Satelit Indonesia Meledak dengan Roket China Zaman Jokowi, dan RI Kehilangan Satelit Zaman Megawati

Inilah beritanya.

***
Satelit N2 Gagal Orbit, Roy Suryo: Tragedi Terbesar RI Kehilangan Satelit saat Megawati Jual Indosat

 
 

“Ekonomi Gagal Meroket. Satelitnya Gagal Mengorbit”. Tulisan itu terpampang di lini masa akun @NOTASLIMBOY, milik komedian stand up Sam Dharmaputra Ginting atau Sammy Comic.

@NOTASLIMBOY  mengomentari Satelit Palapa N-1 atau Nusantara Dua yang gagal mengorbit setelah roket pembawa, Long March-3B (Chang Zheng-3B) meledak.

Satelit yang dioperasikan PT Palapa Satelit Nusa (PSN) dan Indosat Ooredoo ini terjatuh saat diluncurkan dari Xichang Satellite Launch Center (XLSC) di Xichang, Provinsi Sichuan, China, Kamis (09/04)

Ungkapan sejenis dilontarkan aktivis sosmed Utuh Wibowo. Di akun @UtuhWibowo, Utuh menulis: “Ekonomi gagal meroket. Satelitpun gagal meroket. Miris dua-duanya tekor!”

Mantan Menkominfo Roy Suryo mencatat, Satelit N2 sedianya disiapkan untuk mengganti Palapa-D yang masa orbitnya akan berakhir Mei 2020.

“Tweeps, tragedi menimpa Satelit Nusantara Dua (sebelumnya disebut Palapa-N1) semalam, Satelit yang diluncurkan Xichang Satellite Launch Center di Xichang, China, meledak bersama Roket Long March-3B. Pemerintah tentu harus Antisipasi pengganti Palapa-D yang akan berakhir Mei 2020 yad,” tulis Roy di akun @KRMTRoySuryo2.

Roy Suryo mencoba menjawab rasa penasaran publik, mengapa N2 diluncurkan dari China, bukan Amerika Serikat atau Perancis.

“Tweeps, banyak yang bertanya mengapa diluncurkan dari China, bukan Cape Canaveral (AS) atau Guyana (Perancis) seperti yang lalu-lalu, kalau ini silakan tanya ke @kemkominfo yang semoga sudah tahu resikonya. Meski ada asuransi, tetapi pasti ada rugi waktu, tenaga dan beaya lain dengan tragedi ini,” tambah @KRMTRoySuryo2.

Sebagai tragedi kehilangan satelit, Roy Suryo menyebut tragedi terbesar kehilangan satelit saat penjualan Indosat di era Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2002.

“Tweeps, tapi tragedi terbesar ialah penjualan Indosat jaman Presiden Megawati tahun 2002, di mana Indosat ini induk dari Satelindo, operator satelit-satelit Indonesia dan otomatis Indonesia juga kehilangan satelit-satelit, faham? Ada janji mau buyback dari Presiden @Jokowi. Semoga janji ditepati!,” beber @KRMTRoySuryo2.

Pakar telematika Onno W. Purbo berpendapat bahwa peluncuran satelit mungkin lebih bagus menggunakan peluncur NASA atau Arian.

“Memang resiko satelit seperti itu..Mungkin pake peluncur NASA atau Arian agak lebih bagus,” tulis Onno di akun @onnowpurbo menjawab pertanyaan akun @NShofi_ yang bertanya soal gagalnya peluncurkan N2.[itoday]

DEMOKRASI News 
Sabtu, April 11, 2020I

***

Presiden Jokowi, Mana Janjimu Beli Kembali Indosat yang Dulu Dijual Megawati?


Markas PT Indosat Tbk dan Presiden Joko Widodo 

Pemerintah melalui Kementerian BUMN diminta merealisasikan janji Presiden Joko Widodo yang akan membeli kembali (buy back) saham mayoritas PT Indosat Tbk yang dijual pada era kekuasaan Presiden Megawati.

“Jangan hanya janji. Ketika kampanye, gencar berorasi hendak buy back Indosat. Kami menunggu aksi pemerintah (Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan),” kata anggota Komisi XI DPR Willgo Zainar di sela Rapat Kerja Komisi XI dengan Menteri BUMN dan Menteri Keuangan, di Gedung MPR/DPR-RI, Jakarta, Rabu (28/1/2015) malam.

Rapat tersebut membahas usulan pemberian dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp72 triliun perusahaan milik negara pada APBN-P 2015, di mana sebesar Rp 48,01 diantaranya dikucurkan kepada 35 BUMN. Willgo menyebutkan sudah saatnya Pemerintah membuktikan janjinya.

“Jika langkah (buy back) tersebut dapat dibuktikan, maka kita menjadi bangsa yang lebih terhormat,” ujarnya.

Pria yang merupakan politisi dari Fraksi Gerindra ini menuturkan, jika memang Pemerintah serius maka harus segera dieksekusi. “Pasti akan didukung seluruh fraksi,” ujarnya.

Terkait PMN yang diusulkan kepada sejumlah BUMN tersebut, Willgo tidak mempermasalahkannya asal diberi kepada perusahaan yang benar-benar membutuhkan yang didasari dengan rencana bisnis yang baik.

“Penambahan modal untuk perusahaan oke saja. Tetapi jangan pernah ada lagi kebijakan menjual BUMN seperti yang pernah terjadi pada Indosat,” tegasnya.

Sebelumnya pada “Debat Capres” pada Minggu, 22 Juni 2014, ketika itu Capres Joko Widodo mengatakan bahwa suatu saat akan membeli saham Indosat namun dalam harga yang wajar.

Menurut catatan, Indosat saat ini dikuasai perusahaan asal Qatar, Ooredoo Asia Pte Ltd, dengan kepemilikan saham sebesar 65 persen, pemerintah Republik Indonesia 14,29 persen, perusahaan Amerika Serikat Skagen sebesar 5,42 persen, selebihnya 15,29 persen dimiliki publik.

 

tribunnews.com – Kamis, 29 Januari 2015 08:34 WIB

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.827 kali, 1 untuk hari ini)