Sedih Sekali, Masjid Digunakan untuk Lahan Parkir Perayaan Kemusyrikan Tahun Baru


 

Hampir setiap menjelang tahun baru, ada berita yang sangat menyakitkan bagi Umat Islam yang masih ada ghirah Islamiyah di dalam hatinya. Yaitu masjid nasional terkemuka di Jakarta (Masjid Istiqlal) dijadikan lahan parkir untuk upacara kemusyrikan perayaan untuk Dewa Janus yang disebut dengan perayaan malam tahun baru Masehi 1 Januari. Sejak malam tahun baru 2008 sampai kini 2017 menjelang 2018, penghinaan dan penyalahgunaan terhadap tempat suci Umat Islam,  rumah Allah yakni masjid itu senantiasa berlangsung.

Kini dikabarkan, Wakil Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Wijatmoko mengatakan, acara perayaan pergantian tahun akan berlangsung pada hari Minggu, 31 Desember 2017 dari pukul 19.00– 24.00 WIB. Rencananya acara tersebut akan diselenggarakan di Taman Monumen Nasional (Monas) dan sepanjang jalan mulai Jalan Medan Merdeka Barat (Patung Kuda), Jalan MH Thamrin (Bundaran HI), Jalan Jenderal Sudirman sampai dengan Dukuh Atas.

Sigit mengatakan, pihaknya telah menyiapkan beberapa tempat bagi warga yang membawa kendaraan. Beberapa lokasi parkir tersebut, antara lain di IRTI Monas, Masjid Istiqlal, Lapangan Banteng dan Parkir Timur Senayan./mdkc

Dibalik kurangajarnya sebagian manusia di Indonesia terhadap rumah Allah (yakni Masjid) tapi dijadikan lahan parkir peryaaan kemusyrikan demi Dewa Janus itu, semoga sebagian mereka ada yang sadar, dan mengikuti jejak ulama yang memfatwakan haramnya perayaan tahun baru sebagaimana fatwa ulama Aceh berikut ini.

Ulama Aceh: Perayaan Tahun Baru Haram bagi Umat Muslim

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Banda Aceh mengeluarkan fatwa larangan umat muslim untuk merayakan tahun baru masehi. Mereka menilai, perayaan itu merupakan bagian dari ritual/peribadatan dalam agama Kristen.

Diharamkannya perayaan tahun baru itu juga disebabkan perayaan itu lahir dari ritual Romawi Kuno yang mengkultuskan Dewa Jenus. Oleh sebab itu, MPU Banda Aceh berkesimpulan, perayaan tahun baru telah mengangkangi akidah Islam.

“Jadi kami berkesimpulan perayaan tahun baru haram bagi umat Muslim,” tegas ketua MPU Banda Aceh, Abdul Karim Syeikh, dalam konferensi pers di kantor MPU Banda Aceh, Jumat (13/12).

Usai mengeluarkan fatwa tersebut, MPU Banda Aceh meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh tidak memberikan izin keramaian dalam menyambut Natal dan tahun baru masehi bagi umat Muslim di dalam kota Banda Aceh.

“Banda Aceh merupakan kota Madani, jadi kami minta Pemkot jangan berikan izin berkumpul,” tukasnya./ http://sumaterapost.com Rabu, 31 Desember 2014 04:02

Bagaimana pula bila Masjid istiqlal dikelola bukan hanya oleh orang Islam sebagaimana usulan Gus Dur?

Mari kita tengok ke belakang, soal para pengusung kesesatan dan celotehannya.

Sesama pembela atau bahkan pengusung kesesatan, sering-sering saling tuduh, dan saling tak percaya. Kadang suara keras pun dilontarkan sesama mereka. Misalnya, pada waktu yang lalu (tahun 2007) Gus Dur dan Dawam Rahardjo mengecam keras Departemen Agama RI dalam kasus Ahmadiyah dan Nasr Hamid Abu Zayd orang Mesir yang divonis murtad oleh para ulama Mesir dan Mahkamah Agung Mesir tahun 1996 karena menganggap Al-Qur’an itu produk budaya, kemudian ia lari ke Belanda justru dijadikan guru besar ulumul Qur’an di antara muridnya ada dosen IAIN dari Indonesia; dan tahun 2007 justru diundang oleh Departemen Agama RI untuk menatar 165-an dosen IAIN dan sebagainya se-Indonesia di Riau, Surabaya, dan Malang; Alhamdulillah ditolak oleh MUI Riau dan Ummat Islam Jawa Timur.

Gus Dur dan Dawam Rahardjo bukan protes lantaran Depag mengundang Nasr Hamid, tetapi lantaran Depag mengikuti protesnya MUI hingga membatalkan Nasr Hamid sebagai pembicara. Jadi hanya karena Depag (kini kementerian Agama) mengikuti suara MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang ingin membela Islam dan menghindari pemurtadan saja sudah dikecam habis-habisan. Padahal kalau mengikuti omongan Gus Dur, justru lembaga-lembaga Islam pun akan rusak, karena sampai Masjid Istiqlal pun menurut Gus Dur, jangan hanya dikelola oleh orang Islam. Masih dikelola oleh umat Islam saja kini sudah mulai dirongrong secara aqidah, yaitu masjid Istiqlal dijadikan lahan parkir acara malam tahun baru 2008 oleh Pemda DKI Jakarta.

Sejarah Awal Mula Masjid Istiqlal Dijadikan Lahan Parkir Perayaan Tahun Baru (2008).

Masjid Istiqlal Dijadikan Lahan Parkir Perayaan Tahun Baru

Berita banjir di mana-mana sedang menjadi perhatian umat Islam, karena kaum Muslimin di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan dan lainnya sedang terkena musibah banjir, tanah longsor, dan musibah lainnya. Keprihatinan itu malah ditingkahi dengan adanya berita hura-hura, rencana pengadaan apa yang disebut perayaan malam tahun baru, yang tampaknya sangat dibesar-besarkan, dan dipusatkan di Monas Jakarta.

Ini ironis dan memilukan. Negeri sedang prihatin, kena musibah banjir dan sebagainya, bahkan akibat kebijakan macam-macam, rakyat mau beli minyak tanah saja sulit bukan main; namun Gubernur DKI Jakarta dan jajarannya akan mengadakan acara hura-hura dan bernuansa maksiat serta perusakan aqidah umat sekaligus. Karena perayaan itu jelas bukan dari agama umat mayoritas di Indonesia ini. Itu cukup memukul benak umat Islam khususnya.

Lebih memukul lagi, ketika panitia dari Pemda Jakarta Pusat akan menjadikan Masjid Istiqlal sebagai lahan parkir untuk acara hura-hura bahkan penyemarakan aqidah kekafiran itu alias bukan dari akidah Islam itu. Syiar kekafiran sekarang sudah ditusukkan langsung ke jantung umat Islam, yaitu masjidnya, itupun masjid yang terbesar dan centralnya.

Kalau ini terjadi, maka akan ditiru oleh pemda-pemda lainnya di seluruh Indonesia, dan bahkan setiap tahun akan terjadi secara diprogram dengan lebih menusuk umat Islam lagi. Betapa menyakitkannya.

Beritanya sebagai berikut.

Apa yang disebut perayaan malam tahun baru 2008 di Jakarta akan dipusatkan di Monas. Yang dulunya di Ancol dan TMII (Taman Mini Indonesia Indah) digeser ke kawasan Monas. 10.000 tembakan kembang api yang didatangkan dari Australia, Spanyol, dan China akan dilakukan langsung oleh Gubernur Fauzi Bowo. Acara itu ditambah dengan mendatangkan pemusik-pemusik dari group Ungu, Utopia, dan Radja Band. Panitia yang dikordinir Walikota Jakarta Pusat, Muhayat, memperkirakan sejuta warga akan tumplek di Monas.

“Karena itu kami selaku kordinator (diketuai Wali Kota Jakarta Pusat, Muhayat) akan semaksimal mungkin menyukseskan acara itu, “ujar Bambang, sekretaris Kodya Jakpus. (Warta Kota, 28 des 2007, hal 4).

Untuk keperluan itu dikerahkan 2.025 polisi, 10 anjing pelacak, 6 mobil pemadam kebakaran, dan 6 mobil ambulans. Menurut Bambang, seluruh biaya ditanggung sponsor dari Indosiar dan Gudang Garam. Pihak panitia akan menyediakan dua lahan parkir yaitu di Stasiun Kerta Api Gambir dan Masjid Istiqlal.

Demikian berita yang menyakitkan umat islam dan sekaligus ironis. Masyarakat sedang dalam keadaan di mana-mana terkena bencana, namun akan diadakan acara hura-hura sekialigus perusakan aqidah dan penyemarakan kemaksiatan secara massal, serta pemubadziran harta sebagai ekspresi pengakuan diri sebagai rekanan syetan

Apa yang perlu dilakukan oleh umat Islam, semoga peringatan berupa tulisan ini ada gunanya./ Suburnya Kesesatan Lewat Jalur Resmi … 

Penghinaan dan penyalahgunaan tempat suci Umat Islam, rumah Allah yaitu masjid itu justru senantiasa dihentakkan terhadap kaum Muslimin hingga kini. Tempat suci untuk penyembahan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dikotori dengan dijadikan sarana penyuburan dan penyemarakan perayaan kemusyrikan yang paling kotor menurut Islam. Betapa kurangajar dan durjananya, bila mereka masih mengaku sebagai orang-orang Muslim. Kalau toh mereka tega terhadap Umat Islam, apakah mereka tidak takut akan azab Allah Ta’ala di dunia dan di akherat?

Betapa mengerikannya, bila membaca ayat dan hadits ini.

{مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا} [النساء: 85]

  1. Barangsiapa yang memberikan pertolongan dengan pertolongan yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu [An Nisa”85]

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [المائدة: 2]

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya [Al Ma”idah2]

Dalam hadits juga disebutkan,

وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1017).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya. Sedangkan barangsiapa yang memberi petunjuk pada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa seperti orang yang mengikutinya. Aliran pahala atau dosa tadi didapati baik yang memberi petunjuk pada kebaikan atau kesesatan tersebut yang mengawalinya atau ada yang sudah mencontoh sebelumnya. Demikian penjelasan Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim ketika menjelaskan hadits di atas.

Betapa mengerikannya, orang yang mengawali menjadikan tempat suci, rumah Allah yakni masjid itu sebagai lahan parkir untuk perayaan kemusyrikan tersebut; tentunya akan mendapatkan dosa, ditambah dengan dosa dari orang yang mengikuti selanjutnya. Jabatan mungkin sudah tidak di tangan lagi, dosa masih pula mengalir. Bahkan, ketika nyawa sudah berpisah dari raga, dan sudah dikubur pun dosa masih akan mengalir, bila keburukan itu masih diteruskan orang.

Masjid adalah rumah-Mu ya Allah. Di Al-Quds Palestina, orang kafir Yahudi menjadikan Masjid Suci Al-Aqsha jadi sasaran penghancuran dan penzaliman terhadap Umat Islam; sedang di Indonesia, negeri mayoritas Muslim, orang-orang yang mengaku diri mereka Muslim telah 10-an tahun menghinakan dan menyalahgunakan masjid suci, rumah-Mu, dijadikan lahan parkir upacara kemusyrikan yang amat sangat Engkau murkai ya Allah….

Jakarta, 11 Rabi’uts Tsani 1439H/ 30Desember 2017

Hartono Ahmad Jaiz

Posted on 30 Desember 2017

by Nahimunkar.com

 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 381 kali, 1 untuk hari ini)