Sumber Foto : Google emage


Banyak kenangan indah dan juga pahit semasa kuliah selama 15 tahun di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nampaknya lembaran lembaran hidupku tersebut menjadi lembaran lembaran yang begitu indah tak mungkin bisa dilupakan.

Salah satu kenangan indah sekaligus lucu yang sarat dengan pelajaran, ialah pengalaman berinteraksi dengan tenaga kerja asal Bangladesh yang bertugas menjadi petugas kebersihan di Dapur Umum Asrama Kampus.

Di saat kita sedang antre mengambil makan siang, ada seorang petugas kebersihan dari Bangladesh yang berjumpa dengan kawan senegaranya, yang bernasib berbeda, yaitu sebagai salah satu Mahasiswa di Fakultas Bahasa Arab.

Setelah berkenalan, dan berbasa basi, dan berkenalan cukup akrab, tiba tiba si petugas kebersihan tersebut bertanya dengan penuh keheranan: Kamu kuliah di sini mengambil jurusan Bahasa Arab selama 4 tahun dan 8 semester, memangnya apa saja yang kamu pelajari? Saya belajar bahasa Arab satu bulan saja sudah lancar berbahasa Arab; fi musykilah, mafi musyiklah, fi ma’lum, mafi ma’lum, fi ta’lim mafi ta’lim…demikian petugas kebesihan tersebut bertanya keheranan.

Mahasiswa Bangladesh tersebut berusaha menjelaskan sambil tertawa geli, dan kami yang mendengarnya juga tertawa geli mendengar percakapan tersebut.

Namun demikian walau mahasiswa Bangladesh tersebut sudah berusaha menjelaskan apa itu bahasa Arab dan apa yang dipelajari di Fakutas tersebut, tetap saja petugas kebersihan itu mencibirkan sekaligus keheranan, karena ternyata sang Mahasiswa selama berkomunikasi tetap saja menjelaskannya dengan bahasa Arab yang sedikit fasih dan baku, yang mengakibatkan petugas kebersihan itu kurang bisa menangkap maksud penjelasannya.

Dengan penuh keheranan akhirnya pertugas kebersihan itu tetap saja melontarkan cibiran dengan berkata: enta fi ta’lim arba’ sanah ma fi kalam arabi quwais, ana fi ta’lim kalam arabi fi syaher fi kalam arabi quwais. (kamu belajar bahasa Arab selama Empat Tahun, tapi tetap saja tidak bisa berbicara bahasa dengan baik, sedangkan saya hanya belajar selama sebulan sudah lancar berbahasa Arab).

Pengalaman ini menjadi pelajaran penting dalam hidup saya, bahwa kalau anda menuangkan air di keranjang maka tidak akan pernah bisa tertampung, sebagaimana bila anda menyampaikan ilmu kepada orang yang merasa nyaman dengan kebodohan, sehingga tiada merasa perlu untuk membuka nalar atau malah telah terlanjur menutupnya, maka juga tidak akan pernah diterima. Yang terjadi malah umpatan, karena mereka merasa anda mengusik ketenangan mereka, mengancam kenyamanan hidupnya.

Semoga sepenggal pengalaman ini bermanfaat buat anda, dan saya yakin anda juga memiliki pengalaman serupa dengan ini.

Dr Muhammad Arifin Badri

***

Kambing, Walaupun Telah Terbang

Posted on 28 Januari 2017 – by Nahimunkar.com

Pepatah ini menggambarkan betapa “orang ngeyel” itu walaupun anda telah menegakkan dalil atau mendatangkan bukti yang tidak terbantahkan lagi maka ia tidak akan bergeming

Ucapan di atas, adalah terjemahan harfiah dari satu pepatah arab yang berbunyi:

عنزة وإن طارت

itu kambing walaupun terbang

Konon, dikisahkan ada dua orang sahabat yang sedang berjalan bersama. Di tengah perjalanan, salah saorang dari mereka tiba tiba melihat satu benda hitam. Lalu ia berkata: “apakah engkau melihat burung gagak yang berada nun jauh di sana itu?

Sahabatnya menjawab: “ya, saya melihatnya, namun itu bukan burung gagak, akan tetapi itu adalah kambing“.

Tak ayal lagi mereka berdua segera hanyut dalam perdebatan tentang benda berwarna hitam tersebut. Di tengah-tengah perbedebatan berlangsung sengit, benda berwarna hitam itu terbang, sehingga terbuktilah bahwa benda itu sebenarnya buruk gagak. Walau demikian, betapa mengejutkan orang yang berpendapat bahwa benda itu adalah seekor kambing menyeletuk berkata:

عنزة وإن طارت

itu (tetap) kambing walaupun terbang

Pepatah ini menggambarkan betapa “orang ngeyel” itu walaupun anda telah menegakkan dalil atau mendatangkan bukti yang tidak terbantahkan lagi maka ia tidak akan bergeming. Ia tetap saja bersikukuh mempertahankan pendapatnya yang telah terbukti salah. Berdiskusi dengan orang semacam ini, jelas saja tiada gunanya, menyia-nyiakan waktu dan bahkan bentuk dari kebodohan.

Wajar saja bila dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam berpesan kepada kita semua agar menjauhi diskusi dengan orang-orang semacam ini:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Aku memberikan jaminan untuk mendapatkan rumah di tepi surga kepada siapa saja yang dapat menjauhi debat kusir walaupun ia berada pada pihak yang benar” (HR. Abu Dawud dan lainnya)

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA.

Artikel Muslim.Or.Id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.616 kali, 1 untuk hari ini)