggot (biarkan tumbuh lebat,-peny)’ [Shahih Al-Bukhari, kitab Al-Libas (5892, 5893), Shahih Musim, kitab Ath-Thaharah (259)].

Di dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “(artinya) : Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot memanjang, selisihilah orang-orang Majusi” Shahih Muslim, kitab Ath-Thaharah (260)].

Imam An-Nasai di dalam sunannya mengeluarkan hadits dengan sanad yang shahih dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ لَمْ يَأْ خُذْ مِنْ يَأْخُذْ مِنْ شَارِبِهِ فَلَيْسَ مِنَّا

“Artinya : Barangsiapa yang tidak pernah mengambil dari kumisnya (memotongnya), maka dia bukan termasuk dari golongan kami” [ Sunan At-Turmudzi, kitab Al-Adab (2761), Sunan An-Nasai, kitab Ath-Thaharah (13) dan kitab Az-Zinah (5047)]

Al-Allamah besar dan Al-Hafizh terkenal, Abu Muhammad bin Hazm berkata, “Para ulama telah besepakat bahwa memotong kumis dan membiarkan jenggot tumbuh adalah fardlu (wajib)”.

Jadi yang membela SAS pengkritik jenggot, itu pembelaannya merupakan tingkah ashobiyah yang sangat dicela dalam Islam. Karena Nabi shallalu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dengan tegas.

وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Dan barangsiapa mati di bawah bendera fanatisme, dia marah karena (fanatik) golongan atau karena ingin menolong (fanatisme) golongan kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. [HR. Muslim No.3437].

Di samping kasus jenggot, masih ada kesempatan lain untuk menjelaskan kasus “SAS jadi pembina sekolah Kristen di Bandung”. Satu sisi SAS jadi pengurus YPPI, Yayasan Peduli Pesantren Indonesia; tapi sisi lain dia jadi pembina sekolah Kristen di Bandung.. Sampai kini tmpaknya masih didiamkan. (lihat link ini: https://www.nahimunkar.org/selain-menjadi-pengurus-yppi-aqil-siradj-menjadi-pembina-sekolah-kristen/ ).

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 823 kali, 1 untuk hari ini)