Sebut Abu Janda Hina Islam, Tengkuzulkarnain Mentwit ke KH Ma’ruf Amin: Mohon bapak perintahkan Polisi utk proses hukum Abu Janda


tengkuzulkarnain

@ustadtengkuzul

 

Kepada YTH Bapak Yai

@KHMarufAminn

Mohon bapak perintahkan Polisi utk proses hukum Abu Janda. Kalau tidak saya khawatir, jika tdk diproses, akan ada umat Islam yg marah dan bertindak di luar hukum. Malu NKRI di mata dunia. Matur Nuwun, Yai…


2.52 PM · 26 Jan 2021·Twitter for Android

***

Menghina Agama bukan Delik Aduan. Pasal 156 a KUHP mengancam 5 tahun penjara.

Tapi jika Polisi masa bodoh tdk mau proses dan umat Islam hilang kesabarannya.

Saya khawatir para Ulama tdk akan menyalahkan siapa saja pemuda Islam yang mau menyelesaikan kasus orang ini di luar hukum.

tengkuzulkarnain

@ustadtengkuzul

3.14 PM · 26 Jan 2021·Twitter for Android

***

Kasus ini diulas di nahimunkar.org, silakan simak.

***

Abu Janda Sebut Islam Arogan

Posted on 26 Januari 2021

by Nahimunkar.org

 

Abu Janda Sebut Islam Arogan

  • Pelajaran untuk Abu Janda/ Permadi Arya dan Semacamnya yang Bicara soal Islam tanpa Ilmu demi Membela Kemusyrikan

Silakan simak cuitan Abu Janda ini


 

Tanggapan warganet:

Ini bukan Islam dan non Islam. Ini soal penghasutan publik yg dikaitkan dengan SARA. Provokator kayak gini mestinya dikasih hukuman, agar jera.

Abah

@Abaaah

 
 

9.37 PM · 25 Jan 2021·Twitter for iPhone

***

 
 

Pelajaran untuk Abu Janda dan Semacamnya yang Bicara soal Islam tanpa Ilmu demi Membela Kemusyrikan

 
 

Perlu diketahui, Islam itu punya landasan kitab suci wahyu dari Allah Ta’ala yakni Al-Qur’an, dan juga Hadits Nabi Shlalallahu ‘alaihi wa sallam atau Assunnah. Sedangkan adat istiadat atau apa yang disebut kearifan lokal dsb itu sama sekali tidak punya kitab suci wahyu dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu apa yang dilarang oleh kitab suci ataupun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka harus dijauhi bahkan dicegah. Dan larangan yang paling tinggi adalah kemusyrikan (syirik) menyekutukan Allah Ta’ala dengan selainNya. Membuat tandingan terhadap Allah Ta’ala. Bila seseorang menyembah Allah Ta’ala secara Islam, namun juga meminta keselamatan kepada selainNya dengan ritual sesajen atau larung laut dan semacamnya, maka itu merupakan larangan paling keras, karena termasuk menyekutukan Allah Ta’ala dengan selainNya. Demikian pula ritual kemusyrikan ruwatan pakai sesajen yang minta keselamatan atau agar terhindar dari kesialan (sukerto) namun mintanya ke Betoro Kolo dengan ritual ruwatan pakai sesajen. Itu kemusyrikan (syirik) akbar- besar. Bisa mengeluarkan dari Islam.

Apabila sudah jelas diharamkan bahkan merupakan larangan paling keras berupa kemusyrikan, lalu ada yang justru menolak larangan itu, bahkan dengan mencela Islam, sebagai agama arogan (sombong), atau perkataan semacamnya; maka pada dasarnya orang itu mendudukkan dirinya sebagai tandingan Allah Ta’ala. Makanya orang yang mengikuti rahib atau pendeta yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau sebaliknya, mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, (pengikut itu) disebut menuhankan rahib atau pendeta tersebut.

Silakan simak petikan dalil dari sebuah artikel berikut ini.

***

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kaum nasrani dan yahudi,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (QS. At Taubah : 31)

Ayat ini ditafsirkan dengan hadits Adi bin Hatim Ath Thoo-i radhiyallahu ‘anhu dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat tersebut kepadanya (Adi bin Hatim). Kemudian dia (Adi bin Hatim) berkata : “Wahai Rasulullah, kami tidaklah beribadah kepada mereka”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أليس يحلون لكم ما حرم الله فتحلونه، ويحرمون ما أحل الله فتحرمونه؟

Bukankah mereka menghalalkan untuk kalian apa yang Allah haramkan sehingga kalianpun menghalalkannya, dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan sehingga kalian mengharamkannya?”. Dia (Adi bin Hatim) berkata : “Benar”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فتلك عبادتهم

Itulah (yang dimaksud) beribadah kepada mereka[1]

Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah mengatakan : “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut menafsirkan bahwa maksud menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” bukanlah maknanya ruku’ dan sujud kepada mereka. Akan tetapi maknanya adalah mentaati mereka dalam mengubah hukum Allah dan mengganti syari’at Allah dengan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Perbuatan tersebut dianggap sebagai bentuk beribadah kepada mereka selain kepada Allah dimana mereka menjadikan para ulama dan ahli ibadah tersebut sebagai sekutu-sekutu bagi Allah dalam masalah menetapkan syari’at.

Barangsiapa yang mentaati mereka dalam hal tersebut, maka sungguh dia telah menjadikan mereka sebagai sekutu-sekutu bagi Allah dalam menetapkan syari’at serta menghalalkan dan mengharamkan sesuatu. Ini adalah syirik besar”[2]



[1] Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan mengatakan : “Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan beliau menilainya hasan, ‘Abd bin Humaid, Ibnu Abi Hatim, dan Ath Thabrani dari banyak jalur”. Lihat Fathul Majid hal. 109, Daarus Salam

[2] Al Irsyad ila Shahihil I’tiqad hal. 94-95, Daarus Shahabah.

Penulis: Yananto Sulaimansyah
Artikel www.muslim.or.id

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/7646-menyekutukan-allah-dengan-ulama.html

***

Perlu difahami, Islam itu wahyu dari Allah Ta’ala yang diperuntukkan bagi seluruh manusia disampaikan melalui Rasul (utusan) Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena untuk seluruh manusia, maka berarti untuk sedunia, sehingga tidak bisa disebut Islam lokal, Islam Arab, Islam agama impor dan sebagainya.

Silakan simak kutipan dari artikel berikut ini.

***

Agama Islam untuk Seluruh Manusia

Muslim Atsary 

Nabi Muhammad memiliki banyak keistimewaan. Salah satunya adalah beliau diutus oleh Allah untuk seluruh manusia dan jin. Adapun seluruh Nabi sebelum beliau hanyalah diutus untuk umatnya masing-masing.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيتُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: “Hai manusia, sesung-guhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu semua, yaitu Alloh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Alloh dan RosulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Alloh dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. [QS. Al-A’rof (7): 158]

Perintah Allah dalam ayat ini “Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua“, ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah,

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada menge-tahui. [QS. Saba’ (34): 28]

Oleh karena itulah siapa saja yang telah mendengar dakwah agama Islam, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad , yang membawa kitab suci Al-Qur’an, kemudian tidak beriman, tidak percaya dan tidak tunduk, maka dia adalah orang kafir dan di akhirat menjadi penghuni neraka, kekal selamanya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَكْفُرْ بِهِ مِنَ اْلأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلاَ تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ

Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancam-kan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap al-Qur’an itu. Sesungguhnya (al-Qur’an) itu benar-benar dari Robbmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman“. [QS. Hud (11): 17]

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad di tanganNya, tidaklah seorangpun di kalangan umat ini, Yahudi atau Nashrani, mendengar tentang aku, kemudian dia mati, dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengan-nya, kecuali dia termasuk para peng-huni neraka. [Hadits Shohih Riwayat Muslim, no: 153, dari Abu Huroiroh]

NABI-NABI DAHULU KHUSUS UNTUK KAUMNYA

Adapun seluruh Nabi sebelum Nabi Muhammad , maka mereka semua di utus khusus kepada umatnya masing-masing. Perkara ini merupakan perkara yang telah pasti di dalam agama Islam, sebagaimana disebutkan di dalam hadits di bawah ini,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Dari Jabir bin Abdulloh, bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Aku diberi (oleh Allah) lima perkara, yang itu semua tidak diberikan kepada seorang-pun sebelumku.
Aku ditolong (oleh Allah) dengan kegentaran (musuh sebelum kedata-nganku) sejauh perjalanan sebulan;
Bumi (tanah) dijadikan untukku sebagai masjid (tempat sholat) dan alat bersuci (untuk tayammum-pen). Maka siapa saja dari umatku yang (waktu) sholat menemuinya, hendaklah dia sholat.
Ghonimah (harta rampasan perang) dihalalkan untukku, dan itu tidaklah halal untuk seorangpun sebelumku.
Aku diberi syafa’at (oleh Allah).
Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya.

[Hadits Shohih Riwayat Bukhori, no: 335]

Di zaman ini banyak orang-orang Kristen menyebarkan agama mereka ke berbagai pelosok dunia. Mereka menisbatkan agama mereka kepada Nabi Isa bin Maryam , yang mereka menyebutnya dengan Yesus. Padahal Nabi Isa bin Maryam hanya diutus kepada Bani Isroil. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَاءِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurot dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rosul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala Rosul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata“. [QS. Ash-Shoff (61): 6]

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/6353-agama-islam-untuk-seluruh-manusia.html

***

Karena Islam itu untuk seluruh manusia, maka apa yang dilarang di Arab oleh Islam ya dilarang di manapun. Apalagi larangan paling keras yakni kemusyrikan, maka di manapun adanya tetap dilarang oleh Islam. Sehingga kemusyrikan itu walau disebut dengan sebutan mentereng misalnya kearifan lokal berupa sesajen larung laut dan sebagainya ataupun ritual kemusyrikan berupa ruwatan pakai sesajen untuk minta selamat agar terbebas dari kesialan (sukerto) dengan minta ke Betoro Kolo (raksasa buruk) dengan ritual ruwatan pakai sesajen itu ya tetap merupakan kemusyrikan yang sangat dilarang dalam Islam. Karena minta keselamatan kepada selain Allah Ta’ala, yang itu sangat dilarang dalam Islam.

Silakan simak artikel berikut ini, semoga manfaat.

***

Pelajaran dari Ngalap Berkah Orang Musyrik

By

 Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

  
 

Hadits yang kami ceritakan kali ini berisi kisah perjalanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya ke Hunain, yaitu suatu tempat sekitar Thoif. Di mana ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama dengan para sahabat yang baru saja masuk Islam dan masih ada bekas-bekas masa Jahiliyah serta mereka tidak mengenal hukum Islam. Di dalam hadits inilah diceritakan bagaimana ngalap berkah yang terjadi pada orang musyrik lewat suatu pohon yang dinamakan Dzatu Anwath dan para sahabat yang baru masuk Islam ini ingin mengikutinya.

Disebutkan dalam hadits,

 
 

عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ »

Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Khoibar. Lalu, beliau melewati pohon orang musyrik yang dinamakan Dzatu Anwath. Mereka menggantungkan senjata mereka. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah! Sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.” (QS. Al A’raaf: 138). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Hadits ini dikatakan shahih oleh Al Hafizh Abu Thohir Zubair ‘Ali Zaiy)

Dan yang dilakukan orang musyrik yang diterangkan dalam hadits di atas adalah tabarruk, meraih berkah. Meraih berkah di sini berarti ingin agar kebaikan itu langgeng dan terus bertambah. Mereka melakukan semedi (i’tikaf) dan menggantungkan senjata mereka dengan tujuan supaya senjata mereka ampuh dan bisa meraih kesaktian ketika berperang nantinya. Namun hal ini tidak dibenarkan karena tabarruk semacam ini tidak ada tuntunan karena tidak ada dalil yang mendukung tabarruk semacam itu. Kalau seandainya itu dilakukan dengan keyakinan bahwa pohon tadi yang memberikan manfaat, bukan Allah yang memberi, itu bisa menjerumuskan seseorang dalam syirik besar (akbar).

Sebagaimana keterangan dari guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri, “Mereka yang disebutkan dalam hadits ini mencari pertolongan dengan bertabarruk supaya dimudahkan melakukan ketaatan menurut mereka. Karena peperangan dan jihad termasuk bentuk ketaatan. Mereka ingin mendapat pertolongan dengan melakukan sebab tersebut. Namun sebab yang ditempuh ini adalah sebab syirik yang menyebabkan adanya ketergantungan hati pada selain Allah. Sehingga sebab yang dilakukan ini untuk meraih kemenangan dalam jihad tidaklah dibenarkan. … Seandainya sebab dengan tabarruk yang tidak dituntunkan Islam ini dibenarkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menempuhnya. Apalagi ada hajat ketika itu supaya dengan sebab ini dapat meraih kemenangan dalam jihad.” (Dibahasakan secara bebas dari Syarh Mutunul ‘Aqidah, hal. 245). Intinya, Islam tidak membenarkan segala cara untuk meraih kemenangan atau ketaatan.

Syaikh Sulaiman At Tamimi dalam Taisir Al ‘Azizil Hamid (1: 407) berkata, “Jika menggantungkan senjata di pohon, lalu bersemedi (i’tikaf) di sampingnya, serta menjadikan sekutu bagi Allah, walau tidak sampai menyembahnya atau tidak pula memintanya, (dinilai keliru), maka bagaimana lagi jika ada yang sampai berdo’a pada orang yang telah mati seperti yang dilakukan oleh para pengagum kubur wali, atau ada yang sampai beristighotsah padanya, atau dengan melakukan sembelihan, nadzar atau melakukan thowaf pada kubur?!”

Pelajaran dari hadits ngalap berkahnya orang musyrik di atas:

1- Ngalap berkah (tabarruk) ada dua macam:

Macam pertama: Termasuk Syirik Akbar

Tabarruk pada makhluk seperti pada kubur, pohon, batu, manusia yang masih hidup atau telah mati, di mana orang yang bertabarruk ingin mendapatkan barokah dari makhluk tersebut (bukan dari Allah), atau jika bertabarruk dengan makhluk tersebut dapat mendekatkan dirinya pada Allah Ta’ala, atau ingin mendapatkan syafa’at dari makhluk tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musyrik terdahulu, maka seperti ini termasuk syirik akbar (syirik besar). Karena kelakukan semacam ini adalah sejenis dengan perbuatan orang musyrik pada berhala atau sesembahan mereka.

Macam kedua: Termasuk Bid’ah

Tabarruk kepada makhluk dengan keyakinan bahwa tabarruk pada makhluk tersebut akan berbuahkan pahala karena telah mendekatkan pada Allah, namun keyakinannya bukanlah makhluk tersebut yang mendatangkan manfaat atau bahaya. Hal ini seperti tabarruk yang dilakukan orang jahil dengan mengusap-usap kain ka’bah, dengan menyentuh dinding ka’bah, dengan menyentuh maqom Ibrahim dan hujroh nabawiyah, atau dengan menyentuh tiang masjidi harom dan masjid nabawi; ini semua dilakukan dalam rangka meraih berkah dari Allah, tabarruk semacam ini adalah tabarruk yang bid’ah (tidak ada tuntunannya dalam ajaran Islam) dan termasuk wasilah (perantara) pada syirik akbar kecuali jika ada dalil khusus akan hal itu.

2- Para sahabat yang meminta pohon Dzatu Anwath seperti yang dimiliki orang musyrik, itu dalam keadaan jahil (tidak tahu atau bodoh). Jika mereka saja sahabat yang hidup di tengah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak mengetahui hal tersebut, lebih-lebih lagi yang selain mereka, lebih-lebih lagi yang keislamannya cuma warisan atau hanya di KTP saja. Tentu yang terakhir ini jauh dari memahami maksud syirik.

3- Para sahabat itu masih memiliki kebaikan dan dijamin mendapatkan ampunan dibanding selain mereka.

4- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi uzur pada mereka, malah beliau melakukan tiga hal: (1) takjub sambil mengucapkan ‘subhanallah’, riwayat lain disebut ‘Allahu akbar’, (2) itu ajaran jahiliyyah sebelum masa sahabat, (3) para sahabat telah ingin mengikuti ajaran jahiliyyah masa silam.

5- Memperingatkan seseorang dari syirik ini adalah perkara penting sampai-sampai permintaan para sahabat ini dikatakan sama dengan permintaan kaum Musa kepada Nabinya, “Jadikan bagi kami ilah (sesembahan) sebagaimana mereka memiliki sesembahan.

6- Di antara makna laa ilaha illallah adalah meninggalkan ketergantungan hati pada selain Allah termasuk pula dalam ngalap berkah.

7- Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan kata sumpah. Dan tidaklah kalimat sumpah digunakan kecuali dalam perkara penting yang mengandung maslahat.

8- Syirik itu ada yang besar (mengeluarkan dari Islam) dan ada yang kecil (yang tidak mengeluarkan dari Islam). Sedangkan dalam hadits ini, yang diperbuat tidaklah mengeluarkan dari Islam.

9- Para sahabat selain sahabat yang baru masuk Islam tadi pasti tahu bahwa yang diminta adalah dihukumi syirik.

10- Ketika takjub pada sesuatu, bisa mengucapkan subhanallah atau Allahu akbar.

11- Setiap jalan menuju syirik atau yang haram mesti dicegah.

12- Haramnya tasyabbuh atau menyerupai orang jahiliyyah.

13- Celaan terhadap Yahudi dan Nashrani dalam Al Qur’an, juga termasuk celaan pada kaum muslimin yang memiliki sifat yang sama.

14- Ibadah itu dibangun di atas perintah dalil

15- Ajaran ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) tercela sebagaimana pula ajaran orang musyrik.

16- Orang yang berpindah dari masa kemaksiatan atau kejahilan, belum tentu aman bahwasanya mereka tidak melakukan kebiasaan mereka di masa silam lagi.

[Faedah ini adalah pelajaran yang diambil dari faedah Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tauhid]

Moga bermanfaat … Hanya Allah yang memberi taufik.



@ BSD City, Tangerang (Soraya House), 16 Jumadal Akhiroh 1434 H

www.rumaysho.com

***

Demikianlah, semoga siapapun yang mengaku dirinya Muslim mau mempelajari Islam sungguh-sungguh hingga tidak tersesat. Apalagi di zaman kini yang di antara manusia berani berbicara lantang tanpa dilandasi ilmu, maka membahayakan bagi dirinya sendiri dan bahkan menjerumuskan jutaan orang lain; namun tampaknya masih bangga pula.

Na’udzubillahi min dzalik!

(nahimunkar.org)

(Dibaca 532 kali, 1 untuk hari ini)