Alhamdulillah, terbit buku yang menampilkan sejarah pergumulan pemikiran antara pihak liberal dengan para penentangnya yang mempertahankan Islam dari rongrongan pemikiran liberal.

Itu sangat pantas disyukuri. Semoga menjadi referensi yang berkepanjangan. Dan saya menghargai ungkapan singkat dari  Prof Dr Yunahar Ilyas yang di cover belakang bilang, “Para pengkritik Islam Liberal menggunakan secara baik literatur para ulama dan pemikir Islam dalam bahasa Arab dan juga literatur karya ilmuwan dan orientalis Barat. Saya menyambut baik terbitnya buku ini,…”

Penulis buku Pertarungan Pemikiran Islam di Indonesia, Kritik-kritik terhadap Islam Liberal dari HM Rasjidi Sampai INSIST ini adalah sejarahwan, Tiar Anwar Bachtiar, yang mungkin bergabung dengan INSIST (?).

Pembahasan dan cara berfikirnya tentu dilatari sebagai seorang sejarahwan, dan juga pergulatan pemikiran yang dilakoni INSIST, para muridnya Alatas Malaysia (Prof Dr. Syed Muhammad Naquib al Attas). Anti kelompok Liberal ya sudah pasti. Tapi tampak mampu untuk menjaga diri agar tidak langsung menghakimi para sang liberal, dengan caranya yang berlatar sejarah. Dan memang wajib begitu, karena ini karya ilmiah, disertasi untuk meraih doktor di UI- Universitas Indonesia.

Tentu saja berbeda dengan aktivis , yang memang pasang badan sebagai pihak yang anti liberal dengan menyuara atau menulis langsung menunjukkan antinya. Adapun yang liberal, ya tentu punya strategi-strategi untuk melawan dan menghantam pihak-pihak yang anti liberal.

Nah, jurus-jurus yang dipakai oleh kelompok liberal yang sebenarnya mematikan mereka (kelompok liberal) ketika diungkapkan, itu tampaknya luput dari sejarahwan ini. Karena ilmu sejarah belum tentu mementingkan mengorek strategi-strategi negatif (katakanlah busuknya) suatu kelompok. Maka kemungkinan luput itu ada. Sehingga bisa saja seorang sejarahwan secara tidak sadar tergiring ke perangkap strategi suatu kelompok yang sedang diteliti (dalam hal ini kelompok liberal).

Di antara startegi kelompok liberal adalah membuat opini dan kesan bahwa lawan-lawannya itu tidk ilmiah, kasar, vulgar, bahkan suka mengumbar cacian. Opini yang mereka stel (suarakan) itu sampai dibuat tulisan karya ilmiah secara resmi dan atas nama penelitian. Sehingga biar diakui oleh siapapun.

Ketika ilmuwan, peneliti, atau sejarahwan menggeluti kancah kelompok liberal itu, belum tentu jeli memandang strategi busuk tersebut. Karena mungkin tidak menemui referensinya, dan tidak ikut merasakan karena tidak terlibat padanya, hanya sebagai pengamat.

Oleh karena ada sesuatu yang luput itu, maka justru ada sesuatu yang merupakan inti namun tertinggal. Dan dalam menganalisa, kemudian bisa terimbas atau terikut arus strategi kaum liberal itu secara tidak sadar. Sehingga ikut-ikut pula menjuluki di antara lawan liberal itu kasar, vulgar, bahkan suka mencaci maki, maka kurang mendalam, atau tak begitu ilmiah. Padahal itu adalah ungkapan produk liberal untuk menjatuhkan lawannya secara tidak jujur.

Agar lebih bisa dimengerti maksud tulisan ini, silakan simak cuplikan tulisan saya ini:

Gerombolan tidak jujur memuji pemfitnah

Sejatinya yang terjadi adalah gerombolan orang-orang tidak jujur beramai-ramai mengusung fitnah dari orang yang tidak jujur pula sambil mencaci sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menghadapi yang semacam ini perlu mengetahui watak mereka. Di antaranya adalah menyembunyikan sesuatu dan membuat dusta atau pengelabuhan. Contoh kecil yang bergaya obyektif pun telah terimbas sikap menyembunyikan sesuatu, di antaranya ada dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya, AM (Akhu Muzaki), kuliah di Australia. Dia wawancara ke beberapa orang di Jakarta termasuk saya beberapa waktu lalu untuk karya ilmiyahnya. Materinya tentang perdebatan antara pemahaman dari Dewan Dakwah terutama Majalah Media Dakwah berhadapan dengan Paramadina. Ternyata setelah saya baca hasil postingannya di Paramadina, hanyalah memfokuskan umpatan yang dilontarkan dalam perdebatan yang berlangsung selama ini. Lafal-lafal semacam pemurtadan dan semacamnya itu disebut sebagai umpatan. Kemudian disimpulkan, bahwa lantaran perdebatan itu disertai dengan umpatan, maka hasilnya tidak maksimal. (kurang lebihnya seperti itu).

Lhah?

Kalau toh dia menyimpulkan seperti itu ya terserah. Tetapi justru yang disorot sebagai melontarkan umpatan itu hanya dari Media Dakwah (Dewan Dakwah). AM telah menyembunyikan umpatan yang jelas-jelas umpatan lagi berdusta yang dilontarkan Nurcholish Madjid (dan dimuat di Media Dakwah pula, tentu termasuk dia teliti), baik terhadap saya yang oleh Nurcholish Madjid disebut sebagai wartawan tengik, maupun kepada Ridwan Saidi yang disebut tainya sendiri tega untuk disuapkan ke orang lain. (dimuat di Majalah Editor pimpinan Su’bah Asa, ungkapan Nurckholish Madjid hasil wawancara wartawan Rahmat Hadibae). Itu semua disembunyikan oleh peneliti dari IAIN Sunan Ampel Surabaya itu. Padahal yang dia bicarakan tentang umpatan. Lha kok umpatan dari Nurcholish yang sangat jelas itu tidak dia kemukakan?

Jadi yang tampak obyektif pun menyembunyikan sesuatu, padahal justru yang penting. Sehingga dikesankan, Nurcholish Madjid itu seolah adalah lembut, sopan dan sebagainya, sedang lawannya itu kasar, vulgar, garang dan sebagainya. Semua itu adalah … ya begitulah.

Peristiwa-peristiwa pun biasanya dapat mereka plintir ataupun gugat. Misalnya, kenapa ini tidak menghadirkan pihak Nurcholish Madjid? Kenapa hanya satu sisi saja?

Ungkapan itu tak tahu diri. Ketika mereka menyebarkan cacian terhadap Sahabat Nabi saw, mereka tidak konfirmasi dulu kepada ahlinya yang jujur. Ketika mereka menyebarkan pujian kepada penghujat sahabat Nabi saw pun tidak berdampingan untuk dapat dijawab oleh ahlinya yang jujur. Langsung disebarkan saja tanpa disertakan bantahannya sama sekali.

Bagaimanapun, kedustaan secara melek mata pun dilakukan. Bahkan itu saya alami sendiri. Ketika saya bedah buku yang saya tulis, Ada Pemurtadan di IAIN, di UIN Jakarta, 16 April 2005, berhadapan dengan Ulil Abshar Abdala dari JIL (Jaringan Islam Liberal), dan Abd Mouqsith Ghazali dari UIN Jakarta; ternyata saya difitnah langsung secara dusta. Mouqsith mempertanyakan apakah saya masih ada imannya, dan di mana akhlaqnya. Dia kemukakan bahwa saya nulis lafal si jompo untuk isterinya Gus Dur di buku itu. padahal sama sekali tidak ada  si jompo dalam buku yang dia pegang di samping saya itu. Maka tentu saja saya bantah. Bagaimana ini. Siapa yang dusta? Saya tidak menulis  si jompo, dituduh menulis. Sedang yang mengajak dzikir dengan lafal anjing hu Akbar justru Mouqsith bela. Ini bagaimana?

Artike selengkapnya dapat disimiak di sini:

https://www.nahimunkar.org/intelektual-tapi-dusta-dan-mencaci/

Bagaimanapun, manusia ini memang lemah. Yang Maha Khabir itu hanyalah Allah Ta’ala. Oleh karena itu sikap secara proporsional itulah yang insya Allah baik. Dan karya sesederhana apapun, kalau ternyata berisi kebenaran maka insya Allah dicatat sebagai kebenaran. Dan sebagus apapun penampakannya, kalau mengusung kebatilan maka akan tercatat sebagai amal kebatilan. Menyibak kebatilan itu sendiri adalah suatu pekerjaan mulia, insya Allah. Sedangkan kekurangan dalam menyibaknya, karena memang manusia ini serba lemah, maka insya Allah ma’fu.

Sekali lagi, alhamdulillah, ada karya yang menampilkan sejarah pertarungan pemikiran antara yang liberal dan penentangnya dari zaman tahun 1970-an sampai 2014. Pertarungan ini masih tetap berlangsung dan dengan aneka corak yang tidak hanya di ranah pemahaman, namun sudah masuk ke jalur-jalur pentingdalam kehidupan beragama dan berpolitik. Menjadi pekerjaan yang tak boleh dilengahkan pula bagi para ilmuwan, aktivis dan da’i serta Umat Islam pada umumnya. Buku ini pantas disimak untuk mengetahui pergumulan pemikiran Islam di masa lalu untuk menghadapi masa yang akan datang, yangmemerlukan perjuangan lebih mantap lagi.

Jakarta, Jum’at, Nishfu Sya’ban 1438H/ 12 Mei 2017

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.115 kali, 1 untuk hari ini)