• Terjadi di Kendal Jawa Tengah, pada hari Rabu 8 April 2013 waktu Magrib.

 Dalam Islam, lewat di depan orang yang sedang shalat saja ancamannya sangat berat. Ini malah orang sedang shalat, langsung ditelungkupkan dan diikat.

Pelakunya itu jelas syetan. Karena dalam hadits, orang yang lewat di depan orang shalat saja ketika dicegah tidak mau, maka agar diserang, karena dia adalah syetan. Disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

Maka sesungguhnya dia itu adalah syaitan.

Larangan keras lewat di depan orang shalat ditegaskan dalam hadits Abu Juhaim ibnul Harits radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيْ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ قَالَ أَبُو النَّضْرِ لَا أَدْرِي أَقَالَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا أَوْ شَهْرًا أَوْ سَنَةً

“Kalau saja orang yang lewat di depan orang yang shalat mengetahui dosa apa yang didapatkannya, pastilah dia berdiri menunggu selama empat puluh adalah lebih baik baginya daripada dia lewat di depan orang yang shalat tersebut.” Abu An Nazhr (salah seorang perawi) berkata: “Saya tidak tahu, apakah dia berkata empat puluh hari, bulan, ataukah tahun.” [HR Al Bukhari (510) dan Muslim (507)]

Di dalam hadits yang lain, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

“Apabila salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasi kalian dari manusia (sutrah), lalu ada seseorang yang ingin melintas di hadapanmu, maka cegahlah dia. Apabila dia enggan, maka cegahlah dengan lebih keras lagi karena sesungguhnya dia itu adalah syaitan.” [HR Al Bukhari (507) dan Muslim (505) dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu.]

Sengaja menelungkupkan orang yang sedang shalat dan mengikatnya, bagaimanapun adalah tingkah yang lebih keji dibanding ancaman dalam hadits yang menyebut syetan atas orang yang tetap tidak mau dicegah ketika mau lewat di depan orang shalat. Maka apabila kejahatan terhadap orang yang sedang shalat itu tidak diusut, dibiarkan oleh para pemimpinnya, otomatis para pemimpin itu juga pemimpin syetan. Sedang syetan adalah musuh, bahkan terkututuk dan mengajak golongannya ke neraka.

{إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ} [فاطر: 6]

6. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS Fathir/ 35: 6).

Inilah beritanya.

***

Saat Sholat Maghrib, Iwan Diculik Gerombolan Tak Dikenal

Publikasi: Jum’at, 29 Jumadil Akhir 1434 H / 10 Mei 2013 13:25

 anggota gerombolan

Anggota Gerombolan di Depan Rumah Iwan

JAKARTA (an-najah) – Di ruang redaksi an-najah.net, Cibubur Jakarta Timur, Jumat (10/05) redaksi menerima surat pernyataan dari Islamic Study and Action Centre (ISAC) yang menyatakan ada salah seorang warga Kendal yang menjadi korban penculikan gerombolan tak dikenal. Berikut pers rilis yang diterima an-najah.net:

The Islamic Study and Action Centre (ISAC)

Kronologi Penculikan
Kejadian di rumah kontrakannya di desa Tambaksari R 2 Rw 1 Rowosari Kendal, pada hari Rabu 8 April 2013 waktu Magrib. Iwan adalah panggilan dari Purnawan Adi Sasongko.

Menurut Sumber dari Keluarga Iwan, bahwa menjelang maghrib Iwan baru saja pulang dari kerja kemudian masuk rumah. Iwan kemudian Iwan langsung ke kamar mandi, dan menunggu ke-2 anaknya yang masih berusia 6, 4 dan 1 tahun. Iwan berkeluh pada istrinya bahwa Ia terasa sakit. Kemudian istrinya menanyakan kepada Iwan mau sholat maghrib di Masjid atau di rumah. Kemudian Iwan memutuskan untuk sholat maghrib di rumah. Sebelum Sholat Iwan di minta istri makan dulu.

Ketika Iwan sedang menunaikan sholat maghrib, kemudian terdengar suara dobrakan dari pintu depan dan suara tembakan 2 kali. Pintu belakang dan samping juga di dobrak. Kemudian masuklah beberapa orang dan langsung membawa Iwan yang sedang melaksanakan sholat maghrib.

Spontan ke-2 anaknya langsung berteriak menangis histeris. Namun justru anak yang usia 6 tahun ini dibentak sisuruh diam dan ditodong dengan senjata. Istri mau berdiri tapi tidak boleh. Kemudia Iwan diikat dengan tali yang berwarna putih. Sementara itu diluar sudah disiapkan mobil sebanhyak 5 buah. Diceritakan pula bahwa lemari sudah berantakan.

Gerombolan Penculik Membawa Paksa Handphone milik Iwan
Ketika Iwan sudah diluar, 1 orang di dalam rumah menanyakan alat komunikasi kepada istrinya. Dijawab istri Iwan kalau HP nya didepan TV, kemudian HP diambil dengan tanpa ijin.

Ciri-Ciri Gerombolan Penculik
1. Membawa senjata api
2. Memakai tutup kepala/muka
3. Tidak menggunakan seragam polisi
4. Memakai rompi

Ketika di konfirmasi ke Polres Kendal melalui Kasat Intel AKP Abdullah, ternyata Iwan tidak berada di Polres Kendal. Keluarga juga tidak diberi surat penangkapan maupun surat penyitaan.

Terkait hal ini ISAC meminta kepada :
1. Kapolri untuk menjelaskan status Iwan apakah ditangkap Densus 88 atau tidak, serta memberikan rasa aman dan nyaman kepada setiap warganya termasuk anak-anak.
2. Kepada Komnas HAM untuk terjun dilapangan, untuk olah TKP atas dugaan pelanggaran HAM
3. Kepada Komnas Perlindungan Anak untuk aktif merespon atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak khususnya pasal 80 UU Perlindungan Anak.

Solo, 9 Mei 2013
Sekretaris ISAC

Endro Sudarsono, S.Pd

***

Drama Penangkapan ‘Teroris’: Satu Jam yang Menegangkan di Kendal

Publikasi: Jum’at, 29 Jumadil Akhir 1434 H / 10 Mei 2013 13:08

 

(An-najah) – Kamis, 9 Mei 2013, waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi, kami berangkat menuju Desa Tambaksari RT 02 RW 01. Ternyata rumah yang dikontrak sepasang suami istri bernama Purnawan Adi Sasongko dan Rini berada di pinggir jalan utama Weleri – Sendang Sikucing, Kendal. Hingga kami tidak kesulitan mencarinya. Namun karena ramainya rumah yang malamnya sempat menggemparkan warga setempat karena ada penangkapan terduga teroris membuat kami urungkan niat sementara ke rumah tersebut dan kami meluncur ke rumah Kepala Desa.

Kedatangan kami disambut baik oleh Kepala Desa, walau sebenarnya beliau masih mengantuk disebabkan berjaga sepanjang malam di area penangkapan terduga teroris itu. Dengan ramah dan santai bapak kepala Desa menceritakan sejak awal mula kejadian. Berikut ini beliau menuturkan:

“Selesai adzan maghrib, kami seluruh warga melakukan shalat. Ada yang di rumah dan ada yang di mushala. Kebetulan kami sendiri shalat di rumah. Namun ketika di rakaat ketiga kami dikejutkan dengan dua kali suara tembakan.

Istri saya segera keluar rumah tapi segera kembali masuk dan melihat ke kamarnya seraya menunggu saya selesai shalat. Begitu salam, istri langsung bilang bahwa dia mendengar suara tembakan dua kali. Maka saya pun segera keluar menuju jalan raya.

Begitu sampai di jalan saya langsung ditodong senjata laras panjang oleh petugas berpakaian serba hitam dan kepala bertopeng seraya berkata: “Masuk! Jangan mendekat ke sini!”. “Lho, saya ini kepala Desa di sini,” kata kepala Desa. “Sudah pokoknya pergi sana, tidak usah dekat-dekat sini!”, bentaknya lagi sambil senjatanya ditodongkan ke arah Kepala Desa.

Rupanya mereka telah mensterilkan rumah terduga teroris dalam jarak radius 100 meter. Semua kendaraan yang hendak ke arah Weleri atau Sendang Sikucing dialihkan ke gang-gang sempit. Hingga nasib naas terjadi pada seorang pemuda yang memacu kendaraannya agak kencang. Sebab begitu sampai pada radius seratus meter itu dia langsung dibentak dengan teriakan: “Berhenti!”.

Karena tidak bisa mengerem mendadak, maka langsung saja petugas berseragam serba hitam itu menendang motor si pemuda tadi hingga terjatuh.

Si pemuda itu langsung bangkit dan lari meminta bantuan pada kepala RW  setempat, karena dikira ada perampokan. Maka Pak RW pun keluar ingin memastikan apakah benar ada perampokan. Namun, begitu sampai dilokasi pensterilan, lagi-lagi pak RW juga kena todongan senjata dengan mengatakan: “Pergi dari sini dan menjauhlah!”.

Tidak sampai satu jam misi mereka selesai dan langsung pergi begitu saja. “Mereka tidak membawa surat penangkapan atau surat-surat lainnya,” kata kepala Desa sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Begitu mereka pergi, saya langsung ke jalan ingin tahu ada apa sebenarnya? E .. e .. begitu tahu kalau saya sudah di jalan, masyarakat sekitar kejadian juga ikut keluar. Mereka semua cerita bahwa ketika mereka sedang shalat maghrib, mereka mendengar dua kali suara tembakan. Namun saat mereka hendak keluar rumah, mereka langsung ditodong senjata laras panjang dengan mengatakan “Masuk!”. Dengan nada bentakan.

E .. e .. belum sempat kami dan warga berngobrol ria, tahu-tahu mobil pembawa pasukan hitam itu kembali datang dan masuk ke rumah mbak Rini. Tidak lama kemudian mereka pergi lagi dan melambaikan tangan sambil berkata: “Terima kasih, pak”.

Dari situlah saya tahu ternyata yang digrebek adalah rumahnya mbak Rini. Maka segera saja saya dan pak RW 1 mendatangi rumah mbak Rini. Mbak Rini menyambut kami dengan baik. Lalu tetangga sebelahnya mbak Rini juga ikut dan menceritakan tentang rumahnya yang disatroni juga.

Pak Slamet, tetangga terduga teroris, saat itu juga sedang shalat di rumahnya ketika ada suara tembakan dua kali. Bahkan dalam hitungan detik, rumahnya langsung dimasuki mereka tanpa permisi. Begitu selesai shalat pak Slamet segera bangkit untuk marah pada tamu tak diundang itu. Namun kenyataannya justru pak Slamet yang berbalik pucat. Sebab dia ditodong senjata laras panjang dan dibentak: “Masuk!”

Sampai di belakang rumah pak Slamet petugas meloncat ke arah rumah mbak Rini. Dari pintu belakang mereka mendobrak paksa pintunya dan masuk.

Begitu mendapati Purnawan Adi Sasongko sedang shalat langsung ditelungkupkan dan diikat pakai tali. “Ini menurut pengakuan mbak Rini,” kata kepala Desa sambil menghisap rokoknya kembali.

Kepala Desa meneruskan ceritanya, “Lalu saya tanya pada mbak Rini. Apa saja mbak yang diambil?. Mbak bilang, tidak tahu. Yang jelas rumah diacak-acak.”

“Lho, kan setelah itu masuk lagi?”, tanya kepada Desa pada mbak Rini. “Oh, itu kembali lagi untuk minta hp saya. Saya bilang, pak ini untuk komunikasi saya dan milik saya bukan milik suami, “kata mbak Rini sebagaimana dituturkan kepala Desa.

“Ah … gampang itu, “jawab petugas yang ditirukan mbak Rini.

Begitulah cerita kepala Desa dengan kami yang hampir sejam, sama dengan kejadiannya yang juga hampir sejam. Lalu kami undur diri dan segera meluncur ke rumah mbak Rini. Namun sayang, mbak Rini masih enggan menerima wawancara dengan kami. Mungkin msih syok. Lalu kami segera menuju ke Limpung. (Agus Saiman & Mr. Jan/an-najah).

***

 

Firman Allah Ta’ala:

{وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ } [البروج: 8]

8. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, (QS AL-BURUJ/ 85: 8)

{لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا} [المائدة: 82]

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS AL-MAAIDAH: 82.)

Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam

 

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

 

(nahimunkar.com)

 

 

 

(Dibaca 1.285 kali, 1 untuk hari ini)