Sejarah Dakwah ‘Wahabi’ di Nusantara Menurut Buya Hamka

  • Buya Hamka Berpihak ke Dakwah Salafiyah yang Difitnah
  • Buya Hamka Berpihak ke Dakwah Salafiyah yang Difitnah oleh Orang-Orang Kafir, Munafik, Komunis, Syi’ah  dan Ahli Bid’ah dengan Tuduhan Wahabi


Ilustrasi foto/Moniika/ brainly.co.id

 

Sejak zaman dahulu sampai zaman sekarang kita menyaksikan para ulama dan tokoh-tokoh Islam yang bermanhaj Salaf ahlus sunnah wal jama’ah yang bersungguh-sungguh di dalam berpegang teguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih dapatlah dipastikan terdapat musuh-musuh yang menghalangi dakwah yang penuh berkah ini, baik dari kalangan kafir, munafik, komunis, syi’ah dan para tokoh ahli bid’ah lainnya.

 

Bahkan di zaman keterbukaan informasi ini kita menyaksikan *penceramah-penceramah yang viral di media sosial pun tidak ketinggalan dengan menyemburkan fitnah yang sangat beracunnya kepada dakwah ini dengan sebutan ‘Wahabi’ atau ‘Salafi Wahabi’ dengan konotasi yang sangat buruk sekali*, sungguh miris memang mendengarnya. Allahul musta’aan.

 

Maksud dan tujuan mereka tentunya disadari atau tidak, dipahami atau tidak adalah menjauhkan umat dari dakwah Tauhid dan Sunnah. Mempertahankan umat pada ajaran-ajaran tradisi nenek moyang dan adat istiadat yang bertentangan dengan syari’at Islam yang suci. Membela segala macam takhayul, bid’ah dan khurafat yang mereka pertahankan mati-matian selama ini.

 

Tentu saja kita telah mengenal sosok *Buya Hamka rahimahullah* yang sejak dahulu sampai wafatnya pun dituduh oleh musuh-musuhnya dari kalangan kafirin, munafikin, komunis, syi’ah dan para tokoh ahli bid’ah di zamannya dengan tuduhan ‘Wahabi’! Tidak bermadzhab! Memecah belah persatuan! Dan lain-lain.

 

Oleh karena sudah terlanjur dituduh dengan sebutan ‘Wahabi’ dengan konotasi yang sangat buruk sekali, Buya Hamka rahimahullah tampil ke depan untuk meluruskan dan membantah pemahaman yang buruk terhadap ‘Wahabi’ tersebut. Dan beliau memakai istilah ‘Wahabi’ juga. Padahal mereka adalah para ulama dan tokoh-tokoh Islam yang bermanhaj Salaf (Mengikuti metode beragamanya para Salafush Shalih di dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih) sekemampuan mereka dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka rahimahumullah.

 

Sekarang mari kita simak dan pahami bersama penjelasan dari Prof. Dr. Hamka rahimahullah.

 

*Prof. Dr. Hamka rahimahullah* di dalam buku *‘Dari Perbendaharaan Lama: Menyingkap Sejarah Islam Di Nusantara’*, halaman 213-216 dengan sub judul ‘Gerakan Wahabi Di Indonesia’ beliau menjelaskan:

 

“Ketika terjadi pemilihan umum, orang telah menyebut kembali yang baru, lalu untuk alat kampanye, nama *’Wahabi’*. Ada yang mengatakan bahwa Masyumi itu adalah Wahabi, sebab itu jangan pilih orang Masyumi. 

 

*Pihak komunis pernah turut pula menyebut Wahabi dan mengatakan bahwa Wahabi itu dahulu telah datang ke Sumatra, dan orang-orang Sumatra yang memperjuangkan Islam di tanah Jawa ini adalah dari keturunan kaum Wahabi*. 

 

Memang sejak abad ke-18, sejak gerakan ‘Wahabi’ timbul di pusat tanah Arab, nama ‘Wahabi’ itu telah menggegerkan dunia. *Kerajaan Turki yang sedang sangat berkuasa, takut kepada ‘Wahabi’*. 

 

Karena ‘Wahabi’ adalah permulaan kebangkitan bangsa Arab, sesudah jatuh pamornya karena serangan bangsa Mongol dan Tartar ke Baghdad. *’Wahabi’ pun ditakuti oleh bangsa-bangsa penjajah karena apabila ia masuk ke suatu negeri, ia akan mengembangkan mata penduduknya menantang penjajahan. Sebab paham ‘Wahabi’ ialah meneguhkan kembali ajaran Tauhid yang murni, menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa kepada syirik*. 

 

*Sebab itu timbullah perasaan tidak ada tempat takut melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Wahabi adalah menantang keras kepada Jumud, yaitu memahami agama dengan beku*. 

 

*Orang harus kembali kepada Al-Qur’an dan al-Hadits*.

 

Ajaran ini telah timbul bersamaan dengan timbulnya kebangkitan *Revolusi Prancis* di *Eropa*. 

 

Pada masa itu juga infiltrasi dari gerakan ini telah masuk ke tanah Jawa. Pada tahun 1788 M, di zaman pemerintahan *Paku Buwono IV*, yang lebih terkenal dengan gelaran *Sunan Bagus*, beberapa orang penganut paham ‘Wahabi’ telah datang ke tanah Jawa dan menyiarkan ajarannya di negeri ini. Bukan saja mereka itu masuk ke Solo dan Yogya, tetapi mereka pun meneruskan juga penyiaran pahamnya di Cirebon, Bantan dan Madura. Mereka mendapat sambutan baik, sebab jelas anti penjajahan. 

 

*Sunan Bagus* (*Paku Buwono IV di Solo) sendiri pun tertarik dengan ajaran kaum ‘Wahabi’. Pemerintah Belanda mendesak agar orang-orang Wahabi itu diserahkan kepadanya. *Pemerintah Belanda cukup tahu, apa akibatnya bagi penjajahannya, kalau paham ‘Wahabi’ ini dikenal oleh rakyat*. 

 

Padahal ketika itu perjuangan memperkukuh penjajahan belum lagi selesai. Mulanya Sunan tidak mau menyerahkan mereka. Akan tetapi, mengingat akibat-akibatnya bagi Kerajaan-kerajaan Jawa, ahli-ahli kerajaan memberi advis kepada Sunan, supaya orang-orang ‘Wahabi’ itu diserahkan saja kepada Pemerintah Belanda. Lantaran desakan itu, mereka pun ditangkapi dan diserahkan kepada Belanda. Oleh Belanda orang-orang itupun djusir kembali ke tanah Arab. 

 

Akan tetapi, di tahun 1801 M, artinya 12 tahun di belakang, kaum ‘Wahabi’ datang lagi. Sekarang, bukan lagi orang Arab, melainkan anak Indonesia sendiri, yaitu anak *Minangkabau*. *Haji Miskin* Pandai Sikat (Agam) *Haji Abdurrahman Piobang* (Lubuk Limapuluh Koto), dan *Haji Mohammad Haris Tuanku Lintau* (Luhak Tanah Datar). 

 

Mereka menyiarkan ajaran itu di Luhak Agam (Bukittinggi) dan banyak beroleh murid dan pengikut. Di antara murid mereka ialah *Tuanku Nan Renceh Kamang* dan *Tuanku Samik Empat Angkat*. Akhirnya, gerakan mereka itu meluas dan melebar sehingga terbentuklah kaum *Paderi* yang terkenal.
Di antara mereka ialah *Tuanku Imam Bonjol*. Terjadilah perang paderi yang terkenal itu. Selama 37 tahun melawan penjajahan Belanda.

 

Bilamana di dalam abad ke-18 dan 19 gerakan ‘Wahabi’ dapat dipatahkan, pertama orang-orang ‘Wahabi’ dapat diusir dari Jawa, kedua dapat dikalahkan dengan kekuatan senjata, namun di awal abad ke-20 mereka muncul lagi. 

*Di Minangkabau timbullah gerakan yang dinamai Kaum Muda*. 

Di Jawa datanglah *K.H. A. Dahlan* dan *Syaikh Ahmad Soorkati*. 

*K.H. A. Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Syaikh Ahmad Soorkati dapat membangun semangat baru dalam kalangan orang-orang Arab*. Ketika ia mulai datang, orang Arab belum pecah menjadi dua, yaitu arrabithah Alawiyah dan al-Irsyad. Bahkan yang mendatangkan Syaikkh itu ke mari adalah dari kalangan yang kemudiannya membentuk ar-rabithah Alawiyah. 

*Musuhnya dalam kalangan Islam sendiri, pertama ialah Kerajaan Turki. Kedua Kerajaan Syarif di Mekah, ketiga Kerajaan Mesir. Ulama-ulama pengambil muka mengarang buku-buku untuk mengkafirkan Wahabi. Bahkan ada di kalangan ulama itu yang sampai hati mengarang buku mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pendiri paham ini adalah keturunan Musailamah al-Kadzdzab*. 

 

Pembangunan ‘Wahabi’ pada umumnya adalah bermadzhab Hambali, tetapi paham itu juga dianut oleh pengikut Madzhab Syafi’i, sebagaimana kaum ‘Wahabi’ Minangkabau, dan juga penganut Madzhab Hanafi sebagaimana kaum ‘Wahabi’ di India. 

 

*Sekarang, ‘Wahabi’ dijadikan kembali sebagai alat, untuk menekan semangat kesadaran Islam oleh beberapa golongan tertentu, yang bukan surut ke belakang di Indonesia ini, melainkan kian rnaju dan tersiar. Kebanyakan orang Islam yang tidak tahu di waktu ini, yang dibenci bukan lagi pelajaran Wahabi, melainkan nama Wahabi*. 

 

*Ir. Dr. Sukarno* dalam surat-suratnya dari Endeh kelihatan bahwa pahamnya dalam agama Islam adalah banyak mengandung anasir ‘Wahabi’. 

 

*Kaum komunis Indonesia telah mencoba menimbulkan sentimen umat Islam dengan membangkit-bangkit nama Wahabi*. 

 

Padahal seketika terdengar kemenangan gilang-gemilang yang dicapai oleh *Raja Wahabi Ibnu Saud*, yang dapat mengusir kekuasaan keluarga Syarif dari Mekah. Umat Islam mengadakan Kongres Besar di Surabaya dan mengetok kawat mengucapkan selamat atas kemenangan itu (1925 M). Sampai mengutus dua orang pemimpin Islam dari Jawa ke Mekah, yaitu *H.O.S. Cokroaminoto* dan *K.H. Mas Mansur*, dan *Haji Agus Salim* datang ke Mekah tahun 1927 M. 

 

Karena tahun 1925 M dan tahun 1926 M itu belum lama, baru lima puluh tahun lebih saja, masih banyak orang yang dapat mengenangkan, bagaimana hebatnya reaksi pada waktu itu, baik dari pemerintah penjajahan, atau dari *umat Islam sendiri yang ikut benci kepada ‘Wahabi’ karena hebatnya propaganda Kerajaan Turki dan ulama-ulama pengikut Syarif*. 

 

Sekarang, pemilihan umum yang pertama (1955) sudah selesai. Mungkin menyebut-nyebut ‘Wahabi’ dan membusuk-busukkannya ini akan disimpan dahulu untuk pemilihan umum yang akan datang. Mungkin juga propaganda ini masuk ke dalam hati orang sehingga gambar-gambar figur nasional, *Tuanku Imam Bonjol* dan *K.H. A. Dahlan* diturunkan dari dinding, dan mungkin perkumpulan-perkumpulan yang memang nyata kemasukan paham ‘Wahabi’ sebagaimana *Muhammadiyah, al-Irsyad, Persis* dan lain-lain diminta supaya dibubarkan saja. 

 

Kepada orang-orang yang membangkit-bangkit bahwa pemuka-pemuka Islam dari Sumatra, yang datang memperjuangkan Islam di tanah Jawa ini adalah penganut atau keturunan kaum ‘Wahabi’, kepada mereka orang-orang dari Sumatra itu mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Sebab kepada mereka telah diberikan kehormatan yang begitu besar. 

 

*Sungguhpun demikian, paham ‘Wahabi’ bukanlah paham yang dipaksakan oleh Muslimin, baik mereka ‘Wahabi’ atau tidak. Masih banyak yang tidak menganut paham ini dalam kalangan Masyumi. Tetapi pokok perjuangan Islam, yaitu hanya takut semata-mata kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan anti kepada segala macam penjajahan, termasuk komunis adalah anutan dari mereka bersama*.”

 

Demikian dan sampai di sini penjelasan Buya Hamka rahimahullah.

 

*Kesimpulannya:*

 

1. Buya Hamka rahimahullah menegaskan bahwa musuh-musuh Islam dan kaum muslimin dari kalangan kafir, munafik, syi’ah, komunis dan para tokoh ahli bid’ah lainnya memfitnah dakwah Salafiyah ahlus sunnah wal jama’ah dengan tuduhan ‘Wahabi’.

 

2. Musuh-musuh Islam senantiasa berusaha membuat makar agar umat Islam jauh dari dakwah Islam yang sebenarnya dan para tokoh-tokohnya.

 

3. Musuh-musuh Islam yang senantiasa mendapatkan wahyu dari Iblis itu tidak senang dengan kebangkitan dan kejayaan Islam beserta kaum musliminnya.

 

4. Termasuk yang tidak senang dan bahkan yang menghalang-halangi dakwah Salafiyah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Raja Su’ud rahimahumullah pada zaman itu adalah Kerajaan Turki Ustmani.

 

5. Dari penjelasan Buya Hamka rahimahullah di atas dan di dalam buku serta karya-karya tulis ilmiyah beliau yang lainnya menjadi sangat jelas sekali bahwa para ulama, tokoh Islam, pejuang dan pahlawan nasional seperti: Tuanku Imam Bonjol, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy, Syaikh Haji Abdul Karim Amrullah, KH. Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Soorkati, Syaikh Ahmad Hassan, Buya Sutan Mansur, Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqie, KH. Moenawar Chalil, dan yang lainnya adalah bermanhaj Salaf ahlus sunnah wal jama’ah.

 

6. Alhamdulillah ‘ala kullihal, untuk kesekian kalinya ini adalah bukti sejarah yang tidak bisa dipungkiri bahwa Buya Hamka rahimahullah di dalam banyak karya tulisnya mengajak kita semuanya seluruh umat Islam agar kembali kepada Islam yang sebenarnya yakni Islam yang berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih (Manhaj ataupun Madzhab Salaf)

 

 

Wallahu a’lam. Wallahul muwafiq.

 

Semoga bermanfaat.

 

 

*Referensi:*

 

*1. Dari Perbendaharaan Lama*, Prof. Dr. Hamka, Gema Insani Press.

 

*2. Ayahku*, Prof. Dr. Hamka, Gema Insani Press.

 

*3. Gerakan Modern Islam Di Indonesia 1900-1942*, Prof. Dr. Deliar Noer, LP3ES.

 

 

/Ditulis oleh Abu Uwais Muhammad Yasin bin Sutan Muslim bin Amir bin Syamsuddin, 23 Maret 2021 M.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 914 kali, 3 untuk hari ini)