Seberapa Penting Upacara Pelantikan Presiden dan Wapres Itu?

Seberapa pentingnya sih upacara pelantikan presiden dan wakil presiden itu?

Sebenarnya yang terpenting itu kepemimpinannya atau upacara pelantikannya?

Dalam sejarah Islam, pemimpin Umat Islam, Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, dilantik dalam tempo singkat, ba’da maghrib, pidato kemudian diakhiri menjelang isya’ dengan azan, lalu shalat berjamaah isya’ di Masjid Nabawi Madinah tahun 11 Hijriyah/ 632M.

Kepemimpinannya itu tercatat dalam sejarah (sepanjang sejarah). Bahkan isi pidatonya pun diabadikan, sampai kini dapat dibaca. Ini pidato Abu Bakar As-Shiiddiq radhiyallahu ‘anhu waktu pelantikannya jadi khalifah (pengganti kepemimpinan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pidato Abu Bakr ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, yaitu pasca pengukuhan dirinya sebagai Khalifatur-Rasul (pengganti Rasulullah). Beliau menyampaikan pidato pertamanya sebagai berikut:

أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا النَّاسُ، فَإِنِّي قَدْ وُلِّيتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ، فَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِينُونِي، وَإِنْ أَسَأْتُ فَقَوِّمُونِي، الصِّدْقُ أَمَانَةٌ، وَالْكَذِبُ خِيَانَةٌ، وَالضَّعِيفُ فِيكُمْ قَوِيٌّ عِنْدِي حَتَّى أُرِيحَ عَلَيْهِ حَقَّهُ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ، وَالْقَوِيُّ فِيكُمْ ضَعِيفٌ حَتَّى آخُذَ الْحَقَّ مِنْهُ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ، لَا يَدْعُ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا ضَرَبَهُمُ اللَّهُ بِالذُّلِّ، وَلَا تَشِيعُ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ إِلَّا عَمَّهُمُ اللَّهُ بِالْبَلَاءِ، أَطِيعُونِي مَا أَطَعْتُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، فَإِذَا عَصَيْتُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، فَلَا طَاعَةَ لِي عَلَيْكُمْ، قُومُوا إِلَى صَلَاتِكُمْ يَرْحَمْكُمُ اللَّهُ. وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ. البداية والنهاية ط هجر (9/ 415)

Wahai manusia, sungguh aku telah didaulat sebagai pemimpin atas kalian. Akan tetapi, aku bukanlah manusia terbaik. Bila aku membuat kebijakan yang baik, maka sudilah kalian membantuku. Jika aku bersikap buruk, maka luruskanlah diriku.

Kejujuran itu amanah. Dusta adalah pengkhianatan. Orang tertindas di tengah kalian, ia adalah orang kuat di mataku, akan aku singkirkan keluhannya, insya Allah. Dan orang kuat (yang berbuat sewenang-wenang) di tengah kalian, ia merupakan pihak lemah, akan aku ambil hak orang lain darinya, insya Allah.

Tidaklah suatu bangsa meninggalkan jihad di jalan Allah Subahanhu wa Ta’ala , melainkan Allah Subahanhu wa Ta’ala akan mendatangkan kehinaan pada mereka. Tidaklah suatu bangsa banyak melakukan perbuatan faahisyah (keburukan), melainkan Allah akan menimpakan bala’ (siksa) pada mereka seluruhnya.

Taatilah aku, selama aku patuh kepada Allah Subahanhu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Jika aku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban taat atas kalian kepadaku. Bergegaslah menuju shalat kalian, semoga Allah merahmati kalian semua.[Al-Bidâyah wan-Nihâyah (5/245). Al-Imam Ibnu Katsîr menilai riwayat ini dengan berkata: “Ini adalah isnad yang shahîh”.]/ almanhaj.or.id

Demikianlah, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimakamkan di rumah ‘A’isyah, pada Selasa menjelang shalat ‘Isya’ di Masjid Nabawi, Abu Bakar As-Shiddiq mengucapkan pidato kekhalifahannya yang pertama tersebut di hadapan kaum Muhajirin dan Anshar yang menjadi fondasi kekuatan Islam saat itu. Abu Bakar memerintah sejak tahun 11 hingga 13 Hijriyah/632-634 M.

Betapa sederhananya pelantikan manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu, dan betapa bagus dan berisinya pidato ketika pelantikannya itu hingga diabadikan dalam sejarah.

Semuanya itu bukan hanya kata-kata tanpa makna ataupun kepemimpinan yang tak sesuai dengan kata-katanya, namun sejarah membuktikan betapa besar jasa2nya bagi umat manusia. Di antaranya nabi-nabi palsu pun dihadapi hingga terselesaikan, sedang orang-orang murtad pun diserang agar tidak membahayakan bagi kaum Muslimin.

Ternyata upacara pelantikan tidak memakan biaya apa2, tidak dibesar-besarkan dengan mengerahkan ini itu dan sebagainya. Maka pantas bila dipertanyakan, sebenarnya seberapa sih pentingnya pelantikan? Bahkan seorang doktor dari universitas ternama yang kemudian punya jasa kepada para manusia dengan ilmunya pun (misalnya) tidak akan ditanyakan orang, meriahnya wisuda sang doktor itu kayak apa? Dijaga berapa puluh ribu tentara dan polisi? Tidak pernah.

Kenyataan kini tampaknya ironis.

***

Istana Sewa Mobil Rp 1 Miliar untuk Tamu Negara Saat Pelantikan Jokowi-Amin

 


Istana Kepresidenan menyewa mobil Marcedes Benz untuk perwakilan negara yang akan menghadiri pelantikan presiden. (Mdkcom)

Liputan6.com, Jakarta – Pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024 akan digelar pada 20 Oktober di Gedung DPR/MPR. Tamu negara yang hadir dalam pelantikan Presiden akan mendapatkan fasilitas kendaraan dari istana kepresidenan.

“Kami siapkan 18 unit kendaraan yang memang semestinya kami siapkan belakang sini sudah ada,” kata Kepala Sekretariat Presiden (Kasetpres) Heru Budi Hartono di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (17/10/2019)./ Liputan6.com

17 Okt 2019, 12:42 WIB

***

Dibagi 3 Ring, 31 Ribu Personel Gabungan Diterjunkan untuk Pengamanan Pelantikan Presiden

Selasa, 15 Oktober 2019 — 17:13 WIB

JAKARTA – Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden periode 2019 – 2024 akan dilaksanakan di Gedung DPR RI, Jakarta, Ahad (20/10/2019).

Untuk memastikan pelantikan tersebut berjalan dengan lancar dan aman, Polda Metro Jaya menyiapkan 31 ribu personel gabungan. Personel gabungan itu terdiri dari TNI, Polri dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, puluhan ribu personel gabungan diterjunkan guna memberikan rasa aman kepada masyarakat termasuk tamu negara asing ysng akan menghadiri acara pelantikan.

“Dengan adanya pelantikan tersebut, untuk menjaga harkat dan martabat negara karena diliput media asing dan juga dihadiri oleh pimpinan negara-negara sahabat dan negara asing, dari Polda Metro Jaya sudah menyiapkan ada sekitar 31.000 personel gabungan,” ujar Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (15/10/2019)./ poskotanews.com

***

Menyambut Pelantikan Presiden dan Wapres yang Petinggi Ulama

 

Perkenankan kami menyampaikan sekadar untaian kata-kata berikut ini, karena yang dilantik jadi presiden, Jokowi adalah ‘Tokoh Islam Berpengaruh’ (menurut satu buku internasional), dan wapresnya Ma’ruf Amin adalah petinggi ulama, ketua umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang tidak mau melepas jabatannya itu walau mau jadi Wapres, dengan alasan tidak melanggar (hukum).

 

‘Salam Oplosan’ Itu Haram dan Bisa Menjadikan Murtad, Sedangkan Ikut Upacara Perayaan Agama Lain Itu Telah Resmi Difatwakan Haram oleh MUI

 

Dari situ kami pandang ada perlunya memperingatkan muslimin agar tidak pakai ‘salam Islam –assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh– dilanjutkan dengan salam agama-agama lain’, dan agar tidak ikut perayaan imlek, natalan, dan perayaan agama selain Islam. Kalau mau mengucapkan salam, sebagai orang Islam, siapapun dia, ketika dihadapannya ada orang Islamnya, maka cukup dengan salam Islam saja. Apabila tidak ada yang Muslim, maka bukan salam Islam yang disampaikan tapi ucapan selamat penghormatan biasa. Misal selamat pagi dan sebagainya. Karena Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam ketika kirim surat ke raja-raja yang bukan Muslim, bukan assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, yang beliau sampaikan, tapi adalah:

سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الهُدَى

Salaamun ‘ala manit-taba’al huda (keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk).

Mungkin orang akan bilang, itu kan Nabi, kita kan bukan nabi. Ya, kita bukan nabi, tapi perlu diketahui, salam itu doa, doa itu dalam Islam termasuk ibadah. Sedang ibadah itu hanya ikut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kami menyadari, mungkin ada kilah yang dianggap tepat, misalnya ungkapan: Lha saya ini kan bukan hanya pemimpin Umat Islam tapi pemimpin bangsa… dst.

Ya, benar. Tetapi perlu diingat, setinggi apapun kepemimpinan dan seluas apapun jangkauannya, masih tetap kalah jauh dibanding kepemimpinan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan bahkan ketetapan atau keputusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu disahkan secara resmi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diikuti. Di antara keputusannya yang direkomendasikan langsung oleh Allah Ta’ala adalah:

{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا } [الأحزاب: 36]

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [Al Ahzab:36]

Tidak ada pilihan lain itu di antaranya ketetapan ayat:

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦ [ الـكافرون:6-6]

“Untuk kalian agama kalian, dan untukkulah, agamaku”. [Al Kafirun:6]

Untuk kalian maksudnya adalah orang bukan Islam. Sedang untukku maksudnya adalah orang Muslim, agamaku yaitu Islam.

Sehingga dalam hal agama (peribadahan), Umat Islam hanya mengikuti cara Islam, tidak boleh mengikuti agama lain. Sedang salam itu termasuk doa, dan doa itu adalah ibadah menurut Islam. Maka tidak boleh memakai yang bukan dari Islam.

Ini bukan pengekangan, karena agar memurnikan agama yang diyakini. Bila mengikuti cara Islam tapi disertai mengikuti cara agama selain Islam, maka sudah merupakan pelanggaran dari ketentuan tersebut. Apalagi kalau itu mengandung keyakinan mengenai Ketuhanan.

Dalam salam Islam itu mengandung lafal Allah, yang tentu saja ketuhanan Yang Maha Esa, Tauhid. Ketika salam Islam itu membawa lafal Allah yakni Yang Maha Esa, lalu juga mengikrarkan salam agama lain yang ketuhanannya adalah polyteisme, maka rusaklah keislamannya. Karena mengakui Allah satu2nya Tuhan yang berhak disembah, yakni Allah Yang Maha Esa, namun juga sekaligus mengakui bahkan mengikrarkan salam yang muatannya ketuhanan polyteisme, yang sama sekali bukan keyakinan Islam. Maka bisa murtad alias keluar dari Islam. Itu resikonya. Makanya, siapapun yang mengaku dirinya muslim, lalu mengucapkan salam Islam, dilanjutkan dengan salam-salam agama lain, maka bisa rusak Islamnya. Dan itu sangat fatal menurut keyakinan Islam.

Dan ini bukan karena tidak toleransi, tapi karena aturan Islam menetapkan itu, dan wajib diikuti. Sebagaimana misalnya ada jamuan makan di situ ada babinya, lalu tidak makan yang daging babi itu, bukan berarti tidak menghormati, namun karena Islam mengharamkannya. Semoga difahami.

 

Mungkin pandangan kami salah lihat, tapi tingkah polah manusia tampaknya sudah tidak mudah dinasihati. Sudah ada fatwa MUI tentang haramnya ikut perayaan agama lain (selain Islam), namun oleh sebagian orang-orang sombong (menolak kebenaran dan meremehkan manusia, menurut Hadits), fatwa itu tidak digubris. Bahkan mereka sengaja-ngaja untuk datang. Bahkan di barisan depan pula. Lebih dari itu, bahkan ada kelompok tertentu yang mengaku Muslim seperti PKB (kebanyakan orang NU-Nahdlatul Ulama) tapi justru mengadakan perayaan agama (selain Islam) di markaz mereka (orang Muslim).

Dalam Fatwa MUI 1981, Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Perayaan Natal Bersama
ditegaskan:

MEMUTUSKAN
Memfatwakan

  1. Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas.
  2. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
  3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H

7 M a r e t 1981

Komisi Fatwa

Majelis Ulama Indonesia

Ketua: K.H.M SYUKRI GHOZALI

Sekretaris: Drs. H. MAS’UDI

Sumber: Himpunan Fatwa Mejelis Ulama Indonesia 1417H/ 1997, halaman 187-193

http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=71

https://www.nahimunkar.org/fatwa-majelis-ulama-indonesia-tentang-perayaan-natal-bersama-4/

 

Juga sudah berkali-kali diperingatkan agar tidak berpidato dengan dibuka pakai salam Islam (assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh) lalu disambung pula dengan salam agama-agama lain. Salam ‘oplosan’ semacam itu akan merusak iman, bahkan bisa membatalkan keislaman pelakunya alias jadi murtad, keluar dari Islam. Karena salam Islam itu mengandung makna ketuhanan, meng-Esakan Allah. Sedang salam agama selain Islam itu mengandung ketuhanan yang tidak sesuai dengan Tauhid, bahkan ada yang muatannya mengecam Allah Ta’ala yang dinilai memecah belah manusia karena menjadikan manusia terpecah jadi mukmin dan kafir.

Oleh karena itu, mengucapkan salam agama selain Islam setelah menyampaikan salam Islam itu sama dengan mengikrarkan pengecaman terhadap Allah Ta’ala yang dianggap memecah belah manusia menjadi mukmin dan kafir. Maka bisa mengakibatkan batal keislamannya.

Makanya kami sudah berkali-kali mengingatkan, jangan sampai ada orang yang mengaku Islam menyampaikan pidato dengan ‘salam oplosan’ yang merusak iman seperti itu. Dan terakhir yang sangat memprihatinkan adalah kasus ketika sidang tahunan MPR 16 Agustus 2019, para pejabatnya bahkan petugas doa yang mengaku berdoa secara Islam yakni imam besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar pun menyampaikan salam oplosan perusak iman itu ketika membuka suara untuk berdoanya. https://www.nahimunkar.org/salam-oplosan-merusak-iman-dalam-pidato-dan-doa-pada-sidang-tahunan-mpr-16-agustus-2019/

Betapa mengerikannya, padahal sebelumnya sudah berkali-kali kami membahas bahaya salam oplosan itu lewat media ini.

Ketika gejalanya sudah seperti itu, apakah masih perlu disampaikan nasehat, peringatan, bahkan semacam ancaman menurut yang diajarkan Islam?

Ya tetap perlu.

Kenapa?

Karena dalam Al-Qur’an dituntunkan begitu. Ini ayatnya mengenai mengapa masih menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka.

{وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (164) فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ} [الأعراف: 164، 165]

164. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa

[Al A’raf164].

165. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik

[Al A’raf165]

Semoga peringatan ini bermanfaat, dan paling kurang adalah sebagai bukti bahwa telah kami sampaikan peringatan.

(nahimunkar.org)

 


 

(Dibaca 151 kali, 1 untuk hari ini)