Satu kesedihan lain di tengah kesedihan orang-orang atas wafatnya para ulama


Ilustrasi. Kuburan. Foto/pxhere

Kerumunan sedang dilarang karena meningkatnya pandemi corona. Pagi2 keluargaku bilang ke anak, anterin ya, saya mau beli tanaman. (Di musim wabah corona ini rupanya ada yang digandrungi ibu2 bahkan sebagian bapak2 yaitu tanaman [hias] dan sepeda. Jadi pagi2 pun seorang ibu2 minta diantar anaknya untuk beli tanaman, itu wajar lah ya…).

Tapi dijawab oleh sang anak. Nanti saja Bu, karena sekarang lagi banyak orang. Pada ngrokok lagi. Banyak penjaga pula…

Ada apa memang?

Itu ada tokoh meninggal. Dikuburinnya di situ, dekat yang jual tanaman itu.

Mak deg… gugup saya, ketika mendengar itu. Jadi sedih tapi kesedihan lain. Berbeda dengan kesedihan orang2 yang lagi sedih, yang konon karena banyak ulama yang belakangan ini wafat.

Apa itu kesedihan lain?

Kuburan yang sudah ada penghuninya yang dianggap pentolan yang senantiasa dikunjungi ramai2 dan mereka ‘beribadah’ di situ, dikhawatirkan akan lebih dijadikan tempat ibadah lagi dengan adanya ‘pendatang baru’ yang mau dikubur di situ itu. (walau kini sementara sepi, bahkan pintu ke arah kuburan itu digembok yang dari arah jalan raya, karena lagi ada wabah corona, namun dikhawatirkan kuburan biasa namun sudah ada gejala dikeramatkan itu akan lebih dikeramnatkan lagi nantinya. Sedih lah hati ini).

Kenapa sedih?

Pernah ada pemuda aktif dalam keislaman yang tinggalnya dekat dengan kuburan itu bilang ke saya. Dia sengaja bertanya kepada para peziarah, untuk mengetahui jawaban mereka, kenapa mereka dari jauh2 datang ke kuburan ini, untuk minta apa ke siapa.

Jawaban yang didapat mengagetkan. Justru kebanyakan mereka mengaku, minta ke isi kubur yang mereka anggap punya kelebihan ini itu. Astaghfirullaah, na’udzubillahi min dzalik. Kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian!

Itulah yang sangat disayangkan, karena bisa merusak aqidah.

Untuk itu, silakan simak uraian seorang Ustadz yang tesisnya untuk meraih gelar MA di Universitas Islam Madinah berkisar mengenai masalah amaliah berkaitan dengan kuburan dan semacamnya, dalam uraian singkat berikut ini.

***

BERBAGAI JENIS ORANG YANG BERDOA DI KUBURAN DAN HUKUM MASING-MASING
Doa di kuburan ada beberapa jenis:

Pertama: Doa untuk meminta hajat kepada penghuni kubur, baik dia seorang nabi, wali atau yang lainnya. Ini jelas syirik akbar. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan,

وَاسْأَلُواْ اللّهَ مِن فَضْلِهِ“.

“Mohonlah pada Allâh sebagian dari karunia-Nya”. [An-Nisa’: 32]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewanti-wanti,

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه“.

“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allâh. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allâh”. [HR. Tirmidzi hal. 566 no. 2514 dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”]

Imam Ibn Abdil Hadi rahimahullah (w. 744 H) menerangkan bahwa berdoa memohon kepada selain Allâh hukumnya adalah haram dan dikategorikan syirik, berdasarkan ijma’ para ulama. [11]

Kedua: Menyengaja datang ke kuburan hanya untuk berdoa di situ, atau untuk ziarah kubur plus berdoa, dengan keyakinan bahwa doa di situ lebih mustajab, karena keistimewaan yang dimiliki tempat tersebut. Berdoa di situ lebih afdal dibanding berdoa di masjid atau rumah.

Potret ini mengandung unsur kesengajaan memilih kuburan sebagai tempat untuk berdoa. Dan ini tidak akan dilakukan melainkan karena dorongan keyakinan akan keistimewaan tempat tersebut dan keyakinan bahwa tempat itu memiliki peran dalam menjadikan doa lebih mustajab. Karena itulah jenis kedua ini menjadi terlarang dan dikategorikan bid’ah.

Tatkala berbicara tentang hukum shalat di kuburan, Imam as-Suyuthy rahimahullah menjelaskan, “Jika seorang insan menyengaja shalat di kuburan atau berdoa untuk dirinya sendiri dalam kepentingan dan urusannya, dengan tujuan mendapat berkah dengannya serta mengharapkan terkabulnya doa di situ; maka ini merupakan inti penentangan terhadap Allâh dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menyimpang dari agama dan syariatnya. Juga dianggap bid’ah dalam agama yang tidak dizinkan Allâh, Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para imam kaum muslimin yang setia mengikuti ajaran dan Sunnah beliau”. [12]

Ketiga: Berdoa di kuburan karena kebetulan, tanpa menyengaja. Seperti orang yang berdoa kepada Allâh di perjalanannya dan kebetulan melewati kuburan. Atau orang yang berziarah kubur terus mengucapkan salam kepada sahibul kubur, meminta keselamatan untuk dirinya dan para penghuni kubur, sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Jenis doa seperti ini diperbolehkan. Hadits yang memotivasi untuk mengucapkan salam kepada penghuni kubur menunjukkan bolehnya hal itu. Dalam hadits Buraidah bin al-Hushaib Radhiyallahu’anhu disebutkan,

أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ“.

“Aku memohon pada Allâh keselamatan untuk kami dan kalian“. [HR. Muslim (II/671 no. 975)].

Dalam hadits Aisyah Radhiyallahu’anhuma disebutkan,

وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ“.

“Semoga Allâh merahmati orang-orang terdahulu kami dan yang akan datang”. [HR. Muslim (II/671 no. 974)]

Doa yang tidak ada unsur kesengajaan biasanya pendek, sebagaimana disebutkan dalam dua hadits di atas. Jika ada yang ingin mempraktekkan doa jenis ketiga ini, sebaiknya ia mencukupkan diri dengan doa dan salam yang diajarkan dalam sunnah dan tidak menambah-nambahinya. Karena para ulama salaf membenci berdiam lama di kuburan.

Imam Malik rahimahullah (w. 179 H) berkata, “Aku memandang tidak boleh berdiri untuk berdoa di kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun cukup mengucapkan salam lalu berlalu”. [13]
Wallahu ta’ala a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XV/Syaban 1432/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote

[11]. Cermati: Ash-Shârim al-Munky (hal. 543) dan Shiyânah al-Insân karya as-Sahsawany (hal. 234).
[12]. Al-Amr bi al-Ittibâ’ (hal. 139). Lihat pula: Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm (II/193).
[13]. Asy-Syifâ’ karya al-Qadhi ‘Iyadh (II/85).

[HUKUM BERDOA DI KUBURAN Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA / https://almanhaj.or.id/3314-hukum-berdoa-di-kuburan.html, dikutip bagian akhirnya].

***

Nah. Itulah. Kami sedih, suatu kesedihan lain, di tengah kesedihan mereka.

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 187 kali, 1 untuk hari ini)