Sejarah Islam: Cara Khalifah Menghadapi Bencana dan Wabah Penyakit yang Melanda

البداية والنهاية ط الفكر (12/ 127)

ثم دخلت سنة ثمان وسبعين وأربعمائة

فِي الْمُحَرَّمِ مِنْهَا زُلْزِلَتْ أَرَّجَانُ فَهَلَكَ خَلْقٌ كَثِيرٌ مِنَ الرُّومِ وَمَوَاشِيهِمْ. وَفِيهَا كَثُرَتِ الْأَمْرَاضُ بِالْحُمَّى وَالطَّاعُونِ بِالْعِرَاقِ وَالْحِجَازِ وَالشَّامِ، وَأَعْقَبَ ذَلِكَ موت الفجأة، ثم ماتت الوحوش في البراري ثم تلاها مَوْتُ الْبَهَائِمِ، حَتَّى عَزَّتِ الْأَلْبَانُ وَاللُّحْمَانُ، وَمَعَ هذا كله وقعت فتنة عظيمة بين الرافضة والسنة فقتل خلق كثير فيها. وَفِي رَبِيعٍ الْأَوَّلِ هَاجَتْ رِيحٌ سَوْدَاءُ وَسَفَتْ رملا، وتساقطت أشجار كثيرة من النخل وَغَيْرِهَا، وَوَقَعَتْ صَوَاعِقُ فِي الْبِلَادِ حَتَّى ظَنَّ بعض النَّاسُ أَنَّ الْقِيَامَةَ قَدْ قَامَتْ، ثُمَّ انْجَلَى ذَلِكَ وللَّه الْحَمْدُ. وَفِيهَا وُلِدَ لِلْخَلِيفَةِ وَلَدُهُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ، وَزُيِّنَتْ بَغْدَادُ وَضُرِبَتِ الطُّبُولُ وَالْبُوقَاتُ، وَكَثُرَتِ الصَّدَقَاتُ. وَفِيهَا اسْتَوْلَى فَخْرُ الدَّوْلَةِ ابْنُ جَهِيرٍ عَلَى بِلَادٍ كَثِيرَةٍ، مِنْهَا آمد وميافارقين، وجزيرة ابن عمر، وانقضت بنو مَرْوَانَ عَلَى يَدِهِ فِي هَذِهِ السَّنَةِ. وَفِي ثانى عشر رمضان منها ولى أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ مُظَفَّرٍ الشَّامِيُّ قَضَاءَ الْقُضَاةِ بِبَغْدَادَ، بَعْدَ وَفَاةِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الدَّامَغَانِيِّ، وَخُلِعَ عَلَيْهِ فِي الدِّيوَانِ. وَحَجَّ بِالنَّاسِ جنفل، وَزَارَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاهِبًا وآئبا. قال: أظن أنها آخر حجتي. وكان كَذَلِكَ. وَفِيهَا خَرَجَ تَوْقِيعُ الْخَلِيفَةِ الْمُقْتَدِي بِأَمْرِ اللَّهِ بِتَجْدِيدِ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ في كل محلة، وإلزام أهل الذمة بلبس الغيار، وكسر آلات الْمَلَاهِي، وَإِرَاقَةِ الْخُمُورِ، وَإِخْرَاجِ أَهْلِ الْفَسَادِ مَنْ البلاد، أثابه الله ورحمه.

Ibnu Katsir berkata:

Pada tahun 478 H, banyak penyakit demam dan wabah di Irak, Hijaz, dan Syam. Hewan-hewan ternak dan liar mati, angin hitam bertiup kencang, pohon-pohon tumbang, dan petir menyambar-nyambar.

Maka, Khalifah Al-Muqtadi Biamrillah memerintahkan untuk menggalakkan amar ma’ruf nahi munkar dan menghancurkan alat-alat musik, lalu wabah dan penyakit-penyakit itupun hilang.

Al-Bidayah wa An Nihayah, Ibnu Katsir (16/93)

Teguh Abu Fauzan

***

Dari Dulu, Kerusakan Itu Akibat Ulah Penguasa yang Tidak Menggubris Nasehat

Posted on 11 Maret 2017

by Nahimunkarcom

 

Dari dulu, kerusakan bisa terjadi bahkan merajalela adalah akibat ulah penguasa yang  tidak menggubris nasehat.

Baik penguasa negara maupun penguasa lainnya seperti  penguasa partai, ormas, lembaga dan sebagainya; itu yang menentukan corak abang ijone (merah hijaunya) keadaan hanyalah mereka para pemegang kekuasaan (pihak eksekutif). Bukan pihak penasehat2nya atau pengontrolnya. Hingga walau berteriak kencang para pihak penasehat dan pengontrol, yaitu apa yang disebut MPR, Dewan Syuro, Syuriah, Dewan Ulama atau MUI dan semacamnya, maka keadaan tidak menjadi baik, selama pihak eksekutifnya tidak menggubris nasehat-nasehat kebenaran. Dan biasanya, tampaknya para penguasa senantiasa tidak menggubrisnya.

Jadi negeri ini, misalnya MPR, Dewan Syuro, Syuriah, dewan Ulama, MUI dan sebagainya bersuara lurus mendukung kebenaran pun, biasanya diplenteti (tidak digubris) oleh pihak penguasa, baik itu penguasa pemerintahan maupun partai, ormas dan sebagainya.

Lebih tragisnya lagi pemlentetan (tidak menggubris) terhadap suara kebenaran yang disuarakan oleh pihak-pihak penasehat dan pengontrol yang memang tugasnya bersuara kebenaran itu (tidak digubrisnya) hingga tingkat mengenaskan. Bahkan tambah lebih tragis lagi, apabila dewan2 yang seharusnya bersuara lurus lagi benar itu justru jadi skrup baut belaka, yang mengiyakan alias setuju-setuju saja  terhadap kemauan penguasa2 baik penguasa resmi maupun swasta.  Dan puncak buruknya yang sudah tida ketulungan lagi, bila Penguasa2 dan juga pihak2 yang bertugas menyuara kebenaran itu semuanya (kedua belah pihak, baik eksekutifnya maupun pihak penasehat plus pengontrol ) sudah disumpal oleh pengusaha2 (cukong2) durjana.  Dan puncaknya puncak, ketika dua pihak tersebut (eksekutif dan penasehat plus pengontrol) tersebut melanggar hukum hingga harus diproses hukum, tahu-tahu pihak penegak hukum sudah “dibeli” juga oleh cukong2 durjana, misalnya. Maka yang terjadi,  yang benar dikriminalisasi, sedang yang salah, menyeleweng, mengusung kebatilan, kezaliman dan sebagainya diselamatkan, ditutupi, bahkan dilindungi.

Makanya sampai ada kata2 “kapan benere”? (Kapan benarnya) kondisi negeri ini?

Dalam kondisi seperti itu, bagi yang mau berfikir, justru menyadari betapa tingginya nilai ajaran Islam, yang di dalamnya ada ajaran pokok yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu amar ma’ruf, nahi munkar (Memerintahkan kebaikan/ kebenaran, dan mencegah kemunkaran/ keburukan-kebatilan).  Itu merupakan hal pokok, tidak boleh dilengahkan sama sekali. Lebih2 terhadap para penguasa dari berbagai jenjangnya itu, bahkan kepada dewan2 yang seharusnya menyuarakan kebenaran itu pula. Serta kepada pihak penegak hukum, di samping kepada manusia secara umum. Karena kalau mereka sudah benar2 rusak (terutama 3 pihak itu: eksekutif, legislatif, dan yudikatif; plus elit non pemerintah), maka negeri tersebut dihancurkan oleh Allah sehancur-hancurnya. Sebagaimana yang telah Allah Ta’ala ancamkan:

وَإِذَآ أَرَدۡنَآ أَن نُّهۡلِكَ قَرۡيَةً أَمَرۡنَا مُتۡرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيۡهَا ٱلۡقَوۡلُ فَدَمَّرۡنَٰهَا تَدۡمِيرٗا ١٦ وَكَمۡ أَهۡلَكۡنَا مِنَ ٱلۡقُرُونِ مِنۢ بَعۡدِ نُوحٖۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرَۢا بَصِيرٗا ١٧ [سورة الإسراء,١٦-١٧]

(16) Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (17) Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya [Al Isra”,16-17]

Kalau kebengalan para pemegang kuasa itu belum sampai pada kadar harus dihancurkan secara keseluruhan, mungkin juga ditimpakan pada negeri itu bermacam bencana, sebagai peringatan agar sadar. Namun kalau tambah-tambah bengal, dan sampai pada kadar harus dihancurkan secara keseluruhan, maka ancaman dalam ayat tersebut terjadi pula. Semoga saja mereka menyadari sebelum bencana semacam itu terjadi.

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

https://www.nahimunkar.org/dari-dulu-kerusakan-itu-akibat-ulah-penguasa-yang-tidak-menggubris-nasehat/

***

Contoh nyata hasil Kongres Umat Islam Indonesia VII di Bangka Belitung yang merekomendasikan agar BPIP dibubarkan, karena dinilai hanya menimbulkan polemik dan tidak diperlukan, namun pihak penguasa ternyata menolaknya.

 

Ini Rekomendasi ‘Panas’ Kongres Umat Islam ke Presiden Jokowi dan 9 Butir Deklarasi


Posted on 29 Februari 2020

by Nahimunkar.org

 

Ini Rekomendasi ‘Panas’ Kongres Umat Islam ke Presiden Jokowi dan 9 Butir Deklarasi

  • Rekomendasi Kongres Umat Islam: Tolak Omnibus Law hingga Bubarkan BPIP

PANGKAL PINANG– Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-7 di Pangkal Pinang, Bangka Belitung tahun ini, boleh dikata luar biasa. Sebanyak 1.126 tokoh dan perwakilan umat mengikuti kegiatan ini sejak tanggal 26 Februari, ditutup Jumat (28/2/2020) malam

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Babel, Zayadi Hamzah, mengatakan, gelaran KUII ke-7 ini paling banyak diikuti peserta. “Kami menyampaikan laporan ada 1.126 peserta yang mengikuti kongres,” kata Zayadi dalam sambutannya di penutupan KUII ke-7 di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Jumat (28/2).

Adapun narasumber yang hadir, ungkap Zayadi hampir semuanya hadir. “Alhamdulillah, 90 persen narasumber hadir di Kongres Umat Islam ini,” ucapnya.

Tak kalah menarik adalah rekomendasi PANAS KUII VII. Di antaranya menolak omnibus law Cipta Kerja, RUU Ketahanan Keluarga, hingga pembubaran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Forum KUII VII menilai omnibus law Cipta Kerja dan RUU Ketahanan Keluarga tidak berpihak kepada kemaslahatan umat dan bangsa. Belum lagi RUU Minuman Beralkohol, RUU PKS, serta revisi UU KUHP.

Dalam konteks permasalahan itu, forum kongres mendorong agar DPR yang mewakili masyarakat dalam penolakan tersebut.

“Mendorong legislator agar menolak dengan tegas RUU Omnibus Law tentang Cipta Lapangan Kerja, RUU Minuman Beralkohol, RUU PKS, RUU Ketahanan Keluarga, revisi UU KUHP dan semua RUU yang tidak berpihak kepada kemasalahatan umat dan bangsa,” ungkap anggota Komisi Fatwa MUI Abdurahman Dahlan saat membacakan rekomendasi hasil KUII VII di Hotel Novotel Bangka and Convention Centre, Jumat (28/2) seperti diberitakan kumparan.com.

Selain RUU, KUII VII juga menyoroti persoalan penafsiran atas Pancasila yang belakangan dinilai menimbulkan polemik. Mereka menilai BPIP tak diperlukan dan sebaiknya dibubarkan.

“Mengembalikan kewenangan penafsiran Pancasila kepada MPR sebagaimana yang diamanahkan oleh sila ke empat Pancasila. Karena itu, keberadaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) tidak diperlukan, dan mendesak Presiden untuk membubarkan BPIP,” tambah Dahlan.

https://www.nahimunkar.org/ini-rekomendasi-panas-kongres-umat-islam-ke-presiden-jokowi-dan-9-butir-deklarasi/

***

Ternyata rekomendasi KUII ke-7 itu ditolak pihak Istana.

 

Istana Tolak Rekomendasi Kongres Umat Islam untuk Bubarkan BPIP

Jakarta – 

Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-VII mendesak agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) membubarkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)Kantor Staf Presiden (KSP) menegaskan Istana tidak akan mempertimbangkan rekomendasi tersebut.

“Artinya, istana tidak akan mempertimbangkan rekomendasi (bubarkan BPIP) tersebut namun tetap memperhatikan berbagai masukan positif tentang BPIP,” ujar Tenaga Ahli Utama KSP Donny Gahral Adian saat dikonfirmasi, Senin (3/3/2020) malam.

Lisye Sri Rahayu –

detikNews Selasa, 03 Mar 2020 07:49 WIB

***

Dalam menghadapi bencana dan wabah penyakit, mari kita ingat kembali sejarah Islam tersebut

Kini bencana banjir dan sebagainya sering melanda di Indonesia.

Terakhir, wabah corona yang selama ini oleh penguasa Indonesia disebut tidak ada di Indonesia, kemudian setelah Arab Saudi menghentikan sementara kehadiran jamaah umrah, termasuk Indonesia, sejak Kamis lalu 27/2 2020 barulah kemudian pihak penguasa Indonesia mengumumkan adanya yang terkena virus corona. Kemudian korban pun ada dari karyawan BUMN Telkom Beksi yang meninggal selasa 3/2 2020.

 


Ilustrasi. Virus corona baru (dikenal dari Wuhan China) yang menyebabkan penyakit bernama Covid-19 ini hampir mencapai tahap yang mengguncang dunia. Di tengah lonjakan kasus corona, para ahli penyakit menular percaya penyakit seperti flu ini tampaknya tidak mungkin diatasi. / wartaekonomi.co.id Jum’at, 28 Februari 2020 15:42 WIB

Dalam menghadapi bencana dan wabah penyakit, mari kita ingat kembali sejarah Islam tersebut:

Khalifah Al-Muqtadi Biamrillah memerintahkan untuk menggalakkan amar ma’ruf nahi munkar dan menghancurkan alat-alat musik, lalu wabah dan penyakit-penyakit itupun hilang.

Al-Bidayah wa An Nihayah, Ibnu Katsir (16/93) .

 

Mari kita bandingkan dengan penguasa di Indonesia sekarang yang menghadapi bencana bahkan wabah virus corona dari Wuhan negeri China Komunis yang mengguncangkan keadaan sedunia.

Semoga saja penguasa Indonesia yang kebanyakan mengaku sebagai wong Islam masih ada setitik bersitan di hati mereka untuk menggubris suara Umat Islam yang menjadi penduduk mayoritas negeri ini yang memang kemerdekaannya atas berkat ramhat Allah Tuhan Yang Maha Esa dengan perjuangan para ulama, kyai, tokoh Islam dan Umat Islam pada umumnya dengan pekikan takbir Allahu Akbar maju ke medan perang menghadapi penjajah kafir Belanda dan lainnya. Alhamdulillah kemudian Indonesia merdeka 17 Agustus 1945.

Jangan sampai kemudian mentang-mentang kuasa, misalnya, lalu kufur ni’mat sambil menyuara, rakyat jangan kufur ni’mat ya…

Semoga saja tidak begitu, apalagi wapresnya adalah seorang yang tadinya dikenal sebagai ulama bahkan pemimpin lembaga keulamaan.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.101 kali, 1 untuk hari ini)