PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono menempuh lima jam perjalanan darat menuju Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, demi memenuhi undangan Keuskupan Ruteng. Hari ini, Jumat 19 Oktober 2012, akan digelar perayaan Yubileum 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai.

SBY menempuh jalan darat setelah mendarat dengan pesawat di Labuan Bajo, Manggarai Barat, pada Kamis siang. Kamis sore pukul 17.30 waktu setempat, SBY beserta rombongan tiba di Ruteng, disambut Bupati dan pimpinan daerah Manggarai lainnya diiringi tarian
adat penyambutan tamu.

Presiden SBY dan rombongan juga mendapat ucapan selamat datang dari delapan Uskup Agung di Indonesia termasuk Uskup Agung Pangkal Pinang dan Uskup Agung Bogor. Di depan rumah dinas Bupati tempat SBY menginap, Presiden diberi seekor ayam putih sebagai ucapan selamat datang dari seluruh suku di Manggarai.

“Kedatangan Presiden SBY ini untuk memenuhi undangan pihak Keuskupan Ruteng dalam rangka menghadiri perayaan Yubileum atau satu abad Gereja Katolik Manggarai. Selain itu SBY juga ingin melihat dari dekat potensi pertanian di Manggarai dan Manggarai Barat yang dikenal sebagai lumbung pangan Propinsi Nusa Tenggara Timur meski harus menempuh perjalanan darat selama hampir lima jam,” ujar juru bicara Presiden Julian Aldrin Pasha kepada VIVAnews di Ruteng.

Sejumlah pejabat negara juga turut hadir dalam kunjungan Presiden SBY ke Manggarai seperti Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhamad Nuh, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu serta Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi.

Sesuai Jadwal, Presiden SBY akan berpidato di Lapangan Motang Rua Jumat pagi ini. Setelah  itu Presiden akan melakukan penanaman pohon Yubileum dan penandatanganan Prasasti Keuskupan di Gereja Katedral Ruteng. (Pizaro/Islampos/Viva) 1 9 Oct 2012 | Berita Nasional | pizaro

***

Arti Jubileum

Jubileum adalah kata yang berasal dari kata Yobel yang artinya adalah tahun pembebasan. Tahun Yobel dirayakan tiap-tiap tahun kelima puluh dan dimeriahkan dengan membunyikan nafiri disertai pernyataan kemerdekaan. Semua orang yang tadinya diperhambakan beroleh kelepasan dan tanah-tanah yang tadinya telah beralih kepada orang lain selama masa penjajahan itu, dikembalikan kepada yang empunyanya. Imamat 25:8-16,23-55.

 Tahun Yobel ini merupakan perintah Tuhan kepada Musa untuk disampaikan kepada bangsa Israel untuk melakukan perhentian pada tahun keempat puluh sembilan atau tujuh kali tujuh tahun setelah tahun  sabat. Setiap orang tidak boleh melakukan pekerjaan karena itu merupakan hari bersukacita atau hari pembebasan dari ketertinggalan, kemiskinan bahkan hutang piutang. (Imamat 25 ).

     Membaca dan merenungkan kembali maksud Tuhan dalam nats Imamat 25 ini untuk mengadakan tahun Yobel, adalah suatu Refleksi yang dalam kepada kita. Tidak sekedar merayakan hari yang bersukacita, mengadakan pesta dan perlombaan. Namun bagaimana kita mensyukuri campur tangan Tuhan dan Bunda Maria atas berdirinya Paroki Santa Maria a Fatima Pekanbaru dan bagaimana kita juga menjalani kehidupan kita sebagai umat Katolik didalam mengemban 5 tugas Gereja.

Bedanya Ulang Tahun dengan Jubileum adalah: Ulang tahun biasanya dilaksanakan setiap tahun, sedang Jubileum dilaksanakan setiap beberapa tahun sekali. Oleh karena MOMENTUM JUBILEUM 60 tahun Paroki kita ini harus kita jadikan “Titik Tolak” kita Bangkit menuju Paroki yang Mandiri dan Berbuah.

http://jubileum60santamariapku.com/?page_id=374

***

Pelajaran dari Al-Qur’an dan kenyataan

Dari ayat-ayat Al-Qur’an maupun kenyataan di masyarakat telah terbukti betapa bahayanya segala tipu daya yang dilancarkan pihak kafirin, Yahudi dan Nasrani untuk merusak iman dan akhlaq Ummat Islam. Allah Ta’ala telah wanti-wanti:

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ  [البقرة/217]

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah: 217).

Kalau manusia ini telah dirusak imannya dan akhlaqnya, maka tidak ada lagi nilai manusianya, bahkan lebih sesat dibanding binatang. Namun kenapa mereka tega bersama orang kafir untuk merusak iman dan akhlaq Ummat Islam?

Setelah kita mencermati ayat-ayat Al-Qur’an dan kenyataan dalam praktek kafirin yang mengancam Ummat Islam, maka sangat terasa sekali benarnya firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51)

Karena konsekwensi kesetiaan kepada mereka (Yahudi dan Nasrani)  itu akan menjadikan perang terhadap Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Dengan demikian pasti akan menjadi bagian dari mereka. (Al-Jazaairi dalam tafsirnya, Aisarut tafaasiir juz 1 halaman 356).

Umar radhiyallahu ‘anhu sungguh telah berkata: jauhilah oleh kamu sekalian dari bicara dengan bahasa orang-orang asing, dan jangan masuk ke orang-orang musyrik di hari-hari raya mereka di gereja-gereja mereka, karena sesungguhnya kemurkaan sedang berturun-turun atas mereka. (Diriwayatkan Abu Al-Syaikh Al-Ashbahani dan Al-Baihaqi dengan sanad shahih). Diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi dari Umar juga, katanya: Jauhilah oleh kamu sakalian musuh-musuh Allah pada hari-hari raya mereka.

Haram menyetujui syiar kekafiran

Syaikh Utsaimin menegaskan: Mengucapkan “Happy Christmas” (Selamat Natal) atau perayaan keagamaan mereka lainnya kepada orang-orang Kafir adalah haram hukumnya menurut kesepakatan para ulama (ijma’).

Hal ini sebagaimana dinukil dari Ibn al-Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya “Ahkâm Ahl adz-Dzimmah”, beliau berkata,”Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat terhadap Hari-Hari besar mereka dan puasa mereka, sembari mengucapkan,’Semoga Hari raya anda diberkahi’ atau anda yang diberikan ucapan selamat berkenaan dengan perayaan hari besarnya itu dan semisalnya.  Perbuatan ini, kalaupun orang yang mengucapkannya dapat lolos dari kekufuran, maka dia tidak akan lolos dari melakukan hal-hal yang diharamkan.  Ucapan semacam ini setara dengan ucapannya terhadap perbuatan sujud terhadap Salib bahkan lebih besar dari itu dosanya di sisi Allah.Dan amat dimurka lagi bila memberikan selamat atas minum-minum khamar, membunuh jiwa, melakukan perzinaan dan sebagainya.  Banyak sekali orang yang tidak sedikitpun tersisa kadar keimanannya, yang terjatuh ke dalam hal itu sementara dia tidak sadar betapa buruk perbuatannya tersebut.

Jadi, barangsiapa yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena melakukan suatu maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka berarti dia telah menghadapi kemurkaan Allah dan Kemarahan-Nya.”

Mengenai kenapa Ibn al-Qayyim sampai menyatakan bahwa mengucapkan selamat kepada orang-orang Kafir berkenaan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan mereka haram dan posisinya demikian, karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan dan meridhai hal itu dilakukan mereka sekalipun dirinya sendiri tidak rela terhadap kekufuran itu, akan tetapi adalah HARAM bagi seorang Muslim meridhai syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat kepada orang lain berkenaan dengannya, karena Allah Ta’ala tidak meridhai hal itu,sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [Az-Zumar:7] Majmû’ Fatâwa Fadhîlah asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, Jilid.III,h.44-46,no.403].

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya… (QS Al-Mujadilah/ 58: 22).

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai teman kepercayaan, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.436 kali, 1 untuk hari ini)