Sedekah Mengundang Rahmat Allah

Syirik yang Mengundang Azab Allah derita, petaka dan siksa

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa kesyirikan sangat cepat mengundang Azab,dll

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

” اثْنَانِ يُعَجِّلُهُمَا اللَّهُ: الْبَغْيُ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ “

“Dua Dosa yang Allah menyegerakan adzabnya didunia yakni kezhaliman dan durhaka kepada kedua orang tua”.

Hadits shahih riwayat Imam Bukhari dalam kitab At-Tarikh Al-Kabir, dishahihkan oleh syaikh Albani rahimahumallah.

Sudah dimaklumi bahwa kezhaliman terbesar adalah sebagaimana firman Allah dalam surat Luqman:

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ  ١٣ [ لقمان: 13]

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. [Luqman:13]


Mari kita mentauhidkan Allah dan jangan berbuat syirik, dan jangan lupa untuk berbuat ihsan kepada kedua orang tua kita

Via fb Rulli Programmer

***

Islam Nusantara pro kemusyrikan, berbahaya

Islam Nusantara pro kemusyrikan, berbahaya karena pengusulnya yakni Said Aqil Siradj ketua umum NU (Nahdlatul Ulama) membolehkan upacara kemusyrikan berupa mapag (menjemput) Dewi Sri (yang dianggap sebagai dewa padi). Ketika pencetus agama Islam Nusantara itu pro upacara kemusyrikan, sedang Islam Nusantara disebut oleh Ma’ruf Amin sebagai agama (Islamnya NU), berarti mereka itu mengusung kemusyrikan lewat ormas terbesar di Indonesia. Na’udzubillahi min dzalik. Dan itu dijelaskan juga oleh seorang kyai NU.

Silakan simak berikut ini.

***

Awas! Islam Nusantara Mengembalikan kepada Kemusyrikan

 Ilustrasi Foto/ edukasi.kompasiana.com

Contoh Perbuatan Kemusyrikan: Ruwatan dan Nyembah Kubur

Jokowi melakukan upacara Mandi Kembang Mobil Esemka: Menyambut Prestasi dengan KemusyrikanPemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Wilujengan (selamatan) dan Jamasan (ritual memandikan) Mobil Esemka, malam Jum’at (23/02/2012). Selain sesajen, rangkaian bunga pandan, melati, kantil juga menjadi hiasan aksesori mobil untuk penolak bala’. (lihat artikel Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah  di nahimunkar.com)

Ada sorotan tajam dari kalangan kyai NU di Jawa Tengah mengenai Islam Nusantara, di antaranya diberitakan sebaga berikut.

Putra ulama terkenal KH Maemoen Zubair, KH Najih Maemoen (Gus Najih) mengkritik keras Islam Nusantara.

Gus Najih membuat makalah berjudul “Islam Nusantara dan Konspirasi Liberal”. “Islam Nusantara hadir untuk mensinkronkan Islam dengan budaya dan kultur Indonesia. Ada doktrin sesat di balik lahirnya wacana Islam Nusantara,” ungkap Gus Najih.

Kata pria ini, dengan Islam Nusantara mereka mengajak umat untuk mengakui dan menerima berbagai budaya sekalipun budaya tersebut kufur, seperti doa bersama antar agama, pernikahan beda agama, menjaga Gereja, merayakan Imlek, Natalan dan seterusnya.

Menurut Gus Najih, para pengusung Islam Nusantara juga ingin menghidupkan kembali budaya-budaya kaum abangan seperti nyekar, ruwatan, sesajen, blangkonan, sedekah laut dan sedekah bumi (yang dahulu bernama nyadran).

“Dalam anggapan mereka, Islam di Indonesia adalah agama pendatang yang harus patuh dan tunduk terhadap budaya-budaya Nusantara. Tujuannya agar umat Islam di Indonesia terkesan ramah, tidak lagi fanatik dengan ke-Islamannya, luntur ghiroh islamiyahnya,” jelas Gus Najih.

Gus Najih menegaskan, ada misi “Pluralisme Agama” di balik istilah Islam Nusantara, di samping  juga ada tujuan politik (baca; partai) tertentu, yang jelas munculnya ide tersebut telah menimbulkan konflik, pendangkalan akidah serta menambah perpecahan di tengah-tengah umat.
Demikian berita yang dilansir suaranasional.com, 09/10/2015.

Mengembalikan kepada kemusyrikan.

Dalam berita itu disebutkan, Menurut Gus Najih, para pengusung Islam Nusantara juga ingin menghidupkan kembali budaya-budaya kaum abangan seperti nyekar, ruwatan, sesajen, blangkonan, sedekah laut dan sedekah bumi.

Ritual bukan dari Islam yang namanya ruwatan, sesajen,  sedekah laut dan sedekah bumi itu bukan sekadar budaya, namun mengandung keyakinan yang kaitannya minta perlindungan (dari aneka bala’ bencana, celaka, sial dan nasib-nasib buruk lainnya) kepada selain Allah Ta’ala.

Padahal, dalam Islam telah ditegaskan,

وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ١٠٧ [سورة يونس,١٠٧]

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [Yunus : 107]

Ketika orang meminta perlindungan kepada selain Allah untuk dientaskan atau dicegah dari bencana dan sebagainya, padahal yang mampu dan yang berhak mengentasnya dan mencegahnya itu hanya Allah Ta’ala, maka berarti orang itu telah membuat tandingan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah kemusyrikan besar (syirik akbar), dosa paling besar yang tidak diampuni oleh Allah Ta’ala bila sampai meninggal tidak bertaubat, dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam, segala amal kebaikannya hapus, dan tempatnya di neraka kekal.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]

Juga firman Allah Ta’ala,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu.” [Az-Zumar: 65]

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]

Ritual yang dilakukannya berupa ruwatan, sesajen/ sesaji, sedekah bumi, larung laut dan sebagainya itu juga merupakan peribadahan kemusyrikan untuk selain Allah. Itu sangat bertentangan dengan sifat pribadi Muslim yang shalatnya, sembelihannya (nusuk), hidupnya, dan matinya hanya untuk Allah Rabbul ‘alamiin.

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣ [سورة الأنعام,١٦٢-١٦٣]

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” [Al An’am,162-163]

Apa itu Ruwatan?

1. Ruwatan Mendatangkan Dosa Terbesar.

2. Ruwatan itu kepercayaan non Islam berlandaskan cerita wayang. Ruwatan artinya upacara membebaskan ancaman Batoro Kolo, raksasa pemakan manusia, anak Batoro Guru/ raja para dewa. Batoro Kolo adalah raksasa buruk jelmaan dari sperma Batoro Guru yang berceceran di laut, setelah gagal bersenggama dengan permaisurinya, Batari Uma, ketika bercumbu di langit sambil menikmati terang bulan. Itulah kepercayaan musyrik/ menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala  yang berlandaskan cerita wayang penuh takhayyul, khurofat, dan tathoyyur (menganggap sesuatu sebagai alamat sial dsb). Upacara ruwatan itu bermacam-macam: ada yang dengan mengubur sekujur tubuh selain kepala, atau menyembunyikan anak/ orang yang diruwat, ada yang dimandikan dengan air kembang dan sebagainya. Biasanya ruwatan itu disertai sesaji dan wayangan untuk menghindarkan agar Betoro Kolo tidak memangsa.

3. Ruwatan itu dari segi keyakinannya termasuk tathayyur, satu jenis kemusyrikan yang sangat dilarang Islam, dosa terbesar. Sedang dari segi upacaranya termasuk menyembah/ memohon perlindungan kepada selain Allah, yaitu ke Betoro Kolo, satu jenis upacara kemusyrikan, dosa terbesar pula.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Thiyarah (tathayyur) adalah syirik/ menyekutukan Allah, thiyarah adalah syirik, thiyaroh adalah syirik, (diucapkan) tiga kali. (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Majah dari hadits Ibnu Mas’ud, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

4. Merasa sial karena sesuatu atau alamat-alamat yang dianggap mendatangkan sial, termasuk perbuatan kemusyrikan. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ فَقَدْ أَشْرَكَ قَالُوا : وَمَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ ؟ قَالَ : أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إلَّا خَيْرُك وَلَا طَيْرَ إلَّا طَيْرُك , وَلَا إلَهَ غَيْرُكَ(رواه ِأَحْمَدَ عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ. قال الشيخ الألباني : ( صحيح ) انظر حديث رقم : 6264 في صحيح الجامع)

“Barangsiapa yangtidak jadi melakukan keperluannya karena merasa sial, maka ia telah syirik.Maka para sahabat RA bertanya, Lalu bagaimana kafarat dari hal tersebut wahai Rasulullah? Maka jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Katakanlah : Allahumma laa khairaillaa khairaka walaa thiyara illa thiyaraka walaa ilaha ghairaka.” Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikanMu, dan tidak ada kesialan kecuali kesialan (dari)Mu, dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain-Mu. (HR.Ahmad dari Abdullah bin Umar dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ(106)

“Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak dapat pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik)”. (QS Yunus/ 10:106).

5. Sudah jelas, Al-Qur’an dan Al-Hadits sangat melarang kemusyrikan. Dan bahkan mengancam dengan adzab, baik di dunia maupun di akherat. namun kini kemusyrikan itu justru dinasionalkan. Maka perlu dibisikkan ke telinga-telinga mereka, bahwa sebenarnya lakon mereka tu menghadang/ menantang datangnya adzab dan murka Allah SWT, di dunia maupun di akherat.

Masyarakat perlu diberi penjelasan, bahwa ruwatan itu adalah kemusyrikan, dosa terbesar yang tidak diampuni. Hingga pelakunya bila meninggal dalam keadaan belum bertaubat dan berstatus musyrik, maka haram masuk surga, dan tempatnya di neraka. Karena Allah Ta’ala telah berfirman:

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Mengembalikan kepada kemusyrikan

Ketika Islam Nusantara justru mengembalikan umat Islam kepada acara-acara ruwatan dan semacamnya itu brarti hanyalah mngembalikan kepada kemusyrikan. Padahal, mengembalikan umat Islam kepada kemusyrikan itu dosanya lebih besar dibanding membunuh jiwa. Karena Allah ta’ala telah berfirman:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/191]

dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]

Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217).

Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya:

عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)

Dari Mujahid mengenai firman Allah وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mu’min kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir At-Thabari juz 3 halaman 565).

Setelah terdeteksi arah dari Islam Nusantara itu menghidupkan kembali ritual-ritual ruwatan, sesajen, sedekah bumi, larung laut dan sebagainya yang itu semua merupakan upacara kemusyrikan yang dapat mengeluarkan Umat Islam dari Islamnya, maka betapa bahayanya Islam Nusantara itu. Maka wajib ditolak sekuat-kuatnya, agar jangan sampai Umat Islam ini dijerumuskan ke kemusyrikan yang mengakibatkan kekal di neraka.

Semoga Allah Ta’ala melindungi Umat Islam dari para durjana aqidah yang menjual agamanya dan menyeret manusia kepada kemusyrikan dengan berbagai cara.

(nahimunkar.com)

***

Said Aqil Siraj (SAS) Soal Membolehkan Tradisi Menjemput Dewi Sri Walau Itu Kufur & Syirik

Video pidato Said Aqil Siradj Ketua Umum PBNU kembali viral. Kali ini ia membacakan ‘fatwa’nya bahwa upacara menjemput Dewi Sri (Mapag Dewi Sri) ketika menyambut panen dengan  Sholawatan dan istighosah hukumnya Tidak Apa-apa, atau tidak haram.

Apa itu Mapag Dewi Sri? Mapag Dewi Sri adalah salah satu adat masyarakat Indonesia khususnya Jawa dan Sunda yang dilaksanakan untuk menyambut datangnya panen raya. Dalam Mitologi.Jawa dan Sunda ada keyakinan bahwa Dewi Sri lah yang mengatur panen tetumbuhan.

Karena itu acara ini biasanya dilakukan dengan mengarak simbol Dewi Sri mengelilingi kampung dengan diiringi berbagai atraksi kesenian, pergelaran Wayang Kulit Purwa, selamatan dan acara memperebutkan air yang berasal dari tujuh mata air.

Aliran kepercayaan kuno meyakini bahwa air yang berasal dari tujuh mata air dipercaya sebagai obat untuk segala macam penyakit dan tolak bala. Berikut video saat Said Aqil Siradj pidato :

 Said Aqil dalam pidatonya membawa qoul Imam Sufya  bin Uyainah, “Laa yanbaghil khuuruju minal.‘aadati illa fil haraam” (tidak boleh meninggalkan tradisi adat kecuali yang haram). Dengan kata lain Said Aqil menganggap ritual Mapag Dewi Sri bukanlah haram, kendati mengandung.keyakinan-keyakinan takhayul dan khurofat tentang Dewi Sri

Jika ditinjau dari aqidah Islam, tentu keyakinan ini termasuk kemusyrikan, sebab yang mengatur panen, curah hujan, memberi rizki, adalah Allah Subhanahu Wata’ala, bukan entitas lain. Sehingga sebuah ritual.(peribadatan) yang memiliki keyakinan itu adalah haram.

https://kaffah.net/viral-video-said-aqil-siraj-soal-membolehkan-tradisi-menjemput-dewi-sri/

___

Barangsiapa yang mengatakan kedua ritual ini boleh, kafir lah ia tanpa ada keraguan


Dewi Sri adalah tokoh mitologi Hindu yang konon menjadi sumber asal tanaman padi. Karenanya lah kemudian masyarakat agraris tradisional (baca : kuno) Jawa-Bali memujanya sebagai lambang keberkahan dan kesuburan dengan segala ritualnya yang kental dengan nuansa animisme dan dinamisme.

Misal, Mapag Dewi Sri – yang katanya si Sri ini menjaga tanaman padi. Salah satu elemen penting dalam ritual ini adalah sesajen. Dengan mempersembahkan sesajen dalam perhelatan Mapag Dewi Sri tersebut diharapkan mendapatkan hasil panen yang memuaskan.


Upacara yang masih saudaraan dengan Mapag Sri adalah Nadran. Nadran sukuran laut dilakukan agar hasil tangkapan ikan para nelayan banyak/melimpah.

Untuk itu, disediakan sesajen berupa kepala kerbau, kembang tujuh rupa, buah-buahan, makanan khas, dan lain sebagainya yang dipersembahkan untuk penguasa laut.

Perbuatan Mapag Sri dan Nadran Laut ini jelas syirik akbar. Allah ta’ala berfirman:

ﻗُﻞْ ﺇِﻥَّ ﺻَﻠَﺎﺗِﻲ ﻭَﻧُﺴُﻜِﻲ ﻭَﻣَﺤْﻴَﺎﻱَ ﻭَﻣَﻤَﺎﺗِﻲ ﻟِﻠَّﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ

“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam” [QS Al-An’aam : 162].

ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻜَﺄَﻧَّﻤَﺎ ﺧَﺮَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻓَﺘَﺨْﻄَﻔُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺃَﻭْ ﺗَﻬْﻮِﻱﺑِﻪِ ﺍﻟﺮِّﻳﺢُ ﻓِﻲ ﻣَﻜَﺎﻥٍ ﺳَﺤِﻴﻖٍ

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” [QS. Al-Hajj : 31].

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻻ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻣَﻦْﻳُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﻓْﺘَﺮَﻯ ﺇِﺛْﻤًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka.sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” [QS. An-Nisaa’ : 48].

Tidak bisa menjadi ‘syar’iy’ ( ? ) hanya sekedar dikasih nyanyian shalawatan. Barangsiapa yang mengatakan kedua ritual ini boleh, kafir lah ia tanpa ada keraguan. Apalagi yang mengatakannya adalah orang yang tahu bahasa Arab, serta pernah belajar dan diajari tentang tauhid dan syirik beserta dalil-dalilnya; maka tidak ada udzur kejahilan baginya. Kecuali saat bicara yang bersangkutan sedang hilang akalnya (baca : gila).

Keterangan:Gambar 1 adalah patung Dewi Sri koleksi Museum Sonobudoyo.

Gambar 2 adalah kepala kerbau isi sesajen ritual Nadran.

Oleh : Dony Arif Wibowo

https://assunahsalafushshalih.wordpress.com 20 Mar 2018

https://www.nahimunkar.org/said-aqil-siraj-sas-soal-membolehkan-tradisi-menjemput-dewi-sri-walau-itu-kufur-syirik/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 6.583 kali, 4 untuk hari ini)